
Rasa terkejut melumuri mata Benjamin mendengar Belinda mengatakan ia bukan keluarganya. Kemarahan Ben kembali tersulut.
"Sejak kapan darah yang ada di tubuhmu itu kau ganti? Kau seorang Antolini karena kau putri Belardo!" bentak Benjamin.
Di luar rumah, seorang pria yang menaiki beranda depan membuat dua anak buah Benjamin dan Vito menoleh seketika. Kegelapan yang mulai melingkupi beranda membuat tiga orang itu memicingkan mata. Mereka belum dapat menebak siapa pria yang mengenakan mantel berwarna hitam tersebut. Rambut pria itu agak panjang menutupi telinga.
Salah satu anak buah Benjamin baru saja akan mendekat dan menghentikan pria itu ketika langkah kaki tamu tak diundang itu berhenti sendiri di dekat pintu masuk.
Belinda melihat pergerakan itu, namun keadaan gelap di luar membuatnya mengira itu adalah anak buah Benjamin.
"Putri Belardo?" tanya Belinda dengan tawa mengejek," putri yang tidak pernah ia harapkan! Anak yang seharusnya tidak ada di dunia! Dia tidak sengaja menghamili seorang pelayan!"
"Tutup mulutmu, Belinda!" raung Benjamin.
"Kenapa! Itu kenyataan! Ayahku hanya mengurusku karena kewajiban! Dia bahkan lebih ramah pada Alana saat pertama kali Maurice membawanya ke mansion, padahal Alana hanya anak tiri! Dan kau ...." Belinda berhenti sejenak, menatap dengan air mata mulai berlinangan, "dan kau ... orang yang kukira peduli dan sayang padaku ... sama saja ... kau hanya menganggapku barang yang harus kau jaga. Itupun kau lakukan karena permintaan ibuku ... awalnya ku kira kau memang orang yang dingin, acuh adalah sikapmu pada semua orang, tapi kau menyapa Alana! Kau mengajak Alana menari di hari pernikahan ayah dan Maurice! Kau menyambut Alana, kau memberikan kebebasan pada Alana! Tapi kau mengurungku! Kau membatasi setiap langkahku! Kau juga sangat peduli dan hangat pada Athena, kekasih yang kau banggakan dan sangat kau cintai, sampai Ayah memperlihatkan wajah wanita itu yang sebenarnya padamu! Kau marah pada Ayah, kau benci pada Athena, tapi kau tetap menemui mereka! Kau tetap mendengarkan mereka! Kau tetap mencintai mereka! Sedangkan aku ... kau menyingkirkan aku, Benjamin ... kau membuangku ke pulau ladang jagung ... kau membiarkan aku sendirian ...."
Benjamin merasa Belinda baru saja menampar pipinya berulang kali. Ia menelan ludah, menarik napas dalam untuk mengisi dadanya yang terasa sesak. Ben melirik tangan Belinda yang menggenggam tangkai garpu dengan sangat kuat. Ia yakin ujung benda berbahan logam tersebut menekan keras telapak tangan adiknya.
"Lepaskan benda di tanganmu, Bel," perintah Benjamin sambil mulai menggeser kakinya ke depan.
Belinda berdecih, ia malah mengangkat garpu dengan posisi siap menusuk.
"Tidak akan! Berani mendekat kemari, aku akan mencakar wajahmu dengan ini. Pergi saja! Enyahlah! Jangan ganggu hidupku lagi!" Belinda menatap garang ke arah Benjamin, namun air matanya tidak dapat berhenti mengalir. Dengan cepat Bel menghapus kedua matanya dengan punggung tangan.
Benjamin menahan langkah, sedikit kebingungan akan mengatakan apa pada Belinda. Ia mengira Belinda akan diam tertunduk menerima kemarahan dan rasa murka darinya, lalu dengan mudah ia akan ikut apapun yang Ben perintahkan.
Namun, seorang gadis yang diliputi rasa takut, meneriakkan isi hati dalam semburan kalimat cepat, bahkan mengancam akan menyerang sama sekali diluar perkiraan Benjamin.
"Turunkan benda itu, Bel ... lalu ikutlah denganku," ucap Benjamin.
Ekspresi Belinda kemudian membuat Benjamin menyadari ia mengucapkan kalimat yang salah.
"Berhenti memerintahku, Benjamin Antolini! Kau bukan siapa-siapa! Aku bukan lagi seorang Antolini! Pergilah! Aku membencimu! Aku benci!" teriak Belinda sekuat tenaga. Aliran air matanya mengalir deras. Ia terisak, dengan tangan kanan yang memegang garpu tetap terangkat .
"Bel-" ucapan Benjamin terputus, bingung mau mengatakan apa melihat Belinda yang histeris. Benjamin mencoba kembali mendekat.
