Belinda

Belinda
54. Charity party 2



Daniella menarik siku Evander dan menggoyangkan ujung lengan jasnya, membuat pria itu menoleh.


"Ya?"


"Kau berjanji menunjukkan benda itu padaku."


"Oh ... kau mau kita pergi sekarang?"


Ella mengangguk antusias.


"Kemana?" tanya Bernie dan Hector hampir bersamaan.


"Rahasia!" seru Ella sambil meletakkan jari telunjuk di bibir. "Ayo Evan."


Ella segera menggandeng tangan Evan, dengan senyum terkembang mereka berjalan berdua melewati beberapa tamu yang menatap dengan penasaran.


"Ah, kita pasti jadi bahan cerita. Kau merupakan sumber berita akhir-akhir ini, Ella. Haruskah kita menambah sedikit bumbu dengan satu dansa bersama?" tanya Evander setengah berbisik.


Ella menaikkan kedua alis. "Kalau kau tidak keberatan dijadikan bahan gosip, ayo berdansa dulu sebelum pergi ke sana."


Ella dan Evan mengubah arah ke lantai dansa. Alunan musik yang terdengar di ruangan tersebut memandu keduanya mengelilingi lantai dansa bersama beberapa pasangan lain yang sudah lebih dulu mengambil tempat.


Tawa dan juga candaan segera mengalir diantara mereka, membuat nada geli itu terdengar oleh orang-orang yang mereka lewati. Orang lain yang melihat memiliki dugaan dan pikiran sendiri tentang pemandangan tersebut.


"Kau tidak takut kalau digosipkan bersamaku?" tanya Evan.


"Tidak. Kaulah yang kasihan, Evan. Kau akan dianggap sebagai salah satu calon target oleh artis Daniella Dolores. Mereka akan mengambil foto kita berdua, kemudian menjadikannya berita untuk headline besok pagi. Tentu saja Hector tidak akan ketinggalan. Kalian berdua akan dianggap sebagai kandidat calon suami untukku. Aku digosipkan sedang hobi mencari teman kencan. Semoga saja kekasihmu yang sesungguhnya tidak cemburu."


Evander tertawa geli. "Aku tidak punya kekasih."


Ella menaikkan kedua bahu. Sedikit cerita tentang masu lalu pria itu sudah pernah ia dengar. Evander Morrone dulu sekali pernah menikah, namun pernikahan itu dikabarkan berlangsung sangat singkat. Sejak itu Evander hidup sendiri hingga sekarang.


Musik akhirnya berhenti, Evander menggandeng lengan Ella dan membimbingnya keluar dari lantai dansa.


"Ayo pergi. Bahan gosipnya sudah cukup. Lukisannya di lantai atas," ucap Evander.


Mereka memasuki sebuah lift. Ketika tiba di lantai yang akan dituju, Evander membawa Ella ke depan sebuah pintu dan mengeluarkan sebuah kartu untuk membukanya.


"Kau bahkan punya kuncinya," ucap Ella.


"Ini ruang pertemuan. Beberapa pengusaha kadang bertemu di sini bersama para pejabat pemerintahan. Lukisannya ditaruh di dalam."


Evan membuka pintu lebar-lebar. Ia tidak melihat seorang pun ada di dalam. Keningnya berkerut.


Ella melewati Evan dan berjalan menuju sisi dinding dimana sebuah lukisan yang cukup besar tergantung di sana.


"Ini ...."


"Kau tahu nama tempat dalam lukisan itu bukan?"


"Ya ... satu jam perjalanan dari Kota BYork. Bucket of Lavender." Ella tertawa kecil, teringat lokasi sebenarnya tempat tersebut dan kisah dibaliknya. "Pelukisnya memiliki kenangan sendiri di tempat ini."


"Aku yakin kau tahu detail ceritanya, karena itu kau penasaran melihat benda ini."


Ella menganggukkan kepala. "Aku jadi rindu ingin bertemu sepupuku dan istrinya. Saat ini, karya Belinda makin banyak dikenal orang."


Evander menganggukkan kepala bersamaan dengan ponselnya yang berdering.


"Ah, sekretarisku. Aku terima ini dulu, Ella."


Ella menganggukkan kepala, menoleh dan melihat Evander pergi keluar ruangan sambil menutup pintu. Ia kembali pada lukisan karya Belinda dan menatap dengan sorot kagum. Suasana pagi hari di dalam lukisan tersebut terlihat begitu hidup.


