Belinda

Belinda
31. Gold ring



Ella melangkahkan kaki mendekati Snow yang sejak tadi mengawasinya dari pinggir lokasi syuting. Ia tidak melihat Benjamin sejak siang. Setelah bangun dan mandi, Ella dijemput oleh Bernie ke kamar. Ella jadi gelisah setelah Bernie mengatakan bahwa ayahnya menelepon. Ia berharap ayahnya tidak menelepon lagi selama syuting, agar ia bisa fokus bekerja. Semangatnya sudah tidak bagus karena Ben tidak ada, jangan sampai semangatnya jadi benar-benar hancur karena harus bicara dan berbohong pada ayahnya


Berharap bertemu Ben di lokasi syuting, ia mencari-cari dan tidak menemukan pria itu.


"Snow, apa kau melihat Benjamin?"


"Tadi pagi, Miss ... tadi pagi aku menemuinya di kamarnya."


"Dia mengatakan sesuatu? Mau pergi atau ... maksudku, dia tidak kelihatan sejak tadi."


"Ya. Bos mengatakan mau pergi, ada sesuatu yang ingin dilakukannya. Dia tidak mengatakan mau kemana."


"Mmm ... kau tahu kira-kira dia pergi berapa lama?"


Snow menggelengkan kepalanya. "Tidak. Bos hanya menitipkan agar aku dan Stan tetap waspada."


"Dimana teman-temanmu yang lain, Snow?"


"Ada, Miss. Hanya tidak terlihat."


Ella tersenyum, berusaha mengeluarkan tawa geli. "Seperti hantu saja ...."


Setelah percakapan itu, Ella pamit karena melihat Bernie yang memanggilnya. Dalam hati terselip rasa kecewa di hati Ella. Benjamin tidak mengatakan apapun padanya. Pria itu bangun diam-diam, meninggalkannya, lalu pergi tanpa mengatakan apapun.


Bukannya aku menunggu pernyataan cinta! Apa dia tidak bisa pamit dan mengatakan mau pergi kemana! Aku juga mengerti kalau tadi malam hanyalah ... semacam berbagi kesenangan, selingan... tapi dia masih pengawalku, harusnya dia mengatakan sesuatu!


***********


Athena melotot pada pengawal yang berdiri santai di bingkai pintu keluar apartemen Benjamin.


"Minggir!"


"Tidak bisa. Saya hanya mematuhi perintah Tuan, Nyonya," ucap pengawal itu santai.


Seorang lagi pria yang juga ada di dekat sana mengangguk mengiyakan perkataan rekannya.


"Dimana Tuanmu itu!? Sekali pun dia tidak datang kemari! Aku harus bertemu dengannya! Apa maksudnya mengurungku di sini! Sedangkan dia sama sekali tidak pulang kemari!"


Dua pria yang bertugas untuk menjaga Athena saling berpandangan, lalu pria yang di dekat pintu kembali berucap santai.


"Anda yang mengatakan pada Tuan butuh tempat bersembunyi, lalu kenapa Anda jadi gusar? Tuan sudah mengabulkan permintaan Anda."


Pria itu juga tahu kalau Tuannya melakukan penyelidikan apakah perkataan Athena benar atau tidak. Meski mereka sudah memiliki dugaan bahwa wanita itu berbohong.


Dengan tarikan napas kesal, Athena mengentakkan kaki sambil berbalik. Ia berjalan cepat sambil memaki. Ketika menjauh dan hampir mencapai ruang makan, ia mendengar ponsel salah satu pengawal itu berbunyi.


"Ya?"


"Kau dipanggil kemari, Dante."


"Tuan mau aku ke sana?" pria bernama Dante yang tadi berdiri di pintu keluar memberi kode pada temannya yang bertanya siapa yang menelepon.


"Ya. Aku sedang menuju ke sana menggantikanmu."


"Baiklah. Kau tahu kira-kira alasan Bos memanggilku?"


"Entahlah. Tapi dia menyebut masalah cincin."


"Cincin? Ah ... aku mengerti ...." Dante menutup telepon. Ia tercenung sejenak memandangi lantai sambil berpikir. Keluarga Dante adalah teman dekat dari almarhum ibu Benjamin. Ayahnya adalah pengrajin perhiasan emas. Bisnis yang tidak lagi dilanjutkan oleh Dante karena ia sama sekali tidak berminat. Tapi ayahnya tetap memenuhi beberapa pesanan bagus atau pesanan khusus. Dante tahu cincin kawin Tuan Belardo dan ibu Benjamin dulu dibuat oleh ayahnya.


"Apa tadi kau menyebut cincin?"


Suara temannya membubarkan lamunan Dante. Ia segera mengangguk.


"Apa ada hubungannya dengan wanita di sana?" tanya temannya sambil menunjuk ke arah ruang makan.


"Entahlah. Keluargaku dan Tuan Belardo memang masih berhubungan baik. Bila memang masalah cincin, maka kurasa ini agak serius ..."


"Kenapa?"


"Bos tidak akan meminta ayahku membuatkan cincin jika tidak serius. Dia bisa memesan cincin berlian atau memilih yang cantik, mewah dan mahal dari penjual perhiasan terkenal kota ini ... tapi jika ia ingin menemui ayahku, wanitanya pastilah istimewa ... karena cincin emas selalu mengingatkannya pada ibunya, wanita yang sangat ia cintai ...."


