
Stanley menoleh, menatap Benjamin yang duduk bergeming di sebuah kursi tepat di sebelahnya. Mata pria itu nampak berkilat menatap sebuah layar monitor yang ada di atas meja di depan mereka. Dalam layar tersebut, Daniella sedang bergerak gelisah di dalam kamar tidurnya. Ia mengenakan sebuah gaun tidur panjang semata kaki berwarna krem, jubah dengan warna yang sama melapisi gaun itu di bagian luar. Gaun berbahan satin lembut itu melambai ketika Daniella mendekati meja di sebelah tempat tidur.
"Bos ... kau yakin membiarkan dia meminum air itu? Pesuruh tua bangka itu sudah memasukkan sesuatu kedalamnya."
Benjamin tidak menjawab. Matanya menatap tak berkedip ke arah Daniella yang meraih sebuah gelas kosong di atas meja, lalu dengan pelan wanita itu mengangkat sebuah bejana kristal yang berisi air putih. Wanita itu sepertinya memiliki kebiasaan menaruh dua benda itu di sisi tempat tidurnya.
Ben dan Stanley melihat dan menunggu apa yang akan dilakukan Ella selanjutnya. Wanita itu hanya duduk lama di pinggir tempat tidur sambil memegangi gelas berisi air.
"Minumlah, DD ... kau ketakutan, itu tidak bagus. Rencana kita bisa terbongkar ...."
"Bos ... kalau dia minum itu, dia akan tidur seperti orang pingsan," ucap Stanley.
"Aku tahu. Tapi kita terpaksa, Stan. Meski dia aktris, dalam situasi ini ia tidak bisa bersandiwara. Dia tahu dia diintip dan ketakutan. Akan lebih baik bila dia tertidur."
"Bagaimana kalau dia tidak meminumnya, Bos?"
"Kalau itu yang terjadi, berharap saja si mesum itu tidak menyadari kalau DD tidak melepas jubah saat naik ke tempat tidur. Atau dia akan curiga dan heran, bila melihat gelas masih kosong dan bejana itu masih berada di tempat semula, artinya DD sadar, lalu kenapa dia tidur dengan jubah masih terpasang. Dia pasti berharap melihat wanita itu hanya dengan gaun dalamnya," Benjamin berdecih jijik, "tapi aku berani bertaruh, DD tidak akan melepasnya. Dia tidak akan mau memperlihatkan lebih banyak."
Stanley mengangguk. "Lebih baik dia tidur, pria itu akan mengira efek obat membuat Nona Ella langsung terlelap."
Benjamin mengangguk.
"Orang kita masih di bar. Pria tua itu masih di sana," ucap Stan sambil mendekatkan satu monitor lagi.
Benjamin hanya melirik sebentar, lalu kembali menatap ke layar yang memperlihatkan Daniella yang meneguk air dalam gelasnya sampai habis.
"Pintar. Sekarang tidurlah, DD. Pakai selimutmu," ucap Benjamin pelan, namun Stanley mendengar nada penuh perhatian di dalam suara atasannya itu.
Daniella terlihat berdiri dan mengambil ponsel, lalu membawanya ke atas tempat tidur. Wanita itu menyusun bantal dan memposisikan diri setengah berbaring.
Selama beberapa waktu Ella mengarahkan wajahnya ke layar ponsel, namun benda itu kemudian meluncur begitu saja dari genggaman tangannya, jatuh ke atas kasur. Sedetik kemudian Ben dan Stan melihat kepala Ella sudah terkulai dengan mata terpejam rapat di atas bantal.
Posisi Ella masih setengah berbaring dengan selimut menutup sebatas pinggang.
"Semuanya akan selesai malam ini," bisik Benjamin pelan.
Stanley mengangguk. "Orang-orang kita berdatangan, Anda tahu bagaimana kalau mereka sudah bergabung."
"Aku tahu."
"Apakah itu perintah Anda?"
Benjamin tidak menjawab.
"Apakah Bos Erick tahu Anda memanggil mereka?"
Stanley tidak menuntut jawaban, ia mengendikkan bahu tanda tidak memusingkan hal itu. Lalu alat komunikasi di telinganya mulai bersuara.
"Stan ...." Suara seorang pria terdengar pelan.
"Ada apa?"
"Dia baru saja berpamitan. Kurasa ia akan kembali ke kamarnya."
Benjamin dan Stanley berpandangan, sedetik kemudian pintu terbuka, seorang pria berkacamata masuk dengan senyum lebar. "Ijinkan aku bergabung Black, menyenangkan sekali menangkap seekor tikus."
Benjamin mengangguk pada pria bertubuh kecil dan berkacamata tersebut. Salah satu orangnya yang paling cerdas. Pembawaan ceria dan tubuhnya yang kecil sangat menipu, ia bisa menangkap apapun yang ia buru dan bisa membuat orang lumpuh dalam hitungan detik hanya dengan beberapa pukulan tepat di titik syaraf.
"Kau dari mana saja?"
"Aku? Aku berkeliling dan mendapati satu hal menarik."
"Apa?"
Senyum pria itu semakin lebar. "Seorang lelaki sepertinya menyukai dirimu dan Nona Daniella."
"Maksudmu apa, Timmy?" Benjamin menatap tajam pada wajah ceria rekannya.
Pria yang dipanggil Timmy menyeringai. "Aku benar saat pertemuan kita semua kemarin, mengatakan kalau semua ini bukan tentang musuh Daniella saja. Tapi bagaimana kalau sebenarnya kaulah yang jadi incaran, Ben?"
