
Daniella duduk di sebuah kursi di sudut kamar tidur yang sekarang dipenuhi oleh tiga orang pria. Kamarnya sendiri berada di sebelah dengan sebuah pintu hubung ke kamar tersebut. Penempatan yang disengaja dan memang direncanakan. Ia bersedekap dan menatap tiga orang pria yang sekarang ada di kamar itu.
Pria pertama adalah Bernie, yang duduk santai dengan kaki bersila di atas kasur. Ia menyeringai memandang dua pria lainnya yang sejak keberangkatan ke Copedam Hill, menyertai dan mengikuti Daniella, tepatnya hanya satu yang memang selalu berada di dekat Ella, sedang yang satu lagi memang sudah berangkat lebih dulu. Ia diperkenalkan sebagai pegawai Tuan Morrone yang akan membantu para kru film.
Pria yang menyamar sebagai pegawai tuan Morrone bernama Stanley. Kesan Ella padanya adalah pria yang ramah, tingginya rata-rata seperti kebanyakan orang. Ketika datang dan berkenalan dengan Ella, pria itu tampak luwes dan juga pandai bicara. rambutnya hitam berkilat dan ia berpakaian ala pria rumahan dengan kaos dan celana jeans. Stan terlihat mudah membaur. Ia bahkan langsung akrab dengan Bernie, juga beberapa kru lainnya.
Pria lainnya bernama Snow. Ella yakin itu bukan nama asli pria itu. Itu hanya nama julukan. Seperti Benjamin yang ternyata adalah Black. Verga telah meyakinkan Ella bahwa Black dapat diandalkan untuk menjaganya. Meski di depan Verga ia mendengus dan berusaha tampak kesal, namun sejujurnya di dalam hati Ella tidak keberatan dengan ide itu.
Kembali pada pria bernama Snow, sesuai namanya, pria itu berwajah sedingin salju. Berbeda dengan wajah Black yang berubah dingin pada saat-saat tertentu, Ella menyadari bahwa Snow hanya mengenal ekspresi dingin hampir sepanjang waktu.
"Aku serius, Snow. Kau bisa menakuti teman-temanku hanya dengan tatapanmu, kau begitu mencolok tanpa melakukan apapun orang-orang menyadari keberadaanmu," ucap Ella pada Snow yang berdiri diam sambil memandang keluar kaca yang memperlihatkan pemandangan hijau di taman yang ada di seputar hotel.
"Itulah yang kita inginkan, Miss. Jika bajingan itu ada di sekitarmu, maka sekarang ia tahu tentang keberadaanku, dia tahu kau tidak akan pernah ditinggal sendiri," jawab Snow tanpa menoleh.
"Dia benar, Miss. Itulah tujuan Erick mengirim Snow. Dari tubuhnya yang besar dan berotot itu, orang langsung tahu bahwa ia pengawal pribadimu." Stanley ikut bicara sambil menuangkan teh dari teko ke dalam dua cangkir porselen.
"Ayo, Bern. Kudengar minuman ini memiliki efek bagus," ujar Stanley sambil bangkit dan menyerahkan cangkir pada Bernie.
"Oh, ya? Aku jadi ingin tahu efek apa itu?"
"Efek menenangkan."
"Seperti obat penenang saja," dengus Snow.
"Apakah kau menyadari sebuah mobil berisi seorang pria yang berada di lapangan parkir hotel mengawasimu saat tiba di depan hotel, Miss Ella?" tanya Stanley sambil menyesap teh.
Snow sekali lagi mendengus. "Dia pengecut. Langsung pergi setelah mengetahui keberadaanku."
Stanley mengangguk. Ella dan Bernie membelalak, sedikit terkejut dengan temuan itu.
"Darimana kalian tahu?"
"Aku sudah tiba di sini lebih dulu sebelum dirimu, Miss. Aku karyawan Evander yang akan membantu tim kalian."
"Jadi?"
"Jadi aku leluasa membaur dan mengawasi semuanya. Pria di mobil tersebut sudah lama parkir namun tidak juga turun, hingga iring-iringan mobil para kru datang. Sayangnya aku belum sempat mendekat dan melihat wajahnya dengan jelas. Dia menggunakan teropong mengawasi ketika kalian datang. Meski itu tidak berarti apa-apa, kurasa kita harus waspada. Snow akan berada di dekatmu, jangan takut. Berada di dekatnya sama dengan dikelilingi lima orang pria."
