Belinda

Belinda
46. Decide the best



Botol demi botol minuman murahan terus berlanjut mengisi perut Matthew. Pria tersebut duduk di depan perapian. Termenung dengan mata sendu menatap lidah api yang menjilati kayu bakar.


Sesekali ia menoleh ke arah kanan. Mengawasi sosok Daniella yang tergeletak menyamping dan tidak bergerak. Bagian mantel wanita itu menutupi hampir seluruh bagian bawah kakinya.


"Besok pagi, sepertinya aku sudah bisa bertemu dengan Gabrielle, juga Michelle. Aku yakin mereka juga merindukanku. Bersabarlah boneka-boneka cantik. Sebentar lagi Tuan Antolini pasti akan melepaskan kalian." Matthew mendesah mengingat istri dan putrinya yang berusia tiga tahun.


Gemerisik angin yang bertiup di luar rumah jaga pengawas menarik perhatian Matthew. Ia bangkit dari sofa, lalu mendekat ke arah jendela kaca. Mengintip lewat jendela, Matthew tidak melihat apapun selain kegelapan di dalam hutan.


Ia berbalik dan kemudian melangkah ke arah Daniella yang masih meringkuk di lantai dan diam tidak bergerak.


"Dia akan marah sekali ... tapi aku berani menanggung resiko itu demi bisa bertemu dengan Gabyku lagi."


Matthew membungkuk, lalu menyibak rambut Daniella yang menutupi wajahnya. "Sayang sekali kau pingsan, jika tidak, kau bisa menemaniku minum."


Setelahnya ia kembali ke sofa dan memulai kegiatan awalnya sejak Ella pingsan. Membuka sebuah botol minuman dan meneguk kembali.


Dua pasang mata mengawasi rumah penjaga hutan tersebut dari balik sebuah pohon.


Hide menepuk pelan bahu pengawal yang ada bersamanyanya. "Tunggu di sini, sampai Komandan dan yang lainnya tiba."


"Insting Anda benar. Dia membawanya ke rumah yang ini."


Hide mengangguk. Ketika mendapatkan denah tanah Copedam Hill, ia telah mengunjungi beberapa rumah jaga patroli di seputar bukit tersebut. Rumah yang sekarang ia awasi merupakan yang paling jauh. Instingnya sebagai pencari jejak mengarahkannya ke arah rumah itu.


Perlahan tanpa suara Hide mengelilingi rumah. Karena sudah pernah melihat-lihat rumah jaga itu sebelumnya, dengan mudah ia menemukan sebuah pintu di bagian belakang.


Kuharap masih semudah waktu itu, batin Hide sambil mulai mengutak-atik bagian kunci. Sedetik kemudian ia menyelinap masuk. Dengan hati-hati bergerak ke arah depan.


Dari celah pintu yang membatasi dengan ruangan di depannya, Hide mendapati seorang pria duduk membelakanginya di atas sofa tak jauh dari perapian.


Tak salah lagi .... pemabuk itu, batin Hide.


Pria itu berkali-kali mereguk cairan dari dalam botol. Matanya segera mencari-cari sosok lain di dalam sana dan menyadari pria itu sendirian.


Dimana Daniella?


Hide sangat yakin, jejak mobil penyusup dari lokasi syuting mengarah ke rumah itu. Ia juga yakin penyusup itulah yang membawa Daniella.


"Aku tidak bisa lepas dari minuman."


Hide mendengar pria tersebut berkata sebelum kembali menempelkan mulutnya ke bibir botol. Setelah meneguk dengan rakus, ia melemparkan begitu saja botol yang rupanya sudah kosong tersebut ke lantai. Suara benda itu menggelinding terdengar beberapa saat.


"Aku memang pemabuk ... aku tidak bisa lepas dari minuman ... aku tidak sadar ketika memukulinya ...."


Hide mendengar lagi ocehan pria itu. Ia mengawasi lantai, ingin memperkirakan jumlah botol yang sudah tergeletak, namun matanya melihat rambut hitam bertebaran di atas lantai di bagian sudut ruangan.


Jantung Hide berdenyut kencang. Ia tidak melihat bagian lain dari tubuh orang itu.


Rambut itu ... Daniella? Apa dia ....


Hide menelan ludah karena pikiran yang melintas di otaknya sesaat kemudian.


Tidak mungkin dia sudah mati kan?


Hide langsung terbayang sosok Benjamin, tiba-tiba ia meremang ketika membayangkan Benjamin sudah tiba di sana dan mendapati calon istrinya sudah mati.


Pria ini sendirian ... dia punya nyali yang sangat besar mengganggu milik Black. Sepertinya harus kulakukan sendiri ... harus kupastikan pemilik rambut itu masih hidup atau sudah mati.


**********


Benjamin melangkah cepat ke arah seorang pengawal yang menyambut kedatangan mereka.