Timmy membuka ponselnya dan memperlihatkan gambar seorang pria. Pria itu mengenakan sebuah kemeja kotak-kotak dengan celana panjang berwarna hitam. Tampilannya sederhana dan sangat santai, ia memakai sebuah syal yang diikat di leher. Umurnya mungkin sudah lewat paruh baya. Sebuah tas yang cukup besar tersampir di bahunya.
Di sebelah pria itu berdiri Miranda Cardy. Sorot mata keduanya terlihat saling mengenal.
Benjamin mengernyit. "Siapa pria ini?"
Timmy terkekeh. "Ah ... kau lupa, kurasa kau memang belum pernah bertemu, tapi ...." Timmy memasukkan kembali ponsel ke dalam saku hoddie yang ia pakai.
"Nanti saja soal cecunguk ini. Lihat ... si mesum sudah masuk kamar," tunjuk Timmy ke layar monitor. terdapat beberapa gambar di layar tersebut, dari beberapa kamera yang dipasang oleh anak buah Ben.
Ben dan Stanley langsung fokus kembali. Stanley memilih satu gambar dan memperbesarnya.
Benjamin mendengus ketika melihat seorang pria tua memasuki kamar hotel.
"Aku sungguh tidak mengira. Kukira asisten sutradara yang terobsesi itu yang melakukan pekerjaan kotor mengganggu DD dengan surat-surat mesum dan menjijikkan. Lihat dia," ujar Benjamin sambil mendengus.
"Kau kurang cepat mengundang kami berpartisipasi, padahal kami semua sedang bosan. Alasan dia selalu menang penghargaan di bidang perfilman karena dia ahlinya bersandiwara. "Timmy mengambil tempat duduk dan duduk di sebelah Benjamin.
Tiga pria tersebut menatap fokus layaknya sedang menonton.
Alnero Diza yang tampak berwibawa, bijak, berkharisma, sekarang tak lebih dari seorang pria mesum yang menjijikkan. Pria itu membuka pakaian hingga hanya tersisa celana panjang. Setelah itu ia duduk di sebuah meja dan mulai membuka sebuah layar monitor. video di layar monitor Ben memperlihatkan punggung Alnero yang menghadap meja monitornya.
Suara geraman terdengar dari tenggorokan Benjamin ketika fokus di layar monitor Alnero memperlihatkan gambar Daniella yang sedang tertidur di atas ranjang. Ben bernapas lega ketika mengecek sendiri di monitor mereka menunjukkan keadaan yang sama, Daniella tertutup jubah dan selimut. Hanya kulit tangan dan wajahnya saja yang terlihat, kulit lainnya tertutup.
Alnero mengulurkan tangan, lalu jari telunjuknya membelai wajah Ella di layar monitor, bergerak ke dada wanita itu, membelai lembut seolah tengah membayangkan sosok sebenarnya. Belaian itu bergerak ke arah pinggang, berputar di pinggul Ella yang ada di bawah selimut, lalu seolah tak puas, Alnero memperbesar gambar bagian yang tertutup selimut, punggungnya bersandar di kursi, dengan kepala mendekat ke layar, pria tua itu mencium bagian yang diperkirakan adalah pangkal paha Daniella.
"Setan kurang ajar!" maki Benjamin. Ia baru saja akan bangkit berdiri, namun secepat kilat Timmy dan Stanley mencekalnya hingga terduduk kembali.
"Santai, Bos. Belum ... kita perlu rekamannya."
"Tenang, Black. Ini belum bisa dijadikan sebagai alat untuk memeras apalagi menekan orang mesum itu."
Dengan napas tertahan Benjamin menurut. Amarahnya bangkit dan keinginan untuk mencekik pria tua itu begitu saja muncul di benaknya.
"Hish! Lihat, aku bertaruh dia sedang membuka celana," ucap Timmy ketika melihat gerakan tangan Alnero di bagian bawah. Namun ia hanya bisa menebak karena Alnero membelakangi mereka.
"Dan sekarang ia sedang mengeluarkan rudalnya," ucap Stanley.
"Kau melebih-lebihkan, Stan! Kurasa itu tidak bisa disebut rudal. Meski kita tidak bisa melihat , tapi karena umur pria itu sudah uzur, kurasa itu sudah mengkerut dan hanya bisa kita samakan dengan ...." Timmy tampak berpikir, "mungkin wortel," ucapnya santai.
Benjamin mengepalkan tangan, menahan keinginan untuk pergi ke kamar Daniella. Rekannya benar, mereka memerlukan lebih banyak bukti, yang akan membuat tua bangka itu berpikir lagi untuk mengganggu Ella, bahkan mungkin saja akan mengirimnya ke sel kurungan.
Gerakan Alnero selanjutnya membuat Timmy dan Stanley melotot, sedangkan Benjamin memaki maki dan mengucapkan sumpah serapah.
"Dasar sampah busuk! Tua bangka! Penjahat mesum paling menjijikkan! Lebih rendah dari binatang melata!"
"Astaga ... dia masturba**, " ucap Timmy.
"Ya ... dengan memamerkan bokong kepada kita," ucap Stanley pelan.
Tangan Ben tiba-tiba terangkat, refleks Timmy dan Stanley kembali memeganginya.
"Belum, belum, belum Black!" tegas Timmy.
NEXT >>>>>>>
**********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.