Belinda

Belinda
31. Sunset Surprise



Juan dan Verga memandang ke depan dalam diam. Sejak meninggalkan halaman depan hotel yang ditinggali Benjamin. Mereka dengan penuh konsentrasi memusatkan pandangan pada sebuah mobil hitam yang telah mereka ikuti sejak tadi.


Di dalam mobil hitam tersebut, ada Benjamin yang beberapa saat sebelumnya terlihat menarik siku seorang pria muda dan memaksanya masuk ke dalam mobil sebelum mobil tersebut melaju meninggalkan hotel.


Verga menatap punggung Juan yang duduk di belakang kemudi.


"Jangan kehilangan jejak, Juan."


"Pasti, Tuan," jawab Juan dengan nada bersemangat.


Juan merasa sangat yakin Black telah menemukan titik terang tentang nyonya Belinda. Setelah mendapatkan informasi dari Alana adik tiri Ben bahwa Siena sudah pulang ke pulau ladang jagung dan Benjamin tidak datang ke Mansion ayahnya, Juan yakin kalau Ben telah pergi ke kediaman Antolini di pulau untuk menemui Siena.


Kemudian staf hotel yang selalu memberikan informasi kepada mereka tentang Benjamin memberitahu bahwa Benjamin telah kembali sore ini membawa seorang pria muda. Seorang pria yang tampak terpaksa dan mengikuti Benjamin dengan setengah diseret oleh anak buahnya.


Juan langsung memberitahu Verga kabar tersebut, tuannya itu ingin melihat langsung dan mengajak Juan untuk memata-matai Benjamin.


Mereka menyewa mobil yang tidak akan dikenali oleh Ben dan pergi melaju ke arah hotel. Namun, baru saja tiba di depan hotel, nasib baik memihak mereka. Di depan hotel tersebut, mobil hitam yang biasa Ben gunakan telah menunggu. Juan dan Verga melihat Ben menarik siku seorang pria muda yang tampak enggan. Dua anak buah Ben tampak mengawal di sisi kiri dan kanan.


Saat pintu mobil terbuka, Ben berdiri menunggu pria muda yang ditarik tadi untuk masuk. Namun, pria tersebut malah berniat lari. Niat yang tentu saja terlihat konyol, karena dengan sangat cepat seorang anak buah Ben menarik kerah belakangnya dan menyeret serta memaksanya masuk ke dalam mobil.


Setelah pria muda yang seperti tawanan tersebut masuk, dua anak buah Ben segera masuk dan menempati masing-masing di kiri-kanan sang tawanan. Benjamin sendiri langsung duduk di bagian depan, lalu mobil itu melaju pergi.


Juan mengikuti mobil Benjamin dalam jarak aman. Berkonsentrasi penuh agar ia tidak kehilangan jejak.


Semakin lama berkendara, Verga menyadari kalau mereka mengarah keluar kota.


"Ini keluar kota," ucap Verga.


"Benar, Tuan. Kemana sebenarnya Tuan Ben pergi ....," ucap Juan dengan sangat pelan.


"Kau tahu jalanan ini mengarah kemana?"


"Setahu saya, kita nanti akan menemukan percabangan jalan, Tuan. Cabangnya menuju kota kecil bernama Bucket of Lavender, jalur satunya menuju Vantria City."


Verga mengangguk. Mereka terus mengikuti sampai akhirnya tiba di percabangan jalan yang tadi dimaksud oleh Juan.


Mobil hitam milik Benjamin telah berbelok masuk ke jalur jalan menuju Bucket of lavender.


"Bucket of Lavender ... kota kecil di bukit penuh lavender. Ada urusan apa Ben dengan kota kecil ini ... jangan bilang kalau ia mau berlibur," ucap Verga penuh nada sindiran.


"Saya rasa, Tuan Ben sudah menemukan titik terang tentang keberadaan Nyonya Belinda, Tuan."


"Kau benar. Aku juga berpikiran begitu. Aku telah menduga bahwa dia tidak akan bersikap jujur bila ia menemukannya. Tidak ada pemberitahuan tentang kota kecil ini, ada apa memangnya di sini? Kenapa dia kesini? Bila dia punya niat menyerahkan adiknya, dia pasti mengajakku untuk ikut kemari kan ... Waktu itu, dia memang tidak menjawab ketika aku mengatakan agar dia menyerahkan Bel padaku bila sudah ketemu."


