
Tidak ada yang bisa membuat Benjamin Antolini begitu muak selain godaan wanita pemburu harta. Pengalamannya membuktikan hal itu. Meski ia tidak pesimis bahwa cinta sejati itu ada, namun ia tidak percaya bahwa ia salah satu pria yang beruntung menemukan cinta tersebut.
Mewarisi perusahaan beserta aset keluarga membuat ia menjadi salah satu bujangan kaya yang paling diincar, ditambah dengan sosok tubuhnya yang tinggi, kekar, dengan wajah tampan dan mempesona menjadikan dirinya punya nilai lebih.
Tatapan dingin, sikap kaku dan arogan membuat beberapa wanita mungkin mundur di kesempatan pertama, namun Ben mendapati sikap itu malah membuat dirinya didekati wanita-wanita yang lebih agresif dan tidak tahu malu. Benjamin merasa, sampai saat ini belum ada wanita yang menginginkan dirinya karena dirinya sendiri, bukan karena apa yang ia miliki.
Pesta adalah salah satu kegiatan yang sangat ia benci. Namun sejak dulu ia belajar mentolelir kegiatan tersebut, karena Benjamin tahu hal itu tidak dapat ia elakkan dari pekerjaannya. Hubungan sosial, relasi dan perkembangan bisnisnya tidak terlepas dari kegiatan bernama pesta. Tentu saja ada pengecualian, ada pesta yang selalu dengan senang hati ia hadiri. Pesta yang diadakan oleh salah satu keluarga Antolini.
Benjamin mendapati kegiatan yang ini membuat hidupnya jadi terasa menarik dan menyenangkan. Tapi ia tidak akan menampakkan bagaimana perasaan sesungguhnya, ia tetap akan tampil dengan sikap berwibawa, dingin dan sedikit kaku, seperti yang selama ini selalu ia perlihatkan.
“Aku senang kau bisa datang.”
Sapaan itu membuat Benjamin berbalik. Ia berhadapan dengan suami adiknya, Verga Marchetti.
“Ini ulang tahun Velice yang pertama, aku tidak mungkin tidak datang, atau ibu anak itu akan
meneriaki telingaku.”
Verga terkekeh geli. “Sekarang dia melakukannya cukup sering bukan? Dia mengucapkan semua yang ada di pikirannya tanpa menahan diri lagi.”
“Ya ... aku tidak tahu itu berkah atau bencana. Dia sudah menyerupai Alana, bersikap seenaknya dan selalu memastikan aku sengsara.”
Verga kembali tertawa. Ia tidak berkomentar, di dalam hati ia tahu, Benjamin tidak pernah keberatan dibuat sengsara oleh dua adik perempuannya itu. Verga berani bertaruh pria itu malah senang dan menikmati setiap pertengkaran dan interaksinya dengan Belinda dan Alana.
“Ah, aku permisi dulu, Ben. Aku harus menyambut tamu yang ini.”
Benjamin mengangguk, mengikuti dengan matanya kemana Verga melangkah pergi. Di depan sana, tak jauh dari tempatnya berdiri, sepasang orang tua tengah saling menyapa dengan Verga. Berpelukan dengan begitu hangat dan akrab, lalu seolah tahu dan
seperti dipanggil, istri Verga yang merupakan adik Benjamin datang menyongsong kedua tamu tersebut. Belinda memeluk lama tamu perempuan yang balas memeluk dan mengelus rambut adiknya itu.
Benjamin tahu betul siapa pasangan yang datang tersebut, meski dahulu ia tidak ambil pusing siapa mereka. Keluarga dekat dari Marchetti, pasangan yang merupakan sepupu dari keluarga Marchetti. Namun ia tahu sebaiknya ia menjauh dan menghindar dari pasangan tersebut. Terutama yang laki-laki. Pengalaman tak mengenakan di masa
lalu membuat pria tua itu tidak pernah menyukainya.
Benjamin melangkahkan kaki menjauh, mencari pintu keluar lewat samping Mansion Marchetti. Ia merasa perlu menghirup udara malam. Ia berpapasan dengan Verone marchetti. Ayah mertua adiknya.
“Ben, kau mau kemana?”
“Aku akan keluar sebentar, Tuan Verone.”
“Jangan lama-lama. Aku akan menyambut sepupuku dulu, lalu aku dan ayahmu akan bermain kartu. Jangan pergi jauh-jauh. Kau harus ikut bermain.”
Benjamin tersenyum sambil mengangguk. Ia
tahu percuma saja menolak ajakan pria tua tersebut.
Langkah kaki Benjamin baru saja mencapai pintu ketika teriakan seorang wanita memasuki telinganya.
“Sepupuku tersayang! Lihat dirimu! Kau memang pria tertampan di dunia!”