"Terima kasih. Aku lega. Setidaknya aku tidak perlu ketakutan dan was-was saat sedang syuting atau dimanapun aku berada di wilayah ini. Ketika tahu surat-surat itu datang lagi, aku sedikit takut."
Stanley mengangguk maklum. "Baiklah. Kalau begitu aku pamit."
"Kau mau kemana?" tanya Ella. Melihat Stanley yang langsung berdiri dan melangkah menuju pintu. Jawaban pria itu hanyalah melambaikan tangan.
"Dia dan aku selalu terhubung, Miss. Apapun yang ia ketahui akan segera ia sampaikan," ucap Snow.
"Oh, baiklah. Aku akan kembali ke kamarku. Jangan lupa pesta penyambutan dari Tuan Morrone nanti malam." Ella yang sudah bangkit dan melangkah menuju pintu penghubung tiba-tiba berhenti. Ia menatap lurus ke arah Snow.
"Mr. Snow? Kau punya tuxedo bukan? Kau akan pergi bersamaku, aku akan mengenakan gaun, jadi kau harus mengenakan tuxedo."
"Aku bekerja menjaga Anda, Miss. Tidak ada aturan khusus tentang pakaianku," ucap Snow datar.
"Bern ...," panggil Ella dengan nada sangat lembut.
"Ya, Sayang?"
"Siapkan ukuran yang pas untuk Mr. Snow dan pastikan dia memakainya," ucap Ella sambil melambai dan menghilang ke balik pintu penghubung.
Bernie yang ditinggal bersama Snow terkekeh melihat ekspresi yang ada di wajah Snow.
"Kau harus terbiasa, Kawan. Lagipula Daniella benar. Kau tidak mungkin hadir mengenakan kaos dan jaket kulit bukan?" ucap Bernie sambil tertawa.
**********
Benjamin mengawasi satu demi satu semua orang yang ada di ruangan pesta yang disiapkan oleh Evander. Ruangan itu tidak terlalu besar, namun cukup menampung semua kru film dan beberapa undangan pribadi dari Evander. Ruangan yang berada di lantai satu tersebut, terhubung langsung dengan taman di luar hotel. Kerlip lampu-lampu yang dipasang di atas taman membuat pemandangan dengan nuansa gelap malam jadi terlihat romantis. Beberapa orang bahkan sudah tampak berdansa di luar.
"Kenapa kau tidak berdansa?"
Pertanyaan tersebut membuat Benjamin menoleh. Ia menganggukkan kepala ke arah Evander yang telah berdiri di sampingnya dengan sebuah gelas di tangan.
"Sayang sekali. Kau lihat di sana ...." Evander mengendikkan dagu ke arah seorang wanita yang berdiri di samping meja minuman. "Dia kosong. Bintang utama film ini. Miranda Cardy."
Ben hanya menaikkan kedua bahu dengan sikap tidak tertarik.
"Atau yang itu," tunjuk Evander. "Sepupu adik iparmu."
Benjamin langsung menyipitkan mata ke arah yang ditunjuk oleh Evander. Ia hanya melihat dua pasang kaki dibalik gorden yang melengkung bagian atas, dan bagian bawahnya diikat ke samping. Menyembunyikan wajah dua orang dibaliknya.
"Sepertinya dia sedang berdebat serius dengan pria penjaganya," bisik Evander. Sengaja memelankan suara agar tidak terdengar oleh orang-orang sekitar.
"Maaf tidak bisa menemanimu mengobrol, Evan. Aku ke sana dulu."
Evander hanya tersenyum sambil mengangkat gelas seperti bersulang ke arah Benjamin yang sudah berlalu meninggalkannya.
Benjamin tiba di dekat Daniella dan Snow. Sengaja datang dengan langkah berat agar terdengar. Snow langsung memasang wajah lega ketika melihat sosok Benjamin.
"Anda menyelamatkan aku. Silakan ajak Miss Ella berdansa, Tuan Antolini," ucap Snow sambil berusaha menarik lehernya yang sedang terikat dengan sebuah dasi. Daniella terlihat sedang berusaha mengikat dasi itu dengan rapi. Tapi Snow yang tinggi dan selalu bergerak-gerak membuatnya kesulitan.
