Belinda

Belinda
50. Approval



Daniel menyipitkan mata melihat sosok pria yang berjalan perlahan memasuki restorannya.


Pakaian yang rapi dengan sikap tubuh yang gagah membuat beberapa kepala menoleh ketika pria itu lewat.


Daniel meletakkan botol minuman ke atas meja, lalu menepuk bahu pelanggannya yang segera meraih gelas berisi minuman.


"Aku pergi dulu, selamat menikmati minumanmu, Kawan." Daniel berbalik meninggalkan meja dan kembali ke rak minuman, menyibukkan diri seolah tidak melihat tamu yang baru datang.


"Tuan, tamu Anda," ucap seorang karyawan yang ada di dekat Daniel.


Daniel menoleh, lalu melirik ke arah luar meja konter. Benjamin Antolini tengah menatapnya dengan tatapan datar.


"Datang kemari tidak akan memuaskan keinginanmu, Benjamin. Daniella tidak ada di sini."


Benjamin mengangguk, lalu menerima gelas yang di sodorkan oleh karyawan Daniel. Dalam beberapa minggu ini, ia cukup sering datang hingga pelayan pria tersebut cukup hapal apa yang akan ia pesan.


"Biar aku tuang minuman untukmu," ucap Daniel sembari mengambil alih tugas karyawannya, "jika maksud kunjunganmu adalah untuk menemuinya, maka kau membuang waktu," tambah Daniel.


"Saya menghormati keinginan Anda, Tuan Daniel. Saya menjauh sesuai yang Anda katakan."


Daniel menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Benjamin.


"Kunjunganmu kemari dibahas di setiap kesempatan." Daniel mendengus kecil, "berita kau dan Daniella membuat filmnya yang akan tayang semakin viral ... Ella diburu wartawan bukan hanya tentang syuting filmnya yang sudah selesai, namun lebih kepada pertanyaan tentang hubungan pribadinya dengan pewaris Antolini. Berita kunjungan dan kehadiranmu di Copedam Hill saat pembuatan film Ella, bahkan foto kau menggendong Ella yang dipublish waktu itu masih hangat hingga sekarang ... walaupun sudah berminggu-minggu."


Benjamin mengangguk.


"Wartawan menanyaimu juga?"


Benjamin kembali menganggukkan kepala, lalu mengangkat gelas dan menyesap minumannya.


"Habiskan minumanmu, lalu pergilah, Benjamin. Jangan menambah bumbu gosip yang sudah beredar."


"Daniella ...." Benjamin berdeham. Ia bisa saja menemui Ella langsung tanpa sepengetahuan Daniel. Namun Bernie pasti akan memberitahu Daniel, juga pengawal pribadi baru yang disewa Daniel untuk menjaga Ella setelah syuting di Copedam Hill selesai. Ben tidak mau Daniel mengira ia tidak menghormati keinginannya.


"Daniella sehat, baik, dan juga cukup sibuk. Pekerjaan baru menantinya ...."


"Senang mendengarnya," ucap Benjamin sambil menjauhkan gelas.


"Ella cukup sibuk, sehingga sama sekali tidak terganggu dengan gosip-gosip. Harinya kembali seperti semula ... kuharap kau juga begitu. Waktu dan juga jarak membuat kalian bisa melihat semuanya dengan pikiran lebih jernih. Setidaknya itu yang terjadi pada Ella ... setidaknya ia bisa memikirkan ulang lamaranmu. Mempertimbangkannya lagi dengan seksama sebelum melanjutkan."


"Entahlah ... yang pasti saya tidak berubah pikiran, Tuan Daniel. Saya masih menginginkan putri Anda. Dengan restu Anda tentunya."


Daniel menuangkan kembali minuman ke dalam gelas Benjamin yang segera di habiskan dalam sekali teguk oleh Ben.


"Saya pamit sekarang ... terimakasih minumannya ... Anda ... belum berubah pikiran tentang restu?"


Daniel menggelengkan kepala. "Keputusanku masih tetap sama ...


Benjamin mengangguk, lalu bangkit dari tempat duduknya dan berbalik.


"Satu lagi, Benjamin ...."


Benjamin menoleh dan menatap Daniel.


Benjamin tidak menjawab, menganggukkan kepala sekali lagi, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


**********


Daniella menatap Miranda yang gelisah, berulang kali wanita itu meremas tangan dan menghapus air matanya yang tidak mau berhenti mengalir.


"Aku minta maaf ...sungguh-sungguh minta maaf. Aku memang jahat ... aku ... sungguh iri padamu ... kau begitu berbakat, cantik, juga terkenal ... aku mohon, maafkan aku ...."


