Belinda

Belinda
32. Anger



Belinda membuka pintu rumah dengan senyum lebar dan wajah sangat gembira. Namun, sedetik setelah pintu terbuka, seluruh ekspresi bahagia tersebut hilang seketika, berganti dengan kedua bola mata yang membelalak dan wajah yang mulai kehilangan rona.


Di depan pintu tersebut, berdiri Vito dengan wajah menyesal dan mata menatap iba pada Bel. Sekali lirik di belakang Vito, Belinda tahu pasti siapa yang berdiri di sana, yang sedang menatap tajam dengan wajah murka.


Belinda menelan ludah, matanya kembali lagi pada sosok Vito. Ia memandangi sahabatnya itu dari atas hingga ke bawah. Memeriksa jika ada bekas pukulan atau penganiayaan. Tidak ada yang aneh kecuali penampilan Vito yang kusut, acak-acakan dan kedua tangannya yang tersimpan di belakang punggung. Belinda menebak kedua tangan sahabatnya itu diikat di belakang.


Belinda memegang erat gagang pintu, bersiap mendorong dan menutup kembali pintu rumah ketika suara dengan nada dingin dari Benjamin terdengar.


"Kau tutup pintu itu, sahabatmu ini tidak akan pernah kembali pulang ke ladang jagung, ia tidak akan pernah melihat ibu dan adiknya lagi," bisik Benjamin.


Tangan Belinda otomatis berhenti bergerak. Namun masih memegang erat gagang pintu, mencegah agar tangannya yang gemetar tidak terlihat.


"Tutup saja, Bel ... jangan kau urungkan niatmu. Kau boleh mengujiku, dan lihatlah sendiri apa yang akan terjadi pada si brengsekk ini," ancam Benjamin.


Belinda masih berdiri diam. Seluruh tubuhnya merasa sangat lemas. Ia tidak menyangka Benjamin datang mencarinya.


Sudah hampir setengah bulan ia pergi, hari-hari yang berlalu tidak pernah lewat tanpa Belinda mengingat suaminya. Kadang terselip hayalan andai suaminya yang tampan dan lembut itu datang, mengatakan bahwa ia kehilangan dan merindukan Belinda.


Hayalan yang langsung ditepis Belinda karena tahu itu tidak mungkin. Mereka bersama hanya satu malam, pria itu tidak mungkin punya perasaan yang dalam untuknya. Apalagi setelah ia dicampakkan dan ditinggalkan, ia tidak akan peduli lagi pada Belinda. Belinda malah tidak pernah mengira kalau Ben akan datang.


"Un-untuk apa kau kemari?" tanya Bel dengan suara yang nyaris hilang. Jantungnya berdebar cepat, ia menguatkan diri sendiri hanya untuk sekedar bisa bicara pada kakaknya itu.


"Buka pintunya!" bentak Benjamin.


Kedua bahu Bel sampai terlonjak mendengar bentakan Benjamin. Ia mengembuskan napas cepat sambil melepas gagang pintu. Belinda mundur teratur dengan mata menatap awas ke arah Benjamin tanpa membuka daun pintu lebar-lebar.


"Ck! Berani membantahku!" Benjamin bergerak ke depan Vito, menendang pintu hingga terbuka lebar. Selanjutnya ia mendorong Vito agar menyingkir dari depan pintu.


Vito segera menjauh, menghindar dari tatapan menusuk yang diarahkan Benjamin padanya. Namun langkahnya tidak bisa terlalu jauh, karena seorang anak buah Benjamin segera mendekat ke arahnya.


Belinda berhenti melangkah ketika merasakan punggungnya sudah menyentuh dinding. Matanya menatap menyelidik ke arah beranda rumah dari sela pintu yang terbuka lebar namun terhadang oleh tubuh kakaknya.


Belinda menyadari Benjamin tidak datang sendiri, anak buahnya ikut dan sekarang sedang menjaga Vito.


Benjamin masih berdiri di depan pintu, tepat di tengah-tengah, sedang mengatur napas untuk meredakan amarah. Ia tidak dapat menghilangkan kilat murka di kedua bola matanya yang terus memandang ke dalam, ke wajah Bel yang pucat dengan mulut belepotan krim.


Tangan kanan Benjamin terkepal erat, ia menahan perasaan yang sekarang campur aduk di dalam hati. Rasa khawatir yang meracuni pikirannya selama berhari-hari. Belinda tidak pernah dibiarkan sendiri di luar lingkungan keluarga Antolini, kebutuhan Bel disediakan dan selalu ada orang yang mengawasi. Meski jauh dan tidak melihat langsung, selalu ada yang memberi kabar pada Ben bagaimana keadaan adiknya itu.


