Belinda

Belinda
57. Daddy permission



Daniel melangkah gontai memasuki ruang depan rumah, Elena yang membukakan pintu mengernyitkan kening melihat wajah suaminya yang pucat dan tampak tertekan.


"Daniel? Ada apa?" tanya Elena. Ia mengikuti langkah suaminya setelah menutup dan mengunci pintu.


"Aku ... ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kau tidurlah lebih dulu, Elena. Aku akan ke ruang kerja."


Daniel melangkah masuk ke ruang kerjanya, lalu segera menutup pintu. Tanda bahwa ia sedang tidak mau diganggu.


Elena menaikkan kedua alis. Ia tidak sering melihat suaminya tertekan. Daniel orang yang beranggapan bahwa masalah datang selalu dengan solusi. Masalah apapun itu meski ia marah, kecewa ataupun gusar, Daniel selalu menghadapinya dengan segera. Ia akan langsung membicarakan dengan Elena. Namun, jika ia memilih mengurung diri dulu


di kamar kerja, maka masalah yang datang sepertinya butuh solusi khusus. Daniel akan memikirkan sendiri dulu sebelum membicarakannya dengan Elena.


Sambil mengendikkan kedua bahu, Elena melangkah ke arah kamarnya. Ia melihat ke lantai atas dan berhenti sejenak. Menimbang apakah perlu ia melihat Ella lagi. Sejak tadi Ella mengeluh kram perut, makan malam yang di buat Elena hanya dimakan sedikit, jadi ia membuatkan lagi sup agar putrinya itu merasa lebih baik.


Di dalam ruang kerja, Daniel mengetukkan jari telunjuknya berulang kali ke atas meja. Dugaan di dalam kepalanya tidak mau pergi bahwa Ella sedang hamil. Ia menghubungkan ucapan Olivia saat makan malam tadi dengan keadaan Ella. Ia merasa perlu mengonfirmasi kebenaran dugaan itu, namun bagaimana cara menanyakannya pada Daniella.


Atau kudatangi saja bajinggan yang telah menggoda Ella? Siall! Pantas saja kau terus datang menemuiku waktu itu. Kau sudah bersamanya dan ... jika ya kau yang melakukannya, Benjamin! Aku akan memastikan kau bertanggung jawab! Kali ini aku yang akan mendatangimu.


*********


Suasana sarapan pagi di ruang makan terasa sedikit aneh bagi Ella. Ayahnya lebih banyak diam dan selalu meliriknya, seolah sedang menilai Ella.


"Daddy kenapa? Sakit?"


"Dia begitu sejak pulang dari acara makan malam tadi, Ella. Aku tidak bisa membujuknya bicara. Dia tidak mau bilang. Lihat wajahnya itu ... seolah sedang tertimpa masalah yang tidak bisa diatasi, tapi anehnya dia tidak bisa mengatakannya pada kita."


"Ada kalanya sesuatu itu tidak perlu dibicarakan Elena ... atau belum saatnya dibicarakan."


"Kenapa begitu?" Elena mengulurkan gelas air putih pada suaminya.


"Untuk menjaga perasaan orang-orang yang disayangi. Agar tidak khawatir ... agar jangan membebani pikiran mereka. Jadi cukup di pikirkan dan diselesaikan sendiri." Daniel melihat Ella yang membersihkan selai kacang yang sudah diolesi oleh ibunya. Bibirnya mengkerut seolah melihat selai itu membuatnya merasa tidak nyaman, lalu Ella menelan ludah berkali-kali, seolah merasa mual. "kau setuju pemikiran itu, El?" tanya Daniel tiba-tiba.


Ella mendongak, menatap ayahnya sambil mengangguk berulang kali. Ia memasukkan roti tanpa selai itu ke dalam mulut, lalu segera mendorongnya dengan air putih.


"Ya ... aku juga tidak akan mau membuat orang lain khawatir. Apalagi orang yang disayangi, terutama Dad dan Mommy. Selagi bisa aku tangani, semua akan baik-baik saja. Tapi Daddy ... kau membuat kami penasaran. Apa yang kalian bicarakan saat makan malam? Mom bilang Enrico dan Paman Verone juga hadir di sana?"


"Ya ... tidak ada yang khusus. Hanya perayaan restoran baru milik istri Erick."


"Apa kabar Verga? Daddy bertanya kah pada Paman? "


"Mereka baik-baik saja. Si kecil Velice makin aktif. Verone tidak tahan berjauhan lama. Siang ini mungkin ia akan singgah, sebelum pulang ke Broken Bridges."


"Kita harus menyiapkan makan siang yang istimewa, Ella! Pamanmu akan makan bersama. Bantu Mommy nanti, Oke?"


