
Pernikahan itu bagaikan dalam mimpi bagi Ella. Dunianya seolah sedang berada di awang-awang. Namun, ketika ia mencubit pipinya, kulitnya terasa sakit. Penanda bahwa ia tidak sedang tidur.
Ibunya datang dengan senyum lebar, lalu menyusul ayahnya yang terlihat sangat tampan dalam balutan tuxedo berwarna putih. Warna yang ia pilih agar terlihat beda dengan sang pengantin pria yang menggunakan warna hitam.
Daniel mengulurkan tangan, menyiapkan sikunya untuk digandeng Ella.
"Kau sudah siap?"
Ella mengangguk, lalu menyambut tangan ayahnya dengan tangannya yang bersarung tangan putih.
Ella menikmati senyum kedua orang tuanya yang tampak sangat bahagia melihat putri satu-satunya dalam balutan gaun pernikahan.
"Sangat, Daddy, Mom ... aku siap."
Di lorong menuju altar, gaun pengantin mewah yang Ella kenakan melambai ketika ia mulai melangkah bersama ayahnya.
Semua orang berdiri melihat pengantin wanita berjalan masuk dalam gandengan sang ayah. Kecantikan Ella berpendar bersama senyum bahagianya yang menular. Rambut hitamnya bergoyang indah ketika ia menoleh ke kiri dan kanan sambil sedikit melambai pada kerabat dan tamu yang telah berdiri. Semua orang menatapnya dengan senyum dan mata berbinar.
"Hentikan melambaikan jarimu, El. Mereka bukan penggemar yang sedang menanti untuk melihat artis," bisik Daniel pelan.
"Maaf, Dad. Kebiasaan tanganku kalau melihat orang banyak, selalu mau melambai," bisik Ella sambil terkikik.
"Aku tahu kau sedang senang. Tapi jaga sikapmu, berikan senyum manis saja, jangan tertawa."
"Baik, Dad. Oh ... lihatttttt, Enrico dan Vivi!" bisik Ella sambil kembali melambaikan jari pada Enrico dan Vivi yang memberikan ciuman jauh untuk Ella. Ia lupa kalau baru saja habis berjanji tidak akan melambai.
"Balas dengan senyum, El. Jangan melambai, Letakkan tanganmu di lengan Daddy!" Daniel mengembuskan napas panjang, berusaha mempertahankan senyumnya.
"Hector, Stanley, Snow, Timmy, pak dokter, bahkan Komandan, owh ada Morrone bersaudara! Mereka semua hadir." Ella membalas lambaian jari Timmy dengan memberikan ciuman jauh dengan telapak tangan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hentikan! Calon suamimu melotot kemari, Ella!"
"Mm? lihat dia ... dia tampan sekali, Daddy."
"Itu menurutmu, bagiku masih lebih tampan si Costra."
Ella tersenyum dan berusaha menahan tawa.
"Jangan tertawa. Kenapa lorong ini panjang sekali," keluh Daniel.
Mereka tiba di barisan keluarga. Ella melihat Verga yang sedang mengulurkan tisu pada istrinya yang sedang menangis. Ia melihat Alana yang sedang tersenyum lebar, melihat Maurice yang sibuk merapikan dasi Belardo, lalu melihat Belardo yang bolak balik menatap Ella dan kemudian Benjamin yang menunggunya di altar.
Ella menoleh lagi ke sisi lain dan melihat Ibunya bersama Paman Verone yang tersenyum bahagia. Ketika kembali menghadap ke depan, jantung Ella berdebar kencang. Tatapan calon suaminya membuatnya bergetar dan panas dingin.
Kemudian mimpi Ella jadi kenyataan. Bermula dari tangannya yang diserahkan oleh sang ayah kepada calon suaminya. Keseluruhan prosesi tersebut bagai alunan musik. Menjalaninya secara nyata sangat berbeda dengan memerankannya di dalam film. Setiap kata dari janji pernikahan mereka bagai menyusup masuk dalam sanubari Ella. Jika di film ia hanya memerankan jadi pengantin, bahkan sampai membuat penonton mengeluarkan air mata haru, maka di kenyataan yang terjadi Ella lah yang menangis. Air matanya seolah mencari jalan keluar sendiri ketika janji pernikahan mereka dikukuhkan dan mereka dinyatakan sebagai suami istri.
