Belinda

Belinda
33. Mom's ring 2



Bernie mendesah, ia datang ke kamar Ella untuk memanggil wanita itu dan mengajaknya makan malam. Namun Snow yang berjaga di lorong di depan pintu kamarnya mengatakan bahwa Nona Ella menitipkan pesan agar tidak ada yang mengganggunya.


"Dia pasti sangat lelah," ujar Bernie khawatir.


Snow menganggukkan kepala. "Ya."


"Tapi dia belum makan ...."


"Iya. Tentu tidak baik untuk kesehatannya kalau ia langsung tidur." Snow menatap pintu, lalu menatap Bernie. "Kurasa kau harus lihat, Bern. Kalau ia belum tidur, setidaknya kau tawarkan membawa makan malamnya kemari."


"Kau benar." Bernie mengetuk pintu dua kali, setelah menunggu beberapa detik, tidak ada jawaban dari dalam.


"El, ini aku. Aku masuk oke?"


Masih tidak ada jawaban. Bernie memutuskan langsung masuk saja. Snow langsung menyingkir dari depan pintu.


Bernie membuka pintu dan mengintip ke dalam kamar. Ia melihat Ella yang sudah berbaring miring di atas tempat tidur, gerak dadanya terlihat teratur, matanya terpejam rapat.


"Sepertinya ia sudah tidur, Snow," desah Bernie.


"Menurutmu Miss Ella saat ini lebih butuh tidur atau makan, Bern?


Bernie terlihat berpikir sejenak.


"Kalau melihat bagaimana lelahnya ia sepanjang siang hingga sore ini, kurasa ia memang butuh tidur. Tapi ... sebenarnya hal ini biasa terjadi. Kesibukan yang tiada henti, kelelahan, istirahat yang kurang ... tapi Ella selalu menjaga makannya."


"Kali ini ia melupakan makan, Bern. Ia hanya butuh berbaring dan tidur."


"Sepertinya begitu." Bernie kembali menutup pintu.


"Kalau ia bangun dan lapar, aku akan mengabarimu."


"Baiklah. Aku pergi dulu. Jaga Ella, Snow."


Snow mengangguk, kembali berjaga di dekat pintu kamar Ella. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya.


Sudah berjam-jam! Anda kemana, Bos! Miss Ella kehilangan semangatnya! Seharusnya Anda ada di sini setelah ....


Snow menarik napas panjang. Ia teringat sorot rasa bersalah di mata Ella tadi sebelum wanita itu pergi tidur, seolah ia tertangkap basah. Ella yang baru saja mandi hanya memakai jubah, entah bagaimana wanita itu menjatuhkan gelas kristal dari atas meja. Suara benda yang pecah membuat Snow bergegas masuk. Ia menemukan wanita itu sedang berjongkok memunguti pecahan kaca.


Snow tidak sengaja melihat dari jubah Ella yang longgar. Tanda kehitaman memudar yang ada di belahan dada wanita itu, di kulit yang putih, tanda itu masih tertera jelas. Ia tidak bodoh, tanda itu sebelumnya pasti berwarna merah, kissmark ... tiada orang lain yang bersama wanita itu selain bosnya.


Dasar pria dingin, tidak peka sama sekali! Seharusnya kau tidak pergi! Apapun urusanmu di luar sana, kau hanya tinggal menelepon! Anak buahmu akan mengerjakannya hingga tuntas! Haish ... kasihan sekali Anda Miss Ella. Seharusnya Anda jangan dekat-dekat dengan gunung es itu.


**********


Timmy menyeringai menatap seorang pria bertubuh kecil dengan rambut keriting di depannya. Ia sedang berada di kamar pria itu. Mata pria itu melotot marah menatap Timmy.


"Namamu Felix bukan?"


"Apa maumu!" Felix menggerakkan tangannya yang terikat dengan tali di belakang punggung. Ukuran tubuh mereka hampir sama, namun entah bagaimana, pria di depannya itu dapat dengan mudah meringkus dan mengikatnya di kamarnya sendiri.


"Aku? Aku menginginkan koleksimu selama berada di Copedam Hill."


"Koleksi apa!?"


Tawa Timmy membahana. Dibalik kacamata yang bertengger di hidung, sinar matanya berkilat penuh semangat. Ia benar-benar menikmati ketika mengutak-atik kamera sang wartawan. Membuka slot memory, lalu memasukkannya ke dalam komputer yang ada di meja Felix.


Timmy berdecak senang ketika apa yang ia lihat sesuai dengan dugaannya selama ini.


"Kau wartawan lepas bukan?"


Felix tidak menjawab, menatap nanar pada layar komputernya.


Karena tidak ada jawaban, Timmy menoleh dan menatap dengan sorot ramah dan membujuk.


"Kau tahu, Felix. Semua akan lebih mudah dan menguntungkan bagimu jika kau bekerja sama. Karena jika kau tidak mau," Timmy membuat gerakan cepat seolah memotong di lehernya, " kau selesai! End! mengerti?"


"Siapa kau sebenarnya?" Suara Felix mulai bergetar. Ia melihat sosok Timmy secara berbeda sekarang. Pria itu seorang profesional jika dilihat dari caranya bicara dan bergerak. Ia jadi membayangkan seorang pembunuh bayaran.


"Aku? Ah ...." Timmy menarik sebuah kursi dan duduk. "Tak perlu tahu aku siapa. Yang perlu kau tahu adalah, aku mewakili siapa."


