
Benjamin merasa sangat kesal ketika melihat Athena sudah berdiri dan menunggunya di depan pintu kantor. Lirikan tajam ia tujukan pada sekretarisnya yang berdiri tegak dengan bahu kaku dan wajah cemas. Wanita itu langsung menunduk.
"Tolong, Ben. Sebentar saja," bisik Athena. Sangat pelan dengan wajah memelas.
Benjamin menelisik wajah mantan istri ayahnya tersebut. Wajah itu pucat dan gerakan tangan wanita itu juga gelisah.
"Aku tidak tahu lagi mau mendatangi siapa ... aku ... sudah tidak punya siapa-siapa lagi ...."
Tanpa ekspresi, Benjamin berjalan melewati Athena dan sekretarisnya. Ia mendorong pintu dan melangkah masuk. Sedetik kemudian Athena mengikuti dan menutup pintu.
Benjamin duduk di belakang meja, menjalin kedua tangan dan menumpukan siku di atas meja.
"Kau punya waktu lima menit,"
Athena berdiri mematung memandangi Ben dengan mata sendu dan sorot merindu.
"Jangan membuang waktuku, Athena katakan apa yang kau inginkan."
Dengan sangat perlahan Athena berjalan mendekat ke arah kursi Benjamin. Benjamin menoleh dengan tatapan menegur ketika Athena sudah berada di samping mejanya.
"Hentikan langkahmu, Athena. Aku bisa mendengarmu dari sini, tidak usah mendekat."
"Kumohon, jangan bersikap dingin padaku, Ben. Aku tahu ... aku telah membuatmu menderita. Aku mengakui kesalahanku. Aku sudah berulang kali meminta maaf, meski aku tahu itu tidak termaafkan, tapi aku ingin menebusnya."
"Kau tidak perlu menebus apapun ... sekarang cepat katakan apa keperluanmu datang kemari."
Athena mengembuskan napas berat, kedua bahunya turun dan wajahnya seolah akan mulai menangis.
"Aku membutuhkanmu, Ben ... tolong izinkan aku tinggal di sini ... aku mohon, aku ... memerlukan tempat tinggal. Aku akan melakukan apapun yang kau suruh, aku berjanji tidak akan merepotkanmu."
"Kau punya tempat tinggal sendiri, Athena. Ayah sudah memberikannya padamu." Benjamin menatap dengan mata berkilat dingin.
"Seseorang menipuku, Benjamin, karena itu aku butuh bantuanmu untuk menyelidikinya ... dia membawa semua uangku, sedangkan aku dibuat terlilit hutang sehingga dikejar-kejar beberapa orang... aku sudah tidak punya siapa-siapa, sudah tidak punya apa-apa lagi dan sudah tidak tahu harus ke mana lagi ... " Athena terdengar terisak, "maafkan aku bila dalam kondisi seperti ini aku malah mengganggumu, tapi tidak ada lagi orang yang bisa ku mintai pertolongan. Tolong aku, Benjamin ...." Athena tertunduk, menyembunyikan air mata yang sudah mulai meleleh di pipinya.
"Dengarkan aku, Athena ... ketika kau bercerai dengan ayahku, Beliau sudah memberikan uang dan juga harta yang cukup untuk menanggung kehidupanmu setelah bercerai darinya. Karena itu apa pun yang terjadi pada dirimu setelahnya, bukan lagi menjadi urusan Antolini," ucap Benjamin dengan nada tajam. Ia menatap tidak berkedip ke sosok Athena yang menangis tanpa suara dengan kepala tertunduk.
"Ben, kumohon ...." pinta Athena dengan suara memelas.
Benjamin menggapai intercom didekat telepon di atas mejanya, dengan suara keras ia memanggil sekretarisnya.
"Lusiana! Datang kemari dan bantu Athena keluar dari kantorku!"
Tidak sampai beberapa detik kemudian, Lusiana sekretaris Benjamin masuk dan berjalan tergesa. "Mari Nona Athena, saya temani Anda keluar."
Athena perlahan mengangkat kepalanya, pandangannya bertemu dengan tatapan mata Benjamin. Air mata meleleh makin deras di pipinya. Dengan tangan kanan, Athena menyeka pipinya dan menelan saliva sebelum berucap. "Jika tidak dirimu ... maka aku terpaksa menemui Belardo, Benjamin ...."
Rahang Benjamin mengeras, tangannya mengepal di atas meja. Athena kembali tertunduk.
"Maafkan aku. Aku tidak punya cara lain jika kau tidak juga mau membantuku. Aku terpaksa menemui Belardo. Aku hanya butuh tempat tinggal untuk bersembunyi. Jika kau mau menampungku, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Termasuk tidak menampakkan diri pada satupun anggota keluarga Antolini. Termasuk ayahmu ...."
