
Daniella mengambil kacamata hitam yang diulurkan oleh Bernie padanya. Tatapan mata Bernie tampak tidak setuju, namun ia tahu tidak dapat melakukan apa-apa bila Ella sudah mengambil keputusan.
"Haruskah kau yang mendatanginya? Bagaimana jika telepon saja?"
Ella menggelengkan kepala. "Jangan khawatir, Bern. Aku tidak akan membuat heboh."
Bernie mendengus. "Apanya yang tidak heboh. Kedatanganmu ke sini seolah memberikan makanan untuk orang kelaparan!"
Daniella terkekeh. "Kalau begitu biarkan mereka makan, Bern. Berikan mereka berita, lagipula kita sudah jauh-jauh datang ke sini dari BYork! Tidak mungkin aku tidak singgah dan memberikan sedikit pelajaran untuknya."
"Ya ya ... berikan pukulan telak untuk pria dingin yang tidak punya perasaan itu. Sampaikan salamku dan katakan aku bukan lagi pendukungnya!"
Daniella kembali tertawa, lalu memasang kacamata hitam dan membuka pintu mobil.
Setelah satu tarikan napas panjang, Ella memasang senyum manis dan melambai pada Bernie yang mulai menjalankan mobil dan pergi dari depan gedung kantor Antolini.
Ella berjalan santai, memegang tas tangannya dengan elegan dan memasang senyum ramah.
Setiap kepala menoleh ketika ia lewat, bahkan security yang bertugas di pintu masuk memandangnya dengan mata tidak percaya.
"Selamat siang, saya mau bertemu Tuan Benjamin Antolini," sapa Ella pada pria itu.
Satu anggukan dan Ella langsung di antar kan ke bagian penerima tamu. Reaksi yang sama ia dapatkan dari wanita dibalik meja penerima tamu.
Wanita itu terpesona, matanya berbinar-binar membalas senyum Ella.
"Bisa antarkan langsung ke kantornya? Kurasa dia menunggu."
"Mmmm ...." Kebingungan mewarnai wajah wanita itu beberapa saat kemudian.
"Ku-kurasa Tuan sedang menerima tamu saat ini, Nona."
Ella menganggukkan kepala. "Aku tahu. Karena itu antarkan aku ke sana," ucap Ella mulai berakting, sehingga para pegawai itu mengira ia memang sudah ditunggu.
Ella bersyukur ia berdandan cantik sesuai instruksi Bernie. Celana panjang hitam pekat dipadu dengan blus broken white berbahan sangat lembut membuat rambut hitamnya yang diikat jadi satu dengan pita syal dan matanya yang biru tampak semakin mencolok. Warna yang membuat ia makin terlihat cantik, elegan, berkelas. Senyumnya membuat ia terlihat ramah, terbuka dan mengundang orang untuk balas tersenyum.
Langkah kaki Ella mantap dan percaya diri. Setiap kepala dari lantai bawah sampai lantai tempat kantor Benjamin berada menoleh, melirik, menatap, berbisik bahkan beberapa menganggukkan kepala sebagai sapaan. Beberapa orang juga terlihat mengambil gambar dirinya dengan sembunyi-sembunyi.
Ella menebak, topik orang yang berbisik pastilah tentang hubungannya dengan Benjamin yang akhir-akhir ini makin panas diberitakan. Hubungan yang digambarkan samar-samar, tidak jelas, namun membuat orang lain makin penasaran.
Ketika melangkahkan kakinya ke depan meja seorang wanita di depan pintu kantor bertuliskan nama Antolini, wanita di belakang meja itu melotot terkejut, lalu mendelik ke arah wanita penerima tamu yang ikut mengantarkan Daniella.
"Je-jena, seharusnya kau telepon aku!"
Dua wanita itu saling mendekat dan berbisik. Ella mendengar tentang tamu yang dengan pelan dibisikkan oleh sekretaris Benjamin, lalu nama Athena yang disebutkan dengan nada takut-takut.
"No-nona ... Anda-" Sekretaris itu berdeham, tampak bingung mencari kata-kata. " Saya akan mengantarkan Anda ke ruang tunggu, mari ikut saya ... Tuan Benjamin sedang ada tamu," ucap wanita itu kemudian.
Daniella memasang senyum yang membuat tiga orang yang berada di depannya terpana dan terpaku. Mereka terpesona melihat artis cantik yang ternyata mudah tersenyum dan terlihat lebih cantik dari yang diberitakan.
"Maafkan aku membuat kalian repot. Uruslah pekerjaan kalian, aku tidak akan mengganggu kalian lebih lama. Aku sudah punya janji," ucap Ella dengan berani, lalu dengan langkah percaya diri ia melangkah ke pintu depan kantor Benjamin.