Daniel dan Elena menarik napas lega. Acara inti berjalan sakral dan khidmat. Ella dan Benjamin terlihat bagaikan pasangan jiwa yang akhirnya bersatu. Senyum keduanya menular dan terpancar sampai ke sinar mata.
Ketika diizinkan untuk mencium pengantin wanita, Benjamin mengecup istrinya diiringi tepuk tangan dan tawa dari beberapa pria, lalu pengantin pria membisikkan sesuatu ke telinga pengantin wanita. Bisikan yang membuat kedua pipi wanita itu merona. Membuat setiap orang yang menghadiri bertanya-tanya apa yang sudah dikatakan oleh pengantin pria.
"Ella jarang sekali merasa malu, apa yang sudah Ben ucapkan sehingga bisa membuatnya merona? Aku penasaran," bisik Verga ke telinga Belinda.
"Kau benar. Aku juga penasaran." Belinda mengangguk sambil tertawa.
"Nanti kutanyakan pada Ben," bisik Alana santai dengan nada geli.
Belinda mencubit kecil lengan gadis itu.
"Kau akan dimarahi. Matanya akan melotot, ia akan mengatakan kalimat sinis hanya untuk mengusirmu."
Alana mengangguk. "Ya. dia akan mengatakan 'jangan urusi yang bukan urusanmu! dengan nada galak."
" Seakan kita akan menciut hanya dengan mendengar nada suaranya, sayangnya kita bukan gadis-gadis yang dulu lagi," Belinda tersenyum dan mengedipkan mata pada Alana.
Alana mengangguk. "Tapi tak apa-apa berpura-pura takut, Bel. Agar Ben merasa bahwa dia masih memegang kendali," ucap Alana sambil tertawa geli.
Keduanya tertawa. Verga tersenyum dan senang melihat sikap istrinya yang sudah sangat berubah. Sekarang istrinya sudah berinteraksi dengan baik layaknya keluarga dengan semua anggota keluarga Antolini.
"Well ... waktunya perayaan. Jangan melewatkan pestanya," ucap Verga pada dua wanita itu. Keduanya langsung mengangguk setuju.
**********
Ella menganggukkan kepala dan mengucapkan terimakasih pada Evander yang mengulurkan segelas minuman padanya ketika ia menyapa pria itu dan dua adiknya yang datang ke perayaan.
Dengan gelas ditangan, Ella baru saja akan berkeliling kembali mencari Benjamin yang tadi pamit pergi sebentar.
Ia melihat ibu dan ayahnya, lalu datang mendekat.
"Halo, pengantin wanita," sapa Elena dengan nada menggoda.
"Apa yang kau pegang, El? Itu minuman beralkohol?" Daniel baru saja mau mengambil gelas di tangan Ella ketika sebuah tangan lain sudah lebih cepat.
"DD! Kau tidak boleh sembarang minum. No alkohol, DD. Ingat kesehatanmu," ucap Benjamin sambil menunjuk ke perut istrinya.
Daniel mengangguk setuju. "Suamimu benar. Banyak yang harus kau perhatikan untuk memastikan semuanya baik-baik saja Ella."
Elena dan Ella menatap bergantian dua pria tersebut. Kesempatan langka melihat mereka sepakat dan saling mendukung. Senyum Ella terkembang, sedangkan Elena menahan tawa melihat suaminya yang sepertinya baru menyadari kalau ia mendukung ucapan Benjamin.
"Mm ... aku mau mencari Verone. Aku pergi dulu." Daniel langsung pergi meninggalkan mereka.
"Aku juga, ada yang mau kubicarakan dengan Verga." Benjamin menganggukkan kepala pada ibu mertuanya, lalu mencium pipi Ella sebelum berlalu. Tak lupa ia mengambil alih gelas minuman istrinya itu.
Senyum bahagia dan puas tersungging lagi di bibir Ella ketika ciuman Ben mendarat, senyum yang bertahan bahkan ketika suaminya itu sudah tidak kelihatan.
"Aku yakin kau senang sekali, Sayangku. Rencanamu berhasil. Drama yang luar biasa." Elena tertawa kecil sambil bersedekap menatap para tamu dalam ruangan pesta itu.
