Belinda

Belinda
Extra Part



Ekspresi keras kepala tergambar jelas di wajah Belinda. Tidak ada senyum yang tercetak di bibirnya.


Verga berdiri di depannya dengan tatapan ngeri. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kau apa?" tanya Verga.


"Sudah menyiapkan semuanya."


"Bukan, bukan ... sebelum itu! Kau bilang apa?"


"Aku bilang mau menjenguk Ayah!"


Verga mengernyit, diam memandangi istrinya yang menatap dengan bola mata membesar. Menunggu ia menjawab.


"Tidak!" Dengan jawaban itu, Verga berbalik dan melangkah pergi ke arah pintu masuk beranda samping. Dugaannya benar, jeritan protes dan langkah kaki tergesa segera terdengar di belakangnya.


"Kenapa tidak !?" seru Belinda.


Verga berhenti tiba-tiba, membuat Belinda dengan cepat mengerem langkah dengan terkejut.


"Apa perlu kukatakan alasannya?" tanya Verga dengan mata menatap bolak balik sosok istrinya dari atas ke bawah. Sengaja berlama-lama di bagian perut Belinda yang membesar.


"Memangnya kenapa dengan perutku? Aku hamil, aku sehat. Aku bisa pergi! Aku sudah bertanya dengan dokter kita. Meski dia tidak merekomendasikan. Tapi dia juga tidak melarang! Hanya dua jam menuju BYork. Benjamin membawa Ayah ke BYork untuk pemeriksaan lanjut jantung Ayah. Sejak awal semua orang menemaninya! Jantungnya dipasang ring! Hanya aku yang tidak ada di sana!"


Wajah Belinda berubah sedih. Matanya menatap memohon.


Verga berkacak pinggang, membuka mulut untuk kembali mengatakan tidak. Namun ia berhenti ketika melihat mata istrinya yang berkaca-kaca. Dengan mengembuskan napas panjang, Verga membuang muka sambil mendongak ke arah atas.


"Ayolah ... besok akhir pekan. Kau tidak bekerja ... kau bisa menemaniku ... aku akan baik-baik saja."


"Bel-"


"Aku mau melihat Ayah," potong Belinda sambil menunduk. Suaranya dipenuhi permohonan.


Kembali Verga mengembuskan napas panjang. "Kita bisa memantau kabarnya secara terus menerus dari sini, Bel. Kau hanya tinggal menunggu waktu melahirkan. Bagaimana kalau nanti-"


"Bagaimana kalau nanti aku tidak lagi bisa melihat Ayahku?"


Keduanya sama-sama diam beberapa waktu. Tetap teguh dengan keinginan masing-masing. Sampai akhirnya Verone keluar dari pintu teras samping dan bergabung dengan mereka.


"Kenapa kalian berdua hanya berdiri di sana? Duduklah," ucap Verone.


Belinda segera menurut. Ia duduk di samping ayah mertuanya dengan kepala tertunduk.


"Kenapa kau sedih? Dia tidak memberi izin?" tanya Verone.


Belinda menganggukkan kepala.


Mendengar pertanyaan ayahnya Verga tahu bahwa Belinda sudah memberitahu ayahnya tentang keinginannya.


"Bel mau ke BYork, Ayah."


Verone mengangguk.


"Ayah sudah tahu?"


"Sudah."


Verga mengerutkan keningnya. Menatap curiga pada wajah ayahnya yang tenang.


"Dan ... Ayah bilang apa padanya?"


"Dia bisa pergi kalau kau juga ikut."


Verga memutar bola matanya. Tahu kenapa Bel sangat keras kepala. Ayahnya secara langsung sudah mengizinkan.


"Apa yang kau takutkan? Sekarang bukan lagi zaman purba. Rumah sakit ada dimana-mana. Ini ayah Bel, Verga. Wajar dia juga ingin ada di sana."


"Tapi ...."


"Sienna juga akan ikut. Aku juga tidak mau ditinggal sendiri. Aku juga pergi kalau kalian pergi. Lagipula ... Olivia bilang dia sedang ada di BYork saat ini. Kurasa aku bisa sekalian bertemu dengannya."


Verga melotot ke arah ayahnya yang sedang tersenyum ke arah Belinda. Belinda yang mendengar hal tersebut sudah mengangkat kepala dan tersenyum lebar dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada. Wajah wanita itu tampak sangat senang.


Setelah saling berbagi senyum. Keduanya menoleh dan menatap Verga dengan sorot tajam. Seolah tidak mau mendengar kata tidak.


