
Pikiran Daniella menjelajah ketika melihat apa yang Benjamin sembunyikan di balik kemejanya. Meski sekilas karena hanya dua kancing yang terbuka, tapi karena pria itu membungkuk, Ella dapat membayangkan dengan sempurna penampakan Benjamin tanpa bahan kain yang menghalangi. Lagipula, ia sudah pernah melihatnya malam itu saat Ben mengganti baju karena permintaannya.
Tangan Ella yang berpegangan di belakang leher Benjamin merasakan keinginan untuk menelusuri leher, lalu menyelinap di balik kancing yang terbuka tersebut. Membelai dan merasakan tekstur dada yang kokoh milik Ben, kemudian mengecup dan memeluknya.
Ella merasa darah dalam pembuluhnya mengalir deras, detak jantungnya berpacu seperti sedang berlari. Selama ia menapaki masa dewasanya sebagai seorang wanita, ia bangga karena selalu mampu mengendalikan gairah dan keinginan yang satu ini. Ia tak malu masih menjadi perawan di usia sekarang, dimana teman-temannya bahkan sudah berkali-kali melakukannya bahkan ada yang sudah dua kali bersuami dan memiliki anak.
Ella tidak pernah merasakan keinginan yang begitu kuat untuk bersama pria manapun. Tidak pernah tertarik begitu lama. Tentu saja ia normal, ia suka pria tampan. Pekerjaannya mempertemukan dengan pria-pria dengan wajah tampan dan tubuh sexii menggiurkan. Ia akan tertarik di pertemuan pertama, berteman, lalu mendapati ketertarikan itu memudar dengan sendirinya ketika mereka berpisah karena pekerjaan yang sudah selesai. Lalu saat mereka bertemu lagi, mereka akan bersikap layaknya dua orang yang pernah bertemu dan saling mengenal, jika merasa cocok, mereka bahkan terus berteman.
Namun, dengan Benjamin, Ella merasakan rasa tertariknya bukan memudar. Sejak insiden di pertemuan pertama mereka, ia selalu teringat dan penasaran dengan pria itu. Mereka bertemu hanya saat acara keluarga atau moment tertentu yang tidak sering, tapi rasa tertariknya tidak memudar. Ella mendapati ia gelisah ketika bertemu atau melihat pria itu, tapi juga merasa sangat senang dan mencari-cari sosok itu ketika berada di suatu acara keluarga.
Perasaannya pada Benjamin begitu mengganggu. Seperti rasa gatal yang tidak dapat digaruk dan dibuat reda.
Ella membelai bagian belakang kepala Benjamin, mengelus helaian rambut di tengkuk pria itu, perasaan senang dan nikmat merasukinya ketika melihat Benjamin merapatkan bibir dan menatapnya semakin tajam. Kedua tangan pria itu mengepal di atas kasur.
"DD ... henti-"
Bibir Benjamin berhenti berucap ketika kelembutan mulut Daniella menyegel bibirnya. Wanita itu mengecup, lalu mulai memagutt dan membelai. Merayu agar bibirnya yang merapat segera membuka dan memberi balasan. Ella menarik kepala Benjamin, mengeratkan pelukan lengannya di leher dan bahu Ben.
"Cium aku," bisiknya. Ia sampai tidak mengenali suaranya sendiri yang begitu dalam dan serak. Ella merasakan gelenyar di seluruh tubuh, merasa tubuhnya menginginkan kedekatan dan juga sentuhan Benjamin.
"Aku bilang henti-"
Kembali ucapan Benjamin terputus, ketika bahunya ditarik dan bibirnya kembali dikecup. Kali ini Ella bagai **********, Wanita itu menariknya ke atas tempat tidur. Mengunci kedua bahunya dengan pelukan. Dadanya yang menyentuh bagian depan tubuh Ella bagai terbakar api.
Benjamin merasakan satu demi satu simpul kendali dirinya terlepas. Ia mulai membalas, mencecap dan memagutt. Tangan kanan Benjamin mulai menjelajah, mencari bagian terbuka yang bisa ia sentuh sebagai obat untuk meredakan rasa panas di tubuhnya.
Kebutuhan akan udara membuat mereka terpaksa melepaskan bibir mereka yang bertaut, desah lirih dari bibir Daniella membuat Benjamin makin terbakar. Dalam jarak yang begitu dekat, mereka menarik napas dengan cepat, memasukkan oksigen ke dalam paru-paru sebanyak mungkin.
Ujung jari Benjamin mengelus bibir Ella yang terbuka, ia merasakan kelembutan juga kelembapan. Bola matanya terus menatap mata biru Ella yang juga sedang menatapnya.
