Belinda

Belinda
39. Foe



"Kau sudah bicara dengan Evander?"


Benjamin menganggukkan kepala menjawab pertanyaan yang diutarakan oleh pria yang duduk santai di sofa ruang kantornya itu.


"Jangan hisap cerutumu di sini, Komandan," tegur Benjamin.


"Timmy menemukan satu lagi hal menarik."


"Apa?" Benjamin diam saja melihat temannya itu mengabaikan ucapannya tentang cerutu.


"Bahwa apapun ucapan Evander padamu ketika kau bicara dengannya mungkin saja benar."


"Dia tidak mengenal penyewa mobil itu. Pria itu direkrut bekerja oleh pengawas hutan miliknya. Mereka ada banyak. Tersebar dan bergantian berjaga di beberapa pos dalam wilayah hutan."


Komandan menganggukkan kepala. "Kami menemui pengawas yang dimaksud."


"Kalian sudah mengantongi identitasnya?"


"Belum. Timmy yakin gambaran yang di lukiskan pengawas tentang pria yang ia terima bekerja itu adalah samaran."


"Nama?"


Gelengan kepala dari pria yang di bibirnya terselip cerutu itu membuat Benjamin mengembuskan napas.


"Bagaimana dengan Daniella? Ada yang mendekatinya beberapa hari ini?"


"Ada."


Jawaban komandan membuat Benjamin mendelik.


"Itu hal yang lumrah, Black. Dia cantik," ucap komandan sambil terkekeh.


"Siapa?"


"Hector, kemudian Felix, lalu-"


"Dia aman bukan?" potong Benjamin. Ia tidak mau mendengarkan nama-nama pria yang terus berusaha mendekat pada calon istrinya.


"Dijamin."


"Apakah bisa dipastikan orang yang mengincarku sudah pergi dari sana?"


"Itu yang kita harapkan, Black. Dia akan melihat bahwa kau sudah pergi dari sana. Kuharap dia mengikutimu."


"Kapan aku bisa kembali ke sana?"


Komandan mengerutkan kening. "Maksudmu?"


"Aku mau mengunjungi Copedam Hill."


Komandan tampak melongo dan menatap seolah Benjamin orang bodoh.


"Kau tidak salah dengar, Kawan. Jadi? Kapan aku bisa ke sana lagi?"


Komandan berdecih. " Aku dengar dengan jelas, Black. Hanya saja untuk apa kau ke sana? Kita mau memancing orang ini keluar."


"Sudah beberapa hari, kenapa dia tidak juga muncul?"


"Jangan tanya aku. Dia mungkin tahu kita sedang menyelidikinya. Bukankah sejak insiden mobil itu dia belum pernah mencobanya lagi."


Benjamin menarik napas panjang, kemudian menggosok tengkuk, dan bersandar dengan kepala menghadap ke arah langit-langit.


Tawa geli yang kemudian terdengar membuat Benjamin melirik ke arah komandan.


"Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?"


"Sekarang aku tahu kenapa kau ingin pergi ke Copedam Hill."


Benjamin menatap datar temannya yang sedang menyeringai.


"Aku tidak mengira akan menyaksikan Black jatuh cinta. Kau mau ke sana karena wanita itu membuatmu rindu bukan?"


"Aku sudah berjanji pada keluargaku akan membawanya makan malam bersama. Itu saja."


Wajah Benjamin yang terus menatapnya tanpa ekspresi membuat komandan tertawa semakin keras. "Ah, menghindar ... kau sudah mulai melunak, Black. Nona Dolores benar-benar sudah membuatmu bertekuk lutut."


"Berhentilah mengoceh dan lanjutkan pekerjaanmu bersama Hide, Komandan," ucap Benjamin dengan nada dingin.


Komandan masih tertawa ketika ia berdiri dan menarik cerutu dari sudut bibir. " Aku memang mau pergi ... ah, satu lagi. Kalau boleh aku memberikan saran. Jika kau mau mengunjungi Nona Dolores, menyelinaplah sehingga tidak ada yang melihatmu. Kita tidak mau pria ini kembali ke sana dan membahayakan calon istrimu itu karena melihat kau ada di sana."


Benjamin menatap punggung temannya, meski tidak mengakui di depan komandan, namun di dalam hati ia tahu ucapan pria itu benar. Sudah beberapa hari ia meninggalkan hotel Copedam Hill. Ia dan Daniella hanya berhubungan lewat telepon. Pembicaraan yang membuat Benjamin merasa makin tersiksa karena hanya melihat video dan suara wanita itu tanpa bisa menyentuhnya.


*********


Kegiatan menyiapkan biskuit untuk penganan teman kopi sambil menonton TV segera ia tinggalkan.


