Belinda

Belinda
11. Invitation



Alana mengulas senyum ramah pada seorang security yang berjaga di pintu masuk gedung apartemen yang ditinggali oleh kakaknya. Pria paruh baya tersebut balas tersenyum.


"Selamat sore, Nona Antolini."


"Selamat sore. Aku membawa ini untuk kakakku," ujar Alana sambil memperlihatkan sebuah box yang ia bawa.


Security tersebut mengangguk dan menyilakan Alana lewat. Gadis itu kadang datang ke apartemen atas suruhan ibunya, mengantarkan makanan yang dimasak oleh koki Mansion bersama Maurice. Maurice mengatakan agar Alana memastikan Benjamin menerima kirimannya itu dan membisikkan pada putrinya agar jangan lupa melihat-lihat. Alana tidak perlu diperintah, tanpa disuruh ibunya pun ia memang berniat melihat-lihat dan sedikit memeriksa sarang kakaknya itu secara berkala ketika memiliki kesempatan. Kesempatan yang dibuat dan diciptakan oleh Maurice.


Sejujurnya Alana memang ingin tahu tentang kehidupan pribadi kakak tirinya itu. Untuk mengetahui itu, ia perlu menginvasi tempat tinggal Ben, karena mendekati Ben secara langsung sedikit melelahkan. Pria itu lebih sulit dari ayahnya. Belardo yang sudah tua lebih banyak melunak dan lebih terbuka serta menyenangkan.


Sejak pertama kali berkunjung ke apartemen Ben bersama ayah dan ibunya, Alana sudah diizinkan oleh ayahnya untuk berkunjung dan menengok kakaknya itu sesekali. Ucapan yang anehnya tidak ditentang oleh Benjamin. Jadi Alana meminta kode kunci apartemen Ben dan benar-benar berkunjung, meski sebagian alasan kunjungannya itu diciptakan oleh sang ibu. Tapi Alana memanfaatkannya dengan baik, lagipula ia punya alasan lain yang membuatnya sangat suka mengunjungi gedung apartemen tersebut. Alasan yang tidak perlu diketahui oleh siapapun.


Alana tiba di depan pintu dan segera menekan kode kunci. Segera setelah pintu terbuka, ia masuk dan meletakkan tas ranselnya di atas sofa hitam di ruang tamu. Gadis itu lalu menuju ke arah dapur sambil membawa box makanan kiriman ibunya.


Setelah meletakkan box tersebut ke atas meja makan, Alana memulai rutinitas yang biasa ia lakukan ketika berada di apartemen Benjamin. Ia memeriksa kulkas, hanya ada minuman dingin, bir, sari buah kemasan. Apa yang sudah ia isi ke sana minggu lalu sudah habis. Seluruh buah, puding, juga biskuit. Di freezer Alana melihat persediaan bahan beku masih tidak disentuh.


"Kau harusnya beristri! Agar ada yang memasak untukmu dan menunggumu pulang setiap hari. Bukannya membuat Ayah selalu mengkhawatirkanmu! Benda-benda itu akan terus jadi batu di dalam sana ...."


Alana menutup pintu kulkas, lalu ia segera kembali menuju ruangan tamu. Ia memutar musik dari peralatan yang ada di sudut ruangan. TV yang ada di sana juga dihidupkan, suaranya bersahut-sahutan dengan suara musik.


Alana tersenyum, senang dengan kebisingan yang tiba-tiba memenuhi ruangan tersebut. Ia berjalan menuju tangga, menapak langkah demi langkah menuju lantai dimana kamar Benjamin berada. Ketika memutar gagang pintu kamar Benjamin, Alana menyeringai. Tetap terkunci.


Benjamin Antolini mungkin mengizinkan keluarganya masuk ke apartemennya, tapi tidak ke kamarnya. Alana mendongakkan kepala, menatap ke arah sudut langit-langit. Memasang seringai menjengkelkan, lalu dengan sengaja menjulurkan lidah. Ia mengangkat jempol dengan cara terbalik, tahu pasti aksinya itu terekam kamera, sebelum akhirnya suara bel pintu yang berbunyi membuatnya kembali turun ke ruang tamu.


Alana mengintip lewat kaca kecil di tengah pintu. Kedua matanya bersinar gembira.


"Halo? Ben? Kau sudah pulang!?" seru tamu tersebut.


Alana membukakan pintu dan tersenyum ramah. "Hai ... mmm, kakakku belum pulang."


Pria yang ada di depan pintu tampak terkejut, lalu kerutan segera menghiasi keningnya. "Aku mendengar suara ... kukira Benjamin yang pulang."


"Mmmm ... aku datang mengantarkan kiriman Ibu. Kau mau masuk? Ben sebentar lagi mungkin akan datang," ucap Alana sambil melirik jam tangannya.


Pria tetangga apartemen di seberang Ben itu menggelengkan kepala, menolak dengan sangat tegas. "Tidak. Aku cuma mau menyampaikan surat ini. Tadi ada tamu, sepertinya kenalan Ben. Karena Ben tidak ada dan telepon darinya tidak diangkat oleh Ben, ia pulang setelah menitipkan pesan ini padaku."


Alana melepas tangannya dari pintu dan mengambil surat tersebut. pesan yang dimaksud dimasukkan ke dalam amplop tertutup. Sepertinya memang sudah disiapkan oleh pengirimnya.


