Belinda

Belinda
58. Step sister



"Kalian tidak tidur di Mansion?" tanya Belardo. Tampak keberatan setelah Verga mengatakan bahwa mereka tinggal di hotel.


"Ah, aku harus minta maaf. Aku tidak bisa menolak kebaikan Evander, Ayah. Dia menyiapkan semuanya, termasuk kendaraan dan hotel.


"Jadi kau akan memulai besok?"


"Ya."


"Kalau begitu Belinda akan dijemput ketika kau mengurus bisnismu. Dia akan sendirian di hotel bukan? Jadi sebaiknya dia menghabiskan waktu di mansion saja."


Verga melirik ke arah Belinda. Istrinya itu sepertinya tidak mendengarkan ucapan Belardo.


"Itu kuserahkan pada Belinda ...."


"Bel. Besok Verga akan sangat sibuk mengurus pekerjaan. Kau, akan tinggal di Mansion dulu selama Verga tidak ada," perintah Belardo.


Belinda menatap ayahnya dengan wajah datar, tidak mengangguk maupun menggeleng, juga tidak menjawab.


"Kalau Benjamin sudah datang nanti, kalian pulanglah dan beristirahat. Kau akan sangat sibuk mulai besok, Verga. Aku pernah bertemu Evander Morone, dia terkenal sangat menuntut jika itu soal pekerjaan."


Belinda merasa dia sudah tidak diperlukan lagi berada di ruangan itu. Ia bangkit berdiri dan menatap suaminya.


"Aku keluar dulu," pamit Belinda.


"Perlu kutemani?"


"Tidak," ucap Bel sambil menggelengkan kepala. Ia hanya melirik sedikit ke wajah ayahnya, lalu cepat-cepat pergi dari kamar tersebut.


Belinda tidak menoleh sedikitpun ke arah Athena saat melintasi ruangan menuju pintu keluar.


Ia ingin mencari udara segar, kamar perawatan ayahnya itu terasa menyesakkan. bila lebih lama lagi, bisa-bisa ia mengeluarkan rasa tidak nyaman dan sesak tersebut dengan kata-kata yang akan ia sesali. Bel tidak ingin berkata kasar atau bersikap kurang ajar pada orang yang sedang sakit.


Keluar dari lift, Bel berhadapan dengan Maurice. Wanita itu sepertinya berniat kembali ke kamar ayahnya. Ia membawa paket kopi dan juga roti.


"Kau mau kemana?" tanya Maurice.


Belinda tidak menjawab, keluar dari lift dan terus melangkah.


"Haish ... tidak hanya ayahnya, putra dan putrinya pun sama saja," ucap Maurice. Cukup kencang hingga terdengar Belinda.


Belinda berjalan tanpa tahu mau kemana. Langkah kakinya menuju keluar gedung, sampai sebuah suara membuat ia berhenti.


"Bel! Mau kemana!?"


Belinda menoleh, tak jauh dari pintu utama kantin, Benjamin berjalan menuju ke arahnya bersama Alana. Belinda berbalik penuh. Melihat kedua saudaranya tersebut lekat-lekat.


Benjamin mengenakan turtleneck putih lengan panjang dan celana jeans hitam. Membawa dua kotak yang sepertinya berisi makan malam di kedua tangan. Di sebelahnya pakaian Alana tertutup sepenuhnya oleh sebuah mantel yang terlihat sangat kebesaran di badannya yang kecil. Belinda sangat yakin benda itu milik Benjamin.


Jadi begitu ...


Belinda meredam perasaan cemburu yang tiba-tiba saja menyeruak ke permukaan hatinya.


Alana menyipit menatap sorot mata Belinda ketika melihat mantel yang ia pakai. "Pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul untuk pamit pada Ayah," ucap Alana pada Benjamin.


Benjamin mengangguk, langkah kakinya melambat ketika mendekati Belinda. Ia seperti akan mengucapkan sesuatu, namun sedetik kemudian ia berubah pikiran. Ia menutup mulutnya kembali dan meneruskan langkah.


