
Daniella menatap lokasi syuting dari kursi santai tempatnya duduk sambil setengah berbaring. Meski sebuah pohon besar berdiri tegak dan menaungi kursi santai, kru tetap saja memasang sebuah payung lebar di atasnya. Di belakang kursi dan payung tersebut, kru menyiapkan sebuah tenda yang cukup besar untuk tempat Ella beristirahat. Beberapa tenda juga tersebar di beberapa tempat di bawah rindang pohon di tempat tersebut.
Beberapa pengambilan adegan di malam hari membuat mereka yang terlalu kelelahan kembali ke hotel memilih beristirahat di tenda-tenda yang disediakan. Ella memilih tetap pulang ke hotel, meski perjalanan di malam hari kadang membuatnya tidak nyaman.
Namun pengawalan dan penjagaan dari orang-orang Benjamin membuatnya merasa tidak perlu khawatir.
Segelas limun yang disodorkan ke hadapannya membuat Ella menoleh.
"Terima kasih, Bern."
"Sama-sama, Sayang."
"Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan Mr. Diza, Bern?" tanya Ella sambil melirik dibalik kacamata hitamnya.
Bernie mengambil posisi duduk di kursi santai di sebelah Ella.
"Kenapa dia?"
"Dia seperti kesulitan berjalan. Aku baru menyadari ia tidak datang hampir satu minggu sejak syuting kita dimulai di alam terbuka."
"Kudengar ia masuk rumah sakit ... masalah kaki, lutut, atau entah apa. Hector mengatakan beberapa bagian yang akan dimainkan oleh Alnero akan dilakukan setelah ia sembuh."
"Oh ... kasihan sekali, kurasa ia sudah sembuh, karena itu ia ada di sini."
Bernie hanya menganggukkan kepala.
Andai kau tahu dialah pria mesum kurang ajar yang mengintip dan berusaha mencabulimu, kau tidak akan merasa kasihan sama sekali.
"Kau pernah bicara padanya? Menanyakan kenapa dia masuk rumah sakit?" tanya Bernie.
"Tidak," sahut Ella sambil menggelengkan kepala. " Alnero tampak tidak terlalu suka mengobrol atau bersosialisasi. Ia selalu beralasan ingin segera istirahat, masalah kesehatan dan lain-lain. Dari situ aku menduga dia sebenarnya tidak suka ditanyai. Kurasa dia hanya berbasa-basi ketika menjawab pertanyaan orang-orang yang mengajaknya berbicara. Sekedar bersikap sopan. Tapi kulihat, dia sepertinya terganggu. Tidak nyaman."
"Kau benar. Sebaiknya jangan mendekatinya, atau mengganggunya. Bahkan untuk sekedar berbasa-basi. Kurasa itu lebih baik."
"Ya." Ella menyesap limun, ia melihat Bernie yang terus menatap ke arah Alnero yang sedang melakukan beberapa adegan dengan Miranda. Pria itu nampak total.
Bernie mengakui, soal pekerjaan, Alnero profesional, berbakat, juga hebat. Ia sendiri tidak menyangka kalau pria tua itu pria cabul jika tidak membuktikan sendiri karena kasus Ella. Benjamin meminta seluruh orang-orang yang mengetahui tentang itu tetap tutup mulut. Bern tahu itu demi Ella, syuting masih akan berlangsung beberapa minggu lagi. Ella tidak butuh sesuatu yang akan membuatnya ketakutan atau menjadi gangguan setelah tahu salah satu aktor yang bekerja sama dalam film inilah yang telah mengintip dan menguntitnya. Sedangkan mereka pasti harus selalu bertemu, sedangkan film ini tidak mungkin dihentikan begitu saja karena kasus memalukan ini. Biarlah jadi rahasia yang bisa menjadi alat untuk menekan dan membuat Alnero mengikuti perintah Benjamin.
Sesuai perkiraan, setelah kembali dari pemeriksaan kesehatan, pengobatan atau apapun alasan yang pria tua itu utarakan pada sang sutradara, ia jelas menghindari kontak apapun dengan Daniella dan Bernie. Benjamin berhasil membuat pria itu berpikir ulang jika masih mau mengganggu Daniella, taruhannya adalah karir dan nama besarnya di perfilman. Bukti perbuatannya ada pada Benjamin. Belum lagi entah hukuman fisik apa yang akan diterimanya dari Komandan. Alnero sudah merasakannya sekali, Bernie berharap pria tua itu jera.
"Kapan kau beritahu ayahmu?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Ella menaikkan alisnya.
"Maksudmu?"
Bernie mendesah.
"Ella sayang, jangan kira karena kau menutup mulutmu aku tidak bisa menduga apa yang telah terjadi antara kau dan Benjamin."
"Memangnya ada apa antara kami?"
Bernie terkekeh. "Aku akan mengatakannya secara blak-blakan." Bernie berhenti, melihat bagaimana ekspresi wajah Ella, kemudian mendekat untuk berbisik, "Benjamin menghabiskan satu malam di kamarmu hingga pagi. Kalian tidur berdua. Entah tidur yang sebenarnya atau 'tidur' yang itu."