"Ada Ella?" tanya Daniel pada istrinya yang duduk di sofa di depan TV dengan tangan kanan sedang memegang remot.


Melihat kedatangan Daniel, Elena segera menepuk tempat duduk di sebelahnya dan memeluk lengan Daniel ketika pria itu sudah duduk.


Berita itu hanya menayangkan tentang sejauh mana proses pembuatan film yang dibintangi Ella. Mengatakan bahwa kemungkinan semua pengambilan gambar akan selesai dalam beberapa minggu lagi.


"Kenapa mereka tidak punya video saat Ella di lokasi syuting, atau seputar Copedam Hill? Meski selintas aku ingin melihat putriku."


"Ella bilang tempat itu tertutup untuk wartawan demi kelancaran pekerjaan mereka, Daniel."


"Aku merindukannya, Elena."


"Aku juga. Kau telepon saja, lakukan panggilan video," saran Elena sambil mengulurkan ponsel.


Daniel melirik ke arah jam dinding, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.


"Ini jam sibuk. Kita jangan mengganggunya."


"Ah, kau benar."


"Sebenarnya beberapa waktu lalu Ella pernah mengatakan bahwa keluarga tidak dilarang berkunjung. Pemeran utama wanita, si Miranda malah mengundang seorang sepupunya untuk melihat-lihat sekaligus liburan di hotel itu."


"Benarkah?"


Daniel mengangguk, lalu saling berpandangan dengan istrinya.


"Bagaimana kalau kita mengunjunginya? Jangan mengabarkan apapun. Aku ingin sesekali mengintip Ella di lokasi syuting," ucap Elena diakhiri senyum gembira karena membayangkan ekspresi Ella begitu melihat mereka ada di Copedam Hill.


"Kau mencuri ideku," ucap Daniel sambil tertawa.


"Kita sepakat kalau begitu. Aku akan menyiapkan koper kita. Kau pergilah urus beberapa hal yang diperlukan di restoran."


"Kita pergi berapa hari?"


Elena tampak berpikir, lalu tersenyum lebar. "Berapapun yang diperlukan. Anggap kita liburan dadakan, Daniel."


"Sekalian bulan madu lagi? Kita belum pernah mencoba kamar terbaik di Copedam Hill kan."


Ucapan Daniel membuat Elena terkekeh geli. "Seharusnya kau memikirkan hadiah bulan madu itu untuk putrimu, Tuan Dolores. Dia seharusnya sudah lama menikah, berbulan madu dan berkeluarga."


"Dia akan menikah jika saatnya tiba, Elena. Dia hanya belum berjumpa dengan orang itu."


"Kuharap orang itu mencintainya dan akan menjaganya, Daniel. Seperti kau mencintai dan menjagaku," ungkap Elena, lalu pergi meninggalkan Daniel menuju kamar untuk mengemas pakaian.


"Kuharap juga begitu, Elena ... kuharap dia bahagia dan juga mencintai pria itu ...."


*********


Di sebuah rumah penjaga di tengah hutan, seorang pria menggigil kedinginan, ia membersit hidung dan merapatkan mantel.


"Flu sialan!" maki pria itu.


Aroma daging terbakar membuat pria itu mendekat ke perapian. Seekor kelinci yang sedang dipanggang tampak menggiurkan dan membuat perutnya yang lapar memberontak minta diisi.


"Anjingg penjagamu gigih juga, Benjamin! Aku harus lari dan bersembunyi jauh ke dalam rimba milik Morrone agar tidak tertangkap. Kuharap kalian mengira aku pergi mengejarmu."


Pria itu mengangkat tongkat penusuk kelinci, lalu ia duduk di atas lantai beralaskan selimut kain perca dan mulai menggigit kelinci panggang. Matanya nyalang menatap sisa lidah api yang masih menari di perapian.


"Aku mungkin tidak bisa membalas pukulanmu waktu itu, Tuan Antolini ... tapi aku bisa membalas perbuatanmu yang satu lagi ... kau sembunyikan istri cantikku, maka akan kuambil dan kusembunyikan wanitamu," pria itu terkekeh sebelum melanjutkan," meski aku tidak tahu hubungan apa yang kalian miliki, yang pasti aku tahu wanita itu cukup berharga untukmu! Dia juga cantik, bukankah aku benar, Benjamin!? Meski dalam versi berbeda dengan milikku ... aku jadi ingin mencicipinya, apa rasanya nanti juga akan berbeda?"


Mendengar leluconnya sendiri dan bayangan mesum yang melintas dalam otaknya, pria itu langsung terbahak.


"Sabar ... belum waktunya ... belum waktunya," desisnya pada lidah api yang mulai padam di perapian.


NEXT >>>>>>


********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.