Alana menunggu beberapa saat hingga sosok Benjamin tidak lagi terlihat.


"Apa? Kenapa menatapku begitu?"


Belinda menyipit, namun merapatkan bibirnya.


"Tidak mau bicara? Ya sudah." Alana melangkah lagi. Ketika mendekati Belinda ia berhenti.


"Sudah tidak tahan mau pergi ya? Suamimu saja masih di atas kan?Ck!"


Karena Belinda masih diam saja, Alana mengembuskan napas panjang. "Hufhhh ... semua Antolini memang keras kepala, kalian sungguh menguras kesabaran," ucapnya kesal. Ia kembali melangkah pergi meninggalkan Belinda.


"Kau gembira sekali bukan? Bahagianya dirimu ... meski tidak ada sedikitpun darah Antolini, kau lebih terlihat sebagai putri Belardo, juga adik Benjamin daripada aku."


Alana dengan cepat berhenti mendengar kalimat itu, lalu berbalik melihat Belinda. Ia hanya berhadapan dengan punggung wanita itu.


"Begitukah? Berarti aku berhasil. Aku sudah terlihat sebagai anggota keluarga Antolini."


Alana mendengar suara seperti tercekik.


"Kenapa? Ada masalah? Kau sudah melepaskan keluarga ini kan? Apa kau bahagia sudah melakukannya?"


"Tentu saja!"


"Kalau begitu Ayah Belardo hanya punya satu orang putri! Aku! Alana! Benjamin hanya punya satu adik perempuan! Aku! Alana! Tidak ada lagi Belinda! Katakan aku benar!"


Hening. Alana menunggu, setelah beberapa saat tetap tidak ada suara dari Belinda.


"Berbalik! Tatap wajahku dan katakan aku benar!"


Alana melihat kedua tangan Belinda terkepal erat, namun wanita itu tidak juga berbalik. Beberapa orang terlihat akan mendekat ke arah mereka menuju pintu utama kantin. Alana berdecak dan akhirnya mendekati Belinda, menarik pergelangan tangan wanita itu dan menyeretnya pergi ke sudut sebuah koridor yang tampak sepi. Sebuah kursi panjang ada di sana. Alana duduk di ujung kursi dan menunjuk ujung lainnya agar Belinda duduk. Namun Belinda bergeming. Memilih berdiri, di dekat dinding di seberang Alana sambil mengelus pergelangan tangannya yang terasa sakit karena ditarik oleh gadis itu.


"Sejak awal memang itu tujuanmu kan. Kau dan ibumu itu! Ingin menguasai keluarga Antolini!"


"Ah, akhirnya kau menemukan suaramu!"


"Kau dan ibumu, memang itu yang kalian incar. Menguasai seseorang yang akan menjamin hidup kalian!"


Alana tertawa mengejek. "Aku tidak akan munafik, Bel. Aku tidak akan merendahkan apapun usaha ibuku untuk keluar dari kesulitan hidup! Termasuk menggoda Ayah Belardo agar menikah dengannya! Dan ya, hidup kami terjamin setelah ibu menikahi ayahmu!"


Belinda mengeraskan rahangnya. "Kalian melakukan apapun untuk mendapatkan harta!"


Tawa Alana terdengar melengking. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Ck, ck, ck ... Belinda ... kau memang benar-benar tidak mengenal ayah dan kakakmu ... tapi wajar saja ... mereka mengisolasi dirimu di pulau itu begitu lama. Kau tidak tahu apapun!"


"Apa maksudmu!"


"Bagi Belardo Antolini, aku hanyalah anak tiri! Tidak ada darahnya dalam tubuhku ini. Aku anak pria lain yang dibawa oleh istrinya. Tidak akan ada bagian harta apapun untuk Alana! Tapi itu tidak masalah ... aku punya cita-citaku sendiri. Dan untuk mencapainya , aku membutuhkan orang tua itu! Aku tidak malu mengatakan, aku akan melakukan apa saja yang ia perintahkan!"


