Belinda

Belinda
6. Bodyguard



Daniel melihat dua pria teman bicaranya dengan wajah antusias. Ia bahkan mengulurkan ponselnya pada Enrico. Meminta agar segera dihubungkan dengan pria bernama Black.


Verga seketika terkekeh, disambut Enrico yang hanya tersenyum memandangi Daniel.


"Apa? Kenapa? Bagian mana yang lucu?" tanya Daniel.


Enrico melirik Verga, menyilakan pria itu memberitahu pamannya.


"Kau sudah mengenal Black, Paman," ucap Verga. Ia sangat penasaran dengan reaksi pamannya jika mengetahui siapa Black.


"Aku? Mengenalnya? Black?" Daniel mengerutkan kening, ia menggeleng sambil berpikir keras. "Tidak. Aku tidak punya satupun kenalan bernama Black," ucapnya dengan sangat yakin.


"Aku sering menggunakan jasanya ketika membutuhkan informasi, atau butuh pengawal, atau butuh orang-orang yang bisa membantuku lewat belakang untuk menyelesaikan suatu urusan," ucap Enrico dengan mata berkilat menatap Verga. Ia tersenyum keji dengan sengaja.


Verga mendengus. "Aku tidak meragukannya. Kutebak, kau pasti sering memakai jasanya bila mau memukul orang tanpa mengotori tanganmu sendiri."


Enrico terkekeh. "Aku bukan mafia, Verga. Aku seorang pengusaha. Kebanyakan urusanku dengan Black di masa lalu salah satunya adalah untuk menakuti para wanita agar jangan mengejarku," ucap Enrico kalem.


"Oh ya? Bukankah kau juga menggunakannya untuk mengejar dan menangkap gadis?" sindir Verga, namun dengan tawa geli yang tersirat di kedua matanya. Ia tahu riwayat Enrico yang meminta Black mencari Vivi, saat gadis itu menghilang beberapa waktu sebelum keduanya menikah.


"Hanya gadis yang kuinginkan," jawab Enrico.


Daniel kembali menyodorkan ponselnya pada Enrico. "Telepon dia, Rico. Dia pasti bagus, kalau kau sering memakai jasanya."


"Oh, dia tidak hanya bagus, Tuan Daniel. Dia ahlinya," ucap Enrico sambil mengangguk yakin.


"Aku setuju. Orang-orangnya juga bagus. Mereka juga pandai berakting. Mereka benar-benar menculik dan kemudian memukulku hingga memar, hanya untuk membuat Belinda menyerah dan mau pulang ke rumah," ucap Verga sambil menerawang menatap cairan di dalam gelas minumnya.


"Nah, kau belum bercerita tentang hal itu. Apa tepatnya yang dilakukan Black?" tanya Enrico penuh minat.


"Aku tidak akan menceritakan detailnya padamu, Mr. Costra!"


Enrico tertawa mendengar nada sengit di suara Verga.


"Padahal aku sangat penasaran," ucapnya sambil tertawa. "Intinya, Tuan Daniel. Kau akan menyukai orang ini," imbuhnya lagi.


Verga menyeringai mendengar komentar Enrico.


"Aku tidak yakin tentang itu, Rico. Pamanku punya sedikit pengalaman tidak menyenangkan dengan Black."


Enrico menaikkan kedua alisnya ke arah Daniel. "Benarkah?"


Kedua pria tersebut menatap Daniel yang terlihat kebingungan. "Kalian bicara seolah aku mengenal orang ini. Sekarang katakan saja siapa dia!?"


"Kau sudah cukup sering bertemu dengannya Paman Daniel. Dia Benjamin," ucap Verga. Melihat pamannya dengan mata berbinar.


Daniel tidak bereaksi selama beberapa detik.


"Benjamin?" ucapnya sambil mengerutkan kening. "Aku kenal dua ... atau tiga Benjamin. Benjamin yang mana?"


"Antolini," ucap Verga berbarengan dengan Enrico.


"Apa! Maksudmu, Benjamin Antolini!?" nada suara Daniel naik beberapa oktaf. Beberapa tamu terlihat melirik ke arah meja mereka.


"Ya. Anda benar."


"Ya. Kau tidak salah dengar, Paman."


"Cih! Pria itu! Aku tidak akan mau berurusan dengannya! Dia tidak tahu sopan santun!"


Enrico melirik Verga, bertanya-tanya tentang kemarahan yang tiba-tiba muncul di wajah Daniel.


"Kau tidak memerlukan sopan santunnya, Paman. Kau memerlukan para pengawalnya yang terbaik, yang bisa menjaga Ella."


