
Benjamin mendesis ketika suara mobil terdengar mendatangi. Ia berpandangan dengan Snow yang segera menunjuk ke arah semak di dekat sebuah pohon.
"Ayo, DD," ajak Ben sambil menarik lembut siku Daniella. Ella mengangguk, sejak tadi ia tak lagi mampu bersuara. Langkah kakinya tertatih mengikuti langkah Benjamin.
"Kakimu sakit?"
Daniella menggeleng. Apapun yang ia rasakan saat ini tidak akan ia katakan sebelum mereka semua selamat dan berada di tempat aman. Yang paling sakit adalah bahu kirinya. Ia tidak tahu apakah ada yang patah atau hanya memar.
Benjamin dan Snow serentak mengeluarkan sesuatu dari balik jas mereka. Ella menelan ludah, matanya membelalak. Sekarang ia mengerti kenapa Benjamin berkeras memakai jas. Ia membawa senjata dibalik benda itu.
"Bos ...," bisik Snow pelan, ia melirik wajah DD lewat bias cahaya api dari mobil mereka yang terbakar.
Benjamin melihat DD dan menarik napas panjang. "Mobilnya mendekat. Kita tidak tahu siapa yang datang. Orang ini bukan cuma mau menakutimu. Tapi sudah punya niat membunuh. Kau tidak berpikir kalau kami menjagamu tanpa membawa senjata bukan?"
Daniella hanya mengangguk berulang kali.
"Tetap diam di sini. Sampai kita tahu siapa yang datang."
Ella kembali mengangguk. Lalu ia segera menarik lengan jas Benjamin ketika melihat Snow melangkah pergi tanpa suara meninggalkan mereka.
Benjamin menoleh, melihat ketakutan di bola mata Ella. "Aku tidak akan kemana-mana. Snow perlu mengawasi dari tempat lain ...."
Ella menarik napas lega. Ia cuma diam dan tidak berani mengintip ke arah tempat mobil mereka jatuh.
Dua mobil datang. Beberapa pria tampak turun dari arah jalan menuju mobil mereka.
"Benjamin!"
Sebuah suara memanggil dengan suara menggelegar.
"Ben!"
Suara Evander yang panik terdengar menggema.
Snow menampakkan diri lebih dulu, Ella baru saja akan menggerakkan kakinya keluar, namun Benjamin menahan lengannya.
"Jangan! Belum aman," desis Ben.
"Tapi ... itu Evander ...."
"Aku tahu. Tunggulah sebentar."
Ella mengangguk patuh. Mereka melihat anak buah Evander memegangi Snow yang wajahnya belepotan darah. Evander segera memegangi Snow dan mengguncang pria itu.
"Snow! Katakan apa yang terjadi!? Katakan kalau mereka juga berhasil keluar! Katakan Snow!"
"Sebuah SUV sudah menunggu kami ... orang itu berhasil membuat mobil kami terguling."
"Sial! Ben dan Ella!?"
Snow benar-benar melihat kekhawatiran dan ketakutan di bola mata Evander. Ia menunjuk tempat dimana Ben dan Ella bersembunyi.
Evander langsung berbalik, ketika ia mulai berlari ke arah yang ditunjuk Snow, Benjamin dan Ella keluar dari balik semak.
"Ya Tuhan! Kalian berdua baik-baik saja?"
"Kurasa ya ...." Benjamin memegangi siku Ella dan melihat keseluruhan tubuh Ella dari atas kepala sampai kaki. Wanita itu kelihatan kusut terutama rambutnya dan Benjamin menyadari entah sejak kapan Ella sudah melepas sepatu.
"Ayo ke Mansionku! Adikku dokter, ia sedang ada di sini. Dia bisa memeriksa kalian!"
Evander mengajak mereka semua menuju mobil dan meninggalkan satu mobil lagi untuk anak buahnya.
"Bereskan itu," ucap Evander pada seorang anak buahnya.
"Dimana sepatumu, DD?" Benjamin melangkah sangat pelan mengimbangi langkah Ella.
Ella menggelengkan kepala.
"Kau sanggup jalan naik ke atas?"
Ella mengangguk.
Setelah tertatih menaiki jalan menanjak menuju jalanan. Ella sangat lega melihat Evander dan mobilnya yang sudah siap menunggu.
