Belinda

Belinda
56. Nausea



Elena mengetuk pintu kamar Ella, namun tidak ada sahutan dari dalam. Ia mencoba membuka pintu dan ternyata tidak dikunci.


"Ella?"


Kamar itu kosong, namun ada suara-suara dari dalam kamar mandi.


Elena mendekat ke depan pintu kamar mandi.


"Sayang? Ella!?"


"Ya, Mom ... sebentar lagi!"


Elena menunggu beberapa menit, mendengar suara air mengalir sekaligus suara orang muntah.


Setelah Ella muncul di pintu kamar mandi, Elena segera berjinjit untuk memegangi kening Ella.


"Kau sakit, Ella?"


Ella menggelengkan kepala. "Tidak, Mom. Aku baik-baik saja."


"Tapi barusan kau muntah?"


"Perutku hanya mual. Setelah sarapan pasti membaik."


Ella menggandeng ibunya dan mengajaknya segera turun ke ruang makan. Setelah menyiapkan semuanya di meja, ia bergegas memanggil ayahnya.


"Daddy, sarapannya sudah siap."


"Baiklah. Kau punya acara hari ini?" tanya Daniel sembari berjalan dan merangkul bahu Ella.


"Tidak. Aku bebas satu minggu ,Dad."


"Bagaimana kalau siang ini kita pergi bertiga makan siang di luar."


"Daddy mau mengajak kami kemana?"


"Restoran seafood yang baru buka di BYork. Aku ingin tahu-" Daniel berhenti ketika melihat Ella menutup mulutnya dengan telapak tangan, terlihat menelan ludah berulang kali, lalu mengibaskan tangannya satu lagi di depan wajah.


"Ada apa?" tanya Daniel heran.


"Mendengar seafood dan membayangkan olahannya membuatku mual, Dad. Kita makan masakan Mom saja."


Ella berjalan cepat meninggalkan ayahnya yang tiba-tiba berhenti. Berdiri diam memandangi Ella dengan kening berkerut.


Sejak kapan kegemaran makanmu berubah? Kau sangat suka seafood dan olahannya ...


**********


Daniel menganggukkan kepala ke arah pelayan yang menyapanya dan segera mengikuti langkah pelayan tersebut yang mengantarkannya ke arah sebuah meja.


Dua orang pria yang duduk di meja tersebut segera berdiri dan tersenyum menunggu Daniel.


"Akhirnya kau bisa datang, Tuan Daniel."


Daniel menyambut uluran tangan Erick. Pimpinan dari perusahaan tempat ia menyewa Snow dan Stanley untuk jadi pengawal Ella. Pria itu membuka restoran lagi untuk istrinya yang seorang koki handal.


Setelah melepaskan tangan Erick, Daniel menoleh dan tersenyum pada pria lainnya yang sudah menyunggingkan senyum khas. Setelah menggenggam tangan pria itu, Daniel menariknya dalam pelukan dan menepuk punggungnya seperti kenalan lama yang sudah lama tidak bertemu.


"Apa kabarmu, Rico?"


"Sangat baik, Tuan Daniel. Terima kasih. Bagaimana dengan Anda?"


"Aku juga. Kau sendiri kemari? Dimana istri dan anak-anakmu?"


"Di hotel. Si kecil sedikit rewel. Mengurus dua balita membuat Vivi sangat sibuk. Aku membiarkannya beristirahat, aku kemari bersama Bibi Oliv."


"Ah ... Bibimu?"


Enrico mengangguk, lalu menunjuk ke arah lantai dansa. Daniel menatap dan tersenyum melihat pasangan yang berdansa dengan Olivia.


"Verone juga datang."


"Sejujurnya, bibiku mau kuajak kemari karena aku mengatakan padanya Paman Verone juga akan datang. Paman Verone jauh-jauh dari Broken Bridge khusus untuk menemui Bibi."


Mereka semua tertawa.


"Kuharap kalian menyukai makan malamnya nanti. Istriku menyiapkannya langsung. Ia sedang sibuk di sana." Tunjuk Erick ke arah belakang.


"Tentu saja kami akan menyukainya. Dia koki andalan di hotelku dulu. Kau mencurinya dariku," ucap Enrico dengan nada bercanda.


