
Verga menyipitkan mata melihat wajah istrinya yang terus tersenyum sejak datang. Wanita itu bergerak kesana kemari seolah banyak sekali yang perlu ia bereskan. Seolah ia akan membersihkan ruangan perawatan tersebut sebelum Verga pergi karena sudah diperbolehkan pulang.
"Kau sesenang itu aku boleh pulang ya?" tanya Verga, menarik lengan Belinda ketika lewat, lalu menguncinya dengan memeluk dari belakang.
"Tentu saja! Kita akhirnya bisa pulang ke Broken Bridges."
"Kau sudah tahu sejak kemarin kalau aku akan dibolehkan pulang hari ini. Tapi kurasa penyebab senangmu ini bukan hanya karena hal ini. Katakan padaku. Ada yang menarik yang terjadi di rumah?"
Belinda terkekeh, ia menoleh sedikit agar bisa melihat wajah suaminya. "Dugaan mu benar."
"Ayo ceritakan."
"Tadi pagi ... Daniella akhirnya tiba!"
"Gadis itu! Baru sekarang dia bisa datang!" sungut Verga.
"Oh, jangan marah begitu. Ella sudah lama tidak mengambil pekerjaan lagi. Entah kenapa, baru sekarang dia berkenan menerima beberapa kontrak iklan. Dia sedang syuting di luar negeri ketika kau kecelakaan. Kemarin kan Paman Daniel sudah mengatakannya."
"Benar. Paman Daniel sudah jauh-jauh datang kemari menjengukku ... dia marah sekali pada Ayah karena tidak memberitahunya soal kecelakaan waktu itu."
"Paman mengetahuinya karena menelepon ke Mansion Marchetti. Ia ingin bicara dengan Ayah dan Henry mengatakan padanya tentang kecelakaan itu. Dia langsung datang kemari. Tapi ada orang yang mengerjainya ... membuatnya sangat marah ...." Belinda terbahak, merasa sangat geli.
"Siapa? Ayolah. Jangan menikmatinya sendiri. Ceritakan padaku."
"Benjamin. Paman Daniel tiba malam hari. Langsung ke rumah sakit. Tapi Ben mengusirnya," ucap Belinda.
"Astaga. Lalu?"
"Lalu Paman menelepon Ayah. Dia dijemput dan dibawa ke Mansion Antolini. Cerita selanjutnya kau tahu sendiri. Besoknya Ayah Verone dan Ayah Belardo membawanya kemari kan."
"Dia bertemu lagi dengan Ben?"
"Ya. Di luar pintu itu. Mereka datang, Ben hendak pulang."
"Pamanku pasti mengenalinya. Apa yang Paman Daniel lakukan?"
"Oh, dia hanya menatap tajam tanpa mengatakan apa-apa. Kurasa Benjamin baru menyadari kesalahannya waktu itu. Tapi dengan santainya ia pamit dan berlalu pulang, ia tampak menghindar untuk meminta maaf, terlihat sekali Ben jadi tidak nyaman. Dia menghindari Paman Daniel sampai besoknya Beliau pulang. Jika kau ada di lorong waktu itu. Pemandangan yang lucu sekali!"
"Percayalah ... Pamanku tidak akan melupakannya begitu saja ... Itu dua hari lalu. Kenapa kau tidak cerita! Aku akan senang sekali meledeknya."
"Kau punya banyak kesempatan. Semua orang menunggu kita di rumah. Benjamin yang akan menjemput kita."
"Bagus sekali. Jangan katakan apapun nanti. Aku akan sedikit memerintah kakakmu. Dia perlu diberi pelajaran karena telah mempermainkan kita waktu -" Verga berhenti. Hampir saja ia kelepasan mengucapkan tentang kejadian penculikan Belinda waktu itu. Ia tidak ingin Belinda tahu dalang semua itu adalah kakaknya sendiri. Hubungan keduanya baru saja membaik dan menjadi hangat layaknya saudara. Belinda pasti akan kesal jika ia menceritakannya.
"Waktu kapan? Mempermainkan?" tanya Belinda, menunggu suaminya menyelesaikan kalimat.
"Maksudku soal ayahmu yang sakit. Dia seharusnya memberitahu kita segera. Aku belum puas membalasnya meski aku sudah memukulnya waktu itu!"
Belinda tersenyum. Mencium pipi suaminya dan bersandar di bahu pria itu. "Kau tahu ... aku bersyukur sekali ikut dalam perjalanan bisnismu kali ini. Aku jadi tahu, bagaimana Ayah dan Benjamin yang sesungguhnya . Aku ... bahagia seklai."
"Aku ikut senang, Bel."
Mereka terdiam dalam posisi itu untuk beberapa menit. Belinda kemudian menarik napas panjang, menyunggingkan senyum dan memukul pelan bahu suaminya.
"Well ... Sebentar lagi Ben datang. Kita harus siap-siap."
Belinda bangkit, merasakan lengan Verga melonggar. Meski rasa bahagianya membuncah, di sudut hatinya Belinda menekan sebuah penantian yang selalu menggelitik.
Jangan serakah, Belinda!
Belinda tahu, harapan menggelitik itu adalah harapan jika suatu hari nanti, suaminya akan mengucapkan kata itu. Kata yang selalu ia ucapkan dan sangat mudah menyatakannya bagi Belinda saat ini. Bibirnya sudah sangat ringan menyatakan perasaannya pada Verga. Mulai dari saat pria itu membuka mata, sampai ketika malam menjelang dan pria itu memejamkan matanya lagi. Ucapan selamat malam dibarengi ucapan aku mencintaimu yang dibalas dengan kecupan dan mata berbinar dari suaminya.
