
Ella baru saja mau keluar dari kamar mandi setelah selesai menyikat gigi dan mencuci muka atau tepatnya mengelap muka dengan handuk basah. Ia tidak mau membuka perbannya sendiri dan melihat luka yang mengingatkannya akan kejadian tadi malam.
Ia sama sekali tidak bisa tidur. Setelah memastikan Ella baik-baik saja selain luka di pipi, ibunya kembali ke kamar yang ditempati bersama ayahnya. Ella menunggu Benjamin datang dan mengatakan hasil pembicaraan dengan ayahnya. Namun hingga saat ini pria itu tidak tampak.
"Jangan sampai lukanya basah, DD."
Ella menoleh cepat mendengar suara itu.
"Ben!? Kapan kau masuk?"
Benjamin mengendikkan kepala ke arah pintu.
"Baru saja. Snow berbaik hati membukakan pintu."
Ella tersenyum, lalu mendekat ke hadapan pria itu.
"Bagaimana?"
Benjamin tersenyum, lalu menatap tunangannya itu dengan seksama.
"Kita harus menunggu, DD."
Helaan napas panjang terdengar dari tenggorokan Ella. "Daddy menyulitkanmu?"
"Tidak. Dia menginginkan yang terbaik untukmu. Saat ini, aku bukanlah pria yang memenuhi kriteria itu."
Ella merapatkan diri ke tubuh Benjamin, menyandarkan pipinya ke dada pria itu.
"Jadi bagaimana sekarang?"
"Kita sudah tahu akan seperti ini sebelumnya. Karena itu kita menunda memberitahu kalau kita bertunangan. Dia menerima berita ini sambil menyaksikan insiden buruk penculikan dirimu. Baginya malam ini saat yang menakutkan. Menyaksikan putrinya menghilang di tengah malam, sekaligus mengetahui pria yang dibencinya telah bertunangan dengan putrinya. Jadi ... aku sangat mengerti perasaannya."
"Dia kecewa padaku?"
"Tidak. Kau kesayangannya. Dia tetap bangga padamu."
"Apa yang dia katakan?"
"Beri dia waktu ... karena itu aku kemari, DD ... aku ingin mengatakan sesuatu."
Ella mendongak, menatap Benjamin dan menunggu.
"Aku akan pulang ke Copedam dan kembali bekerja seperti biasa. Sudah lama aku cuti dan banyak pekerjaan menungguku. Sementara kau sedikit lagi menyelesaikan pekerjaanmu di sini. Buat ayahmu tenang dengan bekerja dan selesaikan pekerjaanmu di sini dengan baik. Kita tidak bisa memaksa orang tuamu untuk merestui kita ... jadi ...."
Daniella menyipitkan matanya. "Sebenarnya apa yang Dad katakan padamu, Ben?"
Benjamin menatap Daniella dalam, lalu menarik napas panjang. "Tuan Daniel ingin aku menjauh."
Daniella mengeraskan rahangnya. Ia menatap Benjamin dengan tatapan sengit.
Lalu dengan segera kau memenuhi permintaan itu!? Kau tidak akan memperjuangkan aku!? Bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku, Benjamin!?
"Jangan berburuk sangka atas permintaan ayahmu, DD. Aku sangat mengerti apa yang ia rasakan. Karena dulu aku selalu menginginkan apa yang terbaik untuk Belinda, jadi aku mengerti bagaimana perasaannya jika merasa pria yang mendekati putrinya tidak memenuhi syarat."
Daniella mengembuskan napas panjang dan segera menunduk. Menghindar dari menatap mata Benjamin.
"Setelah beberapa hari ... tak akan lama ... aku akan mengunjungi kediaman ayahmu. Tentu saja bersama keluargaku. Kuharap ia sudah merasa lebih tenang dan amarahnya sudah reda."
Ella mendongak lagi. "Benarkah?"
Benjamin menganggukkan kepala. "Aku berjanji pada keluargaku akan membawamu makan malam bersama keluargaku ketika kau senggang. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Ayahmu mengatakan dia akan tetap berada di sini hingga kau pulang. Jadi ... ia tidak akan setuju kau pergi ke Mansion Antolini."
"Minta ayahmu untuk mengundangnya makan malam juga."
"Kau yakin ia akan menerima? Jika ia tidak datang dan hanya kau yang datang ... keluargaku akan ...."
Daniella mengangguk mengerti. Ia tahu bagaimana teguhnya pendirian ayahnya sendiri. Keluarga Benjamin akan merasa kecil hati dan diabaikan jika undangan mereka ditolak.
Pelukan tiba-tiba dan ciuman di puncak kepalanya membuat Ella terkejut. Ia langsung balas memeluk.
"Jadi ... kita tidak akan bertemu dulu?"
"Ya ...." Benjamin menjauhkan Daniella sedikit, lalu menunduk mengecup keningnya. Ella memejamkan mata merasakan ciuman itu dan merasakan sampai ke hatinya.
"Tetap hubungi aku ... setidaknya kirimkan kabarmu ...."