"Dengarkan dirimu, Tuan besar. Padahal kau rela melakukan apapun termasuk merelakan kokimu dan membayar upacara pernikahannya demi mendapatkan bantuanku," sindir Erick.


"Bantuan apa, Erick?" Tanya Daniel.


"Mana makan malamnya, Erick?" potong Enrico dengan sengaja untuk mengalihkan pembicaraan. Membuat Erick menyeringai menang.


"Karena semua tamuku sudah datang. Kita akan malam setelah pasangan di sana selesai berdansa. Ah ... kenapa datang sendiri, Tuan Daniel? Bukankah waktu itu kau bilang akan mengajak keluargamu?" Erick memberikan tanda pada karyawannya agar menyiapkan menu makan malam sesuai instruksi yang sebelumnya sudah ia berikan.


"Tiga hari yang lalu putriku libur dan pulang. Dia sedikit kurang sehat."


"Daniella? Dia sakit? Sakit apa, Tuan Daniel?" tanya Erick.


"Entahlah. Dia terlihat sangat lesu, pucat dan hanya mau berbaring di tempat tidur. Dia tidak nafsu makan, hanya berselera jika ibunya yang memasak. Itupun dimakan hanya sedikit. Aku kerap melihatnya muntah, dia sering mual, terutama di pagi hari."


"Yuhuuuu, apakah si dia hamil!? Katakan siapa yang akan memberikan kita cucu lagi!?"


Kalimat penuh semangat tersebut berasal dari Olivia, Bibi Enrico yang baru saja selesai berdansa bersama Verone.


"Daniel, jangan bilang kau tidak tahu siapa wanita ini. Kau melihat seolah tidak tahu siapa dia," ucap Verone sambil menarik sebuah kursi di sebelah Enrico untuk Olivia.


"Tuan Dolores? Kau terlihat ... syok!?" tanya Olivia sambil tersenyum heran.


Daniel seolah tersadar, kemudian terbatuk. Ia terlihat bingung beberapa saat.


"Katakan ada apa, Sepupuku? " Verone yang sudah duduk di sebelah Daniel menepuk bahunya.


"Mmm ... kenapa kau bertanya siapa yang akan memberikan kita cucu, Nyonya Olivia?" Daniel menelan ludah setelah bertanya.


Olivia mengibaskan tangan kanannya ke udara. "Panggil aku Oliv saja, Daniel! Well ... aku mendengar ucapanmu tadi. Tentang pucat, lesu, hanya mau berbaring, tidak nafsu makan, muntah dan ...." Olivia memberi jeda sambil tersenyum lebar sebelum melanjutkan, " mual terutama di pagi hari. Meski setiap ibu berbeda, namun sebagian besar memang mengalami gejala itu. Aku jadi ingat Vivianne. Istri Enrico mengalami hal itu baik di kehamilan anak pertama, juga anak kedua. Vivi-" Olivia berhenti berbicara ketika Enrico menyentuh punggung tangannya.


"Bibi ... jawab saja, siapa yang Bibi maksud akan memberikan cucu?" tanya Enrico. Ia bertatapan mata dengan Erick dan Verone. Mereka menyadari wajah Daniel semakin pucat ketika Olivia berceloteh tadi. Sedangkan Olivia tidak menyadari kalau lawan bicaranya makin terlihat syok.


"Oh! Entahlah! Aku mengira mungkin koki kita sedang hamil? Erick? Benarkah? Atau Belinda hamil lagi?" Olivia menyipitkan mata ke arah Verone, "kau lupa memberitahuku menantumu hamil lagi, Verone?"


Verone menggelengkan kepala. "Tidak, Oliv. Belinda tidak sedang hamil. Verga melihat si kecil masih membuat ibunya sangat sibuk, jadi Verga ingin menunggu."


Erick juga menggeleng. "Istriku agak sibuk dengan pekerjaan, Bibi Oliv. Jadi sama dengan Verga, aku ingin menunggu si kecil agak besar dulu."


Semua orang menatap Daniel yang bersandar ke kursi dan sedang melonggarkan dasi dengan tangan kanannya. Pria itu terlihat seolah kesulitan bernapas. Keningnya berkerut dan tangan kirinya terlihat mengepal.