"Perkenalkan. Ini Kenric dan Sebastian, mereka adikku. Sedang berkunjung kemari. Mereka ingin bertemu dan berkenalan langsung dengan bintang film Daniella Dolores. Karenanya aku mengundangmu makan malam, Ella dan ketika aku menyebut namamu, Benjamin, Kenric berkeras mau bertemu langsung dengan pewaris Tuan Antolini."
Mereka bersalaman. Ella hanya mampu menyunggingkan senyum yang terlihat terpaksa. Di dalam hatinya masih terbalut kengerian kejadian tadi.
Benjamin yang bergantian menyalami keduanya menganggukkan kepala, lalu langsung bertanya pada keduanya. "Yang mana diantara kalian yang profesinya dokter?"
"Oh! Maafkan aku! Bastian! Bisa kau periksa Ella. Mereka baru saja mengalami kejadian mengerikan." Evander berucap pada adiknya yang berambut hitam.
"Baiklah. Mari ikut aku, Miss," ucap Sebastian. Ia tersenyum dan melangkah mengajak Ella ke sebuah ruangan.
"Snow, kau ikutlah ke sana. Periksa kepalamu." Benjamin menunjuk ke arah pelipis Snow.
"Ini cuma lecet. Bukan apa-apa. Daripada itu, kita sebaiknya mencari tahu siapa yang telah mencegat kita tadi! Atau siapa orang yang telah memberinya perintah!"
Evander mengerutkan keningnya. "Tadi kau bilang seseorang dengan sengaja menyebabkan mobilmu terguling? Orang ini ... kurasa niatnya sudah untuk menghilangkan nyawa. Kalian semua bisa saja sudah mati ...."
Benjamin mengangguk. "Benar. Snow ... hubungi Stanley ...."
Snow mengangguk mengerti. Ia menyingkir dari tempat itu. Meski Evander bisa dipercaya, mereka terbiasa menyimpan informasi apapun untuk keamanan klien mereka.
Ketika sudah terhubung dengan Stanley, Snow langsung mengajukan pertanyaan.
"Stan ... tikus itu, kau mengawasinya kan?"
"Ya. Kenapa?"
"Dia keluar hotel mengendarai SUV?"
"Apa yang kau bicarakan!?"
"SUV ini sudah menunggu untuk menggulingkan mobil di tepi tebing sebelum mansion Tuan Morrone. Mobilnya terbakar!"
"Sial! Bagaimana-"
"Kami semua berhasil keluar. Bos ingin tahu, apakah tikus itu yang melakukannya?"
"Aku pastikan tidak. Dia memang mendapatkan perintah dari tua bangka itu. Tapi dia belum bergerak. Dia masih ada di sini dengan si tua. Kurasa dia baru saja mendapatkan obatnya .... entah apa yang harus dia lakukan demi benda haram itu."
"Kalau bukan dia ... apakah mereka memerintahkan orang lain?"
"Kita akan menyelidikinya ... tapi ... kalau saja kalian tidak berhasil keluar, bisa saja kalian sudah mati ... mereka ... selama ini cuma mengganggu, belum pernah berniat membunuh ...."
Snow menarik napas panjang. "Berjaga saja Stan ... kuharap ini bukan musuh lain ...."
Snow memutus sambungan. Ia tetap berdiri di sana beberapa saat untuk berpikir sebelum kembali pada Evander dan adiknya serta Benjamin yang sudah duduk di sofa.
Beberapa saat kemudian Sebastian keluar bersama seorang gadis berkacamata yang memiliki wajah tegas dan kaku.
"Bagaimana?" tanya Evander.
"Aku memeriksanya bersama Tessa. Kurasa bahunya cidera. Tapi dia menolak ketika Tessa membantu membuka gaunnya. Dia berkeras dia baik-baik saja, tapi ... kurasa dia masih syok."
Benjamin berdiri dan akan melangkah pergi ke ruangan tempat tadi Sebastian memeriksa Ella. Namun suara Sebastian menghentikannya sejenak.
"Mm, Tuan Antolini, kurasa dia ingin sendiri. Well ... itulah yang dia katakan. Dia cuma meminjam ponsel pada Tessa. Dia bilang mau menelepon ayahnya dan-"
Sebastian berhenti karena Benjamin sudah berlalu meninggalkan tempat itu.
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.