"Ya ampunn ... kalian bekerja sama dengan baik!" Verga mendekat dan menarik sebuah kursi. Ia duduk dengan wajah kalah. "Baiklah ... kita berangkat besok."


Ucapan yang segera mendapatkan sambutan gembira. Belinda berdiri dan menghadiahkan kecupan di pipi suaminya. "Terima kasih," ucapnya dengan wajah berbinar.


************


Hari kedua Belinda ada di BYork. Hatinya sangat senang karena Ayahnya tampak sehat setelah prosedur angioplastinya sukses. Semua keluarganya juga hadir kecuali Athena. Bel menahan diri untuk menanyakan kenapa wanita itu tidak pernah hadir lagi. Semua orang juga tidak pernah menyebutkan lagi nama wanita itu.


Benjamin dan Alana merawat ayahnya dengan sangat baik. Kehadiran Belinda juga membuat Belardo makin bersemangat dan terlihat lebih kuat.


Hati Belinda merasa sangat bahagia dan hangat melihat seluruh anggota keluarganya berkumpul. Maurice tinggal untuk menjaga Belardo, lalu mereka semua pergi makan siang bersama.


Selepas makan siang, Verone memutuskan mengunjungi temannya, Olivia. Alana pun pergi, memutuskan pulang sejenak untuk beristirahat di apartemen mereka. Hanya tinggal Bel, Verga dan Benjamin di meja makan.


"Kenapa kau makan sedikit?" tanya Verga.


"Entahlah. Perutku merasa tidak enak." Belinda mengelus perutnya.


"Tidak enak bagaimana?"


Bel melirik dan melihat mata Verga menatapnya menyelidik. "Tidak apa-apa. Hanya menunya tidak cocok denganku," ucap Belinda beralasan.


"Pesan saja menu lain kalau kau masih lapar." Benjamin yang tengah menikmati kopi berucap sambil melirik perut adiknya yang membesar dibalik baju hamil yang juga besar. Ia sebenarnya sedikit ragu Belinda masih bisa menampung makanan lagi dalam perutnya.


"Oh! Kau benar! Bolehkan aku pesan dessert? Yang ada buah strawberry!"


Verga langsung tertawa geli, sedang Belinda tampak mendelik ke arah Benjamin.


"Ada bayi di perutku! Wajar saja perutku besar! Bukan karena aku banyak makan."


Belinda berdiri perlahan dan menunjuk ke arah Benjamin. "Pesankan untukku!" Lalu ia berpamitan pada Verga. " Aku ke toilet dulu," ucapnya.


Sepuluh menit kemudian, Benjamin dan Verga merasa kalau Bel sudah terlalu lama di toilet. Verga baru saja berdiri dari kursinya saat melihat Bel berjalan mendekat dengan wajah agak cemas.


"Ada apa?" tanya Verga.


"Mmm ... bisakah pulang sekarang?"


"Tentu."


"Mmm ..."


"Ada apa?"


"Atau kita langsung ke rumah sakit saja?"


Verga mengernyit,lalu melihat tangan Belinda mengelus perutnya berulang kali. Seolah merasa mulas.


"Baik! Rumah sakit!" ucap Verga. "Ayo Ben!" ajak Verga sambil pergi. Tanpa membantah, Benjamin berdiri dan menyusul pasangan tersebut. Tak lupa ia meraih dessert box yang tadi ia pesan untuk adiknya itu.


**********


Tangis seorang bayi perempuan membuat semua mata menatap ke arah gulungan selimut yang sekarang ada dalam pelukan seorang kakek. Verone dengan bangga mencium puncak kepala cucunya dan berbisik lembut.


"Kurasa dia lapar, Verone," ucap Olivia Mirelle yang datang bersama Verone setelah mendengar kabar kalau Belinda akan melahirkan.


"Kau benar." Verone segera berdiri, membawa cucunya ke arah Belinda yang tengah bersandar setengah duduk di atas tempat tidur. Disampingnya Verga segera membantu Belinda menyambut bayinya.


"Ayahmu akan kemari, segera setelah ia diperbolehkan beraktivitas. Maurice dan Alana sedang membujuknya. Aku juga sudah mengatakan kalau semuanya baik-baik saja pada Belardo. Bahwa tidak ada yang perlu ia cemaskan. Putrinya sehat. Cucunya juga sehat," ucap Verone sambil menyerahkan gulungan selimut pada Belinda, kemudian ia berbalik dan kembali mendekati Olivia.


"Ayo kita keluar dulu, Oliv."


