
Verga mencium Belinda sebelum pamit dan masuk ke bagian belakang sebuah mobil berwarna hitam yang telah datang menjemputnya.
"Bel, Benjamin bilang akan ada mobil yang datang menjemputmu nanti. Telepon aku kalau kau sudah tiba di rumah sakit," ucap Verga sebelum menutup pintu.
Belinda mengangguk, lalu melambaikan tangannya ketika mobil yang membawa Verga mulai menjauh. Baru saja ia akan berbalik untuk kembali ke lobi hotel dan menunggu di sana, sebuah pesan kembali masuk.
Pesan dari Alana. Gadis itu sudah mengirim pesan saat sinar matahari bahkan belum muncul. Saat Bel terbangun dan menyadari yang membangunkannya adalah elusan lembut yang mulai bergerilya meraba seluruh kulitnya yang tidak tertutupi gaun. Bel menyadari suaminya sudah bangun, ia berbalik dan mulai membalas elusan tersebut dengan kecupan selamat pagi di rahang Verga.
Kecupan yang tentu saja akan mendapatkan balasan di bibir oleh suaminya. Saat sedang menikmati ciuman yang makin memanas, ponsel Belinda berbunyi. Namun, ia mengabaikannya.
Pesan berantai kemudian mulai terdengar. Berselang sekitar 1-2 menit, ponselnya terus berbunyi, menandakan pesan yang terus masuk, hingga hal itu disadari oleh Verga.
"Sebaiknya kita periksa."
Pria itu menyingkirkan selimut dan menjangkau ponsel Belinda.
"Dari Alana," ucap Verga.
"Apa isinya?"
"Pesan dari ayah. Kau akan di jemput pagi-pagi. Itu pesan pertama. Ingat! Pagi-pagi! Kedua. Jangan sampai mobil tiba kau belum turun ke bawah, pesan ketiga. Jangan matikan ponselmu, keempat. Jangan sampai harus dijemput di depan pintu kamarmu, kelima Aku tidak bisa menunggu lama, keenam. Ketujuh, balas pesan ini!"
Belinda mengernyit. "Menunggu lama? Memangnya dia yang akan jemput? Biarkan saja."
Verga mengangkat kedua bahu, meletakkan ponsel ke atas kasur di dekat bantal dan kembali mengulangi apa yang baru saja ia lakukan pada istrinya itu.
Dua puluh menit kemudian, ketika Verga sudah berada di kamar mandi dan Belinda sedang menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya itu, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini Alana menelepon langsung.
"Halo. Ada apa?"
"Kenapa tidak membalas? Padahal kau sudah membacanya."
"Aku sedang sibuk."
"Ck! Entah apa yang kau kerjakan! Aku sudah memastikan pesannya sampai! Jangan lupa! Pagi-pagi tunggu di bawah. Jangan menunggu di kamarmu!"
"Hmm." Belinda hanya menjawab dengan bergumam, membuat Alana berdecak kesal.
"Ck! Jangan cuma hmm, Bel. Jawab ya, baiklah, atau oke! Aku bisa dimarahi kalau mobil datang kau tidak ada!"
"Siapa yang akan marah?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Sudah, aku tutup dulu. Padahal mereka punya nomormu, kenapa harus aku yang mengirimimu pesan. Aduhhh ... mana bukuku!"
Belinda mendengar omelan, suara langkah kaki, juga benda-benda yang dilempar. Entah apa yang dikerjakan oleh Alana. Beberapa saat kemudian panggilan tersebut terputus. Sepertinya gadis itu sangat sibuk.
Karena pesan itulah, Belinda ikut bersiap bersama Verga. Mereka sarapan di kamar, lalu bersama-sama turun ke bawah.
Belinda membuka pesan yang dikirim Alana.
'Kami sampai. Kau sudah siap kan!'
Belinda memasukkan ponsel ke dalam tas tangannya. Ia mundur selangkah ketika sebuah mobil kemudian berhenti tepat di depan kakinya.
