Belinda

Belinda
3. Hiding



Daniella menahan tubuhnya agar tidak bergerak. Ia juga menahan mulutnya dengan telapak tangan. Entah kenapa jantungnya mulai berdetak tidak menentu. Di luar sana, langkah kaki berjalan seolah sedang mengelilingi ruangan.


“Kamar anak? Milik velice? Tapi ... Lemari-lemari ini tampak sudah tua.”


Daniella membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan ketika merasakan langkah kaki orang di luar sana makin dekat dengan lemari tempat dirinya bersembunyi.


Ketika langkah itu  tiba di depan pintu lemari, Daniella benar-benar menahan napas. Orang yang datang berhenti, lalu keadaan jadi hening, diam untuk beberapa detik yang sungguh terasa amat lama bagi Daniella.


“Ah... kurasa dulunya ini adalah kamar bermainmu ...”


Berbarengan dengan ucapan itu, Daniella mendengar kaki orang tersebut melangkah lagi. Menjauh dari depan pintu. Segera saja paru-parunya yang sudah protes karena kekurangan udara minta segera diisi. Daniella membuka bekapan mulutnya sendiri dan menarik napas panjang.


Orang yang datang adalah Benjamin, ia mendekat ke arah dinding, menatap tak berkedip sebuah foto yang digantung di sana. Foto masa kecil Verga dan seorang gadis kecil berambut hitam . Keduanya tertawa lebar, sedikit tanah menempel di kening gadis kecil itu, sedangkan celana pendek yang dikenakan Verga terlihat robek di bagian ujung.


“Kalian terlihat seperti anak nakal ... kurasa kalian memang merepotkan ketika kecil ....”


Baru saja Ben selesai bergumam, langkah kaki cepat yang mendatangi dari ujung lorong terdengar hingga ke dalam kamar. makin lama suara hak sepatu tersebut makin terdengar kencang. Secepat kilat Ben berbalik menuju lemari paling besar di dalam rungan tersebut.


Benjamin menarik gagang pintu, lalu tersentak dan terkejut setengah mati melihat pemandangan di hadapannya. Namun langkah kaki yang sudah hampir tiba di depan pintu membuatnya tidak bisa berdiam diri terlalu lama. Benjamin mendorong gantungan kostum ke bagian sudut terjauh lemari, lalu memaksa masuk sambil menutup pintu.


Dengan mata terbelalak Daniella beringsut hingga bersandar ke bagian belakang lemari. “Ap-apa yang kau lakukan!” bisiknya dengan nada tidak percaya.


“Shhhhhh-“ Benjamin meletakkan telunjuk tangan kiri ke bibir, dan membekap mulut Daniella dengan telapak tangan kanan.


Ketika baru saja ingin berontak dan menarik tangan Benjamin yang ada di mulutnya, Daniella mendengar pintu kamar diketuk dua kali, lalu seseorang membuka pintu tersebut dengan perlahan.


“Haloooo?”


Daniella mengenali suara Alana. Gadis itu datang, dan Daniella mengerti siapa yang tengah ia cari. Ella membayangkan melihat Alana membuka pintu, menyembulkan kepala dan mengintip kedalam.


Ruangan kosong yang ia lihat, membuat Alana memberanikan diri melangkah masuk. Langkah kaki Alana hanya terdengar hingga tiga langkah, lalu gadis itu diam, tidak membuat suara apapun.


Daniella tidak berani bergerak, ia menelan ludah membasahi tenggorokannya yang terasa amat


kering. Meski berbalut kemeja dan jas, kedekatan tubuhnya dengan Benjamin membuat otaknya  jadi membayangkan isi dibalik pakaian pria tersebut. Ella jadi ingin sekali memaki karena hawa panas yang mulai menjalari tubuhnya saat ini. Ia benci ketika hormonnya mulai bereaksi pada sosok Benjamin. Bibirnya terasa kaku ketika merasakan telapak tangan Benjamin, syukurlah pria itu segera menurunkan tangannya.


Padahal selama ini Ella selalu mampu mengendalikan diri. Apalagi pada saat berakting, Daniella sangat bangga ia mampu menunjukkan respon bergairah dengan lawan prianya tanpa harus terpengaruh sedikit pun.


Ella berusaha untuk mundur lagi, agar dada mereka yang menempel tidak lagi bersentuhan. namun percuma. tidak ada lagi ruang kosong. Sosok Ben terlalu besar hingga mengisi semua ruang dalam tempat tersebut.


Langkah kaki kemudian terdengar lagi. Terdengar helaan napas yang ditahan. Bukan saja dari Daniella namun juga Benjamin.


Keduanya menggerakkan kepala, Daniella mendongak dan Benjamin menunduk, saling menatap seraya menahan napas, karena suara langkah kaki Alana sudah mendekati deretan lemari. Daniella mengerut, kedua tangannya otomatis bergerak merenggut bahan kain jas Benjamin, meremasnya dengan rasa kalut. Akan sangat lucu jika Alana memergoki mereka berdua dalam posisi ini di dalam lemari. Memalukan, dan dipastikan akan membuat heboh dan membuat mereka jadi bahan lelucon.


Daniella begitu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari kedua lengan Ben sudah melingkar dan memeluk pinggang Ella dalam postur kaku dan siaga. pria itupun menahan napas, berdoa agar Alana tidak membuka pintu lemari dan menemukan dirinya.


Entakan sepatu yang terus berjalan melewati lemari membuat kelopak mata Daniella melebar. masih saling menatap dengan Ben dengan telinga dipasang baik-baik untuk menentukan kemana langkah kaki Alana.


“Haishhhh! Kalian lucu sekali!”


