
Verga dan Belinda memasuki sebuah ruangan yang cukup besar, semacam ruangan tunggu untuk keluarga . Di tengah-tengah ruangan, sofa-sofa tersusun mengelilingi sebuah meja.
Di sofa panjang, duduk Maurice bersama Athena. Keduanya terlihat terkejut dengan kedatangan Belinda.
Benjamin yang datang dari belakang pasangan tersebut terus berjalan mendahului, mengabaikan tatapan Athena yang dengan segera beralih menatap dirinya.
Tangan Benjamin memberi kode pada Verga agar mengikuti langkahnya.
Mereka berjalan menuju sebuah pintu penghubung. Ketika memasuki ruangan, mata semua orang terpusat pada sosok Belardo yang terbaring dengan mata tertutup di atas tempat tidur. Sebuah selang terpasang di tangan kirinya yang terhubung dengan cairan infus. Sebuah selang juga terpasang di hidung, terhubung dengan alat yang mengalirkan oksigen.
Di sebelah Belardo, Alana yang melihat kedatangan Ben, Verga dan Belinda segera berdiri.
"Kau datang," bisik Alana dengan mata tertuju pada Belinda.
Belinda tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap wajah ayahnya yang tampak seperti sedang tidur nyenyak. Wajah pria itu agak pucat, tampak tak berdaya di atas tempat tidur dengan selang-selang yang terpasang, dan juga kabel yang menghubungkan tubuhnya dengan sebuah monitor.
Belinda mendekat ke bagian kaki ayahnya. Kedua matanya menatap tak berkedip. Belardo Antolini tidak pernah sakit. Ayah yang dingin, kaku dan juga tidak perhatian itu selama ini selalu tampak kuat dan gagah meski umurnya terus bertambah tua. Meski uban telah hampir mendominasi seluruh rambut di kepalanya, sebagai penanda usia yang sudah lanjut, namun pria itu sama sekali tidak pernah terlihat lemah.
Sosok lemah dan tampak tidak berdaya di atas tempat tidur tersebut terasa asing bagi Bel. Tidak ada pancaran mata dingin dan wajah datar tanpa ekspresi yang biasa ia lihat.
"Kapan dia mengalaminya?" tanya Verga.
"Sebaiknya kita bicara di luar," ucap Benjamin.
"Ayah belum lama tertidur. Akan mengganggu kalau kalian bicara di sini," bisik Alana pelan.
Benjamin menganggukkan kepala tanda mengerti. Verga mendekat, mengelus pelan punggung tangan Belardo dengan wajah prihatin, menatap selama beberapa detik sambil menarik napas panjang.
"Ayo, Bel. Kita keluar dulu ...," ajak Verga.
"Aku akan menyusul ... sebentar lagi."
Verga dan Benjamin saling berpandangan, namun keduanya melangkah pelan menuju pintu dan keluar ke ruangan tunggu.
"Siapa yang tahu pertama kali?" tanya Belinda tanpa mengalihkan tatapan dari wajah ayahnya.
"Ibu."
Belinda menelan ludah, ibu yang dimaksud oleh Alana pastilah Maurice.
"Apa yang terjadi?"
"Ayah tiba-tiba terjatuh, memegang dadanya, dan terlihat sesak. Ibu berteriak panik, aku datang dan melakukan apa yang kubisa ...."
Belinda langsung menoleh, menatap wajah Alana yang balik menatapnya.
"Kau?"
Alana hanya menatap datar ke arah Belinda yang terdengar tidak percaya.
"Pergilah menemui Ben," ucap Alana sambil menarik kursinya dan duduk kembali.
Belinda melirik sekali lagi ke arah ayahnya, lalu berbalik pergi, ketika sampai di dekat pintu dan akan menarik gagangnya ia berhenti karena Alana kembali berbicara.
"Siapa yang memberitahu kabar ini padamu?"
Belinda langsung menarik pintu agar terbuka, berjalan pergi tanpa menjawab pertanyaan adik tirinya tersebut.
Ketika masuk ke ruangan tunggu, Bel melihat Verga dan Benjamin sudah menugunya di dekat pintu keluar.
Begitu ia masuk, Benjamin langsung membuka pintu dan keluar dari ruangan, Verga kemudian menahan pintu, menunggu Bel keluar lebih dahulu baru kemudian menyusul.
Benjamin membawa mereka menyusuri lorong berdinding kaca yang berada agak jauh dari ruangan perawatan. Tempat itu tampak sepi. Ada sebuah kursi panjang yang terletak berhadapan dengan kaca yang memperlihatkan pemandangan langit sore berwarna jingga, senja sudah menjelang, malam akan tiba sebentar lagi.
Bel tidak melihat ke arah Verga dan Benjamin yang berdiri berhadapan di tengah lorong tak jauh dari tempatnya duduk.