Kaca mobil diturunkan, wajah Alana yang cemberut muncul.
"Cepatlah naik. Aku akan terlambat!"
Belinda melirik ke sebelah Alana. Di belakang kemudi, Benjamin duduk dengan wajahnya yang dingin seperti biasa.
"Naiklah, Bel! Sopir yang ini tidak akan turun dan membukakan pintu untukmu!" seru Alana.
Belinda segera membuka pintu bagian belakang dan naik. Ia menatap punggung Benjamin yang mulai mengemudikan mobil kembali.
"Cepatlah! Aku sudah harus ada di sana sebelum pukul tujuh! Sudah kubilang kau tidak perlu mandi dulu kalau memang kau yang mau menjemput Belinda!
"Tutup mulutmu, Gadis cerewet."
"Ryan bisa mengantarku tadi! Kau sendiri yang memaksaku untuk ikut sekalian!"
"Ryan tua kerap ketakutan karena kau terus memaksanya ngebut saat di jalanan."
"Itu tidak benar! Menyusahkan saja. Padahal aku bisa bawa mobil sendiri!"
"Itu tidak akan terjadi, semua tahu bagaimana kau jika sudah memegang kemudi! Kau mau jadi dokter atau jadi pembalap!"
Alana menggembungkan pipinya. Ia memeluk tas ransel besar yang penuh menggembung di dalam pelukan. Belinda menatap tak berkedip ke arah kedua saudaranya itu. Hal yang baru dan terasa sangat janggal bagi matanya. Namun tidak bagi Ben atau Alana. Mereka seolah sudah sering bertengkar. Tidak tampak rasa takut di diri Alana ketika menjawab semua perkataan Benjamin.
Mobil tiba di depan gerbang sebuah universitas. Alana turun dan membanting pintu, langsung lari tanpa berpamitan.
"Gadis kurang ajar!" desis Benjamin, namun entah mengapa Belinda tidak merasakan kemarahan sama sekali dalam suara kakaknya itu.
"Aku tidak akan jalan kalau kau terus duduk di belakang."
Belinda terkejut, berkedip dan menggenggam erat tas tangannya ketika menyadari kalau Benjamin sudah berbalik dan menatapnya sambil menyipit.
"Apa maksudmu?"
"Pindah ke situ. Aku bukan sopirmu," ucap Benjamin sambil menunjuk kursi sebelahnya.
Belinda menarik napas panjang ketika menyadari maksud Benjamin. Ia turun, lalu pindah duduk di kursi Alana.
Setelah ia memasang sabuk pengaman, Benjamin mulai menjalankan mobil kembali.
"Aku tidak pernah meminta kau yang menjemputku," ucap Belinda dengan nada datar.
Ucapannya tidak mendapat tanggapan, ia melirik dan menyadari Benjamin memilih pura-pura tidak mendengar.
"Tolong berhenti di toko bunga dulu sebelum kita ke rumah sakit."
Ucapan itu berhasil membuat Benjamin menolehkan kepalanya dan menatap Belinda.
"Untuk apa?"
"Berhenti saja."
"Tidak akan kalau kau tidak memberitahu alasannya."
"Kalau begitu berhenti saja di sini. Turunkan aku. Aku akan naik taksi."
Belinda mendengar Benjamin berdecak, namun beberapa menit kemudian pria itu benar-benar berhenti di depan sebuah toko bunga. Belinda turun dan segera masuk ke dalam. Ia memilih bunga mawar kesukaan ibunya untuk dibawa dan diberikan pada ayahnya, sebagai tanda ia senang pria itu telah diperbolehkan pulang, karena Belinda merasa tidak bisa mengatakannya secara langsung.