Benjamin mengangguk, lalu mulai mencium bibir Daniella. Perasaan tidak ingin berjauhan sangat dominan dalam hatinya saat ini. Tapi baginya ini cara paling baik. Meski sedikit akan membuat Ella dan dirinya saling merindukan. Ia perlu membereskan masalah Matthew. Menyelesaikan apa akibat dari tindakannya di masa lalu. Memecat pemabuk itu dan menjauhkan istri dan anaknya ternyata bukanlah tindakan yang tepat.
Sekarang ia tahu itu bukan solusi yang baik. Matthew jadi semakin parah.
Ketika gairah mulai menanjak dan keinginan makin menggebu di pembuluh darah mereka, Benjamin menghentikan ciuman, lalu menjauhkan Ella.
"Kita harus berhenti, DD." Benjamin menatap tempat tidur, lalu menelan ludah. Membayangkan Ella ada di sana mulai membuat otaknya jadi bercabang.
"Istirahatlah. Naik ke tempat tidur. Aku tahu kau belum tidur. Tidurlah dulu, kalau perlu sampai menjelang siang."
Ella merasa hatinya kecewa karena Ben menghentikan ciuman mereka.
"Aku akan pergi saat ini juga ...."
Benjamin menunggu Ella menyahut. Namun wanita itu hanya menatap datar tanpa senyum.
"Aku pasti akan-" Benjamin berdeham, lalu terbatuk kecil sebelum melanjutkan, " sangat merindukanmu."
Bibir Daniella bergerak melebar, senyumnya begitu saja muncul tanpa dapat ia tahan.
Dasar pria kaku, mengucapkan itu saja kau sangat sulit.
Ella berkedip ketika sekali lagi kecupan mendarat di keningnya, lalu Benjamin berbalik, membuka pintu dan keluar tanpa melihat lagi ke arahnya.
Benjamin menatap Snow yang berjaga di lorong.
"Aku pergi sekarang juga ... mengurus beberapa hal. Jangan lengah ... bukan DD saja yang harus kau awasi sekarang. Ada Tuan Daniel dan Elena."
"Aku mengerti."
Ben mengangguk, lalu melangkah cepat-cepat meski hatinya merasa sangat berat. Ia sengaja tidak menoleh lagi ke belakang sebelum keluar. Takut ia kembali, lalu menyeret wanita itu ke atas tempat tidur. Ia tidak ingin menambah alasan baru untuk tuan Daniel agar makin tidak menyukainya.
Ketika tiba di dekat mobil yang akan membawanya pergi, Benjamin melihat Felix yang telah menunggu bersama Timmy.
"Aku membawanya sesuai keinginanmu," ucap Timmy.
Benjamin menatap wartawan yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir. Felix maju satu langkah, lalu mulai mengoceh, mengucapkan apa yang telah ia ceritakan pada Timmy, mengira kalau Benjamin sudah tahu.
"Aku tidak ikut-ikutan, Tuan Antolini. Aku bersumpah! Kalaupun benar apa yang Hector katakan, tidak ada bukti jika Miranda yang memukulnya."
Benjamin mengerutkan kening, lalu melirik Timmy yang sedang menyeringai.
"Hector sudah bangun. Ia mengatakan kalau Miranda lah yang memukulnya. Hanya wanita itu yang ada bersamanya malam itu dan ia mengatakan Miranda mengikutinya dan ikut melihat apa yang terjadi pada Daniella!"
Benjamin melirik Timmy lagi.
"Hide sedang mengurusnya," jawab Timmy. Memberitahu tanpa diminta.
Benjamin mengangguk, lalu kembali menatap Felix.
"Kau ingin berita bukan?"
Felix mengangguk. Mulai terlihat antusias.
"Beritakan tentang kunjungan-kunjunganku ke Copedam Hill, lalu pendekatan ku pada artis terkenal Daniella Dolores. Bagaimana kau memolesnya kuserahkan padamu."
"Hanya pendekatan? Apakah telah ada hubungan spesial? Maksudku ... Anda dan dia kekasih? Atau mungkin sudah bertunangan ... mmm ... sebenarnya beberapa kru sempat membicarakan cincin yang Nona Ella kenakan di beberapa kesempatan. Mereka baru melihat itu dan menduga-duga," ucap Felix, ia memilih kata dengan hati-hati. Meski yang sebenarnya yang dikatakan para kru bukan lagi menduga, tapi pasangan itu benar-benar sudah bertunangan.
"Kau tidak tahu yang sebenarnya, maka itulah yang kau tulis. Sebarkan saja sebanyak mungkin tentang dugaan yang baru saja kau katakan."
Benjamin membuka pintu mobil, lalu baru saja akan masuk ketika Felix mulai bertanya lagi.
"Foto ... uhm, bisakah aku-" Felix menggarut kepalanya.
"Mintalah pada Timmy. Ia akan memberimu yang paling bagus."
Benjamin menutup pintu, lalu berlalu dari tempat itu diiringi tawa Timmy yang menepuk pundak Felix.
NEXT >>>>>