Belinda

Belinda
36. Marriage bond



"Lukisanku belum semuanya selesai ...." suara yang kecil dan seperti dipaksa keluar dari mulut Belinda tersebut membuat Verga mengembuskan napas panjang.


"Tentu. Kita masih punya banyak waktu. Semua orang mengira kita masih berbulan madu. Tidak akan ada yang mencari kita. Jadi apa perlunya kita tergesa-gesa pulang."


Belinda akhirnya menegakkan kepala, sebuah senyum terima kasih terkembang di bibirnya. Verga mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar. Mengambil sebuah selimut dan kembali ke ruang tamu. Ia melempar selimut tersebut ke arah Benjamin, kemudian menoleh ke arah Belinda.


"Maaf, Bel. Aku tidak akan tidur di sofa, lalu memberi kakakmu bahan untuk menertawakan aku ... dan kau Ben, kuharap kau bisa tidur nyenyak. Itu selimutmu." Tunjuk Verga ke arah selimut yang jatuh di lantai.


Verga menghilang ke dalam kamar, meninggalkan Belinda yang hanya berdiri diam dan Benjamin yang menatap adiknya dengan senyum mengejek.


"Jangan bilang kau takut masuk ke dalam sana. Kenapa? Takut? Kau menanganinya dengan baik sekali di hari pertama menikah bukan? Apa kemampuanmu itu sudah hilang?" sindir Benjamin.


Belinda menatap tajam kakaknya. Mengacungkan telunjuk ke arah wajah Benjamin.


"Aku bukanlah Belinda yang dulu. Yang akan diam saja dan menurut apa katamu. Aku bukan penakut." Belinda melangkah cepat ke arah selimut yang tadi dilempar Verga di atas lantai. Ia melempar benda tersebut hingga menutupi wajah Benjamin. Belum sempat Benjamin bergerak menyingkirkan selimut, Belinda sudah berlari mendekat, lalu dengan sengaja menginjak kaki Benjamin kuat-kuat.


"Rasakan itu!" serunya puas sebelum berlari kembali ke kamar dan mengunci pintu.


"Belinda!" teriakan Benjamin terdengar hingga ke dalam kamar. Belinda menunggu sejenak di belakang pintu, mengira-ngira apakah Ben akan menggedor pintu kamarnya. Namun, tidak ada yang terjadi. Hingga ia bisa menarik napas lega dan kemudian berbalik.


Penglihatan pertama Bel di dalam kamar adalah suaminya yang tengah mengeluarkan lembaran uang dari dalam tas kanvas.


"Kau membayar cash semua kebutuhanmu?"


Belinda menelan ludah, lalu bersandar di pintu kamar. "Y-ya ...."


"Kau ... membawa uang dan juga batu-batu ini ... begitu saja ... tanpa pengawal?"


"Ya ...."


Verga berbalik, menatap tajam wajah istrinya.


"Kau tahu tindakanmu sangatlah berbahaya? Kau bisa mengundang perampok! Mereka bisa melakukan apa saja demi apa yang ada di dalam tasmu!"


"Aku berhati-hati. Lagipula ... aku tidak tampak seperti para gadis kaya yang membawa uang."


"Bagaimana cara kau membawanya?"


"Aku bergantian mobil bersama Vito. Kami tampak seperti gembel yang berdebu. Kebanyakan mobil yang kami tumpangi adalah mobil-mobil sayur. Jadi tidak ada yang mencurigai isi tas itu."


Verga Marchetti tampak berkedip. Ketika istrinya mengatakan tentang gembel. Otaknya mencoba membayangkan hal tersebut.


"Tetap saja ... kau mengundang bahaya bagi dirimu sendiri ...." Verga kembali berbalik. Menahan amarah yang tiba-tiba muncul ketika bayangan istrinya dibawa dalam truk sayur oleh Vito, dalam keadaan kotor dan berdebu, membawa lembaran uang satu tas penuh dan juga perhiasan.


Perlahan Verga mengembuskan napas, mengatur agar nada suaranya tidak terdengar marah.


"Apa pernah terbayang di kepalamu bagaimana bila kau bertemu orang jahat? Mereka tidak hanya menginginkan uangmu saja, tapi juga akan melukai dirimu, Belinda ...."


Belinda tidak menjawab, hanya diam tertunduk.


"Jika sesuatu terjadi padamu ... kau tahu Vito temanmu juga akan menanggung akibatnya. Untuk menemukanmu, Ben telah mengancam Vito, juga keluarganya."


Verga menatap beberapa lama, sebelum bergerak mendekat.


Belinda mengangkat kepala ketika mendengar suara langkah. Matanya bertabrakan dengan mata biru suaminya yang telah berdiri satu langkah di hadapan Belinda.


Tangan Verga terulur, merapikan beberapa anak rambut yang menempel di rahang bawah Belinda. Sentuhan di kulit istrinya itu membuat ia terkenang kembali kebersamaan mereka yang hanya satu hari, juga membuatnya mengingat kalau ia sudah ditinggalkan.


Lengan kiri Verga terulur mengelilingi pinggang Belinda dan menariknya mendekat, sedangkan tangan kanannya memegangi dagu Belinda.


Mata bulat Belinda makin melebar ketika tubuhnya ditarik makin erat, hingga kakinya bahkan tidak lagi menginjak lantai.


"Aku tidak pernah menarik kata-kataku. Aku telah berjanji menjaga dan melindungimu, juga mengatakan akan memenuhi keinginanmu. Kau hanya perlu mengatakannya. Tapi aku juga punya syarat ...."


Belinda menggerakkan kepalanya, ingin melepas dagunya yang dipegang Verga. Namun cengkraman Verga di dagunya makin kuat. Belinda menatap ke dalam mata suaminya yang berkilat, ia baru menyadari kilat kemarahan yang sepertinya telah disimpan dengan sangat baik oleh pria itu.