Benjamin berbalik, menatap tak berkedip ke arah aula depan. Seorang wanita dengan paras amat cantik sedang memeluk Verga dan mencium pipinya, suara manja dan menggoda terdengar bagai rayuan di telinga Benjamin. Sudah lama sekali ia tidak pernah melihat wanita itu.
Perempuan itu seorang aktris, seharusnya ia akan sering melihatnya tampil di layar lebar, di TV atau media sosial. Namun menurut Belinda, sudah setahun lebih Daniella Dolores menolak semua tawaran main film, iklan atau apapun di bidang pekerjaannya. Tidak ada yang tahu kenapa wanita itu melakukannya.
“Jangan merajuk, Sepupuku yang tampan. Kau harusnya berterimakasih, karena kau mewarisi ketampananmu itu dari Paman kesayanganku! Oh, aku ingin mata seperti itu!” Kalimat Daniella langsung beralih ketika Belinda berdiri di hadapannya. Kedua wanita itu saling tertawa dan berpelukan. Belinda masih menatap Daniella dengan sorot kagum dan memuja, meski Daniella mengatakan ia bukan lagi aktris terkenal, namun Belinda sudah memutuskan bahwa ia tetap akan mengidolakan sepupu suaminya itu.
“Sampai kapan kau akan mengabaikan aku, Ella ....”
Daniella menoleh, menatap Verone Marchetti dengan pipi menggembung. “Aku memutuskan tetap tidak bicara padamu, Paman. Saranmu pada Ayah membuatku sangat repot!”
Verone Marchetti terkekeh pelan. Ia merengkuh keponakannya yang cemberut dan mencubit pipinya.”Ayahmu yang meminta saran. Dia hanya khawatir, Ella.”
Daniella balas memeluk, tersenyum meski tadi menampilkan wajah merajuk. Saat itulah matanya melihat sosok berpakaian hitam di ujung ruangan. Meski pria itu tidak melihat ke arahnya, Daniella tahu dengan pasti siapa pria itu, ia langsung mengenali. Bola mata Ella menyipit.
Benjamin Antolini ...
Benjamin menatap lurus beberapa orang yang mengobrol di dekat meja minuman. Ia langsung mengalihkan pandangan ketika tahu wajah wanita itu mulai mengarah ke arahnya. Jantungnya berdegup, berharap ia tidak tertangkap basah sudah menatap tak berkedip ke wajah wanita itu sejak tadi.
Sial! maki Benjamin dalam hati, hampir saja ia tertangkap basah.
Benjamin memegang erat gelas minuman yang sejak tadi ia pegang. Memutuskan kembali meneruskan langkah ke tujuan awalnya, halaman samping.
Dengan langkah santai, Ben meninggalkan ruangan itu sambil menertawakan diri sendiri karena entah kenapa
kedatangan wanita tersebut membuat hatinya merasa gembira.
Daniella Dolores! Wanita seperti itu akan membuat hidup pria yang ada di sampingnya sengsara setengah mati!
Benjamin tiba di beranda samping, berjalan ke balik sebuah tiang mansion dan menyandarkan sebelah bahunya. Ia mengangkat gelas, menyesap pelan minuman di tangannya sambil menatap ke arah langit malam.
Mansion Marchetti, tempat yang selalu menampilkan kehangatan, keakraban, juga persaudaraan.
Apa yang Benjamin lihat di tempat ini, sangat berbeda dengan apa yang ada di mansion ayahnya. meski Ben sekarang tidak lagi terganggu akan hal itu. Antolini tetaplah Antolini, mereka saling menyayangi
dengan cara mereka sendiri. Lagipula, ia sudah lama tidak lagi tinggal di mansion ayahnya. Ia tinggal sendiri sejak mulai beranjak dewasa, dan sekarang setelah kembali penuh dan memegang kendali perusahaan, Benjamin memilih membeli sebuah apartemen dan tinggal di sana sendirian.
Suara tawa dan juga candaan terdengar hingga ke tempat Benjamin berdiri. Ia tersenyum, karena salah satu tawa itu adalah suara Belinda. Adiknya yang tertutup dengan wajah tanpa ekspresi tersebut, telah berubah seratus delapan puluh derajat.
Ben bersyukur perjodohannya dengan Verga Marchetti berakhir bahagia. Suami yang telah dipilihkan Benjamin, yang ia paksakan pada Belinda. Instingnya mengatakan pilihan itu benar dan tepat. Benjamin berbangga diri instingnya benar hingga saat ini. Belinda dan Verga bahagia dan saling mencintai.
Ben tidak tahu berapa lama ia berdiri di sana sambil memandang langit. Yang pasti, saat ini gelasnya sudah kosong. Ia menginginkan gelas berikutnya untuk menemaninya di sini, namun entah kenapa ia enggan untuk melangkah masuk.
“Disini kau rupanya! musiknya sudah berganti sejak tadi. kau belum berdansa denganku. Ayo masuk dan jadi pasangan dansaku!”
NEXT
>>>>>>>
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.