"Bila Nyonya memang ada di kota itu, apa yang akan Anda lakukan, Tuan?" Juan melirik penasaran ke arah wajah tuannya dari cermin kaca mobil.


Juan hanya mengangguk, kembali berkonsentrasi menjaga jarak dan mencoba membaur di antara lalu lalang kendaraan lain yang ada di jalanan menuju kota Bucket of Lavender.


Di dalam mobil hitamnya, Benjamin yang duduk di kursi depan menatap lembaran kertas yang tadi ia bawa dari sebuah map file.


Ben menyeringai ketika telah memahami isi informasi di dalam kertas tersebut. Stafnya telah menyerahkan beberapa log panggilan yang sering menghubungi dan dihubungi oleh ponsel Vito. Nama Stella Linardy kerap muncul.


Keterangan tentang Stella Linardy tertera lengkap. Wanita 35 tahun, sepupu dari Vito Linardy. Tinggal dan bekerja di sebuah kota bernama Capetown, sangat jauh dari BYork maupun Bucket of Lavender. Namun anehnya nomor Stella yang sering dihubungi oleh Vito diketahui berada di sebuah rumah kecil di kota Bucket of Lavender.


Sebelumnya, Benjamin telah berhasil menakuti Vito dan mendapatkan pengakuan bahwa ia memang mengantarkan Belinda ke kota Bucket of Lavender. Benjamin hanya mendapatkan informasi itu, tidak ada keterangan lain. Vito mengaku ia tidak tahu apa alasan Belinda melarikan diri. Ben tidak berniat mengorek informasi lainnya. Hanya berpikir bagaimana menjemput dan menangkap Belinda secepatnya. Semua pertanyaan tentang alasan kenapa gadis itu melakukan perbuatan ini akan ia tanyakan sendiri pada adiknya itu.


Benjamin memasukkan kembali lembaran tersebut ke dalam mapfile. Puas karena ternyata Vito tidak berbohong kepadanya. Ia yakin, Belinda memang ada di kota Bucket of Lavender.


Satu jam berkendara, bukit penuh bunga Lavender sudah terlihat di kejauhan. di depan deretan bunga tersebut, tersusun rapi rumah- rumah yang jadi tempat tinggal baik oleh penduduk setempat maupun para penyewa atau pelancong.


Matahari sore yang telah kembali di peraduannya masih menyisakan cahaya kekuningan di balik bukit. Pemandangan yang sangat indah yang dituangkan Belinda di atas kanvas. Lukisan yang baru saja ia selesaikan dengan hati bahagia dan puas.


Mata Belinda memandang takjub pada hasil karyanya itu. Mengakui pada diri sendiri bahwa lukisannya terlihat berbeda setelah ia merasa jiwanya bebas. Goresan yang ia torehkan terlihat lebih hidup dan indah.


Belinda masih tersenyum ketika menarik kursi dan menggeser benda tersebut ke dekat sebuah meja bulat kecil. Ia menatap matahari terbenam sambil mengangkat gelas jus apel ke bibir dan mulai minum.


Belinda melirik potongan cake penuh krim yang ada di piring kecil. Setelah meletakkan gelas jus, Bel mulai memotong cake tersebut dengan ujung garpu. Ia baru saja memasukkan potongan pertama ke dalam mulut ketika mendengar pintu di beranda depan diketuk seseorang.


Belinda tersenyum lebar, Mengira pastilah tetangganya yang datang. Nyonya Helena kerap mengunjungi Belinda. Wanita tua yang baik hati tersebut mengatakan khawatir Bel merasa kesepian karena tinggal sendirian.


Sambil menyuap satu potongan cake lagi, Bel bergegas berjalan masuk menuju pintu depan, tidak menyadari suapan tadi menyisakan satu torehan krim kocok berwarna putih di sudut kiri bibirnya.


Tiba di pintu depan, Bel memindahkan garpu kue yang lupa ia letakkan ke tangan kiri, lalu tangan kanannya mulai membuka kunci pintu.


"Tunggu, Nyonya. Sebentar ...," ucap Bel dengan suara ceria ketika mendengar tamunya kembali mengetuk.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Buka pintunya Bel, selamat menikmati. Ada hadiah di depan pintu. Hahhahahaha


Mohon maaf jadwal update tidak menentu ya.


Dukung author dengan klik like, love, bintang lima, vote hadiah dan komentar. Sebelumnya otor ucapin terimakasih.


Salam. DIANAZ.