Ella tersenyum dan mengangguk ke arah ibunya. "Baik, Mommy. Asalkan Mommy masak sesuai keinginanku. Aku tidak mau menu seafood."


"Tentu. Sesuai selera Tuan putri," ucap Elena sambil tertawa.


Daniel menatap dua wanita di sisi kanan kirinya itu bergantian.Ia mengembuskan napas panjang.


"Ada sesuatu yang perlu kuurus, Elena. Jadi aku tidak akan makan siang di rumah. Bila Verone jadi datang, sampaikan saja salamku untuknya."


"Kapan kau kembali?" Elena bertanya biasa karena mengira suaminya pergi mengurus bisnis.


"Mungkin sudah malam baru aku kembali."


Ella menyuap lagi potongan roti, lalu cepat-cepat mendorongnya dengan air putih.


"Kau akan kembung bila terus mendorong makananmu dengan air, Ella. Jika masih merasa mual dan tidak enak badan, pergilah periksa ke dokter bersama ibumu. Sudah berhari-hari makanmu tidak benar," tegur Daniel.


"Tidak. Aku tidak perlu dokter, Dad. Aku baik-baik saja."


"Tapi ibumu bilang kau terus muntah, terus merasa mual. Kau cepat lelah. Tidak seperti biasanya."


"Meskipun begitu, itu normal bagi-" Ella seolah teringat dan langsung berhenti bicara.


"Normal bagi siapa? Itu gejala penyakit, Ella" Daniel menyipitkan mata.


Ella mengibaskan tangannya. "Bagiku. Yang sering terlambat makan karena pekerjaan, Daddy." Ella tersenyum manis.


Daniel kembali mengembuskan napas panjang. Tidak terucap di lidahnya untuk menanyakan kebenaran dugaan Ella hamil.


"Oh, ya. Mom, Dad. Nanti malam aku akan keluar bersama Hector. Ia mengajakku makan malam. Usahakan pulang sebelum jam makan malam, Dad, atau Mommy akan makan malam sendirian malam ini."


"Gosip di media makin panas, Ella ... kau dan Hector, lalu dengan Evander. Bila hubunganmu dengan Hector tidak ada hubungan romantis sama sekali, maka hentikan keluar bersama Hector, agar media berhenti memberitakanmu."


"Kenapa Daddy mengira tidak ada? Hector pria yang baik, lumayan tampan, masih muda, dan yang penting ,dia mengagumi, terpesona dan sangat menyukaiku."


"Kagum, suka, terpesona, berbeda dengan mencintai, Ella. Jangan terburu-buru. Pilih yang bertanggung jawab dan benar-benar mencintaimu."


"Sulit mencarinya, Dad. Ada satu calon, tapi tidak termasuk tipe Daddy. Padahal aku sedang mengusahakan membuatnya mencintai dan tergila-gila padaku. Daddy tidak menyukainya, jadi aku meninggalkannya ... sekarang aku beralih pada Hector, kurasa Hector bisa jadi suami yang baik ...."


"Dia bukan tipemu, Ella. Dia terlalu muda."


"Tapi dia bisa diandalkan, Daddy." Ella terus menjawab perkataan ayahnya, meskipun di dalam hati ia mengiyakan ucapan ayahnya itu. Hector bukan tipe yang pas untuk jadi suaminya, tapi pas untuk dijadikan teman dan sahabat.


"Kalau boleh Daddy tahu, kenapa kau seperti tergesa-gesa ingin menikah? Kemarin kau tidak terlalu antusias."


Ella menunduk, seolah tidak ingin ayahnya melihat dan membaca ekspresinya.


"Tidak ada alasan khusus, Dad ... hanya ... beberapa teman yang kutemui banyak yang sudah memiliki suami dan anak. Aku ... merasa sudah waktunya aku berumah tangga. Itu saja ...."


Ucapan Ella yang mengambang membuat Daniel menggertakkan gigi. Ia menyelesaikan sarapannya dengan cepat.


"Aku selesai, Elena. Selesaikan sarapan kalian. Aku pergi sekarang. Jangan menungguku makan malam, Elena. Aku sedikit sibuk hari ini. Sampaikan salamku nanti kepada Verone."


Daniel meninggalkan meja diiringi tatapan kebingungan dari istrinya dan senyum simpul dari putrinya.


*********


Benjamin menghentikan pembicaraan dengan ayahnya ketika sekretarisnya masuk dengan kedua tangan diremas. Wajah wanita itu terlihat cemas dan pucat.


"Bukankah aku sudah katakan jangan ganggu untuk tiga puluh menit ke depan. Aku ada tamu pen-"


ucapan Benjamin langsung dipotong sekretarisnya dengan nada terbata. "Ma-maafkan sa-saya Tuan Antolini. Tap-tapi ... seorang pria memaksa dan mengancam akan mencekik seseorang jika saya ti-tidak se-gera memberitahu Anda tentang kedatangannya."


