Belinda

Belinda
30. Daddy's calling



Bernie berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan ponsel Ella yang terus berdering di tangan kanan.


"Ya Tuhan, aku mohon berhentilah menelepon Paman Daniel! Ella tidak ada di sini!"


Bernie memelototi layar ponsel Ella dimana tertera my sweet daddy dengan musik yang terus berdering.


"Aku tidak akan mengangkatnya, Paman! Tidak!" seru Bernie frustrasi.


Tak lama kemudian ponsel tersebut berhenti berbunyi. Bernie tegak berdiri selama beberapa detik. Menunggu apakah ayah Ella kembali menelepon.


Keheningan yang terus hadir membuat Bernie menarik napas lega. "Akhirnya dia menyerah. Syukurlah," desah Bernie sambil menggaruk perut dibawah karet celana boxernya.


Ia meletakkan ponsel Ella kembali ke atas nakas, lalu menyusup kembali ke bawah selimut.


"Sebentar saja, aku masih mau tidur ... masih sempat," ucapnya sambil menguap. Baru saja ia memejamkan mata, dering ponsel kembali terdengar. Kedua mata Bernie kembali terbuka. Ia meringis dan memejamkan mata kembali, mengabaikan musik yang mengalun dari ponsel.


Beberapa waktu musik ponselnya berdering, Bernie baru menyadari nada panggilnya berbeda dengan ponsel Ella. Ia segera melompat bangkit dan mencari-cari ponsel yang berbunyi tersebut. Ketika ia mendapatkannya nama Paman Daniel yang tertera di layar membuat ia menyumpah tanpa sadar.


"Sialann! Sialann!"


Bernie kembali berjalan mondar-mandir. Dering ponselnya terus berbunyi memekakkan telinga. Ia tahu, ayah Daniella tidak akan berhenti sebelum ia menjawab. Setelah berpikir dan menyiapkan kebohongan yang ia harap berhasil Bernie baru menjawab panggilan tersebut dengan suara malas dan pura-pura menguap.


"Halo?" sapa Bernie diakhiri suara menguap panjang.


"Bern ... lama sekali kau menjawab telepon."


"Ah ... Paman Daniel?"


"Ya. Aku mengganggu ya?"


"Tidak, Paman." Bernie pura-pura kembali menguap. "Ada apa, Paman?"


"Maafkan aku mengganggu tidurmu, Bern. Aku mimpi buruk tentang Ella. Aku sudah berulang kali meneleponnya tapi tidak diangkat. Aku jadi khawatir."


"Oh, tidak usah khawatir, Paman. El baik-baik saja. Kami tidur terlalu larut karena hari terakhir libur sebelum syuting di hutan besok siang."


"Di hutan?"


"Ya. Semua adegan yang akan diambil di luar gedung hotel."


"Apa akan aman untuk Ella?"


"Pasti, Paman."


"Erick bilang semua baik-baik saja. Snow dan Stan-"


"Mereka menjaga Ella dengan sangat baik, Paman. Jangan khawatir tentang itu. Ella didampingi dan dijaga dengan ketat. Tidak ada yang berani mengganggunya karena melihat Snow saja sudah membuat orang lain ciut nyalinya." Bernie sengaja memotong ucapan Daniel.


Di dalam hati Bernie mencibir ucapannya sendiri. Tidak ada yang berani kecuali pria tua mesum itu! ... ah, salah, ada ... ada satu lagi ... yang malam ini menjaganya di dalam kamar.


"Syukurlah kalau begitu. Kalau Ella sudah bangun, bisakah kau katakan padanya agar segera menelponku."


"Tentu. Kurasa ia tidur nyenyak, Paman, jadi tidak mendengar suara ponsel. Kami akan mulai agak siang hari ini. Jadi dia tidak perlu bergegas bangun."


"Ya. Titip salam, Bern. Jangan lupa pesanku."


"Ya, Paman."


Bernie menarik napas lega ketika Daniel mengakhiri sambungan itu. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, lalu menarik selimut dan membaringkan tubuhnya.


**********


Lengannya mengencang dan memeluk tubuh yang sedang meringkuk tersebut sambil menghidu aroma rambut hitam yang berserakan di atas lengannya yang dijadikan bantalan oleh kepala Ella.


