Belinda

Belinda
14. Red Shirt



Daniella mematut dirinya di cermin. Gaun merah membuat penampilannya tampak berani, sennsual, sexii dan anggun sekaligus.


Gaun dibawah lutut tersebut masuk dalam gaun biasa, bukan gaun sexii, berkerah V tanpa lengan. Ada variasi dari bahan tille tembus pandang di bagian atas dada.Namun tubuh Ella yang berisi di tempat yang tepat membuat gaun tersebut tampak sexii di tubuhnya.


Ella sengaja berdandan cantik untuk menghadiri undangan makan malam dari Evander.


Di belakang Ella, Bernie berdecak kagum berulang kali. Menatap puas hasil akhir dari sentuhan tangannya di rambut dan wajah Ella. Rambut panjang Ella di sanggul rapi dengan ujung dibiarkan menjuntai. Hiasan mutiara dililitkan di bagian ikatannya. Sedangkan wajah Ella diberi make up hingga matanya terlihat lebih tajam dengan eye liner, shadow dan maskara. Alisnya yang tebal disisir teratur, bibirnya diberi perona berwarna merah, semerah gaun yang ia pakai.


Bernie berdeham dan tersenyum jahil ketika matanya bertemu dengan mata Ella di cermin.


"Siapa yang mau kau buat terkesan malam ini, Sayangku?"


"Tidak ada. Aku ingin kau bisa bereksperimen dengan rambut dan make upku malam ini. Itu saja."


Bernie terkekeh. "Kalau itu katamu. Aku terpaksa percaya. Tapi aku sungguh tidak dapat menebak. Dua-duanya memiliki kelebihan masing-masing."


"Siapa?" tanya Ella pura-pura bodoh. Ia tersenyum ketika Bernie malah terbahak mendengar pertanyaannya.


"Kau bebas tidak menjawabku, Sayang. Tapi kalau kau tanya aku, aku lebih memilih Mr. Antolini."


"Oh, ya?"


"Ya."


"Alasannya?"


"Dia enak dilihat ... aku jadi ingin menjilatinyaa, slurpppppppp." Bernie menjulurkan lidah sembari mengeluarkan suara seperti tengah menjilat seauatu.


Ella tertawa kencang, ia menunjuk ke arah pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Snow. Atau dulunya kamar Snow. Entah kemana Snow pindah. Atau malah mereka menempati kamar yang sama. Ella tidak tahu.


"Dia bisa saja mendengarmu. Dia di sebelah," ucap Ella.


Bernie terkekeh. Ia mengambil ponselnya dari atas meja rias dan melambai ke arah Ella. "Tugasku selesai. Selamat bersenang-senang, Sayang. Aku peringatkan! Jangan coba-coba melepas stokingmu!" seru Bernie penuh perintah sebelum melambai dan keluar melalui pintu.


Ella tersenyum. Ia mengangkat sedikit ujung gaunnya dan melihat stoking sewarna kulit yang ia pakai. Sejak kejadian penculikan dirinya, ia tidak pernah lagi melepas benda itu ketika sedang berada dalam suatu acara. Ella menahan diri dan akan mengenakannya sampai acara selesai dan ia kembali ke kamarnya, meski ia merasa tidak nyaman. Ella menggelengkan kepala untuk melupakan kejadian itu.


Berusaha mengembalikan semangatnya, Ella berjalan menuju pintu penghubung dan mengetuk dua kali, lalu membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari penghuni di sebelahnya.


"Snow!?" panggil Ella.


Benjamin berbalik cepat, sedikit terkejut melihat penampilan Ella.


"Dia tidak ada di sini," ucap Ben. Kemejanya yang belum dikancing dibiarkan menjuntai, ia menyipitkan mata menatap Ella.


"Kau biasa menerobos masuk?"


"Memangnya kenapa? Aku biasa melakukannya bila butuh sesuatu pada Snow."


"Itu tidak sopan! Snow juga butuh privacy! Bagaimana kalau ia sedang ganti pakaian? Seperti aku sekarang?"


"Snow lebih cekatan darimu kalau begitu. Dia tidak pernah kedapatan sedang berpakaian! Well .... kalau kupikir-pikir dia memang selalu stand by kapanpun ... hmmm, kapan dia ganti pakaian ya ...."


Benjamin mendesah. Ia berbalik dan mulai mengancingkan bagian lengan kemejanya. "Jangan pikirkan kapan Snow ganti pakaian! Sekarang kembali ke kamarmu dan tunggu aku selesai!"


"Aku sudah siap. Kalau aku menunggu di sini memangnya kenapa? Kau pengawal pribadiku, artinya aku bosmu. Bukan kau yang memerintah. "


"Aku sedang berpakaian, Ella."