"Jadi kalian tadi sedang membicarakan siapa?" tanya Olivia.


Enrico berdeham. " Tuan Daniel sedang membicarakan Daniella, Bibi. Daniella sedang pulang karena kurang sehat."


Olivia mengangkat alis, menyadari kalau putri Daniel itu belum menikah.


"Ck! Bawa segera ke dokter, Daniel! Dia pasti terkena penyakit lambung! Karena makan tidak teratur dan sering telat. Kesibukannya sebagai artis pasti membuatnya terkadang telat makan. Bila nanti dokternya memang mengatakan ia terkena masalah lambung, kau harus memarahi manajernya!"


Daniel menarik napas panjang, mencoba menyunggingkan senyum yang tidak berhasil.


"Mmm ... aku ...maafkan aku, aku teringat sesuatu tadi. Bolehkah aku menelepon?"


"Katakan saja terus terang, Daniel. Ada apa?" Verone menatap keheranan pada sepupunya itu.


"Tidak, Verone. Aku baru ingat sesuatu yang sangat penting. Aku izin menelepon sebentar."


Semua orang mengangguk dan saling berpandangan ketika Daniel pergi.


Daniel menekan nomor ponsel istrinya. Ia melihat jam dan mengernyit karena setelah dua sampai tiga kali Elena tidak juga mengangkat.


"Ck! Kemana kau, Elena!" Ia membuang napas gusar ketika panggilan ke empat tidak juga berhasil.


Daniel memeriksa nomor ponselnya dan menekan nomor Bernie. Panggilannya diangkat di dering pertama.


"Halo, Paman?" sapa Bernie dengan nada riang.


"Katakan dengan jujur, Bernie ... Sedekat apa Benjamin Antolini dengan Ella saat di Copedam Hill!?"


Hening. Daniel hanya mendengar suara napas Bernie.


"Jangan berani memutus telepon ini, Bern ... aku akan memecahkan kepalamu kalau sampai kau melakukannya. Kutanya sekali lagi ... sedekat apa hubungan Ella dan Ben!?"


Bernie menarik napas panjang sebelum menjawab. "mereka ... mereka ... mmm ..."


"Kekasih?"


"Mmm ... ya ... kurasa bisa dibilang begitu."


"Pernahkan Ella berduaan saja dengannya?"


"Maksud, Paman?"


"Seperti saat aku menemukannya di tenda dengan Ben waktu itu. Pernahkah kau meninggalkannya dengan Benjamin begitu saja, Bernie!?"


"...."


"Jawab aku,Bernie ...." Daniel mendesis, "jika tidak dari mulutmu, aku pasti menemukan jawabannya dari mulut orang lain. Jika itu ada hubungannya denganmu, kau akan menerima ganjaran! Jadi katakan saja dengan jujur, Bern! Agar hukumanmu ringan!" seru Daniel penuh ancaman.


"Iya, Paman. Iya. iya. Mereka pernah sesekali berdua!"


"Pernah sepanjang hari?"


Bernie diam.


"Atau sepanjang malam?"


Bernie diam lagi. Daniel mengepalkan tangannya. "Diammu memberiku jawaban, Bern ... sebaiknya aku tidak melihatmu beberapa waktu ini. Karena aku sedang merasa ingin meninju seseorang. Jangan sampai orang itu adalah kau."


Daniel menutup telepon, lalu kembali ke meja. Makan malam itu berjalan lancar dan santai, meski di sepanjang waktu, pikiran Daniel hanya kembali pada dugaan yang sekarang tidak mau hilang dari dalam pikirannya.


Ella tiba-tiba digosipkan dekat dengan Hector. Padahal pria itu bukanlah tipenya ... lalu dikatakan melakukan pendekatan dengan Evander karena pesta amal itu ... kenapa putriku tiba-tiba seperti sedang berburu suami? Selama ini ....


NEXT >>>>>>>


*********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love, bintang lima, ketik komentar dan Vote untuk Black DD ya. Atas dukungannya author ucapkan terima kasih. Yuk, vote sebanyak-banyaknya biar menang hadiah Give Away dari Black. Semoga beruntung & sehat selalu readers Black.


Salam. DIANAZ.