
Belinda memutuskan menyibukkan diri di dapur. Seperti di Mansion Marchetti saat pertama kali ia menginvasi dapur, koki dan staf dapur ayahnya terkejut setengah mati. Mereka berusaha menghalangi Belinda saat membantu memasak. Tatapan datar dengan wajah tanpa ekspresi darinya mampu membuat usaha para staf tersebut berhenti.
Dengan gembira Bel menyadari sudah banyak perubahan pada dirinya sejak ia menikah. Dulu, Belinda kecil akan takut dan cemas bila ada staf rumah yang menegur atau menghalangi apa yang ia kerjakan. Takut bila itu adalah perintah ayahnya dan ia akan diadukan bila tidak menurut.
Sudah tiga hari ia berada di Mansion ayahnya. Bel selalu mencari kesibukan bila sedang berada di mansion itu. Ia dan Verga masih tidur di hotel. Namun pagi-pagi, saat Verga berangkat bekerja, Belinda juga dijemput ke rumah ayahnya. Itu akan berlangsung seharian. Pekerjaan Verga menghabiskan separuh waktu pria itu di luar. Bel akan pulang ke hotel saat waktu makan malam bahkan telah selesai.
Mengatur meja saat makan malam adalah hal yang dilakukan Belinda selanjutnya. Kepala pelayan dengan senang hati mendengarkan permintaan Bel. Maurice dan Athena tidak ambil pusing atas tindakan tersebut, karena meski keduanya nyonya rumah, mereka menyerahkan urusan seperti itu pada pelayan.
"Wow ... menu hari ini sama menggiurkan seperti kemarin. Aku tidak tahu kau pintar memasak." Alana menatap sajian di atas meja dengan mata berbinar. Mulut gadis itu mengecap pelan, terlihat sangat lapar dan ingin sekali melahap sajian di atas meja.
"Kau harus menunggu. Sebentar lagi akan siap." Belinda mengatur letak sebuah serbet di meja yang terlihat agak miring.
"Hahhhh ... padahal aku lapar sekali."
"Panggillah ibumu dan Athena. Mereka masih di atas."
Alana mengerutkan bibirnya, berpura-pura protes. "Kau memerintahku!?" tanya gadis itu.
"Memangnya kenapa jika dia memerintahmu?" Suara Benjamin membuat dua adiknya itu memutar kepala dan melihat kehadirannya.
"Kau! Jangan bicara padaku! Kau apakan temanku!" jerit Alana tiba-tiba.
Belinda menaikkan alis melihat Alana sudah berkacak pinggang dan menatap Benjamin dengan wajah murka.
Benjamin tersenyum sinis. "Teman? Yang mana temanmu? Yang berusaha merayu dan menggerayangi bokongmu itu?"
"Dia hanya melepas rumput di celanaku! Kami sebelumnya berdiskusi! Berlima! Tidak berdua! Memalukan sekali! Kau bawa kemana dia?"
"Aku akan memanggil Ayah." Benjamin berlalu tanpa menggubris sedikitpun kemarahan Alana.
"Sial! Kenapa juga dia yang menjemput! Apa pekerjaan dari Ayah untuknya kurang banyak!"
"Jangan mengumpat, Alana ...."
Alana menoleh, melihat ekspresi Belinda yang seperti berusaha menahan geli. Ia menunjuk dan melotot.
"Jangan mengatakan apapun!" ucapnya sambil bergerak cepat.
Belinda menatap tertarik ketika Alana mengambil botol garam. Gadis itu berjalan ke tempat duduk yang merupakan kursi makan yang biasa diduduki Benjamin.
Sambil menyeringai, Alana menaburkan garam ke piring berisi potongan quiche sebagai makanan pembuka yang telah Belinda siapkan di atas meja.
"Aku bukan lagi gadis kecil, Ben. Rasakan ini, aku akan membalasmu," sungut Alana. Ia meletakkan kembali botol garam, lalu ketika suara-suara langkah kaki mendekat ke ruang makan, gadis itu berjalan cepat ke arah kursinya sendiri.
Belinda berusaha agar wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun. Ia menganggukkan kepala pada Maurice yang tiba bersama ayahnya. Menyusul kemudian Athena.
Setelah mereka semua duduk, Benjamin tiba dan menempati kursinya. Belinda menatap ke arah seberang meja. Sangat berharap ia bisa bertukar tempat dengan salah satu dari ketiga wanita yang duduk di depannya. Ia akan lebih leluasa menatap ekspresi Benjamin.