"Kau ... bebas mengerjakan apapun yang kau mau, tapi harus memberitahuku, Bel. Kau mau melukis? Keliling dunia dan memindahkannya ke atas kanvasmu, aku akan memenuhinya. Jangan pernah melakukan hal ini lagi ... meninggalkan suamimu dengan sengaja tanpa kata-kata ... selama ikatan ini belum terputus, jangan pernah lakukan lagi ...."


Verga sengaja diam sejenak, menatap mata Belinda yang balik menatapnya. Mencari kilau ketakutan atau membangkang. Namun ia melihat sinar pasrah, seolah Belinda akan menerima apapun yang akan ia katakan atau lakukan.


"Apa kau pernah berpikir ... apa yang kita lakukan satu hari penuh di tempat tidur waktu itu sebagai pengantin bisa meninggalkan bekas pada tubuhmu. Bagaimana jika penyatuan kita saat itu telah membuahkan satu kehidupan di sini ...." Verga mengendurkan lilitan lengannya di pinggang Belinda hingga tubuh wanita itu kembali menginjak lantai. Dengan ujung jarinya, ia menunjuk ke arah perut Belinda.


Belinda tertunduk, menatap tangan Verga yang masih menunjuk ke arah perutnya. Memikirkan kata-kata pria itu membuat Belinda menjadi pucat.


"Apa terpikirkan olehmu bagaimana jika hal itu terjadi?"


Melihat Belinda diam tertunduk membuat Verga mengembuskan napas. Ia ingin sekali marah dan meluapkan rasa itu pada Belinda, sebesar keinginannya memeluk dan mencium wanita itu sampai kehabisan napas. Namun tidak ada satupun dari keinginan itu yang ia lampiaskan.


"Ayo tidur ... kau pasti lelah. Gantilah gaunmu," ucap Verga sambil berbalik dan mulai membuka mantel. Ia melempar benda tersebut ke sudut ruangan, lalu menyusul dengan melepaskan kemeja yang ia pakai.


Belinda mulai bergerak ketika Verga sudah naik ke tempat tidur dan tersembunyi di bawah selimut. Ia mengumpulkan mantel dan kemeja Verga, lalu menggantungnya di sisi lemari pakaian. Setelahnya ia mengambil gaun tidur selutut tanpa lengan, pakaian yang biasa ia pakai untuk tidur. Sambil melirik Verga yang tidur menyamping, Bel mulai mengganti gaunnya hingga selesai. Ia bersyukur suaminya sama sekali tidak bergerak atau bersuara.


Belinda mematikan lampu kamar, lalu menghidupkan lampu tidur. Ia ragu sejenak di sisi tempat tidur, melirik Verga yang terpejam dengan tubuh menyamping menghadap ke sisi bagian Belinda.


Dalam temaram cahaya kamar, Bel memusatkan pandangannya ke wajah Verga. Dua bola mata biru itu terpejam rapat, dada verga naik turun teratur di balik selimut yang menutupi hingga atas pinggang. Memutuskan suaminya benar-benar hanya ingin tidur, Belinda memasang sebuah bantal guling ditengah-tengah tempat tidur, lalu beranjak naik dan masuk ke bawah selimut. Ia berbaring memunggungi Verga. Menunggu dengan mata terbuka, entah berapa lama detik demi detik jarum jam telah berputar, Bel belum bisa memejamkan mata, masih ingin memastikan suaminya itu benar-benar sudah tertidur.


Belinda menarik selimut hingga menutupi bahu, tangan kanannya menyentuh perutnya sendiri di bawah selimut. Memikirkan kata-kata Verga tentang kebersamaan mereka satu hari setelah menikah. Belinda menggigit bibir, tanggal menstruasi bulanannya memang belum sampai.


Jika benar aku hamil ... astaga ... dia pasti marah sekali ...aku melarikan diri membawa calon bayinya ....


Belinda bergerak perlahan, mengganti posisi tubuh menghadap Verga. Ia menatap tubuh suaminya itu dalam temaram cahaya lampu.


Rambutnya terlihat lebih panjang ... juga bulu-bulu di rahangnya ... sepertinya ia tidak sempat bercukur. Benjamin juga terlihat sama ... wajah yang biasanya bersih ... jadi seperti ....


Belinda beringsut mendekat, menggeser kepalanya di atas bantal. Menatap wajah Verga yang terpejam, ia tanpa sadar mengulurkan tangan. Ujung telunjuk Belinda menyentuh bulu-bulu di rahang Verga. Satu senyum menyeruak di bibir Bel ketika satu pikiran melintas di otaknya.


Seperti monyet? Ah ... bukan, bukan monyet, monyet terlalu kecil untuk ukuran tubuh mereka. Dia dan Ben terlihat seperti gorilla ... tapi tetap saja dia tampan ... tentu saja lebih tampan dari si brengsekk Benjamin ...


Mata Belinda turun dari wajah Verga, berpindah memandangi dada bidang suaminya. Tangannya menarik sedikit posisi bantal guling agar turun dan tidak menghalangi arah pandang matanya.


Pikiran Bel mengembara, membayangkan malam panas yang ia habiskan bersama suaminya itu di tempat tidur, juga di kamar mandi.


Belinda tidak menyadari, sepasang mata biru balik menatapnya dari balik bayang-bayang lampu kamar yang redup.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Nah loh, Bel. Blom bobok suamimu loh, hahhah... Benjamin di ruang tamu udah bobok blom ya?


Jangan lupa dukungannya dengan klik like ,love, bintang lima, komentar dan Vote ya.my readers. Sebelumnya author ucapin terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.