Kedua pria itu terdiam, melirik ke arah ruang makan, lalu mengembuskan napas panjang.


"Pergilah. Jangan sampai dia menunggu lama."


"Baiklah ..."


Ketika Dante sudah keluar, di balik dinding tempatnya berdiri, Athena tersenyum lebar dengan mata berbinar. Jantungnya berdebar, sangat gembira. Ia mengangkat tangan kiri, menatap jari manisnya yang kosong.


Meski emas bukan favoritku, Ben. Tapi aku akan menerimanya. Aku akan sangat senang ... oh, Ben ... Aku sangat mencintaimu ... aku tidak akan melakukan kesalahan lagi kali ini. Hanya kau yang terus ada di hatiku ....


**********


Elena memeluk bahu suaminya dari arah belakang, lalu mencium pipi pria berambut pirang tersebut.


"Hai ... kenapa kau melamun, Sayang?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya teringat Ella."


"Dia baik-baik saja, Daniel. Bukankah Bernie sudah bilang padamu."


"Aku tahu ... tapi ..."


"Tapi apa?"


"Entahlah. Perasaanku tidak enak, Elena."


Daniel menganggukkan kepala.


"Kau bilang Ella dikerubungi ular berbisa?"


"Ya."


"Apakah dia digigit?"


"Dia menjerit ketakutan ...."


"Hanya bunga tidur, Daniel. Putri kita akan baik-baik saja."


Daniel menganggukkan kepalanya lagi.


"Kalau kau khawatir, bagaimana kalau kita ke sana menjenguknya?"


"Ide yang bagus. Tapi minggu ini ulang tahun neneknya stefie. Kita sudah menyanggupi membantu mereka menyiapkan pesta kejutan di restoran kita, El."


"Ah, aku lupa."


"Stefie sangat menyayangi neneknya. Teman-teman neneknya sangat nyaman berkumpul dan makan di tempat kita. Jangan membuatnya kecewa dengan menyerahkan acaranya hanya pada karyawan kita."


Elena mengangguk. "Kau benar. Stefie akan kecewa kalau kita tidak ada."


Daniel mengangguk, lalu mengambil kaleng bir di depannya dan membukanya.


"Kalau begitu mungkin minggu depan, Daniel? Jangan beritahu Ella. Kita bisa memberikan kejutan."


Senyum Daniel merekah, ia mengangguk cepat, lalu mulai meneguk birnya.


**********


Kelelahan menguasai Ella. Ia menunggu hingga syuting selesai, tapi Benjamin tidak kunjung muncul. Snow dan Stanley hanya menggeleng ketika ia bertanya. Timmy yang sempat muncul sebentar juga mengatakan tidak tahu.


Ella memaksa fisiknya agar terus bekerja supaya tidak terus teringat Benjamin. Mendung yang menaungi hatinya membuat semuanya jadi terasa berat.


Matahari akhirnya terbenam. Bernie menatapnya khawatir sambil mengulurkan sebuah botol minum.


"Minumlah ini."


Bernie menunggu Ella sampai selesai minum dan mengambil kembali botol dari tangan wanita itu.


"Sudah menelepon ayahmu?"


Ella menggeleng.


"Kenapa belum?"


"Nanti saja. Malam nanti. Aku lelah sekali. Ayah akan banyak bertanya dan akan mengajakku mengobrol."


"Kenapa tidak kau telepon tadi saat syuting belum dimulai?"


"Aku perlu fokus bekerja, Bern!"


Bernie menarik napas panjang. Mulutnya sudah gatal ingin bertanya tentang apa yang dilakukan Benjamin tadi malam. Tapi ia merasa tidak etis mencampuri urusan pribadi Ella. Lagipula tidak mungkin terjadi sesuatu, mereka masih keluarga dan saling mengenal baik keluarga masing-masing. Benjamin tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk pada Ella.


"Kau lihat Alnero?"


Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Bernie mengerjap, lalu dengan gugup ia menjawab.


"Hector tadi mengatakan Alnero cuti dua atau tiga hari. Kesehatannya terganggu, bagiannya akan dilakukan tersendiri."


"Oh. Kuharap kakinya baik-baik saja. Ia sering mengeluh lututnya sakit."


Bernie mengangguk, lalu bersama mereka berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh kru untuk kembali ke hotel. Snow sudah menunggu dan membukakan pintu untuk Ella.


Ben bilang jangan mengatakan apa-apa soal Alnero. Kuharap keputusan ini benar ... pria itu salah satu bagian penting di film ini. Tidak mungkin dihentikan karena kasus mesum ... kalau Ella tahu, ia tidak akan bisa bekerja dengan profesional ... ia akan takut pada Alnero. Kuharap komandan memberinya pelajaran setimpal hingga membuatnya jera ...


Lamunan Bernie disela oleh suara Ella.


"Ketika tiba aku mau mandi air hangat, lalu pergi tidur, Bern."


"Makan malammu?"


"Aku tidak lapar."


"Mana boleh kau tidak makan!" seru Bernie.


Ella hanya diam, seolah larut dalam lamunannya sendiri.


"Setidaknya telepon dulu ayahmu, Ella," ucap Bernie sambil menghela napas.


NEXT >>>>>>>


*******


From Author


Mohon dukungannya untuk klik like, love, bintang lima, vote dan ketik komentar ya.


Sebelumnya author ucapkan terima kasih.


Salam. DIANAZ.