"Baik sekali hatimu ... tidak mendapatkan apapun, tapi masih mengurus ayah yang sakit itu dengan penuh perhatian. Kau masih terus berusaha melunakkan hatinya kan."


"Ya! Karena dia memberiku makanan enak, pakaian bagus, tempat tinggal mewah, bahkan mobil yang siap mengantarkan aku kemanapun! Ia juga berjanji, akan membayar semua pendidikanku sampai selesai! Sampai aku jadi seorang dokter yang hebat dan mampu menghidupi diriku sendiri! Bagi orang yang hanya makan roti kering dua kali sehari dan masih memakai pakaian yang bahkan sudah kekecilan, itu sudah sangat berlebih!"


Belinda terdiam. Alana kembali berbicara cepat.


"Terkejut? Apa yang kau tahu tentang keluargamu, Bel? Tidak ada ... aku tidak menyalahkanmu ... Monster dingin itu mengisolasi dirimu di pulau ladang jagung. Begitu takut ibu tiri dan saudara tirinya yang masih kecil akan menganggu dan membuat adik kesayangannya menangis. Dua perempuan yang haus harta dan selalu berusaha menjilat ayahnya, "Alana tertawa kering sebelum melanjutkan, tahu dengan pasti bagaimana anggapan Benjamin terhadap ia dan ibunya, "padahal tanpa kami ganggu pun, kau memang suka menangis dari dulu! "


Belinda hanya menelan ludah, semua kata-kata Alana terasa seperti membentur setiap bagian dari dinding kepalanya. Membuat kepalanya terasa berdenyut.


"Apalagi sejak Ayah menikahi Athena, hanya untuk menunjukkan pada Ben siapa sebenarnya wanita itu! Sikap dingin Benjamin makin menjadi! Dia berpikir bertambah satu lagi ular di dalam mansion. Dia mulai pergi dari tempat itu, mengamankanmu di pulau, pikirnya telah memenuhi kewajiban untuk mengurus dirimu. Pria bodoh itu malah menbuat kau makin jauh dari ayah dan dirinya." Alana tertawa lagi.


Setelah mengatur napas dan emosinya sendiri. Alana kembali berucap. "Aku iri padamu sejak awal. Ayah begitu memperhatikan setiap kebutuhanmu. Kau punya pelayan pribadi! Aku pernah mendengar ia bertanya pada Sienna soal gaunmu! Gaun! Yang bisa di selesaikan dengan mudah oleh Sienna! Ia bertanya apa Belinda memakainya? Apa Belinda menyukainya!?" Mata Alana menatap ke atas, menerawang mengenang masa lalu.


"Tentu saja ia juga mengurus kebutuhanku dan Ibu. Tapi ia cukup berkata, urus saja, Maurice! Tidak perlu bertanya!"


Belinda merasa kakinya goyah, ia menyandarkan punggungnya ke dinding.


"Benjamin sama saja, sama dinginnya dengan Ayah. Apapun yang kulakukan, tidak dapat menarik perhatiannya. Aku punya kakak untuk pertama kalinya, aku ingin ia lebih memperhatikaku daripada dirimu ... aku mendekatinya terus menerus, meski sama saja hasilnya, selalu ditolak." Alana kemudian terkekeh, memegang mantel dan menarik kedua sisi untuk merapatkan ke tubuhnya.


"Dia akan menatap tajam dan kejam, seolah-olah akan menggigit! Sikapnya kasar dan tidak perhatian sama sekali. Diam dan menurut adalah cara terbaik menghadapi mereka. Tapi waktu membuatku mengerti ... begitulah adanya sifat Antolini ... Ayah, Ben ... bahkan kau, Bel."


"Ben memberimu mantelnya ...," bisik Belinda.