"Ini ... pengirimnya laki-laki atau wanita?"


"Wanita."


"Bisa sebutkan ciri-cirinya?" Alana menatap penasaran ke arah tetangga kakaknya itu.


"Berikan saja surat itu pada kakakmu, Nona Antolini. Ben pasti tahu dari siapa surat itu. Itu saja." Nada yang diucapkan tegas dan datar.


Melihat pria itu mau berbalik dan akan pergi kembali ke pintu apartemennya, Alana menggapai dengan cepat dan menarik kaos tipis yang dikenakan pria tersebut. Suara robekan terdengar melengking bagaikan letusan senapan di telinga Alana. Dengan panik ia melotot melihat kaos yang robek tersebut telah memperlihatkan sisi bagian pinggang atas.


"Apa yang kau lakukan!?"


Suara jengkel berupa geraman tersebut, membuat Alana yang terpaku menatap kulit kecoklatan dibalik kaos robek akhirnya mendongak. Ia terkejut melihat sorot marah, meremehkan dan Alana mendapati tatapan jijik yang diarahkan pria itu padanya.


"Ian? Alana? Kenapa kalian berdiri di depan pintuku?"


Alana menoleh, lalu menggigit bibir melihat kedatangan Benjamin.


Benjamin melihat ke arah jari Alana yang masih memegang ujung kaos Ian.


"Apa yang kau lakukan, Lana?" tanya Benjamin. Menatap dengan kedua alis terangkat ke arah adiknya yang tampak mulai panik. Secepat kilat tangannya dilepas dari kaos Ian dan ia mengangkat kedua tangan di depan dada sambil digoyangkan ke kiri dan kanan berulang kali.


"Itu pesan untukmu, Ben. Seorang wanita menitipkannya untukmu." Ia melambai tanda pamit, mengabaikan Alana dan melangkah pergi ketika suara Ben menghentikannya.


"Tunggu, Ian ... Alana ... kau belum minta maaf," ucap Benjamin datar. Dalam hati heran melihat sikap adiknya yang terlihat seperti tidak percaya diri. Ia juga melihat tatapan jengkel dan muak di kedua mata Ian.


Ian menatap Alana. Menunggu.


"Mmm ... maafkan aku. Sungguh. Aku tidak sengaja."


Ian hanya mengangguk, lalu pergi tanpa menoleh.


"Ian! Kaosmu ...." Benjamin berhenti bicara ketika melihat Ian hanya melambaikan tangannya.


"Kau kenapa? Bukannya meminta maaf malah mencela kaosnya ... kau yang salah menarik benda itu hingga robek."


Alana mengembuskan napas panjang. "Aku memang memuakkan ...."


"Kau baru menyadarinya?" ejek Benjamin.


Alana yang kesal langsung berbalik, setengah berlari masuk ke apartemen Benjamin sambil memegang surat seolah akan merobek dan membukanya di depan Benjamin.


Tidak ada reaksi atau pelototan mata. Kakaknya itu melihat dan tidak peduli. Hingga dengan berani Alana merobek dan mengintip isi surat.


"Kelancangan khas Alana sudah kembali," sindir Ben. " Mau apa kau ke sini? " tanya Benjamin tanpa peduli pada surat di tangan Alana yang sudah dibaca oleh gadis itu.


"Kau tidak penasaran dari siapa?"


"Tidak." Benjamin tidak peduli dari siapa surat itu. Karena Ian sudah mengatakan dari seorang wanita, sedang ia tidak punya urusan dengan wanita manapun sekarang ini, kecuali satu yang telah menantangnya dua minggu lalu dan wanita itu tidak mungkin datang ke apartemennya.


Alana meletakkan surat di atas meja tamu, mematikan musik dan TV, lalu mengangkat ranselnya dari atas sofa dan menunjuk ke arah dapur.


"Aku meletakkan makanan kiriman Ibu di sana. Tinggal dipanaskan. Atau dimakan langsung juga bisa."


Benjamin tidak menyahut. Ia membuka jasnya perlahan sambil mengecek ponsel, seolah tidak mendengar kata-kata Alana.


Alana berdecak. Merengut sambil berjalan pergi menuju pintu.


"Seperti biasa, Ben! Kata Ibu makanannya tidak diberi racun, meskipun ia ibu tiri. Jadi tenang saja. Aman dimakan!" jerit Alana sambil berlalu. "Dasar dingin! Pantas saja cuma wanita itu yang mau!" Ia menoleh sebentar ke arah ujung, melihat sebuah pintu tempat Ian Cassimira tinggal. Seorang dokter yang sepertinya sangat tidak menyukai dirinya.


Setelah langkah Alana menjauh, barulah Benjamin bangkit. Ia tersenyum geli sambil menutup pintu. Maurice dan Alana selalu punya cara membuat dirinya tersenyum.


Ketika berbalik, mata Benjamin melihat surat yang tergeletak di atas meja. Ia berjalan dan mengambil surat itu.


Sebuah undangan. Benjamin membaca waktu dan tempat, lalu sorot matanya menyipit melihat ukiran nama di bagian bawah. Sekarang ia mengerti arti komentar terakhir Alana sebelum pergi tadi.


Athena ....


**********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.