"Aku masuk, oke .... " Senyum Ella terkembang sempurna, namun di dalam hati ia merasa sangat dongkol.
Ketika tiba di depan sekretaris Benjamin tadi, ia sebenarnya berniat menunggu wanita itu memberitahukan tentang kedatangannya pada Benjamin. Namun ketika nama Athena disebut waktu dua wanita tadi berbisik-bisik, Ella jadi punya perkiraan siapa tamu Benjamin. Ia jadi ingin membuktikan secara langsung apakah tebakannya benar dan melihat bagaimana reaksi Ben melihat dirinya.
Pintu terbuka dengan seruan tertahan dari sekretaris Benjamin yang tidak sempat bereaksi. Ella sudah masuk lalu menutup pintu.
Pemandangan yang dilihatnya pertama kali membuat ia terpaku di tempat beberapa detik. Benjamin tengah berdiri di depan meja kerjanya. Seorang wanita berambut pirang sedang menempel dan memeluk pria itu.
Mata Benjamin terlihat terkejut ketika Ella masuk.
"Kau benar-benar si Dolores!?"
Pertanyaan penuh nada tidak percaya itu membuat Daniella menoleh. Di sebelah kirinya berdiri Athena dengan mata terbelalak. Wajah wanita itu terlihat kesal namun juga sangat terkejut melihat Ella.
Ella menganggukkan kepala sedikit tanda sapaan pada Athena, perkiraannya benar bahwa tamu Benjamin adalah Athena. Namun kehadiran wanita pirang yang sekarang sedang melepas pelukannya pada Benjamin tidak ia ketahui atau duga sama sekali.
Wanita yang memeluk Benjamin berbalik, lalu bertatapan dengan Ella. Jika seseorang suka dengan boneka barbie cantik yang berambut pirang, maka wanita itu adalah versi hidup dari boneka tersebut.
Matanya begitu besar dengan bulu mata berwarna cokelat, amat panjang dan lentik. Bibirnya berwarna merah muda. Wajahnya tanpa riasan, rambut pirangnya bergelombang indah, berkilat alami dan terlihat menarik.
Yang membuat hati Ella menjadi cemburu adalah sosok keseluruhan tubuh wanita itu. Tinggi wanita itu sedang, dengan lekukan di tempat yang tepat dan berisi di tempat yang seharusnya. Di balik gaun berbahan satin yang dipakainya, Ella dapat menebak ukuran dada, juga bokongg wanita itu. Hati Ella menjadi sedikit panas, karena ia tahu Benjamin menyukai sosok seperti itu.
"DD! Kenapa datang tiba-tiba!?" Benjamin melangkah meninggalkan wanita berambut pirang dan mendekati Ella. Mata Ella tidak lepas melihat reaksi di wajah wanita berambut pirang, namun wajah itu terlihat biasa, hanya senyum kecil yang memang sejak tadi sudah tersungging di bibirnya.
Ella memasang senyum palsu, namun tetap terlihat manis dan ramah. Di dalam hati ia ingin sekali menendang kaki Benjamin. Pria itu sibuk dengan wanita, pantas saja tidak punya waktu untuk menemuinya selama ini.
"Halo, Ben. Apa kabarmu?"
"DD, apa ayahmu tahu kau kemari?"
Ella maju selangkah ke depan Benjamin, lalu dengan sengaja mengecup cepat bibir pria itu.
Senyum penyesalan terbit di bibir Benjamin. "Maafkan aku, seharusnya aku menanyakan kabarmu lebih dulu."
Ella mengangguk, lalu melirik dua wanita lain yang ada di sana.
Benjamin menoleh ke arah Athena. "Pergilah, Athena. Kau sudah mengatakan apa yang ingin kau katakan. Sudah cukup. Semuanya sudah selesai."
Athena menyipit, lalu meletakkan tasnya ke atas bahu. "Aku tidak percaya ini sudah selesai, Benjamin." Dengan langkah pelan Athena berjalan menuju pintu keluar. Ketika berada di dekat Daniella, ia berhenti dan kembali bicara, "kulihat di media kau digosipkan punya hubungan dengan pria ini, kukatakan padamu, sebaiknya pikirkan sekali lagi. Dia dingin, kaku, dan tidak punya perasaan romantis sama sekali. Karena itu dulu aku lebih memilih ayahnya daripada dia. Namun ...." Dengan sinis Athena menoleh ke belakang dan menatap wanita berambut pirang, "namun pria tetaplah pria ... sedingin apapun, mereka tidak mungkin hidup selibat dan tahan begitu lama. Tentu saja mereka selalu punya mainan yang bisa membuat darah panasnya tersalurkan."