Ella mendesis, jarinya bergerak mau mencubit paha Bernie, namun segera ditangkap oleh pria itu.
"Stttt, aku belum selesai, El. Malam berikutnya, pagi-pagi aku melihat cincin dengan model kuno namun sangat indah sudah melingkar di jari manismu. Dia melamarmu. Kau menjawab ya. Karena itu kau mau memakai cincin itu. Meski aku setuju kau melepaskannya ketika bekerja. Rahasiakan dulu karena belum diumumkan secara resmi."
Ella mengembuskan napas panjang.
"Tidak ada yang bisa kusembunyikan darimu ya, Bern."
Bernie kembali terkekeh. "Selamat, Sayang. Jadi ... kapan Paman Daniel akan diberitahu?"
Ella mengembuskan napas panjang sekali lagi. "Belum kupikirkan ... kau tahu kalau ayah tidak menyukai Ben kan? Jadi ...."
Bernie menepuk bahu Ella, lalu tersenyum pada wanita itu. "Jangan dipikirkan. Aku yakin Benjamin sudah punya rencana bagaimana cara meyakinkan ayahmu."
"Kuharap begitu, Bern," ucap Ella sambil tersenyum.
"Kau mencintainya?"
Ella berkedip, terlihat terkejut, kemudian salah tingkah.
"Tidak usah dijawab, El. Aku sudah tahu," jawab Bernie sambil tertawa.
**********
Benjamin duduk di kursi yang selalu ia pilih ketika berkunjung di ruang belakang klinik dokter temannya. Setelah Alnero tertangkap dan sudah bisa mereka kendalikan, ia kadang meninggalkan Ella dalam penjagaan Snow, Stanley, dan juga beberapa anak buahnya di Copedam Hill. Timmy yang menganggap waktu liburannya belum berakhir juga memilih tetap tinggal.
"Ada yang menarik, Hide?" tanya Benjamin, menyebut nama julukan pria itu.
"Menjauhlah dulu dari Copedam Hill, Black!"
Benjamin mengernyit atas perintah langsung temannya itu.
"Kenapa?"
"Seperti biasa, Timmy selalu punya intuisi bagus."
"Maksudmu?"
"Ini musuhmu, bukan Nona itu. Pancing dia mengikutimu, tangkap dia. Kau menjauh dari nona itu, dia aman. Karena Timmy benar. Kau incarannya, bukan Nona itu," ucap Hide langsung dan lugas.
Benjamin terdiam kaku beberapa detik.
"Kau menemukannya?"
"Tidak. Tapi dari ciri-ciri yang kau dan Snow sebutkan, kami menemukan mobil SUVnya."
"Siapa pemiliknya?"
"Sepasang suami istri paruh baya di luar perbatasan kota Copedam. Punya penginapan kecil. Mobil itu disewa seorang pria beberapa hari. Identitas yang diberikannya pada pasangan itu kurasa identitas palsu."
"Ciri-cirinya?"
"Seperti kebanyakan orang. Rambut hitam lurus mata biru, tidak ada ciri khusus. Karena identitasnya palsu, kurasa bisa saja ia menyamar."
"Darimana kau tahu dia mengincarku?"
"Dia tanpa sadar menyebut nama Antolini pada pasangan itu. Karena penasaran, pasangan itu bertanya apakah ia menyewa mobil mereka untuk menemui Tuan Belardo Antolini di kota Copedam, mereka bilang ayahmu terkenal. Dia mengoreksi, bukan Belardo, tapi urusannya dengan Benjamin ... lalu kau di dorong jatuh dari badan jalan dengan SUV sewaan yang sama."
"Mobilnya sudah dikembalikan?"
Hide menggelengkan kepala. "Belum. Ada hal sedikit menarik saat kami mencari-cari SUV tersebut."
"Apa?"
"Mobil itu masih ada di Copedam Hill."
"Berarti dia masih ada di sekitar sana!"
Hide mengangguk. "Komandan sudah
memeriksa ke sana."
"Dimana?"
"Satu-satunya mansion yang ada di sana."
"Mansion Evander!"
"Ya. Kembalilah ke apartemenmu, Black. Bekerja seperti biasa dan kita lihat apakah pria ini akan mengikutimu."
Benjamin tampak berpikir.
"Menjauh sementara dari Nonamu akan membuatnya aman, Black. Bereskan orang ini secepatnya. Bukankah kau bilang ingin ini diselesaikan secepatnya?"
"Dia bukan nonaku, Hide. Sekarang, dia tunanganku."
Sambil berdecak satu kali, Hide menjentikkan jemarinya. " Semakin kuat alasan membereskan orang ini. Kau mau menikah tanpa harus waspada ada orang yang tiba-tiba akan menembakmu atau calon istrimu kan!"
Benjamin tercenung beberapa saat. Tahu bahwa Hide benar. Pengendara SUV itu sudah berniat menghabisinya, dengan siapapun yang ada bersamanya saat itu. Ia berharap bisa meringkus orang ini secepat mereka meringkus Alnero, sehingga ia bisa kembali fokus dengan Daniella.
NEXT >>>>>
*********
From Author,
Next chapter kita cari tahu gimana si ulet keket ya, hahaha.
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.