Suara pintu ditutup beberapa detik kemudian membuat Ella mengira Evander telah kembali.


"Sudah selesai, Evan? Sebentar sekali."


Ella membelai bingkai bagian bawah lukisan sambil bergumam, "aku ingin tahu siapa yang melepas lukisan ini hingga berada di sini. Apakah Belinda? Verga? Atau ...."


Benjamin, ucap Ella dalam hati.


Nama itu membuat rasa kecewa yang tadi ia rasakan atas kepergian pria itu kembali terasa. Ella mengembuskan napas, melangkah mendekati dinding kaca dan menatap pemandangan kota Copedam di malam hari.


"Dari sini, Copedam Hill tidak tampak sama sekali, Evan. Hanya kegelapan di ujung sana. Harusnya bukit itu di sana bukan? Tanahmu ...."


Tidak ada jawaban atau respon gerakan apapun. Ella mengerutkan kening dan segera menoleh. Seketika ia terhenyak. Di dekat pintu masuk, bukan Evander yang berdiri di sana, melainkan Benjamin. Orang yang masuk dan menutup pintu sejak tadi adalah Benjamin.


Ella mengatur ekspresinya secepat mungkin. Keberadaan pria itu membuatnya sangat terkejut.


"Kau salah masuk?" tanya Ella datar.


"Tidak. Aku minta waktu pada Evander. Dia memberiku beberapa menit untuk bicara denganmu."


"Evander seharusnya tidak melakukan itu tanpa ijinku."


"Dia mengatakan akan membawamu kembali ke bawah. Dia akan kembali sebentar lagi. Waktuku sedikit, karena itu ...."


"Karena itu pergilah. Kita sudah bicara kemarin. Benda milikmu sudah kukembalikan." Ella menggosok jari manis tangan kirinya yang sudah kosong, merujuk pada cincin yang kemarin ia kembalikan.


"Milikmu tetaplah milikmu? Apa yang kau maksud? Tepatnya siapa? Aku? Milikmu?" Ella tertawa, kemudian ia menggelengkan kepala, "Bukan, Benjamin. Aku bukan milikmu. Kau tidak melakukan apapun untuk mengokohkan apa yang kau sebut hubungan. Atau memastikan aku benar-benar jadi milikmu secara sah."


"Aku masih membujuk ayahmu, DD!"


"Sudahlah, Ben. Dad sangat teguh pendirian. Tidak akan menyetujui hubunganku denganmu ... kurasa pembicaraan kita selesai ... pergilah ... atau aku yang pergi."


Benjamin melangkah mendekat. Wajahnya terlihat sangat geram mendengar ucapan Ella.


"Kau benar-benar punya hubungan dengan asisten sutradara itu?"


"Itu bukan urusanmu."


"Itu urusanku. Karena ketika kau mendekatinya. Kau masih tunanganku"


Ella tersenyum. "Kau juga masih tunanganku ketika memeluk si rambut pirang, Benjamin."


Mata benjamin menatap bola mata Ella yang berkilat, lalu berpindah ke bibirnya dan kembali lagi menangkap sinar biru mata yang sedang menatap penuh amarah padanya itu.


"Hubunganku dan Gabby tidak seperti yang kau pikirkan, DD."


"Memangnya apa yang kupikirkan? ... sudahlah Ben, aku harus kembali sekarang. Maaf. Hector akan mencariku. Aku sudah pergi terlalu lama."


Ayunan langkah Ella baru saja melewati Benjamin ketika tangannya ditangkap dan ditarik. Sedetik kemudian ia sudah berada dalam pelukan Benjamin. Pria itu menunduk dan menatapnya lekat-lekat.


"Perasaanmu benar-benar sudah berubah?"


Ella merasa jantungnya berdebar dan rasa senang seolah bernyanyi di tiap pembuluh darahnya.


"Lepaskan aku, Benjamin."


"Aku ingin tahu ...." Benjamin mendekatkan wajahnya semakin menunduk. Ella berusaha bertahan memasang wajah malas dan ekspresi seolah Benjamin melakukan hal yang sia -sia.


"Biar kuperiksa sendiri," ucap Benjamin sembari menyatukan bibirnya dengan bibir Ella. Ciuman Benjamin penuh tuntutan, membelai bibir Ella dan mencecap penuh rindu.