Tawa Ella terdengar renyah sekaligus menyindir. "Kau resah berpakaian dilihat olehku? Aku sudah biasa melihat pria berganti pakaian, di ruang ganti kami mereka melepasnya tanpa ragu, kenapa tadi kau berbalik? Para aktor kami banyak yang bugar dan punya ABS lebih bagus dari punyamu."


Benjamin mengertakkan gigi. Wanita itu sepertinya mulai menjalankan serangan untuk menantangnya.


"No, Ben! Jangan berpakaian hitam!"


"Kau bilang aku harus berpakaian seperti pengawal pribadi. Mereka identik dengan warna ini."


Ella menggeleng. Mendekat dan mengambil jas dari tangan Benjamin.


"Kemejamu juga ganti, jangan yang ini! Jangan yang hitam. Ini makan malam santai bersama Evan, temanmu, rekan bisnismu, dan juga temanku!"


"Dan warna apa yang cocok untuk Evan?" tanya Benjamin tidak sabar.


"Ini! Coba ini!" Ella mengeluarkan satu kemeja berwarna putih bersih.


Benjamin menyipit menatap tangan Ella yang terulur ke arahnya dengan sebuah kemeja dalam genggaman.


Ella mengangkat dagu. Matanya berkilat menantang. Ia ingin tahu apa Benjamin akan mau mengganti kemejanya.


Ketika Ben menerima kemeja putih yang ia ulurkan, Ella mundur beberapa langkah. Bersedekap seolah ia sedang menilai cocok tidaknya pakaian tersebut untuk Benjamin.


Benjamin menggigit ujung lidahnya agar tidak mengatakan sesuatu. Dengan wajah masa bodoh ia melepas kemeja hitamnya, lalu meletakkannya sembarangan di dalam lemari. Ben menahan diri melihat ke arah Ella, meski ia ingin tahu apakah wanita itu menatap ke arah bagian atas tubuhnya yang tidak mengenakan apapun.


Setelah mengenakan kemeja putih itu dan mulai mengancingkan dari bagian bawah, Ben mendengar Ella berdecak.


"Ck! Terlihat tidak terlalu cocok denganku, Ben. Kau punya warna merah?"


Benjamin akhirnya menoleh. Mendapati wajah Ella terlihat biasa saja. Ben mengutuk darahnya yang entah kenapa mulai memanas hanya karena membuka pakaian di depan wanita itu. Ella benar, ia yang resah bila berdekatan dengan wanita itu. Tapi demi apapun, Ben tidak akan mengakuinya atau melakukan sesuatu yang akan membuat Ella tahu.


"Merah? Tidak ada pria yang mengenakan merah!"


"Tentu saja ada! Ayahku suka merah! Yang gelap!"


Benjamin mendesis ketika Ella mendekat dan mencari-cari di dalam lemari. Mereka berdiri berdekatan, namun wanita itu seolah tak terganggu dengan dirinya yang bertelannjang dada.


"Ini! Merah gelap! Cocok dengan gaunku! Ayo pakai! Tanpa jas. Kita akan cocok sekali bila berdansa nanti," Ella terkikik geli. Tidak yakin Ben akan mau mengenakannya.


Tanpa komentar Benjamin mengambil kemeja dan menyarungkan lengannya, Ella menahan diri agar tidak menelan ludah melihat gerakan otot pria itu ketika bergerak. Ia tersenyum dan menahan kakinya agar tidak pergi dari kamar itu.


Akting, Ella! Perlihatkan kau tidak terganggu sama sekali dengan keberadaan pria ini! Meski ia tampak menggiurkan bak dewa yunani sekalipun! Tidak bisa menanganimu, Ben? Hakh!


Ella menarik napas lega ketika seluruh kancing telah terpasang. Ia tersenyum, lalu segera mundur dengan alasan mengambil tas dan sepatunya.


"Aku ambil tas dan sepatuku dulu, tunggu aku ya. Kita pergi bersama."


Ella mengatur agar langkahnya tidak terlalu cepat. Di belakangnya ia mendengar Benjamin mulai membuka celana dan mulai memasukkan kemejanya. Ketika pintu sudah tertutup sempurna. Ella mengembuskan napas panjang dan segera menuangkan minuman ke dalam gelas. Ia meneguk dengan rakus sampai minumannya habis.


"Ya ampuuuuuun. Aku pasti sudah gila! Dia membuatku panas dingin!"


NEXT >>>>>>


*********


From Author,


Kenapa gak tunggu Ben masukan ujung kemejanya dulu DD? Wkkwkwkw, aku Jadi pengen nyubit deh ....


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.