Belinda

Belinda
5. A Name



Irama blues mengalun di dalam restauran kecil milik Daniel di pinggiran kota BYork. Suasana santai dan akrab begitu terasa dari setiap meja yang terisi beberapa orang yang tengah makan malam. Daniel baru saja selesai mengisi gelas milik si tua Freddie ketika melihat Verga memasuki ruangan.


"Kau sudah tiba," ucap Daniel pada Verga ketika pria itu sudah dekat. Daniel menepuk pundak Freddie tanda berpamitan, lalu mengajak Verga mengikutinya ke sebuah meja yang berada agak tersudut. Mata Verga agak terkejut menatap seseorang yang sudah lebih dulu duduk di sana sambil menikmati makan malam.


"Kejutan yang menyenangkan," ucap Enrico sambil menepuk pelan bibirnya dengan serbet. Piring di atas meja terlihat sudah bersih, ia baru saja menyelesaikan makan malamnya.


"Senang bertemu denganmu juga, Tuan Costra," Verga menyeringai melihat senyum lebar di bibir Enrico.


"Aku senang kalian berdua bisa akrab," ucap Daniel sambil memberi kode dengan jari pada karyawannya agar segera membersihkan meja.


"Jangan salah sangka, Paman Daniel. Aku hanya bersikap sopan," ucap Verga sambil menyambut uluran tangan Enrico.


"Dan aku adalah pria yang tahu sopan santun," balas Enrico. Keduanya berjabat tangan erat sebelum saling melepaskan diiringi tawa geli.


Daniel melangkah pergi sesaat, meninggalkan dua pria itu saling mengobrol. Ia kembali bersama seorang karyawan yang membawa tiga gelas dan botol anggur di atas nampan. Dengan sikap amat santun, pria tua bertubuh besar yang mengenakan celemek tersebut menuangkan anggur untuk Enrico dan Verga.


"Kalian pasti sudah tahu apa keinginanku. Jadi aku langsung saja. Beri aku nama," ucap Daniel.


Verga berpandangan dengan Enrico. Melihat sorot mata pengusaha ladang anggur tersebut, Verga tahu bahwa Pamannya sudah memberitahu pria itu tentang kekhawatirannya. Hal yang tidak mengherankan karena Enrico dan Paman Daniel sudah berteman dan berbisnis sejak lama.


"Kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa aku meminta kalian berdua. Well ... awalnya aku terpikir dirimu, Rico. Teman baikmu yang pernah kau bawa kemari, yang kau kenalkan waktu itu ... mmm, Erick? Dia ahli mencari informasi bukan? Kau juga mengatakan dia pernah jadi prajurit bayaran sebelum berhenti."


Enrico mengangguk. Ia tahu Daniel belum selesai bicara, jadi tetap diam dan mendengarkan.


"Dan kau Verga. Berhubung kemarin kau menelepon memberitahu akan singgah, sekalian saja kuajak berdiskusi. Mungkin saja kau punya rekomendasi."


"Aku punya, Paman dan percayalah dia ahlinya. Tapi sebelum itu, ceritakan dulu ada apa sebenarnya."


Enrico kembali mengangguk, mendukung ucapan Verga.


Daniel mendesah, mengeluarkan dua surat yang terlihat sudah mengerut dari dalam kantong celananya.


"Kalian bacalah," ucap Daniel sambil mengulurkan surat tersebut ke atas meja. Enrico dan Verga mengambil masing-masing satu, lalu keduanya mulai membaca.


Daniel menyaksikan perubahan wajah Enrico dan Verga. Tatapan mata keduanya mengeras dengan rahang terkatup rapat, setelah selesai dengan surat di masing-masing tangan mereka bertukar tanpa bicara. Enrico memberikan suratnya pada Verga dan sebaliknya.


Ekspresi jijik dan muak lalu mewarnai wajah kedua pria tersebut.


"Selain surat menjijikkan ini, apakah ada hal lain yang terjadi pada Daniella, Tuan Daniel? Maksudku ... seseorang yang merayu dan menggodanya, atau mengganggunya?" tanya Enrico


"Atau mungkin pria yang mendekatinya atau melakukan pelecehan?" tanya Verga.


Daniel menyesap minumannya dulu sebelum menjawab. "Sudah setahun lebih ... hampir dua tahun malah ... Daniella menolak semua tawaran film. Dulu ... dia juga menerima surat tanpa nama berisi kalimat tidak pantas, vulgar dan mengerikan seperti ini. Awalnya dia tidak menghiraukan, menganggap itu pekerjaan iseng, mungkin fans atau orang yang hanya ingin mengerjainya. Namun surat itu kembali datang, makin lama makin meresahkan, Ella bahkan merasa terancam. Ia merasa terus diikuti. Namun tidak pernah menemukan bukti atau benar-benar melihat orang yang menguntit tersebut. Lalu terjadilah kejadian yang membuatnya memilih berhenti setelah film terakhirnya selesai."