Semua yang hanya bisa ia lakukan di dalam mimpi selama beberapa bulan ini menjadi kenyataan. Bisa memeluk dan mencium Ella lagi.


Ella menahan dirinya sekuat yang ia bisa. Ingin memberikan bukti pada Benjamin ia tidak terpengaruh sama sekali. Namun ketika tangan Benjamin mulai menjelajah mengelus bahunya dan mendapatkan ujung syal yang telah dipakaikan dengan cermat oleh Bernie ditarik hingga lepas, gairah & keinginan yang menguasai Ella mulai menang.


"Balas ciumanku, DD. Aku tahu kau menginginkannya," bisik Benjamin.


Mendengar ucapan itu, Ella balas memeluk leher Benjamin, membalas dan melepas rasa rindunya sendiri dengan ciuman dan belaian. Suhu semakin memanas ketika tangan Ella perlahan bergerak menyelinap ke balik jas yang dipakai Ben.


Keduanya larut dalam badai hasrat, tidak menyadari menit-menit sudah berlalu dan Evander sudah kembali dan menunggu di depan pintu.


Ketika ketukan demi ketukannya tidak mendapatkan respon, Evander sengaja berdeham kuat-kuat dan memanggil Ben dan Ella keras-keras.


"Ehmmm! Ben! Ella!? Maafkan aku, tapi kita harus kembali ke bawah sekarang."


Benjamin segera mundur satu langkah dan memasang jarak selengan dari Ella. Keduanya bertatapan dengan napas memburu.


Setelah berhasil menenangkan diri, dengan sorot mata penuh tekad Ben menata kembali syal di leher Ella, menutupi sebagian bahunya yang telanjang. Ia sengaja berlama-lama mengikat benda tersebut.


"Kau lihat? Perasaanmu belum berubah sama sekali, DD. Jangan keras kepala ...."


Ella menelan ludah, kepalanya tertunduk menahan getaran tubuhnya karena sentuhan Benjamin, ia berpikir keras menyiapkan jawaban balasan.


"Lima hari lagi ... bersabarlah lima hari lagi ... aku akan pergi ke BYork. Aku akan menemui ayahmu, DD."


Ella sedikit terkejut dengan bisikan tersebut. Benjamin akan menemui ayahnya. Namun segera saja rasa pesimis menyerangnya. Selama ini ia tahu Ben sudah menemui ayahnya berulangkali. Tapi ayahnya bergeming, bagi Daniel Dolores, Benjamin Antolini bukanlah menantu idaman.


Sebuah skenario yang sudah ia rencanakan kembali berkelebat di pikiran Ella. Seketika wajah Ella berubah, ia menegakkan kepala dan memandang Benjamin dengan senyum malas.


Jemari Ella terangkat, singgah ke kemeja Benjamin yang tanpa sadar sudah ia buka ketika menyelipkan tangannya ke dada pria itu.


"Tanganku nakal bukan?" Ella tertawa kecil, bersandiwara seolah ciuman dan gairah yang mereka bagi tadi tidak meninggalkan efek apapun padanya.


"Dengarkan aku, Ben. Aku sudah melakukan ciuman seperti ini mungkin puluhan kali dalam drama atau film yang aku perankan ... aku dituntut sangat bergairah ... aku berhasil kan? Tidak sulit melakukannya denganmu. Kau pria tampan yang kebetulan suka menciumku. Bukan begitu?"


Selesai mengancingkan dua kancing kemeja Benjamin, Ella kembali mendongakkan kepala.


"Aku mau menikah, Benjamin. Yang mengharuskan aku mencari pasangan. Rencana hidupku ke depan bukan lagi mengejar karir ... aku mau punya anak, berkeluarga. Sayangnya ... orang tuaku tidak merestuimu dan kau ... tidak akan pernah bisa mengubah pendapat mereka."


Ella melangkah meninggalkan Benjamin menuju pintu keluar.


"Aku akan mengubah pendapat ayahmu, DD. Tunggu aku lima hari lagi di BYork."


Daniella berhenti sejenak, lalu menaikkan kedua bahu tanpa menoleh. Seolah tidak peduli. Ia membuka pintu dan bertatapan dengan Evander.


"Maaf ...." bisik Evander.


Ella hanya tersenyum, lalu memegang siku Evander. Menariknya kembali menuju lift untuk kembali ke ruang pesta.


NEXT >>>>>


**************