"Apa yang sedang kau lakukan, Nona Dolores?" Benjamin menatap Ella dengan mengerutkan kening.
"Oh, Halo dan selamat malam, Tuan Antolini. Tuan Snow membuang dasi kupu-kupu yang dengan cermat sudah dipasang oleh Bernie. Jadi aku menggantinya dengan dasi yang ini," Ella berucap acuh tanpa melirik. Dadanya langsung berdebar ketika mengetahui yang datang adalah Benjamin. Namun berusaha menampilkan wajah biasa.
"Miss ... tolong ... aku sudah mencoba memenuhi keinginanmu. Aku mengenakan setelan ini bukan? Jadi sudah cukup!" desis Snow.
"Kau bahkan membuka kancing-kancing kemeja ini!" protes Ella.
Benjamin menyipit melihat telapak tangan Ella yang menepuk pelan kemeja Snow, namun setelahnya, tangannya menempel di bagian kancing kemeja yang terbuka. Seolah itu hal yang sudah biasa wanita itu lakukan pada pria.
"Nona Dolores ... Snow tidak nyaman dengan pakaian resmi. Jadi silakan berhenti mengganggunya dengan dasi!" ucap Benjamin dengan nada memerintah.
Daniella menaikkan kedua alisnya. Ia menggerakkan badan hingga berhadapan dengan Benjamin. "Boleh aku bertanya, Benjamin? Boleh kupanggil begitu? Tuan Antolini terasa terlalu kaku," ungkap Ella sambil meletakkan tangan di pinggang.
"Silakan. Tanya saja."
"Apa urusanmu di sini?" tanya Ella dengan mata berkilat.
"Kenapa aku harus mengatakan urusanku padamu?"
"Ah ... menjawab pertanyaan dengan pertanyaan ... Jangan bilang kau datang untuk mengontrol anak buahmu? Ayah memberitahuku kalau mereka adalah orang-orangmu. Tapi kau tidak perlu langsung turun tangan, Benjamin. Aku yakin mereka saja sudah cukup untuk menjagaku. Kau tidak perlu khawatir. Aku dan Ayah tidak minta bantuanmu. Kami meminta bantuan Erick," ucap Ella dengan nada manis yang penuh ejekan.
Benjamin menyipitkan mata, melihat kilau menantang dan sikap arogan dari tubuh Daniella yang sedang berkacak pinggang. Senyum smirk perlahan terbit di bibirnya. Snow yang melihat itu langsung bergeser membelakangi keduanya, berpura-pura mengawasi sekitar.
"Kau salah sangka, DD ... aku tamu di sini. Evander mengundangku secara pribadi. Aku datang ke sini tadi untuk menyapa Snow, bukan menyapamu," ucap Benjamin dengan nada lembut. Seketika rasa malu melintas di wajah Daniella. Ia berkedip dan untuk beberapa detik kehilangan kata-kata.
"Boleh aku bertanya, Nona? Kenapa kau selalu resah bila aku ada di dekatmu? Apa aku membuatmu gelisah atau tidak nyaman?" ejek Benjamin.
Kemarahan Daniella bagai tersulut api ketika mendengar ejekan itu.
"Kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri, Tuan. Aku resah? Gelisah? Bagian mananya?"
"Kau langsung menyerang di setiap kesempatan. Hari ini dengan ejekan, kemarin dengan hinaan. Jangan bilang kau sudah lupa ... katakan apa masalahmu denganku, Nona ...."
Daniella langsung teringat pada pertemuan terakhir mereka, ketika ia mengatakan Benjamin bukan seleranya. Berusaha menguasai diri, Ella bersyukur ketika senyum manisnya terbit dan tubuhnya langsung bergerak bagai sedang berakting di depan kamera. Ia melangkah maju, menyentuh kedua pundak Benjamin dengan gerakan menggoda. Meletakkan telapak tangannya di bahan jas pria itu, lalu mendongak sedikit agar mata mereka bisa bertatapan.
"Resah kau bilang? Aku? Mau membuktikannya, Ben?" bisik Ella mendayu.
NEXT
*********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.