"Ada apa?" tanya Verga. Ia tidak pernah tahu bahwa sepupunya yang ceria itu pernah mengalami hal mengerikan.


"Ella diikuti ketika pulang dari sebuah pesta ... ia sedikit pusing dan Bernie, managernya saat itu terlihat belum mau meninggalkan pesta. Jadi ia memutuskan pulang sendiri ke apartemen."


"Bernie mengatakan seseorang sudah diperintahkan mengantarkan Ella pulang. Saat tiba di basement dan sedang berjalan menuju mobil, seorang pria sudah berdiri di dekat mobil. Mengatakan kalau ia diperintahkan oleh Bernie mengantar Ella. Tanpa curiga Ella masuk setelah orang itu membukakan pintu."


"Dia punya kunci mobilnya," ucap Verga.


"Ya Tuhaaannn," bisik Verga.


"Ella gadis pemberani," ucap Daniel, menatap dua pria tersebut dengan senyum kecut."Segera setelah mobil berhenti di jalanan gelap di depan gudang, pria tersebut membukakan pintu dan menyeret lengannya keluar dari mobil, Ella sudah menyiapkan diri. Sepatunya ditinggal di dalam mobil. Ia turun tanpa sepatu, lalu ia menyemprotkan spray merica ke mata dan wajah pria itu. Memberinya waktu beberapa detik ketika pria itu mundur dan melepaskannya. Setelahnya gadis itu berlari kencang ... Ella beruntung, tempat itu tidak jauh dari kota. Ia segera menemukan keramaian dan berlindung sambil mencari cara menghubungiku. Sejak itu aku menolak memberinya izin menerima pekerjaan apapun, dan Ella juga memilih berhenti sementara."


"Anda sudah memeriksa Bernie? " tanya Enrico dengan nada dingin.


"Sudah. Pria itu tidak tahu apapun. Pria yang diperintahkan mengantar Ella ditemukan terikat di sudut basement. Saat naik mobil Ella hanya melihat sekilas wajah pria yang mengantarnya. Menurutnya wajah itu seperti wajah kebanyakan orang, tampak sopan dengan tinggi sedang dan berkulit cokelat."


"Kau harus menempatkan setidaknya dua orang, Paman. Kau tidak bisa mengawasi Ella sendiri. Ella tidak akan mau disuruh berhenti dari pekerjaannya sekarang. Dia sedang menyelesaikan sebuah film bukan?"


"Ya, Nak. Menurut Bernie hanya tinggal dua bulan lagi."


"Kau melakukan hal yang benar dengan menyewa pengawal pribadi, Tuan Daniel." Enrico menganggukkan kepalanya.


"Karena itu, Rico. Temukan aku dengan Erick."


Enrico menyeringai, tatapan matanya berkilat tajam. "Erick sudah tidak lagi menerima pekerjaan di lapangan, Tuan Daniel. Setelah menikah dengan koki andalanku dan memiliki bayi, dia melakukan pekerjaan yang lebih aman. Di belakang meja dengan setumpuk kertas kontrak. Dia CEO di sebuah perusahaan."


Daniel mendesah keras, tampak sangat kecewa.


"Oh, jangan kecewa. Tuan Daniel. Aku punya rekomendasi yang lebih baik. Owner dari perusahaan tempat Erick bekerja. Dia menyerahkan kursinya pada Erick karena harus kembali pada perusahaan keluarga."


Kata-kata Enrico membuat Verga menyipit. "Jangan bilang kau akan merekomendasikan orang yang ada hubungannya dengan diriku, Enrico."


Enrico terkekeh geli, ia mengangkat gelas minumannya sambil tersenyum simpul.


"Memangnya kenapa, Verga?"


"Karena aku sebenarnya berniat merekomendasikannya pada Pamanku."


Kedua pria itu berbagi senyum sambil mengangguk. "Berarti kita punya satu nama yang sama untuk diberikan," Enrico meletakkan gelasnya. Lalu serentak mereka menoleh ke arah Daniel.


"Katakan siapa? Hubungkan aku padanya," ucap Daniel tidak sabar.


"Black!" ucap Verga dan Enrico bersamaan.


*********


From Author,


Mulai menanjak ya, hehe. Ikuti terus ceritanya ya gaes ....


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.