Belinda

Belinda
19. Shock part 2



Ella tidak terlalu menikmati perjalanan meninggalkan Mansion Evander. Ketakutan masih mengelilinginya ketika melewati deretan pepohonan dalam gelap malam. Meski Evander menyediakan pengawalan selama mereka menuruni bukit Copedam, namun Ella tidak bisa merasa tenang.


Makan malam di Mansion Evander tidak terlaksana. Benjamin dan Ella meminta maaf karena tidak bisa berlama-lama di tempat itu. Ella ingin segera pergi. Lagipula ia kehilangan selera makannya.


"Kemana kita akan pergi?"


"Copedam."


"Aku tahu itu. Maksudku tempatnya. Bisa carikan aku hotel yang aman?"


Benjamin tidak menyahut. Ia sudah punya rencana sendiri kemana akan membawa wanita itu.


Ella memejamkan matanya selama sisa perjalanan. Ia bersandar dan menolehkan kepala ke arah Benjamin. Tidak menyadari kalau ia sudah tiba dan mobil sudah berhenti ketika suara Benjamin dan sentuhan di lengan membuatnya terjaga.


"Apa aku tertidur?"


"Mungkin saja, kau pasti lelah. Ayo kita turun dan selesaikan pemeriksaan bahumu agar kau bisa beristirahat."


Ella menoleh ke arah luar dan menyadari mereka sudah berhenti di depan sebuah klinik.


"Ini bukan rumah sakit. Tempat ini milik temanku. Ayo ...."


Ella kehilangan semangat untuk berdebat. Ia ingin semuanya selesai sehingga bisa cepat menemukan tempat tidur.


Teman yang disebut oleh Benjamin adalah seorang dokter dan ia sudah menunggu. Segera setelah melihat Benjamin, pria tersebut memulai pemeriksaan menyeluruh pada Ella. Sekali lagi bahunya dibuka dan diperiksa. Kali ini memarnya sudah semakin terlihat pekat. Hasil foto yang diminta oleh Benjamin menunjukkan tidak ada tulang yang retak.


Ella melihat Benjamin mengembuskan napas panjang setelah temannya menyebutkan hasil pemeriksaan. Ella tidak tahu apakah itu pertanda bahwa Benjamin merasa lega.


Ella tahu kalau Ben menyetujui untuk ikut mengawasi dan menjaganya karena permintaan Verga. Sejak awal pria itu pasti mengawasi dari jauh dan hanya memantau lewat anak buahnya. Jika hari ini dia ada di sini, itu karena Ella sudah melemparkan tantangan pada pria itu. Dan Ella bersyukur atas sikap impulsifnya tersebut. Ia bersyukur Ben ada di sini.


"Sudah selesai. Ini, minum ini, Nona. Kuharap rasa sakitmu berkurang."


Ella menerima obat dan juga sebotol air. Tanpa bertanya ia segera meminum pil tersebut.


"Ayo ...." Benjamin melepas jas dan mengenakannya ke bahu Ella. Mereka sama-sama berdiri dan melangkah keluar dari ruangan. Di depan pintu, Snow telah menunggu.


"Snow, bawa dia dan tunggu di mobil," perintah Ben.


Setelah Ella pergi, Benjamin kembali menoleh ke arah temannya. "Bisakah kau memberinya lebih banyak penahan rasa sakit seperti tadi?"


"Yang tadi cuma extra. Dia bukan hanya kesakitan, tapi juga ketakutan dan syok ... aku akan memberikan obat lain padamu."


Ben menunggu temannya menyiapkan obat.


"Bukankah wanita tadi bintang film?" tanya sang dokter.


"Kau mengenalnya?"


"Siapa yang tidak tahu wajah cantik itu? Semua orang menantikan film terbarunya."


"Ya ...."


"Kau jarang membawakanku pasien wanita. Seingatku ... ini yang kedua dalam jarak waktu beberapa bulan. Kau tidak ingin orang tahu dia terluka? Karenanya kau membawanya ke sini, bukan ke rumah sakit? Ini hanya klinik kecil."


"Dia yang tidak mau ke rumah sakit. Aku harus memastikan bahunya tidak apa-apa. Lagipula, klinik kecil atau apapun sebutanmu, kau bisa mengoperasikan alat apapun dan memeriksa apapun semaumu di sini."


Benjamin menatap datar ketika temannya tersebut terkekeh. Ia mengambil sesuatu yang diulurkan dokter tersebut.


"Suruh dia minum ini. Kau semakin unik, Black. Kemarin istri pemabuk, sekarang bintang film papan atas. Entah besok wanita seperti apa yang akan kau bawa ke pintuku."


Benjamin mengabaikan ucapan temannya dan hanya melambai sambil menutup pintu.


Ketika duduk di bagian belakang mobil. Ben menyerukan tempat yang akan mereka tuju.


"Mansion Antolini!"


Snow yang duduk di bagian depan berpandangan dengan supir. Snow mengira mereka akan pergi ke apartemen pria itu. Bukan ke Mansion keluarganya. Namun mereka tidak membantah, segera mobil melaju menuju tempat yang Ben perintahkan.


