
Hector sedang menyesap sampanye sambil memperhatikan Miranda Cardy yang sedang berdansa dengan aktor tua Alnero Diza. Miranda terlihat berusaha keras membuat aktor kawakan tersebut terkesan.
Namun, Alnero adalah pria yang tidak mudah didekati. Ia menerima peran dalam film tersebut karena hubungan baiknya dengan Patrick, sang sutradara. Sejauh ini usaha Miranda terlihat sia-sia, pria tua nan terkenal dan sangat kaya itu tidak tertarik, ia hanya bersikap sopan dan terlihat mulai bosan.
Hector mendengus sinis, ketika Alnero membimbing Miranda kembali ke kursi bar meski musik yang mengiring dansa mereka belum berakhir.
"Maafkan aku, Miss Cardy. Kau harus memaklumi lutut lemah orang tua sepertiku. Aku tidak tahan lama berdiri," ucap Alnero sambil duduk di kursi bar si dekat Hector.
"Kasihani pria tua ini, Miranda. Tidak usah berdansa, temani saja dia minum," ucap Hector sambil menunjuk ke kursi di sebelah Alnero.
Dengan wajah kecewa Miranda menurut. Mereka baru saja akan berbalik menghadap meja ketika Hector melihat Bernie mendekat ke konter bar.
"Bern ... Daniella tidak ikut denganmu?" Mata Hector mencari-cari di ruangan yang temaram tersebut.
Bernie memesan minuman pada bartender, lalu setelah Hector fokus menatapnya, ia baru menjawab.
"Daniella punya acara sendiri malam ini. Aku baru saja selesai mendandaninya."
Hector mengerutkan kening. "Acara?"
"Ya. Dia akan makan malam bersama Evander."
Hector berusaha menahan mulutnya yang mau mengumpat.
Miranda yang mendengar hal tersebut langsung menanggapi. "Nona Dolores kita yang terkenal tidak membuang-buang waktu, bukankah begitu? Selalu punya kegiatan menarik untuk dilakukan sendiri tanpa mengajak rekan atau siapapun."
Bernie terkekeh mendengar nada iri dalam suara Miranda. "Gadis manis, kalau kau iri, perlihatkan bakatmu. Kau sudah mendapatkan peran utama. Peran sebagai istri dari aktor utama pria. Jangan sampai nantinya penonton lebih suka dengan Daniella. Dia berperan antagonis sebagai perebut suamimu. Peran yang dibenci. Sangat lucu kalau penonton malah menyukainya karena aktingmu terlalu buruk."
"Mereka makan malam berdua, Bern?" tanya Alnero sambil lalu. Pria itu memberi kode pada bartender untuk membuatkan minuman kesukaannya.
"Tidak Al. Tepatnya bertiga. Karena Evander juga mengundang Tuan Antolini."
Bernie menatap Hector yang tampak membeku di tempat duduknya.
Cemburu, Pria Mesum!? Daniellaku tidak akan melirik padamu meski cuma sedikit, Bernie membatin. Ia mengangkat gelas pada ketiga orang tersebut sambil berpamitan. "Aku pergi dulu."
Hector menahan bahu Bernie, membuat pria itu berhenti dan langsung melotot pada Hector.
"Tunggu, Bern. Antolini ... maksudmu, pria yang datang saat pesta penyambutan waktu itu?"
Bernie menjentikkan jarinya. "Benar sekali!"
"Mereka makan malam di Mansion Evander?"
"Sepertinya iya. Mansion Evan tidak terlalu jauh dari sini. Masih di tanah Copedam Hill."
"Kenapa dia datang lagi?"
Bernie mengangkat kedua bahunya. "Mana kutahu! Tanya sendiri padanya," ucap Bern sambil manarik bahunya dari cengkraman jari-jari Hector.
Miranda dan Alnero melihat tingkah Hector yang menggenggam jemari dengan sangat kuat, pria itu menggerakkan tangannya seperti sedang meremas sesuatu hingga hancur. Kedua matanya menatap ke arah Bernie yang memilih duduk bersama beberapa pria kru film mereka yang ada di sana.
"Sial!" desis Hector.
Miranda Cardy tersenyum culas. Matanya berkilat ketika sebuah ide terlintas di kepalanya.
Kalau Tuan Antolini ada di sini, sepertinya akan ada lagi adegan seperti di pesta waktu itu. Beberapa foto bagus pasti sangat dinanti para hiu gosip. Aku bisa menghubungi salah satu hiu itu ... dia akan sangat berterimakasih dan aku akan melihat Nona sombong itu jadi berita utama di halaman gosip.