"Dimana Hide?"


Mata Benjamin mengikuti telunjuk pengawal tersebut.


"Sudah di dalam sana, Tuan."


"Sudah berapa lama?"


"Sekitar tiga puluh menit."


Benjamin menggeram marah. "Sudah selama itu dan kau tidak mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana!?"


Benjamin menoleh ketika merasakan bahunya dipegang dari belakang.


"Jangan berisik, Black," bisik Komandan.


"Bagus. Hide tahu apa yang harus ia laku-"


Ucapan komandan terputus dan ia menunjuk ke arah rumah. Semua mata mengikuti arah telunjuknya. Menatap pintu rumah yang sekarang terbuka. Seorang pria berpakaian hitam keluar dan menatap langsung ke arah pepohonan tempat mereka berdiri.


"Itu Hide," ucap Komandan.


Satu tanda dari tangan Hide memberitahu mereka agar datang. Bersamaan mereka melangkah menuju rumah. Komandan membiarkan Benjamin yang langsung berlari.


"Dimana DD!?" tanya Ben dengan napas memburu. Ia merasa kecemasan yang menguasainya sudah memuncak. Membuat kepalanya bagai diselubungi penutup yang membuatnya kesulitan bernapas.


Jari Hide menunjuk ke arah dalam. Ia membiarkan Benjamin yang langsung berlari ke arah dalam rumah. Ketika Komandan, Snow dan Timmy akan menyusul, ia berucap pelan sambil melangkah ke arah kursi panjang yang ada di depan rumah.


"Lebih baik menunggu di sini," ucap Hide.


Teriakan menyusul makian terdengar dari arah dalam rumah, semua orang saling berpandangan.


"Bagaimana Daniella?" tanya Komandan.


"Nona Ella-" Snow menelan ludah, berhenti mengucapkan pertanyaannya pada Hide.


"Luka bekas pukulan di sini. Pingsan," ucap Hide sambil menunjuk ke arah pipinya.


"Penyusupnya?" tanya Timmy.


Hide menatap Timmy dan menganggukkan kepala. "Perkataanmu benar. Musuh ini mengincar Black. Berkat dugaanmu itu, kita semuanya sudah siap dan dapat memperkirakan siapa dia."


Timmy menganggukkan kepala, lalu tersenyum pada semua rekannya. "Bukan hanya karena perkataanku. Kalianlah yang menyelidikinya."


Derap kaki membuat semua orang menoleh. "Dimana dia!?" tanya Benjamin setengah berteriak.


"Pingsan," jawab Hide.


"Dimana tubuhnya?"


Hide menyipitkan mata. "Daripada mengurusi pemabuk itu, kau pikirkan saja apa yang mau kau lakukan selanjutnya, Black? Sebaiknya kau bawa dia pulang."


Snow menatap atasannya. "Hide benar. Orang tua Nona Ella menunggu. Stanley pasti sangat kesulitan menahan Tuan Daniel."


Komandan menarik napas panjang, lalu pergi ke arah dalam rumah. Benjamin mengangguk ke arah Snow, lalu berbalik masuk mengikuti komandan.


Mereka berhenti di depan sofa panjang. Daniella terpejam dengan kepala beralaskan sebuah bantal. Sebuah perban menempel di pipi kiri wanita itu.


"Sudah lihat lukanya?" tanya Komandan. Ia menoleh dan mendapati Black menggeleng.


"Kenapa tidak kau buka?"


Benjamin menggelengkan kepala lagi.


Komandan mengembuskan napas melihat rekannya itu menelan ludah. Ia sangat tahu bagaimana perasaan ketika orang yang ia cintai terluka karena dirinya. Perasaan yang terasa amat buruk. Jika diberi kesempatan untuk membalikkan waktu, maka pilihan yang akan ia pilih di masa lalu adalah pergi meninggalkan orang itu sejauh mungkin agar tidak terluka.


"Ketika kau bawa dia pulang ... lalu kau serahkan pada Daniel Dolores ... kau tahu apa yang mungkin akan terjadi?"


Benjamin menganggukkan kepalanya.


"Aku akan menyuruh pengawal Hide pulang dan memberitahu Stanley semuanya baik-baik saja. Kami akan menunggu di luar." Komandan melangkah pergi.


"Kalian semua juga boleh ikut pulang," ucap Benjamin.


Komandan terus melangkah tanpa menoleh, lalu menutup pintu depan tanpa suara.


Putuskan yang terbaik, Black ... ini hanya cecunguk kecil ... wanitamu sudah terluka. Bagaimana jika musuh lain yang lebih berbahaya? Kita tidak pernah tahu ... apa benar semua yang terjadi di masa lalu benar-benar sudah dibereskan ....


NEXT >>>>>


***********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.