Daniella merasa amat lelah. Ia mengerutkan kening mendengar perintah Ben.


"Kenapa tidak ke hotel saja? Sudah malam, aku akan mengganggu keluargamu."


Sekali lagi tidak ada jawaban dari Benjamin. Pria itu hanya merapatkan jas di depan tubuh Ella. Lalu merangkul bahunya dan sekali lagi memberi perintah. "Tidurlah. Kau lelah."


Daniella benar-benar tertidur dan tidak tahu kapan mereka tiba di Mansion Antolini.


Belardo dan Maurice yang bersantai berdua di ruang musik membelalak tidak percaya ketika seorang pelayan memberitahukan tentang kedatangan Benjamin.


Mereka bergegas keluar dan menemukan Benjamin sedang bicara dengan dua orang pelayan wanita.


"Ben? Ada apa?"


Belardo saling berpandangan dengan Maurice.


"Siapa tamunya, Ben?" tanya Maurice kebingungan.


Dari lantai atas, Alana yang mendengar suara-suara dari bawah ingin tahu apa yang terjadi. Ia melihat ayah dan ibunya sedang bicara dengan Ben.


"Daniella Dolores. Sepupu Verga."


Keheningan tiba-tiba mewarnai aula depan Mansion Antolini. Maurice membelalak dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sedangkan Belardo mengangkat alis terkejut dengan nama yang baru saja disebut Benjamin.


"Well ... Maurice? Apakah kau akan membantu menyiapkan kamarnya atau aku harus membawanya ke hotel saja?"


"Uh-tentu saja tidak. Tunggu ...." Maurice bergegas meninggalkan tempat itu. Ia dengan cepat memeriksa hasil pekerjaan pelayan yang menyiapkan kamar tamu.


Belardo melangkah menuju beranda Mansion. Ia melihat Snow yang segera menganggukkan kepala dan menyapanya.


"Selamat malam Tuan Belardo."


"Bukankah kau Snow?"


"Ya, Tuan."


"Sudah lama sekali tidak pernah melihatmu. Bukankah kau di Byork?"


Snow melirik ke arah Benjamin yang telah berdiri di dekat ayahnya.


"Aku yang memanggilnya, Ayah ...."


Belardo tidak berkomentar. Seorang pelayan wanita kemudian datang memberitahu kalau kamar tamu sudah siap.


Benjamin segera berjalan menuju mobil, Snow mengikutinya setelah menganggukkan kepala tanda pamit pada Belardo.


"Kita akan membangunkannya? Atau bagaimana, Bos?"


Benjamin membuka pintu, dengan pelan dan hati-hati ia mengulurkan tangan dan mengangkat Daniella.


"Beristirahatlah, Snow," ucap Ben tanpa menoleh.


"Baik." Snow mengangguk. Lalu kembali masuk ke sebelah supir dan segera memindahkan mobil mereka dari depan Mansion.


Belardo mengikuti dalam diam ketika Benjamin membawa masuk Daniella dalam gendongannya. Kedua bola mata wanita itu terpejam rapat seperti tertidur nyenyak. Pada bagian kakinya yang tidak tertutup gaun Belardo melihat gores kemerahan.


Di puncak tangga, kepala Alana mengikuti ketika Benjamin melewati aula depan dan membawa Daniella ke kamar tamu terdekat. Berulang kali ia mengedipkan matanya seolah tidak percaya dengan sosok Ben yang memakai kemeja merah dan menggendong seorang wanita.


"Letakkan dia pelan-pelan." Maurice membantu membukakan selimut, lalu menarik lepas jas dari bahu Daniella. Ia mendesis ketika melihat lecet dan goresan di kaki Daniella.


"Bisa kau bantu membuka gaunnya, Maurice? Bahu kirinya memar. Sebisa mungkin jangan digerakkan."


"Bagaimana mungkin tidak digerakkan?" Maurice memeriksa dengan menarik sedikit ujung gaun. Ia kembali mendesis.


"Apa yang terjadi? Memar itu ... lalu kenapa ia diam saja, tidak bergerak? tidur tapi seperti baru saja dibius?"


Benjamin membuka semua laci. Seperti mencari-cari sesuatu.


"Apa yang kau cari?"


Maurice melihat Ben mengeluarkan sebuah gunting. Pria itu lalu menggunting bagian lengan hingga bahu gaun Ella.


"Sekarang kau bisa menariknya, Maurice. Gunting saja kalau perlu! Ganti gaunnya, lalu tinggalkan dan biarkan dia tidur."


Maurice membelalak, lalu segera mengulurkan tangan meminta gunting di tangan Ben.


"Pergilah. Temui ayahmu. Aku akan mengurus ini."


Benjamin mengangguk, memberikan gunting dan melirik ke wajah Ella yang terpejam. Lama ia menatap, lalu setelah satu tarikan napas panjang ia berbalik dan pergi meninggalkan kamar.


NEXT >>>>>>


*********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.