Pintu terbuka beberapa saat kemudian dengan suara keras. Benjamin muncul dan melihat kalau pasangan tersebut sudah bersiap.
"Sudah siap rupanya. Tunggu sebentar, perawat memintaku ke meja mereka. Soal obat yang akan dibawa pulang."
"Ah ya ... Ben, aku agak sulit turun dari tempat tidur. Bantu aku dulu."
"Ya." Benjamin bergerak membantu Verga turun. Belinda bersiap membantu, namun Verga menekan ujung jarinya dan memberi kode kedipan. Membuat Belinda menyingkir dan berdiri diam, hanya melihat dengan alis terangkat.
"Bel, tolong kau saja yang pergi ke meja perawatnya," ucap Verga.
"Baiklah."
Ketika Belinda menutup pintu. Verga menatap Benjamin dan menunjuk ke arah sepatu yang sudah disiapkan Belinda.
"Tolong sepatuku, Ben."
"Tolong bantu aku mengenakannya," ucap Verga santai. Benjamin langsung mendongak dengan bibir mengerut melihat wajah geli Verga.
"Kau bisa pakai sendiri!"
"Aku kesulitan kalau menunduk."
"Tunggu Bel saja!"
"Lama. Lakukan saja."
"Kau memerintahku?"
"Ya. "
Benjamin mengangkat alis, menyunggingkan senyum mengejek yang menjengkelkan.
"Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan? Kemarin saat meninjuku, kepalan tanganmu lumayan keras. Kurasa tidak akan sekeras itu melihat kondisimu sekarang," ejek Benjamin.
Verga membalas tersenyum mengejek. "Kau akan menyesal jika sesuatu tentangmu kuceritakan pada Belinda. Kalau tidak mau adikmu marah, sebaiknya kau kerjakan perintahku, Black!"
"Memangnya apa yang kau ketahui! Kau mungkin belum tahu, tapi tidak ada yang bisa mengancamku, Verga."
Verga tertawa, sorot matanya terlihat menari-nari. "Mau bertaruh!?"
"Boleh saja!"
"Kau pasti meyesal."
"Katakan dulu tentang apa."
"Ketika di BYork ... Belinda diculik ...." Verga sengaja mengucapkan kalimatnya perlahan dengan jeda yang diatur, menikmati ekspresi Benjamin sepenuhnya. Wajah pongah mengejek Benjamin memudar, berganti sikap waspada.
"Ada apa tentang itu."
"Kaulah yang mengirim orang-orang itu. Yang membuat Belinda ketakutan setengah mati! Memangnya apa yang akan dia pikirkan, ketika tahu kakaknya sendiri yang mengirim para preman tersebut."
Verga tersenyum menang ketika melihat perubahan wajah Benjamin. Terkejut, tidak percaya, ngeri, kalau boleh ia menafsirkan juga sedikit rasa takut.
"Kau tidak punya bukti."
Tawa Verga pecah. Ia menghapus airmata geli dengan punggung tangan.
"Kalian.... keluarga Antolini ... membuat hidupku sungguh berwarna. Dari mulai pernikahan, mengejar pengantin yang melarikan diri, sampai sikap sedingin es palsu yang menutupi sikap penuh kasih sayang dan kehangatan hati. Aku tidak keberatan melihat satu lagi scene menarik di Mansion Antolini. Ketika aku menyeret dua orang pria yang ikut berpura-pura menjadi preman waktu itu untuk mengaku."
"Cih! Tidak semudah itu membuat mereka membuka mulut!"
"Ya. Di depanku, tidak mungkin. Tapi di depan Tuan Belardo Antolini, mungkin saja. Kau mungkin bos mereka,Ben, tapi Belardo Antolini atasan dari bos mereka." Verga tertawa lagi melihat ekspresi yang dibuat oleh Benjamin.
"Kau pria penuh tipu muslihat!"
"Oh! Karena itu kau menyukaiku dan memilihku untk adikmu," ejek Verga sambil menunjuk sepatunya.
Pemandangan menarik disaksikan Belinda ketika ia masuk. Benjamin sedang memasangkan sepatu ke kaki suaminya yang duduk di sofa. Wajah suaminya boleh dikatakan cerah penuh semangat, sedangkan Benjamin terlihat seperti mau mematahkan kaki suaminya itu
"Ben, biar aku saja," ucap Belinda.
"Biarkan saja, Sayang." ucap Verga.
"Tenang saja, Bel. Kaki suamimu akan tetap utuh," sindir Benjamin.
"Oh, Baiklah ....."
Belinda tidak tahu apa yang terjadi. Tapi Verga sepertinya sudah menang. Perlahan ia tersenyum lebar. Jika suaminya menang, ia merasa ikut menang. Belinda merasa jadi sedikit durhaka pada kakaknya.
Namun dibalik sikap jengkel dan kesal, Benjamin melakukan semuanya dengan hati-hati. Pria itu bahkan membantu Verga bangkit dari sofa. Untuk ukuran seseorang yang selalu bersikap dingin, Belinda menyadari kakaknya memiliki hati yang lembut dan juga hangat.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Part menuju akhir. Menanti kisah selanjutnya? Tentang apa nih, Belinda hamil, Verga membalas perasaan Belinda, mereka punya anak, Benjamin ketemu jodoh? atau apa? Yuk komentar. Like juga ya.... Thank you kesayangan BelVer.
Salam. DIANAZ.