Belinda

Belinda
48. Present



Belinda memandang ke arah jalur masuk sebuah gedung yang dipenuhi oleh karangan bunga. Ia membaca sekilas dan mengetahui itu adalah ucapan selamat untuknya.


"Ini ... tempat apa?" Belinda menoleh. Menatap Verga yang berdiri dan menggenggam tangannya.


"Inilah hadiah pernikahan dari kakakmu." Verga tersenyum. Tampak sangat tampan dan gagah di samping Bel. Membuat tatapan Belinda sulit sekali beralih.


"Kita bisa berdiri dan saling memandang di sini sampai kita puas. Tapi semua orang menunggu kita," ucap Verga sambil tertawa.


Belinda melepas genggaman tangan Verga, lalu meletakkan tangannya ke atas siku pria itu. Sarung tangan satin yang ia kenakan membuat penampilannya semakin sempurna. Bel merasa percaya diri saat memandangi dirinya ketika ia selesai berdandan. Namun, setelah tiba di tempat tujuan mereka, ia menjadi agak gugup.


"Kita masuk?"


Belinda mengangguk sebagai jawaban pada suaminya. Perlahan, dalam gandengan lengan Verga mereka berjalan menyusuri jalur masuk yang sudah terbentang karpet berwarna merah tersebut.


Tepuk tangan dan kilatan cahaya kamera menyambut Bel ketika pintu telah terbuka. Belinda berhenti dan menatap terpana sampai tawa lembut dari Verga menghampiri telinganya.


"Jangan terpaku di sini. Kita baru saja sampai. Kejutan untukmu masih akan panjang," bisik Verga.


Ketika diajak kembali memasuki aula itu lebih dalam lagi. Mata Belinda mendapati sosok yang sangat ia kenali diantara para tamu yang bertepuk tangan menyambut kehadiran dirinya dan Verga.


Kursi-kursi yang mengelilingi meja-meja bulat telah terisi para tamu undangan yang wajahnya asing bagi Belinda. Namun, di bagian depan, di salah satu meja yang tampak lebih besar daripada meja-meja lainnya, Bel melihat keluarganya. Belardo Antolini duduk dengan mata menyipit memandang ke arah Belinda. Satu senyum kecil tersungging di bibir ayahnya itu. Ketika mata mereka bertatapan, kepala ayahnya itu mengangguk. Bel menatap dengan wajah datar. Sungguh ia tidak memahami arti anggukan, senyuman dan juga tatapan ayahnya itu.


Pandangan Belinda beralih ke tempat duduk di sebelah ayahnya. Tatapan hangat dari ayah mertuanya menyambut Belinda. Sebuah ciuman jarak jauh juga dilayangkan oleh Verone. Senyum bahagia segera menyeruak di bibir Belinda.


Kehangatan yang terasa di atas sarung tangannya yang menembus hingga kulit membuat Belinda mendongak.


"Kejutan berikutnya untukmu. Mereka semua datang," bisik suaminya.


Keduanya saling menatap dengan mata berbinar. Pemandangan itu membuat Verone dengan senang hati menepuk pelan lutut Belardo yang duduk di sebelahnya.


"Lihat mereka, Belardo. Anak-anak kita. Putrimu sungguh luar biasa," bisik Verone.


Satu embusan napas panjang mengiringi anggukan Belardo. Ia menatap dengan bangga ke arah pasangan yang mulai bergerak ke arah kursi mereka.


Belinda mengucapkan terima kasih pada Verga karena menarik dan menyiapkan sebuah kursi untuknya. Mata Bel menatap berkeliling seputar meja bundar di hadapannya. Ia duduk di sebelah Verga, disampingnya sebuah kursi masih dibiarkan kosong. Di samping Verga, seterusnya duduk Verone, Belardo, Maurice, Athena, lalu Alana. Kursi kosong yang berada di antara Alana dan Bel disiapkan untuk seseorang yang sepertinya belum datang.


Belinda menoleh ketika merasakan tangannya di sentuh.


"Kursi itu milik Benjamin. Ia sedang mendapatkan kursus kilat oleh Ella," bisik Verga.


"Ben? ... Ella? Dia datang juga?"


Verga mengangguk, lalu menunjuk ke sebuah meja yang berada di dekat meja mereka. Telah duduk di kursi tersebut orang tua Ella dan asisten Verga, Juan Xavier. Satu kursi dibiarkan kosong diantara Paman Daniel dan Bibi Elena. Bel menduga itu adalah tempat duduk Ella.


Acara selanjutnya berlangsung lancar. Belinda lebih fokus menatap dan melirik ke arah anggota keluarganya. Maurice tampak sangat bersemangat, tak henti mendekatkan wajah ke arah Belardo dan berbisik. Tatapan matanya berganti-ganti menatap ke arah meja-meja di seputar tempat itu.


Belinda mengikuti arah tatapan istri ayahnya tersebut. Menyadari Maurice tengah menghitung berapa artis dan juga aktor terkenal yang ada di tempat itu, sampai akhirnya Maurice harus berhenti dan ikut bertepuk tangan ketika nama Belardo dipanggil untuk memberikan sedikit pidato di panggung kecil di depan aula.


Di balik sebuah tirai gelap tak jauh dari panggung kecil di depan aula, Daniella mengintip dan melihat Pamannya sudah naik dan memberikan sedikit sambutan untuk acara tersebut. Mereka hanya menyebutkan tentang pembukaan pameran tanpa menyebutkan pameran karya siapa. Daniella tahu itu disengaja dan hanya seorang yang dipersiapkan untuk mengumumkan secara resmi. Pria yang tampak kesal dan juga kepanasan yang menatapnya seperti seekor singa yang baru saja terkena perangkap jebakan. Cahaya temaram dibalik tirai gelap membuat sosok pria itu jadi bertambah besar.