Ella menaikkan alisnya. "Maksud Mommy?"
Dengan perlahan Elena menoleh, menggelengkan kepala pada Ella.
"Kau bisa menipu ayah dan suamimu, Sayang. Tapi tidak ibumu ini."
Ella menggigit bibirnya, memasang wajah memelas pada ibunya. "Maksud, Mom?"
"Sebaiknya kau menyiapkan alasan kenapa perutmu tidak membesar, Sayangku."
Ella terkejut. "Mom tahu?"
Elena tertawa geli. "Wanita hamil tidak membutuhkan pembalut, Ella. Dua minggu lalu, malam ketika kau kram perut, kau mengalami nyeri haid bukan?"
"Kau mungkin berhasil mengelabui ayahmu dan suamimu agar mengambil tindakan sesuai keinginanmu. Kau berhasil, Sayang. Mommy tahu semuanya. Mommy hanya memilih diam saja, Mommy ingin kau bahagia."
Setelah memberikan satu kecupan di pipi Ella, Elena pergi mencari Daniel.
"Apa yang Mom katakan?"
Pertanyaan itu membuat Ella menoleh dan menatap Benjamin yang sudah berada di dekatnya.
"Hanya sesuatu yang biasa. Menggoda pengantin baru," ucap Ella sambil berkedip. Namun di dalam pikirannya ia tahu ibunya benar. Ia harus menjelaskan nanti pada Benjamin kenapa perutnya tidak bertambah besar dengan seiring bertambahnya bulan.
"Kenapa kau mengerutkan kening, DD? Apa yang kau pikirkan?"
Ella menarik napas panjang, lalu menggeleng sambil tersenyum lebar. Lebih baik memikirkan itu nanti. Yang penting sekarang ia menikah dan sedang menikmati masa bulan madu yang akan menjelang sebentar lagi. Tentu saja ia bisa mengusahakan agar ia benar-benar hamil, karena sekarang teman hidup untuk membantunya mewujudkan itu sudah berdiri di sampingnya.
"Tidak jadi mencari Verga?"
"Dia sedang ke toilet."
"Kalau begitu, ayo ajak aku berdansa."
Ella terkekeh melihat suaminya yang langsung menggeleng.
"Lebih baik tidak, DD."
"Kenapa tidak. Hanya menari sedikit seperti yang kau lakukan dengan Alana."
"Itu karena dia memaksa. Dia berani menanggung resiko kakinya kuinjak."
Daniella terkekeh. "Kau menginjaknya dengan sengaja, Ben."
Benjamin tersenyum miring. "Bagaimana kau tahu?"
"Setelah jadi istrimu. Aku tahu semuanya."
Ben mengangguk-anggukkan kepala sambil menaikkan alisnya. Menatap Ella penuh tantangan.
"Sehari belumlah lewat ketika kita selesai mengucapkan janji pernikahan dan kau sudah tahu semua tentang aku?"
"Ya ... katakan aku benar. Selama ini, kau sengaja menginjak Alana, juga semua orang yang memaksamu untuk berdansa."
Benjamin langsung terkekeh. " Aku tidak akan mengakuinya."
"Ah- menghindar. Berarti aku benar. Aku tahu isi kepalamu."
"Oh ya?"
"Ya."
"Tebak apa yang kupikirkan sekarang?" tanya Benjamin sambil bersedekap.
Ella mendekat agar bisa berbisik ke telinga suaminya. Dengan nada nakal dan menggoda ia mengucapkan kalimatnya dengan pelan dan mendayu.
"Kau ingin berdua saja denganku. Di kamar pengantin, lalu membantuku melepaskan gaun ini, melucutinya hingga yang tersisa hanyalah lingerie ... kau rindu bukan? Bagaimana rasanya meletakkan telapak tanganmu ... di sini ...." Ella dengan sengaja menggosok pelan dadanya yang membusung di balik gaun ke tangan Ben yang masih bersedekap.
Ia menyeringai ketika Ben mengembuskan napas keras-keras.