Tangan Benjamin mulai bergerak, berpindah mengelus pipi, lalu membelai leher. Ia merasakan gerakan di otot leher Ella yang menelan ludah ketika jarinya meraba kulit lembut leher wanita itu.
Mata Benjamin melihat kabut gairah di mata Ella kian memancar, ketika jarinya mulai bergerak ke arah bahu dan menyingkap jubah wanita itu ke bagian lengan luar. Ben merasakan ketegangan di tubuh Daniella meningkat.
"Ketika kita melakukannya, DD, aku tidak ingin ada penyesalan ... jadi, kalau kau ingin berhenti, sekaranglah waktunya ...." Benjamin menatap penuh harap dan menunggu jawaban.
Satu demi satu seluruh bagian wajah Daniella ia telusuri, mata biru yang penuh semangat dan gairah hidup, hidung mancung dan juga bibir berwarna pink yang bagai candu sehingga ia selalu ingin kembali menciumnya. Permukaan kulit yang sangat lembut dan menggoda untuk dibelai.
Ben tidak tahu harapan apa yang paling berkuasa di hatinya saat ini. Ia berharap Daniella memilih berhenti, sehingga pendekatan secara perlahan yang ia rencanakan sejak awal tidak kacau. Tapi keinginan tubuhnya juga berharap mereka terus melanjutkan. Hatinya juga ingin Ella segera jadi miliknya malam ini.
Dalam diam dan hening, mereka seolah bisa mendengar detak jantung masing-masing yang makin menggila. Kabut gairah berpendar makin pekat di sekitar tempat tidur.
Seluruh suara seolah memudar, seluruh pikiran jernih pergi menjauh, diganti kabut gairah yang berkuasa penuh. Sisa penghujung malam dihabiskan pasangan itu di atas tempat tidur. Keheningan isi kamar jadi saksi bisu ketika Benjamin melepaskan seluruh kendali dirinya. Melepaskan anak panah melesat, hingga tali busur akhirnya bisa mengendur. Menyatakan cintanya, menaruh hatinya, menyerahkan raganya hanya untuk wanita yang ada dipelukannya saat ini.
**********
"Kemana kau, Ben!? Angkat teleponku! Kau akan menyesal kalau kau tidak tahu situasinya! Ayah akan pergi ke apartemenmu! Aku sangat yakin tentang ini! Ia terus bertanya padaku! Kenapa kau menyimpan ular itu di sana! Ck!"
Ketukan di pintu membuat Alana terlonjak. Ia menoleh dan mendapati kepala ibunya sudah menyembul di sela pintu.
"Pagi sekali kau sudah bersiap?"
"Ya, Bu. Ada tugas pagi di rumah sakit. Aku tidak mau terlambat dan dimarahi."
"Baiklah. Turun dan sarapanlah lebih dulu. Ayahmu belum siap."
"Ayah tidak turun?"
Maurice menggeleng. "Dia sarapan nanti. Di jam biasa."
Alana menarik napas lega. Ia tidak mau sarapan bersama ayahnya dan kembali harus menjawab pertanyaan pria itu tentang kunjungan ke apartemen Benjamin.
**********
Dering telepon terasa mengganggu di telinga Bernie.
"Haish! Siapa yang telepon pagi-pagi begini!" serunya kesal sambil bangun dan mencomot ponsel yang terus berbunyi di atas nakas.
Bernie bersandar ke kepala tempat tidur, lalu sambil menguap ia melirik layar ponsel. Tertera nama penelepon. My Sweet Daddy.
Bernie mengernyit, lalu menyadari bahwa itu ponsel Ella yang ia bawa ke kamarnya. Ia malas mengantarkan ke kamar Ella karena pasti akan diusir oleh Benjamin.
Bernie menelan ludah, lalu melirik ke jendela kaca. Fajar baru akan muncul, cahaya kekuningan malu-malu di balik awan gelap. Namun masih dominan diwarnai kegelapan.
Masih gelap ... apa tidak usah kuangkat saja? Biar Paman mengira Ella masih tidur ... Aduhhhh, kalau kuangkat akan muncul pertanyaan ... kenapa aku yang angkat? Ella kemana? Kalau ia mau bicara pada Ella? ... Haish, matilah aku!
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Bab ini sudah melalui proses edit ulang karena tidak lolos review dari admin NT dengan alasan mengandung unsur dewasa. Kenapa ada unsur dewasa? karena ini novel romance gilak hahahha. Hot? Gak sebenernya, hanya proses biasa, gak ada penyebutan organ apalagi unsur pornografi. Terselip sedikit prosa ungu dalam novel romance kan biasa ya, bumbu ... jika diedit dan diganti sebenarnya feelnya jadi kurang dapet. tapi apa boleh buat ...... daripada gak tayang ....
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update. Once again gaes .... VOTE jangan lupaaaaaa....
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.