"Jangan ganggu aku dan keluargaku lagi, Athena. Jika kau punya masalah, urus sendiri masalahmu!"
Dengan langkah gontai Athena berbalik, ekspresi sedih mewarnai wajah dan seluruh gerakan tubuhnya. Sedikit pun ia tidak melihat tanda-tanda bahwa Benjamin memiliki sedikit perasaan untuk membantunya meskipun perasaan itu hanyalah rasa kasihan.
"Nanti malam ... aku akan menemui Belardo ... ayahmu akan membantuku, kau sangat tahu bagaimana hati pria itu. Meski tampak sangat keras, hatinya sangat lembut ... dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padaku ... meski aku hanyalah seorang mantan istri ... kau tahu itu dengan baik, Benjamin. Karena kau sangat mengenal bagaimana sifat ayahmu."
Athena melangkah lagi, meninggalkan Benjamin yang mendesis marah di balik pintu ruang kerjanya.
Ya, wanita pembuat masalah!... jika kau menemuinya, ia akan membantumu. Jangankan mantan istrinya ... seorang pecundang yang terhubung dengannya hanya karena anak dari seorang teman di masa lalu, dia membantunya meski tahu pria itu mencuri darinya! Apalagi kau! Kau hanya perlu memasang wajah memelas!
***********
Benjamin memelankan mobilnya ketika tiba di dekat gerbang Mansion keluarga Antolini. Malam ini bukan malam dimana keluarga berkumpul untuk makan malam bersama. Akan ada pertanyaan yang menyerbunya jika ia datang. Namun Benjamin tidak akan membiarkan Athena mengganggu Ayahnya lagi. Jadi ia menghubungi anak buahnya yang menjaga di mansion dan meminta menghubungi bila Athena datang.
Seorang pria yang berdiri di dekat gerbang melihat mobil Benjamin. Ia berjalan mendekat, lalu menunduk ketika kaca mobil Benjamin mulai diturunkan.
"Tidak ada yang datang, Tuan."
Benjamin mengangguk. Namun belum sempat ia berkomentar, sebuah taksi melintas melewatinya dan berhenti di depan gerbang Mansion.
"Ah ... dia panjang umur," bisik anak buah Ben ketika melihat seorang wanita turun dari bagian penumpang.
"Aku permisi, Bos." Penjaga tersebut meninggalkan Benjamin, menyambut Athena bersama dua pria lain di depan gerbang. Mereka langsung memegangi lengan Athena dan menyeretnya ke arah mobil Benjamin.
"Apa yang kalian lakukan!" jerit Athena. Tiba di dekat mobil yang kacanya masih terbuka, Athena melihat Benjamin dan langsung berhenti berteriak.
Anak buah Benjamin langsung membuka pintu belakang, lalu memaksa Athena masuk. Dua orang itu juga mengikuti hingga Athena terjepit di tengah. Wanita itu tidak mengatakan apapun. Namun di dalam hati ia bersorak gembira. Kemanapun Benjamin akan membawanya, ia tidak peduli. Setidaknya ia memiliki kesempatan untuk bicara lagi dengan pria itu.
Athena melirik kaca dan menyadari arah yang diambil Benjamin adalah jalan menuju apartemen pria itu.
"Kita akan kemana, Ben?"
Benjamin tidak menjawab. Athena mulai melirik dua penjaga di kiri dan kanannya. Ia menatap salah satu dan mulai menanyakan pertanyaan yang sama. Ketika tidak mendapatkan jawaban, ia mulai mencecar pria satu lagi. Kernyitan mulai muncul di kening Benjamin.
"Kemana kalian akan membawaku!? Aku akan menemui Belardo di Mansion! Antarkan aku kembali sekarang juga! Atau katakan tujuan kita sebenarnya padaku!"
Ketika mobil akhirnya membelok ke bagian depan gedung dimana apartemen Benjamin berada dan kemudian berhenti, Athena merasa ingin sekali tersenyum.
Dua anak buah Benjamin turun sambil menarik Athena. Mereka menganggukkan kepala ke arah Benjamin dan menunggu sejenak sampai Benjamin kembali menghidupkan mobil.
"Tunggu! Ben! Kau mau kemana!?"
"Jangan membuat keributan, Nona Athena. Kau butuh tempat sembunyi bukan? Tuan Ben memberikannya untukmu," ucap salah satu penjaga tersebut sambil menarik lengan Athena dan membawanya naik menuju apartemen Benjamin.
**********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.