Belinda mengeraskan rahang, tangan kanannya naik makin tinggi, menyesuaikan dengan tinggi wajah Benjamin.
Benjamin tidak mundur melihat ancaman dari tangan Belinda. Ia berhenti di depan Bel sejauh jangkauan lengan, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah wajah Belinda.
"Turunkan tanganmu, Black ... jangan sentuh istriku."
Ucapan tegas dengan nada yang tenang tersebut membuat Benjamin yang terkejut langsung menurunkan tangan dan berbalik. Belinda juga langsung melirik ke arah sosok pria yang datang. Semua orang berdiri terpaku dalam diam. Kaki-kaki mereka seolah terpaku di atas lantai.
"Ucapannya benar. Dia bukan lagi seorang Antolini. Dia Belinda Marchetti ... nama yang sudah setuju dan dengan sadar ia sematkan pada dirinya. Dia terikat janji pada nama itu ...."
"Karena kau seorang Marchetti, bisakah kau ikut pulang denganku tanpa paksaan? Atau kau lebih memilih Benjamin menyeretmu pulang?"
Di dalam kantong mantel panjangnya, tangan Verga terkepal erat. Ia menahan diri agar tidak mendatangi Belinda dan memeluk istrinya yang masih menangis, tampak kusut dan ketakutan tersebut.
Belinda menatap sosok Verga dengan sorot tidak percaya, air matanya mengalir semakin deras. Namun, ia tidak juga mnurunkan garpu kecil yang ia gunakan sebagai ancaman untuk Benjamin.
"Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Kita hanya akan meluruskan permasalahan sebenarnya. Kurasa aku berhak mendapatkan penjelasan setelah terseret ke dalam masalah kalian berdua."
"Apa maksudmu dengan masalah kalian berdua!? Dia pergi berkeliaran, kabur dan melarikan diri saat berada dalam penjagaanmu, Verga!" ucap Ben dengan sengit.
"Ya ... namun masalah sesungguhnya bukanlah aku ... bukankah begitu, Bel?" Verga menangkap sorot mata istrinya. Air yang masih menggenang di sana membuat dirinya ingin sekali menyeka dan menghapus mata dan pipi wanita tersebut. Namun Verga tahu ia harus berhati-hati. Semua ucapan dan tindakannya saat ini akan menentukan keputusan Belinda untuk mengikuti siapa. Setelah berdiri di luar pintu dan melihat sendiri interaksi antara Benjamin dan Belinda, Verga menghubungkan semua pengetahuannya tentang hubungan yang ada dalam keluarga Antolini. Juga kebencian yang pernah Bel kemukakan untuk ayahnya, lalu sekarang pada Benjamin.
"Kau sudah diberitahu siapa aku sebelum kita menikah, kau menyetujui penyatuan kita. Tapi aku bukanlah pria arogan yang akan memaksamu untuk tetap bersamaku bila kau tak ingin melakukannya, kau tidak perlu melarikan diri lagi. Kita bisa mengurusnya nanti ... namun ... aku punya seorang ayah yang terus menelepon dan meminta untuk bicara dengan menantunya. Dia menunggu putrinya pulang ...."
Bibir Belinda mengerut menahan isakan. Ia teringat kehangatan, penerimaan dan kasih sayang yang terpanjar dari mata ayah mertuanya. Tuan Verone begitu gembira menerima dirinya sebagai menantu. Tangan kanan Belinda yang memegang garpu akhirnya turun perlahan.
"Kita sudah terikat janji pernikahan, Bel ... keluargaku sama sekali tidak tahu kalau kau enggan atau terpaksa menjalaninya ..."
"Dia sama sekali tidak dipaksa," desis Benjamin.
Verga menatap Benjamin, hanya menatap lama sebagai permintaan agar pria itu diam dan menutup mulut.
"Ayah menanyakanmu. Sudah dua minggu. Kita seharusnya sudah kembali dari Kuaotunu. Bulan madu sudah selesai. Kembalilah bersamaku. Temui Ayah."
Sedu sedan tangis Belinda terdengar menyayat hati. Verga berjalan mendekat, sengaja menyenggol bahu Benjamin agar ia menjauh.
"Menyingkirlah, Ben," desis Verga. Kedua tangannya meraih Belinda, tubuh wanita itu kaku dalam pelukan Verga.
"Kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir ...," bisik Verga di puncak kepala istrinya.
Ucapan penuh perhatian itu membuat Belinda melepas garpu di tangannya hingga jatuh ke atas lantai. Ketegangan di tubuhnya pun luruh seketika. Masih menangis, Belinda membenamkan wajahnya ke dada Verga. Mengizinkan dirinya merasakan pelukan pria yang selalu datang dalam mimpinya itu.
NEXT >>>>
**********
From Author,
Klik like,love, bintang lima, vote dan komentar kalian ya sebagai dukungan untuk Belinda. Sebelumnya otor ucapin terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.