Di sebuah lorong kamar-kamar hotel, seorang office boy yang sedang mendorong troli alat kebersihan segera mengendorkan tali celemeknya agar bisa mengambil ponsel yang terus berdering di dalam kantong baju seragamnya. Ia baru saja mengunjungi kamar Nona Dolores, dan telah memasang kembali kamera dan perekam yang dulu sudah ia pasang sebelum Daniella tiba. Namun sepertinya telah dibersihkan oleh pengawal pribadi wanita itu. Sejak itu ia diperintahkan diam. Diam berarti stok obatnya dihentikan. Ia memerlukan obatnya lagi secepatnya.
Pria itu hanya menatap datar ke arah layar ketika melihat nama orang yang meneleponnya.
"Ya?"
Ia mendengarkan instruksi hingga selesai, lalu sambil mendorong troli ia berkata tanpa nada. "Aku pergi jika kau berikan obatku."
Jawaban orang di seberang sana membuat pria itu berjalan cepat sambil menyeringai lapar.
**********
"Terima kasih, Snow. Kau kemana tidak kelihatan sore ini?" tanaya Ella sambil masuk dan duduk.
Snow tidak menjawab. Menutup kembali pintu mobil dan berputar untuk membukakan sisi lainnya untuk Benjamin.
Setelah penumpangnya masuk, Snow duduk di belakang kemudi dan mulai menyetir.
"Kurasa kita sedikit terlambat." Benjamin melirik jam tangannya.
"Itu gara-gara dirimu. Andai kau lebih cepat bersiap-siap."
"Andai kau tidak membuatku mengganti kemeja sampai tiga kali."
"Andai kau menurut dan melepaskan jas itu!" tunjuk Ella sengit pada jas hitam yang dipakai Benjamin diatas kemeja merah gelap yang ia pakai.
Mobil terus melaju di jalanan yang sisi kiri kanannya di penuhi pepohonan dengan kecepatan sedang. Beberapa menit saja, puncak Mansion Evander sudah terlihat.
"Aku memakainya sesuai kehendakmu."
"Ck! Aku bilang tanpa jas."
"Aku tidak mau."
"Bilang saja kau tidak percaya diri dengan war-"
Ucapan Ella terputus. Ia melotot ngeri ketika dari sisi kanan mereka sebuah mobil SUV keluar dari balik pepohonan. Snow tidak dapat menghindar, bagian depan mobil dihantam dan didorong sampai ke sisi tebing di sebelah kiri.
Ella merasa tubuhnya dipeluk dan jeritannya tenggelam dalam bahan kain jas yang dipakai Benjamin. Selama mobil masih bergerak Ella tidak berani membuka matanya.
Ella membuka mata beberapa detik kemudian ketika merasakan bahunya dijauhkan dan ia mendengar suara Benjamin.
"Kau baik-baik saja, DD?"
Ella mengangguk, ia mendengar nada cemas dalam suara Benjamin.
"Snow!"
"Aku baik. Tunggu aku keluar dari sini, Bos!"
Ella baru saja akan menoleh berkeliling ketika kepalanya kembali ditahan Benjamin.
"Tutup matamu. Tunggu Snow dulu. Pintu kita tersangkut!"
Ella menurut, ia baru menyadari keadaan mobil mereka yang terbalik.
Teriakan dan suara tendangan kemudian terdengar, Snow perlahan menyeret tubuhnya keluar dari mobil. Cairan merah menodai pelipis dan pipi Snow, pria itu menyeka darah tersebut hingga belepotan di tangannya. Namun ia mengabaikan kepalanya yang terluka. Ia segera menarik dan berusaha membuka pintu penumpang. Benjamin membantunya dengan mendorong dari dalam.
Ketika celah pintu akhirnya terbuka, Ben memposisikan tangan di badan mobil dan menarik dirinya sendiri hingga bagian tubuhnya bisa keluar sebatas dada, baru kemudian Snow membantu menariknya keluar. Setelah dua pria tersebut keluar, tanpa membuang napas mereka membantu menarik Daniella keluar.
"Tunggu, jangan pegang bahuku, sakit sekali!" seru Daniella ketika Ben memegangi bahunya.
Benjamin dan Snow saling berpandangan. Bau bahan bakar sudah tercium. Dengan mengeraskan rahang, Benjamin menganggukkan kepala kepada Snow. Dengan isyarat itu mereka menarik Ella berbarengan.
Jerit kesakitan membahana, menggema di dalam hutan. Selang beberapa detik kemudian suara ledakan dan api membubung. Sinarnya bahkan sampai di kediaman Evander.
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.