"Pria?"


Sekretaris itu mengangguk. "Sudah berumur, "ucapnya sambil melirik Belardo Antolini, ayah sang atasan. Memberitahu Ben dan Belardo seberapa berumur tamu tersebut.


"Dia terlihat sangat marah, Tuan. Pesan beliau pada saya, katakan pada Benjamin Antolini bahwa Daniel Dolores mencarinya."


Benjamin seketika berdiri dan akan pergi, namun tangannya segera ditangkap oleh Belardo.


"Tunggu, Ben." Belardo melirik sang sekretaris, "kau bilang ia sangat marah?"


"Iya, Tuan. Beliau ... minta segera-"


Benjamin menggelengkan kepalanya.


"Aku belum melakukan apa-apa. Ayah tahu aku berniat mengunjungi keluarga Dolores besok bersama Ayah."


Belardo mengangguk, namun tidak melepaskan tangan putranya.


"Ijinkan dia masuk, lalu tutup pintunya rapat-rapat," perintah Belardo baru kemudian melepas tangan Benjamin.


Sang sekretaris mengangguk dan bergegas keluar. Ia masuk kembali beberapa saat kemudian bersama tamu yang dimaksud.


Belardo tersenyum ramah dan melangkah menyambut.


"Selamat siang, Daniel. Senang melihatmu. Apa yang membuatmu jauh-jauh datang kemari? "


Daniel menganggukkan kepala dengan sopan kepada Belardo, lalu beralih dengan wajah dingin menatap pada Benjamin.


"Katakan padaku alasan kenapa kemarin kau berkeras sekali meminta putriku!? Apa yang sudah kau lakukan padanya!?" ucap Daniel langsung tanpa basa-basi.


Benjamin melihat kemarahan yang ditahan di wajah Daniel. Jika menilik ucapan pria itu, maka kemarahannya ada hubungannya dengan Daniella.


"Karena aku mencintai putri Anda, Tuan Daniel."


Jawaban itu membuat Daniel menatap ke matanya dalam-dalam. Benjamin balas menatap, tidak terlihat gelisah sedikit pun. Ia merasa lega karena sudah mengatakan isi hatinya. Meskipun baru pada calon ayah mertuanya, belum kepada Daniella.


Belardo menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah Ben. Setuju dengan ucapan tegas putranya.


"Lalu pertanyaanku yang kedua. Apa yang sudah kau lakukan padanya?"


Benjamin mengerutkan kening.


"Aku tidak melakukan apa-apa ,Tuan. Aku hanya mencintainya dan ingin hidup bersamanya."


Terlihat keraguan di mata Daniel, kepalan tangannya kemudian terbuka, lalu ia mengembuskan napas berulangkali dengan kening berkerut.


"Kau ... pernahkah ... bersamanya?"


"Sering. Jadi aku tahu bagaimana Daniella dan jadi benar-benar jatuh cinta, Tuan Daniel." Setelah mengucapkan isi hatinya tadi, Benjamin merasa benar-benar lega dan tanpa beban lagi mengucapkan seluruh pikirannya.


"Bukan itu maksudku. Dia ...." Daniel merasa tidak nyaman dan mulai merasa malu, bagaimana jika ia menduga hal yang salah. Bukan Benjamin pria yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kehamilan putrinya.


"Kau benar-benar tidak pernah-" lidah Daniel terasa kaku tiba-tiba. Setelah beberapa detik berpikir dan berdiam diri, Ia kemudian membungkuk ke arah Belardo. "Maafkan aku. Aku terlalu panik dan langsung kemari tanpa berpikir ... Aku percaya pada ucapannya. Jadi aku mohon diri. Sepetinya aku salah mengira."


"Apa yang salah, Daniel? Katakanlah ... mungkin kami bisa membantu." Belardo berusaha menahan Daniel.


Ucapan itu membuat Daniel yang sudah berbalik menoleh ke arah Belardo, lalu ia menoleh lagi ke arah Benjamin. Keningnya mengerut, lalu sebuah keputusan melintas. Sudah kepalang tanggung ia muncul, kenapa tidak langsung saja ia katakan.


"Tidak, Belardo. Aku sedang sibuk. Maafkan aku datang kemari membawa dugaan tidak berdasar. Putriku muntah-muntah dan tidak bisa makan dengan benar karena sedang mengandung. Dia berpikir bahwa Hector cocok dijadikan suaminya. Aku tahu dia dan Hector dekat baru akhir-akhir ini. Jadi aku tahu pasti bukan dia ayah dari bay-"


"Hamil!? DD!? Daniella tengah me-mengandung!?" Benjamin berseru dengan wajah terkejut.


