Belinda

Belinda
8. A deal



Benjamin mengisi satu gelas tinggi dengan air putih, lalu minum beberapa teguk sebelum berbalik dan kembali berjalan ke arah ruang tengah apartemennya sambil membawa gelas.


Ia meletakkan gelas ke atas meja, lalu meraih ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja itu ketika baru tiba.


Ben segera menelepon Verga kembali. Saat tadi menerima telepon di rumah ayahnya, pria itu hanya mengatakan tentang klien yang membutuhkan bantuan atas pengawal pribadi. Verga ingin tahu siapa yang layak menurut Benjamin. Percakapan itu memberinya kesempatan untuk melarikan diri dari ruang makan keluarga Antolini.


"Akhirnya kau menelepon," ucap Verga.


"Sedikit lama di perjalanan. Aku baru kembali dari rumah Ayah."


"Makan malam rutin?"


"Ya. Seperti biasa. Ada apa? Kau ... suaramu tadi terdengar mendesak."


"Memang mendesak. Apa Erick belum menghubungimu?"


"Erick? Tidak, belum."


"Ah ... berarti Paman Daniel belum juga menemuinya."


"Daniel? Tuan Doloreskah yang kau bicarakan?"


"Ya. Begini ... kuharap kau mendengarkan baik-baik. Aku akan menceritakan apa yang terjadi."


Benjamin menyandarkan punggungnya di sofa. Ia mulai membuka satu demi satu kancing kemeja hitam yang ia kenakan. Ketika Verga menyebut nama Daniella, Ben mulai serius mendengarkan. Verga menceritakan semua kekhawatiran pamannya mengenai surat dan juga penguntit, lalu seseorang yang sempat menangkap Ella hampir dua tahun lalu.


"Jika dia menerima surat lagi, apalagi tulisan yang sama, dapat dipastikan orang itu tidak iseng atau hanya ingin bermain, Verga," ujar Benjamin sambil membuka ikat pinggang celananya.


"Aku dan Paman Daniel juga berpikir demikian."


"Baiklah ... aku akan menelepon Erick. Kurasa dia sudah tahu apa yang harus dilakukan."


"Aku yakin itu benar. Tapi aku tetap ingin kau tahu situasinya. Kau tahu bagaimana wilayah Copedam Hill, tempat itu masih sepi dan dikelilingi hutan. Aku akan lebih tenang jika tahu sepupuku aman berada di sana."


"Aku akan membantu sebisaku. Bukan untuk gadis itu atau ayahnya. Tapi karena kau yang memintanya," ucap Benjamin. Ia tahu bagaimana perasaan Daniel dan Daniella Dolores terhadapnya. Ayah dan putrinya itu tidak menyembunyikan fakta bahwa mereka tidak menyukai Benjamin.


"Itu benar-benar berarti untukku, Ben. Terima kasih."


"Itu guna keluarga bukan? Urus adik dan keponakanku dengan baik," imbuhnya sambil tertawa.


"Aku melakukannya dengan senang hati."


Sambungan itu berakhir. Benjamin meletakkan ponsel ke sofa di sampingnya.


"Nah, DD ... mau tidak mau, kau harus berurusan denganku," bisik Benjamin sambil menarik lepas ujung kemeja dari dalam celananya. Tiba-tiba terngiang kembali ucapan dan tawa merdu Daniella yang mengejek dirinya saat berada di kamar anak.


Kau, bukan tipeku, Tuan Tampan ... dengan kata lain, bukan seleraku.


**********


Benjamin menunggu sampai siang keesokan harinya dan mendapati Erick tidak juga menelpon. Jika memang Daniel tidak jadi datang menemui Erick, maka Benjamin memiliki ruang gerak yang sangat kecil dalam memenuhi permintaan Verga untuk menjaga sepupu artisnya itu.


Daniel tidak menyukainya, jika pria tua itu memutuskan akan mencari dan menyewa orang lain, maka yang bisa Ben lakukan hanyalah mengawasi dari jauh, yang berarti hasilnya tidak akan maksimal. Orang-orang terbaiknya tidak akan bisa berada terlalu dekat di sekitar Daniella selama 24 jam.


Ben mencari kontak Erick dan menghubungi temannya itu.


"Halo, Black?"


"Halo, Erick. Ada yang ingin kutanyakan."


"Ya?"


"Apakah Daniel Dolores datang padamu?"


"Ah ... biar kutebak. Kau tahu berita ini dari Marchetti? Jika bukan maka dari teman kita si Tuan Besar?"


"Wah, Black. Kau tidak tahu? Daniel dan Enrico sudah sangat lama bekerja sama dalam bisnis mereka. Keduanya akrab. Putrinya Ella, dulu juga pernah dekat dengan Enrico. Enrico lah yang memberikan nama kita pada pria tua itu. Kau pasti sudah tahu dia ingin pengawal pribadi untuk putrinya."


"Ya, aku tahu. Tapi Verga yang memberitahuku, bukan Enrico."