"Kau ... mewak-mewakili siap-a?" tanya Felix dengan suara tercekik.


"Kau akan segera tahu. Dia sedang menuju kemari."


"Aku hanya mencari berita, Bung!"


Felix terdiam.


"Jangan takut. Kurasa kau dan Miranda akan baik-baik saja jika kau menuruti perintah kami."


Tak lama kemudian pintu diketuk. Timmy bergerak dan membukakan pintu. Ia menyeringai ketika wajah masam Benjamin terlihat di depan pintu.


"Apakah kabar yang kau kirimkan benar?"


Timmy membungkuk mengejek, seolah menyilahkan tamu kehormatan agar masuk ke kamar. Di belakang Benjamin mengikuti Stanley dan seorang anak buah Ben.


Mata Benjamin langsung tertuju ke layar komputer, sebuah gambar ia sedang menggendong Ella di lorong hotel. Gambar yang pastinya diambil diam-diam. Dengan sangat perlahan kepalanya menoleh dan menatap Felix.


"Kau yang mengambil gambar itu?"


Felix diam, mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Berita apa yang akan kau tulis dengan latar dari gambar itu?" tanya Ben lagi.


Felix mengeraskan rahang, terus menatap ke arah komputernya dan mengabaikan Benjamin.


"Tentu saja tentang affair Nona Dolores yang terkenal menjaga jarak dan hanya berhubungan profesional dengan para pria. Sekarang sang Nona tertangkap basah selalu berdekatan dengan pewaris Antolini, bahkan sudah berada dalam pelukan dan berduaan saja di dalam kamar," ucap Timmy dramatis.


Benjamin menatap dingin ke arah Timmy, membuat Timmy terkekeh geli. "Berduaan, semalaman," tambah Timmy lagi.


Felix mendengus. "Kau sendiri bisa menggambarkan dengan pas hanya lewat satu foto!" ujar Felix gusar pada Timmy.


"Ada satu lagi yang perlu kau tahu mengenai pria ini, Ben." Timmy melipat tangan di depan dada dan bersedekap. "Pria inilah yang membuat heboh media beberapa tahun silam. Dengan berita tentang percintaan putra tertua dari keluarga Antolini, yang kandas karena kekasihnya menikahi ayahnya. Apakah kau ingat tulisan yang paling menarik kala itu? Benjamin Antolini, bukan apa-apa dibandingkan ayahnya. Nona cantik kekasihnya telah terpikat dan akhirnya memilih sang ayah, Belardo Antolini."


Timmy melirik Benjamin, tiada perubahan pada ekspresi wajah pria itu. Lalu ia melirik Felix, sekarang pria itu pucat dibawah tatapan Benjamin.


"Itulah dia. Wartawan itu. Sungguh mengesankan. Kuyakin saat itu ia punya banyak uang dari beritanya."


"Aku hanya menulis kebenaran! Athena memang menikahi Belardo! Sebelumnya wanita itu memang kekasih Anda!" serunya ke arah Benjamin yang hanya menatapnya tanpa ekspresi.


"Hebat! Kau masih mengingat nama Athena! Tapi beritamu menorehkan aib dan membuat malu keluarga Antolini, Felix." tunjuk Timmy.


"Ambil semua hasil pekerjaannya, Tim, kau urus dia. Aku punya pekerjaan lain yang lebih penting."


Timmy menaikkan alis ketika melihat Benjamin berbalik menuju pintu keluar.


"Apakah hal ini karena dendam di masa lalu!? Saya akan melaporkan Anda karena melakukan kekerasan! Lepaskan saya! Anda tidak punya hak menyandera saya!"


Benjamin berhenti berjalan, ia menoleh dan menatap Felix. "Tidak. Tidak ada hubungannya dengan masa lalu. Malah aku berterimakasih padamu atas berita yang kau buat selama beberapa minggu tersebut. Aku pastikan akan membalas kebaikan yang telah kau buat tersebut. Dengan catatan ... kali ini kau mendengarkan kami dan mengikuti instruksi dari kami. Beritamu akan tetap jadi milikmu, jika kau bekerja sama!"


Bola mata Felix membelalak, tidak menyangka atas perkataan Benjamin.


"Bila kau menurut, berita ekslusif pertunangan artis Daniella Dolores denganku, akan jadi milikmu," tambah Benjamin.


"Pert-pertunangan?"


"Ya."


Felix menelan ludah, lalu wajahnya mulai berubah senang. "Anda tidak berbohong bukan?"


Timmy segera berdiri dan memukul puncak kepala Felix. "Jaga ucapanmu! Ucapannya bisa dipercaya, Bodoh! Hanya satu perintah darinya hidupmu bisa sengsara sampai tua!"


Benjamin mengangguk, meninggalkan kamar dan dua pria tersebut.


"Kalian pergilah. Aku bisa ke sana sendiri," ucapnya pada Stanley dan seorang lagi anak buahnya. Keduanya mengangguk dan mengundurkan diri meninggalkan Benjamin.


Benjamin melangkah cepat. Tangannya menggenggam kotak kecil di dalam kantong jas. Ia mengumpat dalam hati karena beberapa urusan membuatnya pergi lebih lama dari perkiraan. Hari sudah sangat larut, ia meninggalkan Daniella saat masih dalam keadaaan tidur, apa yang dipikirkan wanita itu ketika bangun dan menyadari ia sudah pergi.


NEXT >>>>>>


***********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.