Belardo menatap Benjamin dengan wajah terkejut, matanya menatap tajam ingin segera mendengar jawaban Ben.


Daniel menatap tanpa berkedip, tidak ada yang terlewat dari matanya setiap respon dari Putra Belardo itu.


"DD ... kenapa tidak bilang kalau ... ya Tuhan, aku yang salah ...." Benjamin mundur dan seolah kakinya lemas, ia terduduk di sofa. Kedua tangannya mengusap, lalu menutup wajahnya yang tertunduk, Daniel dan Belardo menunggu dalam diam. Tangan Daniel yang sudah berada di gagang pintu berpegangan erat menunggu jawaban.


"Kaukah ... pria yang pernah bersamanya?" tanya Daniel dengan nada kecil yang aneh.


Ketika tangan Benjamin turun dari wajah dan ia mendongak, seluruh ekspresi pria itu terlihat oleh Belardo, juga Daniel. Mata Benjamin berbinar, bibirnya malah mengunggingkan senyum smirk yang membuat Daniel kembali naik darah.


"Kenapa DD tidak mengatakannya padaku," ucap Ben.


"Jadi benar ... kau pernah tidur dengannya?" tanya Daniel terus terang.


Belardo yang mendengar amarah di suara Daniel langsung mengangkat tangan dan melambaikannya. "Mmm ... kurasa kita bisa selesaikan dengan cara kekeluargaan, Daniel dan-"


"Kau sudah pernah bersama Ella , karena itu kau kemarin terus datang melamarnya padaku?"


Benjamin langsung berdiri siap dan menganggukkan kepala dengan tegas.


"Ya, Tuan Daniel. Tapi saya memang benar-benar mencintai putri Anda."


Seketika Daniel bergerak dan mengayunkan tinjunya. Mendarat telak di pipi kiri Benjamin dan membuatnya kembali terjengkang ke atas sofa. Belardo tidak sempat melakukan apapun. Ia berteriak dan langsung memegangi bahu Daniel ynqg sudah meraup bagian depan kemeja Ben.


"Lalu ketika aku menolakmu, kau berhenti dan membiarkan dia sendirian menanggung kehamilannya dan berusaha mencari calon suami lain agar anaknya memiliki ayah! Kau bajinggan tengik!"


"Tapi Anda menyuruh saya pergi. Saya hanya menjauh sementara," ucap Benjamin membela diri.


"Daniel, Daniel! Lepaskan Benjamin, Daniel! Ayo, Ayo lepaskan dan kita bicara baik -baik!"


Sekretaris Ben yang mendengar keributan di dalam ruangan atasannya segera memanggil security. Dua pria segera masuk dan kemudian membantu Belardo melepaskan Daniel dari tubuh Benjamin.


Semua orang menarik napas buru-buru. Setelah tidak lagi terlalu sesak, barulah Belardo maju ke hadapan Daniel untuk bicara.


"Dia baru saja membicarakan niatnya untuk datang bersama kami semua ke kediaman Dolores besok, Daniel. Putraku sama sekali tidak menyerah pada putrimu. Meskipun kau belum juga merestui. Aku minta maaf atas kelambanan tindakannya, tapi kita harus segera menikahkan mereka berdua, Daniel."


Daniel mengembuskan napas panjang. Ia menganggukkan kepala pada dua security yang masih memeganginya.


"Kalian boleh melepaskan aku. Aku tidak akan memukulnya lagi."


Benjamin berdiri dengan terhuyung, lalu menarik tisu untuk menutupi pipinya ynag terasa amat sakit.


"Saya akan datang sekarang juga jika Anda berkenan. Bersama seluruh keluarga Antolini."


Daniel menatap Belardo dan melihat pria tua itu mengangguk, membenarkan ucapan putranya.


"Baiklah."


"Kau merestui mereka kan, Daniel?" Belardo menatap calon besannya dengan wajah berharap.


"Ya ... mereka harus segera menikah, sebelum ide gila Daniella tentang mencari suami bertambah parah."


Ucapan itu membuat senyum lega akhirnya tersungging di bibir Belardo dan juga Benjamin.


Belardo segera mendekat dan memeluk calon besannya. Dalam diam, tangan Daniel bergerak balas memeluk Belardo. Benjamin merasa amat lega, ingin sekali ia menyeringai lebar. Namun tatapan Daniel yang tak lepas dari wajahnya membuat ia hanya berani mengangguk dengan wajah serius.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Satu bab lagi menuju akhir. The End yang berujung manis diharapkan untuk Black dan DD. Terima kasih dukungannya untuk novel ini ya semuanya. Semoga bahagia dan sehat selalu. Aamiin...


Salam. DIANAZ.