Satu kecupan di puncak kepala Ella sebelum Benjamin mendongak dan memandang berkeliling. Hari sudah pagi, matahari sudah terang bersinar dan memantulkan cahaya masuk ke dalam kamar. Kain gorden membuat cahaya yang masuk agak redup. Ia juga melihat ke atas lantai, potongan pakaiannya dan gaun tidur Ella berserakan di sekitarnya.


Benjamin berniat bangun tanpa mengganggu Ella. Ia ingin Ella cukup tidur dan beristirahat. Ia telah mengganggu malam wanita itu, sedangkan Ella masih harus bekerja siang ini.


Ketika ia menjauhkan tubuhnya, Ella bergerak dan merangkulkan lengan ke pinggang Benjamin. Benjamin diam sejenak sambil terus menatap ke wajah Ella yang tertidur.


Dengan sangat perlahan, Benjamin mengangkat tangan Ella dan menjauhkannya dari pinggang, lalu ia bergeser perlahan, menarik lengannya dari bawah kepala wanita itu, sambil menarik bantal yang ia gunakan turun ke bawah kepala Ella.


Setelah tidak ada lagi bagian tubuh mereka yang bersentuhan, Ben bangkit dari tempat tidur. Ia mengumpulkan pakaiannya yang berserakan, lalu setelah sekali lagi menatap lama ke wajah Ella, ia bergerak masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi dan membersihkan dirinya, Benjamin kembali mengenakan pakaiannya yang sudah kusut. Ia mengumpulkan jubah dan gaun Ella yang robek dan meletakkannya di atas kursi.


Ben berdiri di dekat tempat tidur, menimbang perlukah ia membangunkan wanita itu. Mata Ella terpejam rapat, gerak dadanya teratur, terlihat sangat nyenyak, membuat Ben akhirnya mengambil keputusan tidak akan mengganggu tidurnya.


Ia melangkah dengan berat hati ke arah pintu keluar. Ingin mencium Ella sebelum pergi, tapi tidak mau membangunkan wanita itu, lagipula tubuhnya kan mulai menginginkan wanita itu lagi.


Sebelum membuka pintu, ia melihat lagi ke atas kasur, Ella bergerak, membuat selimut bagian dadanya sedikit tersingkap. Bagian atas dan belahan di tengah dadanya terlihat, menunjukkan tanda merah yang Ben tinggalkan di kulit wanita itu.


Andai kita sudah menikah, aku tidak perlu meninggalkanmu sekarang. Aku akan menunggu di sampingmu hingga kau bangun.


Benjamin kemudian keluar dan berjalan meninggalkan lorong kamar Ella.


**********


Menjelang siang, Ella akhirnya membuka mata, ia berkedip dan mengernyit ketika merasa silau oleh cahaya matahari.


Ketika teringat akan malam yang ia lalui, Ella langsung menoleh ke samping dan mendapati Benjamin sudah pergi.


"Dia ... sudah pergi ...."


Ella bangkit, duduk sambil menahan selimut di bagian dada, ia menunduk dan sedikit mengintip ke bawah, mendapati beberapa tanda kemerahan dan juga jejak sentuhan di tubuhnya.


"Aku ... kami ... benar-benar melakukannya ...."


Ella terbayang kembali peristiwa tadi malam, Pipinya langsung merona dan dengan meringis malu ia menarik selimut hingga menutupi wajah.


"Aku sudah gila," desis Ella. Sejenak ia diam dan membayangkan kembali penyatuannya dengan Benjamin, ciuman dan sentuhan juga desah nikmat yang mereka bagi. Tubuhnya langsung menghangat, seolah tadi malam belum cukup, ia kembali mendamba membayangkan Benjamin masih ada di tempat tidur.


"Astaga! Aku sudah jadi orang mesum! Apa yang merasukiku!"


Ella cepat-cepat bangun, menendang selimutnya dan setengah berlari masuk ke kamar mandi. Ia mengguyur sekujur tubuh dengan air dingin. Berharap dapat mendinginkan darah sekaligus kepalanya yang mulai berpikiran kotor ketika membayangkan sosok Benjamin yang tanpa pakaian.


NEXT


*********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.