Ella hanya menatap dengan wajah datar ketika Athena berhenti dan menatapnya. Menunggu ia balas berbicara.
"Kau masuk dan hanya melihat dia memeluk Ben kan?" tanya Athena.
Benjamin mengembuskan napas gusar. "Pergilah Athena."
"Tidak sebelum aku mengatakan ini! Aku tidak tahu apa hubungan wanita itu dengan Benjamin, tapi teman biasa tidak akan berciuman dan berpelukan layaknya kekasih bukan? Itulah yang kulihat ketika masuk kemari! Jadi ... jika kau dan pria ini memang sedang menjalin hubungan seperti yang diberitakan oleh para wartawan itu, kusarankan kau memikirkan ulang!"
Athena menatap sinis pada Benjamin sebelum melanjutkan langkah dan keluar dari tempat itu.
Daniella menelan ludah, lidahnya terasa asam dan juga pahit. Wanita yang sekarang tertunduk di depan meja kerja Benjamin memang terlihat sangat cantik, menarik dan menggoda.
"Gabby, bisakah kita bicara lain kali? Aku pasti akan menemuimu nanti."
"Apakah tidak sebaiknya aku menjelaskan dulu kalau-"
"Tidak, tidak perlu. Pergilah."
"Baik ...."
Ella berdiri tegak dengan wajah tanpa ekspresi ketika wanita itu melangkah melewatinya. Sebuah anggukan dan senyum sopan ia berikan untuk Ben dan Ella.
Setelah pintu tertutup rapat, Benjamin langsung menarik Ella dan memeluknya erat-erat. Ella balas memeluk. Mereka berdiri diam dengan posisi itu selama beberapa menit.
"Ayahmu akan marah sekali jika tahu kau kemari, DD"
Ucapan Benjamin membuat Ella menarik napas panjang. Bukan kalimat itu yang ingin ia dengar. Sebuah keputusan melintas di otak Ella. Ia juga teringat cerita Verga tentang ulah Benjamin yang suka menyelesaikan masalah dengan cara sedikit ekstrim. Sampai menyuruh orang menculik adiknya sendiri agar mau pulang ke rumah.
"Ben ...." Ella mundur dua langkah, memasang wajah menyesal dan sedih, lalu dengan sangat perlahan melepas cincin yang diberikan Ben padanya.
Setelah lepas dari jari manisnya, Ella mengambil tangan kanan Benjamin, lalu meletakkan cincin itu di telapak tangan pria itu.
"Aku datang kemari untuk mengembalikan ini ...." Ella tertunduk. Menggenggam tangan kanan Benjamin yang memegang cincin dengan kedua tangannya.
"Apa maksudmu!?"
Ella menghela napas. "Setelah berbulan-bulan berpisah denganmu, aku pikir ayahku ada benarnya ... kita ... tidak cocok ...."
Hening mewarnai ruangan tersebut, Ella lalu mendongak dan menatap wajah Benjamin yang terlihat mengeraskan rahang dan menatap tajam.
"Aku ... mengembalikan cincinmu ... kurasa kita sebaiknya berteman saja."
"Ada orang lain?" tanya Benjamin dengan nada sangat dingin.
Ella sengaja menghela napas dan memasang wajah menyesal. "Maafkan aku, Ben ... kita ... benar-benar tidak cocok."
"Siapa dia?" Nada tajam dan wajah penuh kemarahan yang mewarnai ekspresi Benjamin membuat Ella jadi ingin tertawa.
Ella menunduk, menyembunyikan senyumnya.
Kali ini giliranku untuk membuatmu gusar, Benjamin Antolini! Mencium wanita pirang itu lalu tidak mau menjelaskan kenapa!? Padahal wanita tadi mau menjelaskan dulu! Aku akan memulai dramaku sendiri, kau dan Daddy sebaiknya bersiap-siap .....
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Halo semuanya, mohon maaf untuk update yang sungguh lelet ini ya. Semoga maklum dan bisa bersabar dengan babang Black.
Pengumuman GA yang akan berlangsung dari tgl 6 sampai 30 juni. Ayook ikutan yuk, ada hadiah untuk yang beruntung. Terima kasih banyak atas segala bentuk dukungan atas karya otor ya. Semoga selalu diberikan kesehatan dan kebahagian lahir bathin. Aamiin...
Berikan gift untuk Black dan DD sebanyak-banyaknya ya. Semoga beruntung dan dapat hadiahnya. Berikut ini mug limited edition yang akan didapat jika masuk 10 besar pemenang.
Semoga Sukses dan sehat selalu ya semua readers Black. Aamiin....
Salam. DIANAZ