Alana menunduk, menatap mantel yang ia pakai.


"Ya."


"Dia menyukaimu sejak kau datang. Dia tak pernah berdansa denganku, tapi dia mau berdansa denganmu. aku ingat .... dia menari denganmu ketika-


"Kau tidak mengenal Benjamin, Bel. Bukan berarti aku telah mengenalnya. Tapi kalau soal berdansa, pria bodoh itu tidak bisa melakukannya. Dia akan menginjak kaki pasangannya terus menerus! Aku yakin gadis yang ia ajak berdansa, kakinya akan membengkak sesudah menari dengannya!" Alana terbahak, "kau kira kenapa dulu ia mau menerima ajakanku berdansa? Karena ia sengaja mau menginjak kakiku! Tapi dulu aku gadis kecil yang gigih, aku terus saja melakukannya meski ia terus menginjakku," Alana mendengus keras.


Alana dan Belinda saling bertatapan. Melihat sisi lain wajah masing-masing untuk pertama kalinya.


"Ayah diketahui sakit dan harus rutin minum obat dari dokter bagian jantung tidak lama sebelum kau dan Verga dijodohkan," ucap Alana, menjelaskan tanpa diminta. Ia tahu Bel tidak mengetahui apapun tentang hal tersebut.


"Mungkin dia berpikir tentang kematian, ia tidak ingin meninggalkanmu tanpa ada seorang suami penyayang yang akan melindungimu. Kau tidak suka kakakmu, jadi dia tidak akan tenang kalau kau hanya ditinggalkan pada Ben."


Belinda menjadi pucat. "Mak-maksudmu ... Ayah ... dia ...."


"Oh, dia akan baik bila tidak keras kepala dan meminum obatnya dengan teratur, lalu mengurangi pekerjaannya. Mungkin setelah ini Ben akan mulai berpikir untuk mengambil alih penuh semuanya ... ayah seharusnya tidak lagi terlalu terbebani dengan pekerjaan. Untung aku ada di rumah saat ia pingsan ... kalau tidak ... entahlah ... ibu cuma bisa menjerit dan menangis saja! mungkin dia takut jadi janda lalu dibuang oleh Ben, " ucap Alana sambil terkekeh.


"Kau ... dan ibumu ...."


"Aku sudah diterima di fakultas kedokteran, Bel. Masih tahap awal, tapi setidaknya aku sudah tahu harus melakukan apa ketika menemukan ayah pingsan."


Alana menarik napas panjang. ia melihat Wajah Belinda masih pucat, sinar mata wanita itu terlihat bingung dan juga terkejut.


"Kau tahu kenapa aku mendapatkan mantel ini? Karena aku tidak menyerah sepertimu, Bel. Saat remaja, kau berhenti berharap, berhenti meminta perhatian, kasih sayang atau cinta dari mereka, tapi aku tidak. Bahkan sampai saat ini, aku masih melakukannya. Seperti perkataanmu tadi, kami melakukan apapun. Aku dan ibu ... silakan saja kalau kau mau mengatakan kami mengurus ayah hanya agar mendapatkan sesuatu. Bagi kami ... ketika kami mengurusnya, setidaknya ayah balik mengurus kami! Ibuku bisa menangis berhari-hari bila kembali tidur di kamar sempit rumah sewaan seperti dulu saat ia belum menikah dengan ayah. "


Belinda menunduk, bersedekap memeluk dirinya sendiri, rambutnya terurai menutupi bagian pipi.


Alana bangkit, lalu mulai melangkah pergi.


"Aku naik duluan," ucapnya sambil terus melangkah meninggalkan Belinda.


Belinda berjalan menuju kursi, duduk bersandar memandangi dinding putih di depannya, matanya menerawang, pikirannya memutar slide demi slide kehidupan yang sudah ia lewati.


...Anak pelayan .......


Kata itu kembali bergaung di benak Belinda.


NEXT >>>>>>


**********