Ketika buket bunga mawar pesanannya sedang disiapkan, Bel mengintip lewat kaca toko. Benjamin menunggu di pinggir trotoar. Dalam balutan celana jeans dan kaos serta sandal biasa, kakaknya itu terlihat sangat manusiawi. Tidak ada kesan arogan, kejam, dingin ataupun sulit di dekati yang selalu melekat pada pria itu. Padahal selama ini Belinda selalu merasakan kakaknya itu membuat garis batas antara mereka. Sikap dingin yang membuat Bel merasa rendah karena ibunya seorang pelayan sedangkan ibu Benjamin bukan.
Batasan itu ... apakah aku sendiri yang sudah menetapkannya? Alana bilang Ben memindahkanku ke pulau karena kehadiran ibu dan adik tiri. Ia bukan menyingkirkanku ... apakah memang itu demi diriku?
Sebuah buket bunga mawar akhirnya siap. Bel membayar dan mengucapkan terima kasih. Ia berjalan keluar toko dan melihat Benjamin membukakan pintu mobil untuknya.
Setelah naik kembali dan menjalankan mobil, Benjamin melirik ke arah bunga dalam pelukan Belinda.
"Apakah itu untuk Ayah?"
"Ya."
"Dia akan senang sekali."
"Kuharap begitu ...."
Keheningan kemudian mewarnai perjalanan mereka selama beberapa saat, lalu suara Benjamin yang berdeham memecah kebisuan mereka.
"Bel ..." Benjamin menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku minta maaf padamu ... aku tidak memberitahumu soal ayah."
Belinda langsung membuang muka ke arah kaca. Ia tidak menyangka Benjamin akan mengucapkan permintaan maaf.
"Saat ayah dibawa ke rumah sakit, semua orang panik dan menunggu dengan cemas. Kami tidak terpikir memberitahu kalian. Lalu ketika ayah membaik, Alana dan Maurice pernah menanyakan apakah perlu memberitahumu. Aku bilang tidak. Ayah dinyatakan akan membaik, jadi ... ku pikir ...."
"Tidak perlu menjelaskannya padaku. Vergalah yang butuh penjelasan. Dia menganggap dirinya menantu keluarga Antolini. Hal ini menyinggung dirinya. Tapi kau sudah minta maaf padanya. Itu sudah cukup."
"Tapi Verga benar. Aku belum minta maaf padamu."
Belinda berusaha menahan agar kumpulan air yang mulai menggenangi matanya tidak meleleh. Rasa sakit hati ketika mengetahui ayahnya sakit namun tidak ada yang merasa perlu memberinya kabar.
"Kau berhak tahu ... seharusnya kau diberitahu ...."
Benjamin melihat genggaman Belinda di pita buket bunganya mengencang.
"Saat ayah bangun ... dia melihat wajah kami satu persatu ... saat dia tidak menemukanmu, dia bertanya, dimana Belinda? Tidak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaannya, lalu ia memejamkan mata, sambil tersenyum dan berkata kalau dia lupa bahwa Bel sudah menikah dan tinggal sangat jauh ...."
Genangan air di mata Belinda meleleh jatuh. Ia merasa hatinya seperti diremas.
"Sampai beberapa hari kemudian ia tidak pernah menanyakan kenapa kau tidak pernah datang menjenguk ... Ketika kau tiba bersama Verga, aku baru menyadari kesalahanku ...." Benjamin menelan ludah.
Kebisuan kembali mengudara, Bel sekuat tenaga menahan agar ia tidak terisak. Air matanya sudah tumpah, namun ia tidak ingin Benjamin tahu kalau ia menangis.
"Sorot mata Ayah berubah ketika kalian tiba, ketika tahu kalian datang ... aku baru menyadari, Ayah sebenarnya begitu ingin melihatmu ... kurasa ia menyingkirkan pertanyaan kenapa kau baru datang sekarang ...."
Benjamin membelokkan mobil ke jalur pintu gerbang masuk rumah sakit. Berpura-pura tidak melihat dan menyadari lengan Belinda yang terangkat dan menghapus sesuatu di wajahnya. Meski tidak mendengar apapun, Benjamin tahu adiknya itu sedang menangis dalam diam.
NEXT >>>>>>
**********