"Mereka berdua yang menyuruh Daniel datang padaku. Aku sudah mengirim Stanley dan Snow ke sana."


Benjamin terdiam sejenak. "Stan dan Snow ... baguslah."


"Temuilah mereka di Copedam Hill. Aku sudah bilang pada mereka untuk menghubungimu bila sudah berada di sana."


"Kenapa bukan kau yang menelepon. Kau tidak mengabariku jika aku tidak menelpon hari ini."


"Daniel tidak mau berurusan denganmu. Aku tidak bertanya apa alasannya, kupikir bukanlah urusanku. Beberapa klien memang tidak menyukaimu," ucap Erick sambil terkekeh. "Tapi menurutku Stan dan Snow harus menemuimu. Jadi begitulah."


"Well, Daniel sebaiknya terbiasa ...."


Setelah pembicaraan itu dimatikan, Benjamin berdiri dan berjalan keluar dari ruang kantornya. Jam tangannya sudah menunjukkan waktu janji temu dengan seseorang sudah hampir dekat. Ia akan makan siang dengan seorang pengusaha yang memiliki seluruh lahan di Copedam Hill. Evander Morrone. Ben bersyukur tetap menjalin hubungan baik dengan pria itu setelah kecelakaan Verga dulu.


Benjamin sudah membuat janji dengan Evander. Rencana di benaknya adalah meminta bantuan pria itu. Ia butuh gambaran utuh Hotel Evander, juga butuh peta wilayah Copedam Hill. Namun jika tadi ia mendapati Daniel tidak meminta jasa Erick, maka ia tidak akan menjalankan rencananya. Pertemuannya dengan Evander hanya akan menjadi pertemuan makan siang antara dua orang kenalan. Tidak lebih. Tapi kabar dari Erick membuat Ben merasa lebih ringan dan lebih leluasa menjalankan rencananya. Di dalam hati ia mengatakan pada diri sendiri bahwa itu karena Verga. Ia melakukannya karena permintaan Verga.


Setelah tiba di sebuah restoran yang dituju, Benjamin turun dari mobil, menganggukkan kepala pada supirnya dan melangkah masuk. Seorang pelayan mengantarkannya ke meja tempat Evander sudah menunggu. Keduanya tersenyum dan bersalaman.


"Senang bertemu denganmu lagi, Ben."


"Aku juga, Evan."


"Kau bilang ingin membicarakan hal penting."


Benjamin mengangguk. "Sebaiknya kita memesan dulu," ujarnya.


Setelah semua pesanan mereka dicatat dan menunggu untuk disiapkan, Evander menyandarkan punggungnya, tampak santai dan ramah. Meski tidak memiliki wajah yang tergolong tampan, namun pria itu juga tidak bisa dikategorikan jelek. Pembawaannya tenang, Ben menyukai pria itu setelah bantuan yang ia dapatkan darinya saat kecelakaan yang menimpa Verga dan Juan. Satu lagi kelebihan Evander adalah keramahan dan senyumnya yang hangat.


"Jadi, apa yang bisa aku bantu, Ben?"


"Ini ada hubungannya dengan tamu-tamu yang akan datang ke hotelmu lusa, Evan."


"Lusa?" Evan tampak berpikir. "Kau bilang tamu-tamu, berarti ada banyak? Serombongan kru film memang akan datang ke hotel. Apakah mereka yang kau maksud? Setidaknya mereka akan menghabiskan waktu dua bulan di tempatku hingga seluruh pengambilan adegan selesai."


"Salah satu artisnya, Nona Dolores. Dia sepupu Verga."


Evander tampak terkejut. "Benarkah?"


"Ya. Ayah Verga dan Ibu Nona Dolores adalah saudara sepupu."


Evander mengangguk senang. "Aku senang kau memberitahuku, lalu ... bantuan apa yang kau minta? Ada hubungannya dengan Nona Dolores?"


Benjamin memutuskan menceritakan sebagian kecil dari kisah sesungguhnya. Dia menyimpan bagian tertentu seperti penguntit atau surat kaleng vulgar dan menjijikkan. Nama Verga cukup berarti sebagai pelancar urusannya dengan Evander. Pria itu dengan murah hati membeberkan semua hal tentang hotelnya. Bahkan akan memberikan gambaran keseluruhan denah dan tempat-tempat terbaik untuk dikunjungi di wilayah hutan yang telah dijadikannya tempat rekreasi alam liar. Evan berpikir Verga dan Ben memerlukan gambaran tempat itu untuk Daniella.


"Aku mengadakan pesta penyambutan untuk para kru itu. Produsernya adalah temanku. Aku mengundangmu secara pribadi."


Benjamin tersenyum. Berpikir bahwa itu adalah acara yang tepat untuk memunculkan diri tanpa harus terlihat sengaja oleh Daniella. Lagipula, ia bisa menemui dan bicara langsung dengan Stan dan Snow. Para pengawal pribadi yang telah dikirim Erick.


NEXT >>>>>>


*******


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.