Melihat sendiri wajah ceria dan senyum lebar Belinda saat membuka pintu membuat Benjamin yang merasa pikiran dan tubuhnya di ikat dan ditarik kuat-kuat selama berhari-hari, merasa tali itu sudah dilepas secara tiba-tiba. Rasa lega luar biasa yang langsung bersatu dengan api amarah.


Sedangkan Belinda menatap tak berkedip pada tangan kanan Benjamin yang terkepal erat. Membayangkan kalau Benjamin sekarang sedang mengatur napas dan menyiapkan diri memberikan hukuman padanya. Berkali-kali ia menelan ludah, ingin sekali menangis keras-keras. Namun, sekuat tenaga menahan agar bendungan air matanya tidak jebol.


Sejak kecil Bel mempelajari bahwa, ia dijaga dan diurus dengan baik bila ia menurut. Jadi sekalipun ia tidak pernah membantah pada ayah ataupun Benjamin.


Namun, sekarang ia membangkang untuk pertama kalinya. Ia merasa sudah dibebaskan dari nama Antolini. Berpikir bahwa Ben ataupun ayahnya tidak akan peduli lagi apapun yang akan ia lakukan setelah menikah. Belinda hanya seseorang yang dengan terpaksa mereka urus, sekarang mereka dibebaskan dari kewajiban mengurus putri seorang pelayan.


Putri pelayan ....


Kata-kata itu bagai sebuah mantra yang membuat hati Belinda yang menciut kembali bangkit. Ia menegakkan dagunya dengan tiba-tiba, menatap balik mata Benjamin yang penuh amarah.


"Aku berta-nya ...ma-mau apa kau kemari!" jerit Belinda. Detak jantungnya berdebar semakin cepat. Adrenalinnya mulai berpacu. Ia sendiri menggenggam kedua tangan hingga terkepal. Saat itulah Bel menyadari ia memegang sebuah garpu kue di tangan kiri.


Seringai Benjamin tidak pernah terlihat seseram itu di mata Belinda. Kakaknya yang berantakan dan penuh cambang tersebut terdengar menggeram sebelum berbicara.


"Kau kira dapat lolos begitu saja setelah melakukan perbuatan yang hampir saja mempermalukan keluarga !"


Pipi Belinda berkedut mendengar nada kalimat Benjamin yang setajam pisau dan sedingin es kutup.


Benjamin menatap adiknya itu memindahkan sebuah garpu kecil dari tangan kirinya ke tangan kanan. Setelah kembali menelan ludah untuk kesekian kalinya Belinda terlihat menggerakkkan kaki sedikit melebar, seolah menyiapkan diri untuk menyerang. Dagu mungil nya diangkat semakin tinggi, wajahnya yang pucat tertutupi oleh kilau kedua mata yang terlihat memberontak.


Saat itulah kepala Ben seolah diguyur oleh seember air es. Belinda tidak terlihat seperti adik penurutnya yang pendiam. Gadis itu terlihat seperti seseorang yang sedang kemasukan roh jahat. Dengan rambut panjang terurai tanpa diikat dan kedua mata menyala-nyala, ia merasa melihat sosok orang asing.


"Siapa yang kau maksud keluarga, Benjamin!? Aku?" Tawa Belinda terdengar melengking diakhir pertanyaannya. "Aku bukan lagi seorang Antolini! Aku bukan keluargamu! Jadi enyahlah dari sini dan jangan pernah mengurusi apapun yang kulakukan!" teriak Belinda dalam satu napas. Dadanya naik turun dengan cepat. Paru-paru Bel seolah akan meledak dengan rasa cemas, rasa takut, namun juga keinginan yang kuat untuk melawan.


Keheningan mengisi ruang tamu kecil rumah sewa tersebut. Matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam. sedikit cahaya hanya terlihat dari arah beranda belakang. Suasana hening disambut kegelapan, seolah menunggu untuk menyaksikan pembicaraan panjang penuh amarah antara Benjamin dan Belinda untuk pertama kalinya.


NEXT >>>>>>


********


From Author,


Keluarkan, muntahkan, semburkan apa yang ada dalam hati dan pikiranmu Belbel. Biar lega, hehe...


Dukung author dengan klik like, love, bintang lima, vote dan komentar ya. Terima kasih semuanya.


Salam. DIANAZ.