Teriakan itu membuat Ella dan Benjamin menelan ludah. Hanya karena pintu lemari masih tertutup rapat yang membuat mereka yakin kalau Alana bukan mengomentari keadaan mereka.


“Kamar anak. Sekarang pasti jadi kamar si montok Velice. Ben tidak mungkin kemari. Hmmm ... kemana sih dia!” Dengan rutukan itu, Alana kembali melangkah. Ia menjauh dan akhirnya keluar dari kamar anak.


Benjamin dan Ella menunggu suara pintu kamar ditutup, Lalu menunggu lagi hingga suara langkah kaki Alana mengecil dan tidak terdengar lagi.


Ella sadar lebih dulu, Ia berusaha mundur dan melepaskan regutan tangannya di jas Benjamin.


“Lepaskan tanganmu!” bisik Ella dengan suara yang terdengar kesal. Ia berusaha menutupi kegugupannya dan berharap masih bisa terlihat elegan dengan tampak kesal.


Benjamin tidak menanggapi. Hanya melepas Ella , lalu membuka sedikit celah lemari. Seolah tidak terganggu sedikit pun dengan sentuhan maupun kedekatannya dengan tubuh Ella. Setelah melihat ruangan benar-benar kosong, ia mendorong pintu dengan ujung sepatunya.


Daniela menyelipkan tubuhnya lebih dulu ketika pintu terbuka lebar. Setelah menarik napas lega dan merasakan ruang yang lebih bebas. Ella berbalik dengan kedua tangan di pinggang. Matanya menatap tajam, biru berkilat ke arah Ben yang balik menatapnya tanpa ekspresi. pria itu bergerak santai keluar dan menutup kembali pintu lemari.


“Apa yang kau lakukan di sini Tuan Antolini! Tiba-tiba saja masuk tanpa izin! Kau kira dirimu sebesar semut yang bisa menyelinap kemana kau suka! Sadar dengan ukuranmu! Membuat sesak saja!”


“Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu, Nona Dolores.”


Daniella memilih berdiri di sisi box, tempat tidur milik Velice. Ia berpegangan di sana menyembunyikan tangannya yang sedikit bergetar.


“Ini dulu pernah jadi kamar bermainku bersama Verga. Wajar saja aku kemari. Melihat beberapa hal mengenang masa laluku. Tapi kau ... kau tidak ada kepentingan di tempat ini! Tidak sopan memaksa masuk ke ruangan kosong di rumah milik orang lain!”


“Ini bukan rumah orang lain. Ini rumah Verga, yang artinya juga rumah adikku.”


“Tetap saja! Kau memaksa masuk... kenapa kau bersembunyi?”


“Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu.”


Daniella mendengus. Ia tahu tidak akan mendapatkan jawaban. Hanya pertanyaan yang


sama seperti yang ia utarakan.


Daniella memutuskan pergi saja. Ia melangkahkan kaki menuju pintu. Ketika baru saja memegang gagang pintu, suara Benjamin kembali terdengar.


"Melarikan diri, DD? Terlalu sulit menanganiku ya?"


Sindiran dengan nada mengejek tersebut membuat Daniella menoleh cepat. Ia segera melepaskan gagang pintu dan menyipit menatap Benjamin.


"Apa kau bilang?"


"Kau mendengarnya. Aku tak akan mengulang."


"DD? Siapa yang memberimu izin menggunakannya!?" bentak Ella.


Ben merasa semangatnya terpompa dan hatinya sangat girang melihat kilat perlawanan di kedua mata Ella.


"DD Restaurant. Ayahmu memberikan izin semua orang mengenal nama itu."


Daniella melangkah mendekat dengan perlahan tanpa melepas tatapan sedetikpun dari wajah Benjamin. Kulitnya terasa meremang. Sensasi berakting di film manapun baginya tidak pernah terasa semenantang saat ini.


"Kau bilang aku tidak bisa menangani dirimu, Tuan Tampan?" Ella mengeluarkan tawa merdu. Ia mengulurkan tangan, menarik dasi Benjamin hingga pria itu terpaksa menunduk ke arahnya.


"Kuberitahu yang sesungguhnya. Tapi tolong jangan tersinggung, Tuan tampan," bisik Ella, lalu dengan sengaja menatap lekat-lekat sosok Ben dari atas sampai bawah, sengaja berhenti agak lama di bagian perut. Lirikan menggoda yang ia yakin membuat pria manapun terasa seperti dibelai.


"Aku bukannya tidak bisa menanganimu, Sayangku. Tapi kau ...." Ella sengaja memberikan jeda sejenak, untuk memberi penekanan pada kata selanjutnya. "Kau bukan tipeku, Tuan Tampan. dengan kata lain ... bukan seleraku," bisik Ella dengan nada mengejek balik.


Setelahnya Ella menjauh dua langkah. Tidak menemukan reaksi apapun di wajah maupun tubuh pria tersebut. Ia kembali tertawa merdu.


"Nah, lihat kan. Tidak ada reaksi. Seperti patung es. Asal kau tahu, aku hanya suka menangani pria dengan gairah membara," Lalu Ella melambai sambil kembali berbalik berjalan menuju pintu.


"Daaaahhh, Sayaaang," ucap Ella tanpa melihat.


Kemudian pintu tertutup. Langkah kaki menjauh, lalu hening.


Seringai Benjamin tidak bisa lebih lebar lagi. Ia menahan dirinya agar tidak tertawa sendiri di dalam kamar tersebut. "Kau membahas pria seperti membahas makan malam. Bukan seleramu? Ck ... ck ... bukan main ...." bisik Ben geli.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.