"Dugaan Verga benar. Kau akan sangat menyulitkan," bisik Ella dengan tangan bersedekap dan tatapan tajam ke arah Benjamin.


Benjamin sekali lagi merapikan dasinya. "Verga Marchetti! Keterlaluan, dia hanya mengundangku datang! Bukan untuk bicara di depan keluargaku dan semua orang-orang itu!"


Daniella mendengus, menatap skeptis ke arah Benjamin. "Apa yang sebenarnya membuatmu sangat gelisah? Kau pemimpin sebuah perusahaan besar. Meski perusahaan masih dikendalikan oleh ayahmu, kau tentu sudah pernah berbicara di setiap acara baik resmi ataupun tidak, mewakili perusaahan atau sebagai wakil ayahmu, jadi kenapa sedikit pidato di hari ini membuatmu jadi gusar! Kau membuatku menduga-duga ...." Daniella mengelus pelan ujung dagunya sendiri dan menatap meremehkan ke arah Benjamin.


Kepala Benjamin menoleh pelan, ia berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah Daniella. "Katakan apa yang tengah kau pikirkan Nona Dolores. Kesan di pertemuan pertama dengan seorang artis terkenal ... aku sungguh-sungguh penasaran dan ingin sekali mendengarnya," ucap Benjamin.


Daniella mengibaskan rambutnya dengan sengaja. Sekali lagi ia mendengus keras. "Jangan bersikap seolah ini adalah pertemuan pertama kita, Benjamin Antolini ...."


"Ah ... Bukan yang pertama? ... di pernikahan Bel!? Apakah itu juga dihitung?"


Sorot mata Daniella bertambah tajam mendengar nada seolah terkejut dari Benjamin. Membuat Benjamin terkekeh dan melangkah mendekat. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Daniella.


"Aku sungguh tidak mengingat pertemuan di pernikahan tersebut ... tak kusangka kau mengingatnya, Nona Dolores. Aku merasa ini kali pertama bertemu denganmu dan berbicara secara pribadi."


Daniella merasa darahnya memanas. Ia merasa malu, seolah terlalu percaya diri menganggap seorang Benjamin akan mengingat pertemuan tidak disengaja antara dirinya dan Ben saat di kamar beristirahat dulu. Saat itu ia telah melakukan hal memalukan karena melepas stoking, memperlihatkan kaki dan pinggulnya tanpa sengaja. Ella mengingat hal tersebut, karena senyum yang diperlihatkan orang itu ketika ia meninggalkan kamar telah memberitahunya bahwa pria itu telah melihat. Ella sangat terkejut ketika tahu bahwa pria itu adalah Benjamin Antolini.


Ingatan tersebut membuat Ella mengingat tentang Athena. Rona malu yang baru saja membias di wajahnya segera menghilang. Daniella mendongak, menatap menantang ke arah Benjamin.


"Aku sangat menyayangi sepupuku, Tuan Antolini. Kalau bukan karena permintaannya agar aku sedikit mengajari, menenangkanmu, juga mengarahkan tentang pokok acara ini, aku tidak sudi menemuimu, mengutip yang kau katakan ' bicara secara pribadi' denganmu."


Benjamin menaikkan alis. "Menenangkan? Mengajari? Aku bukan orang bodoh, Nona Dolores. Aku tidak perlu pelajaran dari seorang gadis yang suka drama, yang tidak peduli dimana ia melepas pakaian dalamnya. Meski tahu itu bukan wilayah pribadi .... "


Ella terkesiap, lalu menggeretakkan gigi ketika melihat senyum Benjamin.


Berusaha terlihat tidak terganggu oleh ucapan itu, memasang sikap masa bodoh, Ella menaikkan kedua bahunya. Ia melangkah mundur, menjauh dari bayangan besar tubuh Benjamin yang menimpanya.


"Aku juga sebenarnya tidak terlalu mengingat pertemuan di kamar itu. Namun, kembali melihatmu membuatku teringat pada wanita cantik yang duduk di meja keluarga Marchetti saat ini. Bukan teringat padamu, Tuan ... aku terkenang isi majalah gosip beberapa tahun silam ... sudah sangat lama ... tapi dugaanku, hal ini masih berefek ... buktinya kau gelisah ... apakah karena wanita itu hadir? Ck ck ck ... mumpung kau mengingatkanku atas kejadian di kamar dengan pintu hubung waktu itu ... Andai aku tidak ada di sana, sebenarnya apa yang akan kalian lakukan, Tuan? Astaga ... seharusnya kau menerima dengan lapang dada, Tuan Antolini ...." Ella dengan sengaja memegang dadanya, memasang wajah kasihan sambil terus mundur menjauh. "Seharusnya kau berbesar hati dan menerima bahwa kau sesungguhnya sudah kalah telak dari ayahmu sendiri."


Puas melihat ekspresi Benjamin, Ella tersenyum manis, berbalik dan melangkah pergi seiring dengan Master of Ceremony yang memanggil nama Benjamin untuk memberikan giliran selanjutnya di atas panggung.


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Tom dan Jerry nih ya Ella ma Ben.


Dukung dengan tekan like, love, bintang lima, komentar dan vote ya readers. Sebelumnya author mengucapkan terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.