Mata Bel tertangkap oleh mata Alana. Sorot mata gadis itu menyiratkan sebuah perintah agar Bel tetap diam. Belinda menahan gerakan bibirnya yang entah kenapa merasa ingin sekali menyeringai.
Makan malam akhirnya dimulai. Satu suapan makanan pembuka sudah masuk ke mulut semua orang. Suara Benjamin yang tercekik dan terbatuk terdengar beberapa detik kemudian. Benjamin memegangi pangkal lehernya sambil melotot.
Belinda menolehkan kepala melihat ekspresi kakaknya itu. Belardo mengulurkan gelas berisi air ke hadapan Ben dengan tatapan bertanya-tanya. Benda yang langsung disambut dan dihabiskan dengan rakus oleh pria itu.
"Apa yang-" ucapan Benjamin terputus. Pria itu menatap Alana dengan sorot tajam, menyipit mengerikan.
"Ada apa denganmu, Ben?" tanya Maurice.
"Makanan ini memang terasa aneh!" protes Athena sambil melirik tajam ke arah Belinda dengan tatapan menyalahkan.
"Kau kenapa? Ini enak," ucap Alana dengan wajah polos. Gadis itu bahkan mengedipkan matanya dua kali seolah tidak mengerti kenapa Benjamin memelototinya.
Melihat wajah Alana yang polos tidak mengerti, Ben langsung menoleh ke samping, menatap Belinda sama tajamnya seperti ia menatap Alana.
Belinda mempertahankan wajah tanpa ekspresi yang biasa ia perlihatkan. "Kenapa?" tanya Bel sambil mengunyah pelan.
Benjamin melirik bergantian Bel dan Alana, lalu mengembuskan napas panjang. Ketika bertatapan dengan ayahnya ia berusaha menampilkan sikap biasa kembali.
"Maafkan aku. Kita lanjutkan makan malamnya, Ayah"
**********
"Kenapa kau tidak menginap? Kau berkeras tidur di hotel." Benjamin mendatangi Belinda yang duduk sendirian di ruang depan.
Belinda berkedip, ia tidak mengira Benjamin akan datang mengajaknya bicara sebelum ia pulang.
"Akan repot mengemasi pakaianku."
"Sienna yang akan melakukannya."
"Aku tidak mau merepotkannya."
"Dia tidak repot sama sekali. Dia bosan tidak punya hal yang mau dilakukan."
Belinda memilih diam. Ia menatap kerlip lampu taman yang menerangi halaman dari pintu yang dibiarkan terbuka. Cuaca agak dingin dan langit sangat gelap tanpa bintang.
Alasan sebenarnya yang tidak dikemukan oleh Bel kenapa ia masih menginap di hotel adalah karena ia menanti rutinitas pergi dan pulangnya ke hotel. Benjamin menjemputnya bersama Alana, lalu mereka akan mengantarkan Alana ke kampus, baru kemudian mereka pulang ke mansion. Begitu juga malam harinya. Benjamin yang akan mengantarkannya ke hotel.
"Ayah sudah tidur. Bisakah aku pulang sekarang?"
"Besok pagi-pagi aku akan pergi." Benjamin tidak menjawab, malah membuat pernyataan.
Belinda kembali diam. Kebingungan mau mengucapkan apa.
"Aku punya hal yang harus diurus di BYork. Perusahaan Ayah membutuhkanku. Ayah memerlukan istirahat dan harus mengurangi beban pekerjaan. Aku akan mengambil penuh tanggung jawab itu. Namun, ada beberapa hal yang harus kuselesaikan dulu di BYork."
Belinda menganggukkan kepalanya. Pernyataan itu memberitahunya bahwa Ben tidak akan kembali dalam beberapa hari.
"Bisakah kau mulai menginap disini besok. Ayah akan senang sekali bila kau dan Verga menghabiskan waktu di sini sebelum urusan pekerjaan Verga selesai."
"Entahlah."
"Bicarakan itu dengan Verga. Aku akan mengambil kunci jika kau mau diantar pulang sekarang."
"Bagaimana kalau aku tidak mau? Aku mau tidur di hotel saja ...."
Benjamin yang baru saja berniat berbalik menghentikan langkah. Ia menatap Belinda yang juga sedang menatapnya dengan wajah menyelidik. Seolah adiknya itu tidak mau melewatkan setiap ekspresi yang akan ia tampilkan.