"Tapi sebaiknya kau jangan sentuh dulu, Suamiku sayang, karena kita tidak akan turun dari tempat tidur entah berapa lama ... jadi ... kau ijinkan aku mandi dulu ... aku akan melepas lingerieku sendiri. Kau ... kuijinkan menonton ...."
Daniella langsung mundur. Ia melihat tatapan Benjamin yang berkilat. Namun pria itu masih berdiri di sana dengan rahang mengeras.
Ketika sudah cukup jauh dari Benjamin, Ella berbalik dan melangkah pergi, langkahnya berhenti ketika mencapai pintu keluar. Dengan jari telunjuknya ia memanggil Benjamin sambil tersenyum lebar.
Bagai melihat tanda untuk bergerak, Benjamin langsung melangkah cepat menyusul Ella. Tidak peduli tatapan beberapa orang yang melihat tindak tanduk mereka sambil menyeringai.
"Kita semua benar," ucap Belardo.
Daniel menarik napas panjang. "Kurasa putriku yang mengajaknya kabur dari sini."
"Tidak peduli siapa yang mengajak. Tapi tebakan kita semua benar. Pengantinnya kabur. Aku jadi ingat pernikahan lain yang seperti ini." Verone tertawa geli.
Verga dan Enrico berdeham bersamaan, membuat tiga pria tua yang ada di sana tertawa serentak.
"Aku tidak kabur, Ayah." Verga membela diri.
"Ya. Kau masih di tempat resepsi. Tapi Ella membantumu menyingkir mencari kamar agar bisa bersama istrimu," Verone menyerigai, " lalu kau membuat Benjamin yang harus menjelaskan kenapa pengantinnya tidak kembali ke pesta."
Verga balas menyeringai mendengar perkataan ayahnya.
"Dan kau Rico, kau juga melakukannya saat pesta pernikahanmu."
"Oh, waktu itu aku juga tidak kabur, Paman Verone. Hanya saja, Benjamin memaksa pergi, karena waktu itu waktu kontrak pekerjaannya denganku sudah hampir habis. Ben yang memaksa."
Semua orang tertawa mendengar alasan yang dibuat-buat tersebut. Verone kemudian mengangkat gelasnya. "Ayo bersulang. Semoga pernikahan pengantin kita bahagia. Dikaruniai anak-anak yang sehat dan cerdas. Begitu juga dengan pernikahan kalian."
Belardo, Daniel, Enrico dan Verga mengangkat gelas bersama Verone, setelah dentingan kecil masing-masing menyesap satu tegukan, lalu mengucapkan doa di dalam hati dengan mata mencari-cari sosok pendamping hidup yang telah menjalani kehidupan bersama, saling menjaga dan telah memberikan cinta, kasih sayang dan juga kedamaian dalam kehidupan mereka.
-------THE END---------
************
From Author,
Ucapan terimakasih saya haturkan untuk semua pembaca novel Belinda, juga yang sudah memberikan dukungan baik support semangat, dorongan, bahkan dalam bentuk materi agar novel ini bisa terus berlanjut dan dikenal para pembaca.
Semangat berkarya sekaligus untuk menyalurkan hobi menulis sebagai bentuk aktualisasi diri saya bisa bertahan sampai saat ini berkat kalian semua yang sudah setia menemani sampai akhir.
Kehidupan real life kadang tidak seindah seperti di novel. Itu memang benar adanya. Cerita novel ini adalah hasil karangan author, hayalan author, kisah buatan author, tetapi jika dengan membacanya bisa terbit senyum, bisa muncul tawa geli. Itu membahagiakan buat saya pribadi sebagai penulisnya.
Setelah ini mungkin lama atau bahkan entah kapan kita bertemu lagi dalam karya saya, karena tidak ada next project dalam waktu dekat. Semoga semua novel karya saya di NT tidak tenggelam, dan masih dikunjungi oleh pembaca lainnya. Aamiin ....
Semoga sehat selalu para Readers novel Dianaz, dilapangkan rezekinya, dimudahkan semua urusannya, dilancarkan semua aspek kehidupannya dan selalu dalam lindungan Yang Kuasa beserta seluruh keluarganya. Aamiin ....
Saya akan sangat merindukan kalian semua. Sekali lagi terimakasih banyak. Luvv yuu all...
Salam. DIANAZ.