"Ayo," ucap Olivia sambil melirik pada dua orang lain yang ada di dalam kamar tersebut. Wajahnya terlihat sedikit geli.


"Melihat mereka ... seperti sedang turun salju di musim dingin," bisik Oliv.


Verone terkekeh. "Berpura-pura saja tidak melihat, Oliv. Anak muda terkadang sedikit aneh. Terlihat sekali mereka saling tertarik. Tapi sekaligus seperti sedang bertarung dan berperang." Verone balas berbisik.


Dengan tertawa geli, keduanya meninggalkan ruangan.


"Ella. Terima kasih sudah datang," ucap Verga pada sepupunya yang duduk di sofa.


"Aku sedang berada di dekat sini ketika kau menelepon."


"Tetap saja. Terima kasih Ella. Aku senang sekali kau kemari. Kita sudah lama tidak bertemu," ucap Belinda.


Daniella tersenyum mengangguk. Melihat Belinda sedang berusaha menyusui bayinya. Ia bangkit dan berniat keluar untuk memberi privacy pada orang tua baru tersebut.


"Aku akan mencari kopi dulu," ucap Daniella.


Suara gerakan di dinding sudut membuat semua orang menoleh. Benjamin yang sejak tadi bersandar di sana melangkah mendekat ke arah tempat tidur.


"Aku juga akan keluar."


Verga mengangguk, lalu kembali fokus pada istri dan putrinya. Melihat Belinda yang sedang mencoba menyusui putrinya dengan tatapan takjub.


Ketika Belinda merasakan putrinya mulai menghisap. Dengan senyum bahagia tersungging di bibir, ia menatap Verga dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahkah menyiapkan nama untuk putrimu Tuan Marchetti?" bisik Belinda.


Verga beralih duduk di pinggir tempat tidur, menarik dengan lembut belakang kepala Belinda dan mencium keningnya sambil memejamkan mata.


"Adakah nama yang ingin kau berikan?" Verga balik bertanya.


Belinda menggeleng. "Aku serahkan pada ayahnya untuk memberikan nama."


"Kalau begitu ... panggil dia Velice. Velicia Marchetti. Dia cantik seperti ibunya ...," bisik Verga. Keduanya menunduk memandangi putri mereka yang bergelung hangat di dalam selimut.


"Velice ... matanya biru seperti ayahnya ...." Lalu seperti menyadari sesuatu, Bel mendongak," Velice, Verga, Verone ...."


Verga terkekeh geli. "Aku terinspirasi dari ayahmu. Belardo, Benjamin dan Belinda ... kurasa ayah mertuaku akan setuju."


Dengan semangat Belinda mengangguk. Merasa amat senang ketika suaminya bergerak lagi. Kali ini duduk di sebelahnya di atas tempat tidur, lalu merengkuh Belinda dengan sebelah lengannya.


"Kurasa dia tidur ...."


"Ya ...."


Dengan tatapan bersyukur. Keduanya menatap tanpa bicara ke arah bayi perempuan yang terpejam sambil berdecap. Bergelung hangat dalam pelukan ibu, juga ayahnya. Orang tuanya yang sedang berdoa sepenuh hati untuk kesehatan dan kesejahteraan putri dan juga keluarga besar mereka.


--------------- Congrats Belver ----------------


***********


From Author,


Haloo semuanya. Maaf bonchapnya lamaaaa. Selain agak sibuk. Otor benar-benar kehilangan ide, gak tau mo nulis apa wkwkkw. Writer's block parah pokoknya.


Terima kasih yang sudah mampir. Selamat liburan akhir tahun. Semoga tahun 2021 yang akan berakhir ini menyimpan kenangan indah, lupain yang sedih-sedih, jadiin pelajaran dan pengalaman. Berdoa jadi lebih baik di tahun-tahun mendatang, dan selamat datang 2022 ... semoga hari-hari bahagia menanti. Aamiin ....


Buat readers yang udah baca sampai end. Baik kisah ini maupun novel lainnya karya DIANAZ. Terimakasih banyak. kebahagiaan tersendiri ketika apa yang kita tulis dinikmati dan dibaca banyak orang. Apalagi yang ngedukung dengan kasih masukan, saran dan juga komentar. Terimakasih sudah dan selalu dukung semua novelku ya. Sudah bela-belain Vote, ngelike, favorite dan juga ngasih rate bintang lima. Meski belum em-em an yang baca, aku udah senang banget. Yang buatku bertahan di sini karena kalian semua. Luv you ... sehat selalu ya ... Aamiin


Salam. DIANAZ.