"Aku menanyakan apakah kau bisa. Bila menuruti caraku, kau akan mendapati barang-barangmu sudah ada di kamarmu di atas. Tapi aku mengubahnya jadi permintaan. Aku bisa langsung mengatakannya pada Verga dan aku jamin ia akan setuju! Pekerjaannya tinggal beberapa hari lagi, tidak heran kalau ia menghabiskannya sisa malamnya menginap di sini. Di rumah ayah mertuanya yang baru saja pulih dan butuh melihat seluruh anggota keluarganya, termasuk anak dan menantunya!"
Melihat Belinda tidak mengatakan apapun, Ben kembali melangkah pergi
"Kenapa baru sekarang ayah merasa butuh melihatku ...."
Meski pelan, Benjamin mendengar dengan jelas. Ia berhenti berjalan. Mengembuskan napas panjang dan memutuskan berbalik mendekati Belinda. Wanita itu sudah duduk membelakanginya. Tidak lagi menatap ke arah Benjamin.
"Aku maupun Ayah ... tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi di masa lalu. Aku minta maaf padamu ... keputusankulah yang membuat dirimu tinggal begitu lama di Mansion pulau ladang jagung. Sekarang aku menyadari itu keputusan yang salah."
Benjamin menunggu Belinda menanggapi. Tapi ia hanya melihat gerakan punggung, tanda wanita itu menarik napas secara teratur. Kepala Bel tidak mau menoleh menatapnya. Tangan kanan Ben tanpa sadar terulur, berhenti di atas kepala Belinda, ia mencoba mencari kata-kata yang pas untuk diucapkan. Begitu sulit baginya mengemukakan alasan atau penjelasan atas semua tindakan yang ia dan ayahnya lakukan di masa lalu.
"Salahkan aku atas rasa sakit yang telah kau alami dan kau rasakan selama ini ... kau bisa meneriakkan kemarahanmu di depan wajahku, kau boleh tidak mengakuiku lagi sebagai keluarga, mengatakan kalau kau bukan lagi Antolini ... aku tidak akan mengatakan apa-apa ... tapi jangan melakukannya pada Ayah ... meski tidak mengatakannya, dia ...." Benjamin menarik napas, mendongak ke arah atas dan kembali menarik tangannya yang tadi terulur, hampir saja ia akan mengelus puncak kepala Belinda.
"Kau putrinya. Darah dagingnya. Dia pergi ke pulau ketika ia merindukanmu. Kau salah bila menganggap ia tidak butuh untuk melihatmu. Kau pikir kenapa ia datang ke sana?"
Keheningan menguasai aliran udara di ruangan yang sangat besar tersebut. Benjamin memejamkan mata ketika harapannya melihat Belinda berbalik dan melihat ke arahnya tidak terkabul.
"Soal sikap kaku dan dingin ... Belardo Antolini sudah begitu sejak masih muda ... kalau boleh kukatakan, bukan hanya kau yang tidak mendapatkan pelukan, bukan hanya kau yang ditatap dengan sorot tajam, bukan hanya kau yang merasa seolah selalu diabaikan ... aku juga ... Ayah memperlakukan kita sama, Bel ... tapi, semakin dewasa aku semakin menyadari ... kurasa, dia menyayangi anak-anaknya."
Benjamin merasa ia sudah terlalu banyak bicara. Belinda masih bergeming. Tidak bergerak maupun berbicara. Yang dilakukan wanita itu hanya duduk diam dan bernapas. Setelah satu embusan napas panjang, Benjamin memutuskan pergi.
"Tunggulah, aku akan mengambil kunci dan mengantarmu pulang ke hotel," ucap Benjamin sebelum benar-benar berlalu.
Yang tidak Benjamin lihat adalah kepala Belinda yang perlahan tertunduk ketika langkah kaki kakaknya sudah tidak lagi terdengar. Satu isak tangis lolos dari bibir Belinda yang tadinya merapat. Aliran air mata yang meleleh menuruni lereng pipinya ibarat bendungan air yang sudah jebol. Belinda merasakan satu demi satu ikatan kusut yang melingkupi sebuah kotak harapan di dalam hatinya mulai terurai. Simpul demi simpul seolah bergerak terbuka, sehingga kotak tersebut terbebas dan memperlihatkan keinginan dan harapan Belinda atas pengakuan, cinta dan juga kasih sayang dari keluarganya. Kata-kata Benjamin baru saja mengisi kembali kotak yang kosong dan sudah terikat bertahun-tahun tersebut.
NEXT >>>>>>
*******