Ella mengembuskan napas panjang. Ia menatap Hector dan Felix yang memandang kasihan pada Miranda.


"Aku menahan diri memperkarakan dirimu karena pekerjaan kita akan sia-sia jika berita viral tentang aksi busukmu diketahui media sebelum filmnya tayang. Kau pemeran utama, orang-orang akan memandang sebelah mata ... padahal prospek filmnya sangat bagus." Hector menatap sangat tajam pada Miranda, "Tidak ada yang tahu kecuali orang-orang Tuan Antolini dan kami. Tapi ... jika aku membuka mulut pada sutradara kita ... dipastikan karirmu di bidang ini berakhir, Miranda."


"Jangan. Aku mohon jangan, Hector. Aku ... aku tidak bermaksud melukaimu. Karena iri pada Ella, aku spontan ingin menghentikanmu waktu itu."


Felix menarik napas panjang, kasihan melihat temannya yang menangis terisak-isak. Ia mengulurkan tisu.


"Padahal ... jika kau menjadikan semuanya teman, akan lebih baik bagimu, Miranda ...," ucap Felix.


Miranda tertunduk, mengambil tisu dari Felix dan menghapus air matanya.


"Aku bersyukur kepalaku tidak apa-apa, tapi kau tidak bisa lolos begitu saja, Miranda. Tidak bisa selesai hanya dengan kata maaf!"


Miranda membersit hidung, lalu menatap Hector. "Apa yang harus kulakukan agar kalian memaafkan aku?"


Hector tersenyum, lalu melirik Ella. "Itu tergantung Ella. Mau kau apakan gadis jahat ini, El?" tanya Hector. Sejak ia bangun dari pingsan di malam kejadian Ella diculik, sikap Ella padanya berubah drastis. Ella mulai mau berteman dan mengobrol dengannya. Namun dibalik sikap baik dan ramah itu, Hector merasakan batasan yang dibuat Ella untuknya. Batasan bahwa ia bersedia dekat, namun hanya sebatas teman.


Hector pun membatasi diri setelah berita viral kedekatan Ella dengan pewaris Antolini menyebar. Rasa sukanya pada artis itu sepertinya tidak berbalas. Ella sejak awal sudah tertarik pada Benjamin Antolini.


Daniella mendekatkan botol air mineral ke hadapan Miranda.


"Minumlah dulu ...."


Setelah Miranda minum beberapa teguk, Ella melanjutkan perkataannya. "Karirmu tidak akan naik jika kau masih menyimpan iri dengki pada orang lain, Miranda. Iri yang mendorongmu melakukan tindakan jahat. Kau bisa berurusan dengan hukum, lalu berakhir di balik jeruji besi. Jika Hector memaafkanmu, maka aku juga akan memaafkanmu. Lagipula penculik saat malam itu tidak ada hubungannya denganmu. Kita fokus saja dengan hasil pekerjaan kita yang sebentar lagi akan tayang. Berharap hasilnya sempurna ... selanjutnya ... kau akan diawasi Miranda ... jadi tahan dirimu ... jangan melakukan hal bodoh kedua kalinya. Karena kali kedua kau melakukannya, akan dipastikan kau akan tersungkur ke dalam lumpur ...."


Daniella melihat wanita yang lebih muda itu menganggukkan kepala berulang kali sambil menghapus air mata di pipinya.


Ella tersenyum pada Felix dan Hector. Dua lagi pria yang telah menjadi temannya.


Akhirnya ... aku punya waktu luang ... membereskan dua pria arogan yang teguh pada pendirian bodohnya masing-masing. Tunggu saja kau Benjamin Antolini! Sekalipun kau tidak pernah menghubungiku sejak Copedam Hill! Baiklah ... aku yang akan datang! Kau mengunjungi Dad secara berkala, menikmati minuman di restorannya, lalu pergi tanpa menemuiku! Apakah kau memang datang ke Byork hanya untuk menemui ayahku!? ... dan Dad ... kali ini aku akan membangkang ... jika kau tidak mau memberi restu, maka aku akan memaksamu memberikannya! Meski terpaksa, kau akan memberikannya, Dad!


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Sepertinya sudah akan menjelang akhir cerita, berapa bab lagi ya kira-kira? Semoga sehat selalu ya Readers Black and DD. Pekerjaan dan kesibukan mengurus keluarga sepertinya membuat cerita ini tamatnya lebih lama dari yang direncanakan. Semoga tidak stuck idea lagi dan bisa selesai hingga tamat. Aamiin.


Jangan lupa likenya, komen, vote, rate dan love. Atas dukungannya otor ucapin terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