Daniel mendengus. "Nama lain!" serunya sambil menepuk meja dan memandang garang.


"Tidak punya," ucap Verga .


"Ayolah! Kau, Enrico! Nama lain!?" perintah Daniel dengan suara tegas.


Enrico bersedekap. Menatap langit-langit seolah berpikir. "Hmmm ... ada apa sebenarnya antara dirimu dengan Black, Tuan Daniel?"


"Masalah kecil dan sepele," jawab Verga. Ia terkekeh karena mendapatkan pelototan dari pamannya.


"Nama lain ya ... hmmm, boleh aku tahu dimana syuting berikutnya akan dilakukan? Aku punya teman di beberapa kota. Aku mungkin bisa menghubungi mereka, meminta rekomendasi," ucap Enrico.


Daniel mengangguk penuh semangat, kemarahannya segera hilang. "Copedam, tepatnya Copedam Hill."


Verga menaikkan alisnya. "Copedam Hill? Apakah di Hotel milik Evander Morrone?"


Daniel mengangguk. Ia tahu Verga dan Evander merupakan relasi bisnis. "Relasimu itu dan produser di film Ella bekerja sama. Kurasa itu tidak lepas dari sebuah usaha promosi terselubung."


"Pastinya. Hotel Evander terbilang baru. Pria itu pasti ingin mengekspos tempat itu." Verga mengerutkan keningnya. Teringat bahwa hotel tersebut berada di sebuah bukit yang masih dikelilingi oleh hutan. Meski Mansion milik Evander berada tidak jauh dari hotel, tapi tetap saja daerah itu sangat sepi. Kecelakaan yang dulu terjadi pada dirinya dan Juan terjadi di jalan terjal berliku di tikungan Copedam Hill. Daerah yang masih menampilkan alam dengan wajah aslinya. Indah, memikat namun terkesan liar.


"Ini pas sekali, Tuan Daniel. Benjamin berada di Copedam. Kurasa dia menetap di sana. Meski tidak di Copedam Hill, setidaknya dia dekat."


"Sudah kubilang aku tidak mau!"


"Aku tidak boleh merekomendasikan nama lain jika syuting Ella akan dilakukan di Copedam. Black mengenal tempat itu seperti telapak tangannya sendiri. Lagipula ... Anda tidak harus berurusan dengan Benjamin. Anda bisa menghubungi Erick saja. Dia yang menjalankan semuanya untuk Benjamin."


Daniel mulai terlihat tertarik dengan saran Rico.


"Tapi aku tetap akan memberitahu Benjamin, Paman. Ella ada di sana. Keselamatan Ella sangat penting. Tidak ada yang lebih bisa dipercaya selain keluarga sendiri. Benjamin iparku. Dia tidak akan mengecewakan. Percayalah." Verga berusaha meyakinkan pamannya.


Melihat Enrico dan Verga serentak menganggukkan kepala, sama-sama setuju dengan nama itu. Daniel mengembuskan napas panjang.


"Kau benar. Ella lebih penting. Jangan sampai kejadian lama itu terulang lagi," desah Daniel.


"Aku senang kau setuju, Paman," ujar Verga.


"Kalau begitu, aku akan memberitahu Erick. Aku akan membuat janji dengannya untuk Anda."


"Sebaiknya cepat ,Rico. Ella pergi ke Copedam lima hari lagi."


"Bisa diatur."


"Aku hanya akan berurusan dengan Erick."


"Terserah Anda, Tuan Daniel."


Verga memilih tidak berkomentar. Dia tak akan memberitahu apa yang ia pikirkan pada Pamannya. Tentu saja ia akan memberitahu Benjamin, namun kapan dan apa yang akan ia minta pada Ben tidak akan ia katakan pada pamannya. Jika seseorang memang mengintai Ella, maka keluarga terdekat yang berada di sana adalah keluarga Antolini. Meski hubungan keluarga mereka dikarenakan adanya pernikahan. Mereka tetaplah keluarga yang bisa sangat diandalkan bagi Verga.


Verga berniat meminta Benjamin mengawasi Daniella. Pamannya bisa meminta Erick menyediakan pengawal pribadi. Namun, tidak ada salahnya menambah tenaga bantuan. Bukan berarti akan terjadi sesuatu pada Ella, tapi jika memang ada yang berniat jahat pada gadis itu, setidaknya Ella tidak sendiri di sana. Dari cerita Paman Daniel, Verga menyimpulkan kalau Kru dan teman-teman film gadis itu terbukti tidak bisa diharapkan untuk menjaga Ella.


NEXT >>>>>


********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.