Tatapan mata Verga menyorot tajam ke arah Benjamin, tangannya berkacak pinggang. Terlihat siap meluapkan amarah.
"Ketika aku tiba di rumah sakit, ia sudah ditangani oleh bagian ahli. Dokter memberitahu keadaan emergencynya sudah lewat. Semua berkat apa yang Alana lakukan ketika menemukannya pertama kali." Ben mengangkat kedua bahunya, bersikap santai seolah tidak mengetahui kemarahan Verga.
"Itu sama sekali tidak menjelaskan, alasan kenapa kau tidak menghubungi kami!"
"Kau tadi sudah dengar, masa krisis nya sudah lewat. Dia akan baik-baik saja." Benjamin masih menjawab dengan nada biasa tanpa rasa bersalah. Membuat amarah Verga makin mendidih.
Verga bergerak sangat cepat, maju dan meraup kaos di bagian dada Benjamin, merenggut dan menariknya hingga wajah mereka berhadapan.
"Kau anggap apa kami berdua, Benjamin! Dia ayah Belinda juga! Apa kau baru akan menelepon ketika ia sudah sekarat! Atau sudah menjadi mayat!?" seru Verga dalam satu napas. Emosi dan kemarahannya membuat dada pria itu naik turun tidak teratur.
Benjamin tidak bergerak, ia hanya menahan lengan Verga yang merenggut pakaiannya dengan kedua tangan. Kedua pria itu saling bertatapan lama.
Verga mengeraskan rahang, menahan kepalan tangannya yang ingin sekali bergerak menyarangkan tinju ke pipi iparnya tersebut.
Ingatan tentang siapa dua pengawal yang ia temui di Mansion Antolini sudah membuat dirinya marah besar. Ia ingat dengan jelas dua pria tersbeut adalah anggota preman yang berusaha menculik Belinda dan membawanya ke gang sempit.
Peristiwa yang membuatnya ketakutan setengah mati. Mengira para pria tersebut menculik Bel untuk menyakitinya. Baku hantam di depan gang gelap tersebut berakhir karena para pria tersebut melarikan diri.
Bila dua diantara mereka ada di Mansion Antolini, lalu Benjamin juga ada di sini, dengan cepat Verga menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut ada hubungannya dengan Ben, tepatnya di dalangi oleh Black. Entah apa maksud dan tujuan pria berhati dingin tersebut menakuti adiknya sendiri demikian rupa.
Namun, Verga berusaha mengenyampingkan dulu hal itu, mengingat apa yang terjadi pada Belardo. Ia diajari menghormati, menyayangi, dan menjaga orang tua. Bukan hanya ayahnya, namun juga para jompo di rumah Marigold. Dan sekarang ayah mertuanya sakit, dengan santainya Ben menyebut tentang terkena serangan jantung tanpa merasa bersalah tidak menyampaikan hal tersebut pada Verga dan Belinda.
"Katakan sesuatu, Bajing*n Brengsekk arogan!" seru Verga memaki tanpa terkendali.
Benjamin mengembuskan napas panjang, bola matanya melirik ke arah kursi panjang dimana Belinda duduk di atasnya tanpa mengatakan satu katapun. Kepalanya sekarang tertunduk dengan kedua tangan saling meremas.
"Aku ... hanya berpikir bahwa itu akan merepotkan kalian saja. Ayah sudah dinyatakan akan membaik, jadi ...."
"Sialann!" Verga meradang dan tidak lagi menahan kepalan tinjunya, pukulan tersebut mendarat telak di rahang Benjamin, seiring tangannya yang mendaratkan tinju, ia melepas renggutan tangannya di kaos Ben, sehingga pria itu terlempar ke lantai.
Benjamin mengelus pipinya sambil menggerak-gerakkan rahang, meringis merasakan nyeri bekas pukulan Verga. Ia sengaja menerima luapan amarah tersebut. Ekspresi Verga membuatnya sadar, ia terlalu menganggap remeh perasaan Verga dan Bel tentang sakit ayahnya ini.
"Aku mengira ... Belinda tidak akan mau mendengar berita apapun tentang keluarga Antolini lagi ... Bel ... sudah menegaskan hal itu."
Verga menerjang Benjamin, menekan tubuh pria itu ke atas lantai dan menahan lehernya.
"Kau! Dari semua orang, Ben! Aku mengira kaulah yang paling memahami dirinya! Ubah caramu, Ben! Belinda adik kandungmu! Putri ayahmu! Kalian memilihku sebagai menantu! Lalu apa yang terjadi!? Ketika semua keluarga berkumpul, kalian tidak memanggil kami! Artinya kau tidak menganggapku keluarga! Aku bahkan lebih senang kau tidak mengundang atau memberitahuku saat kau menikah daripada tidak memberitahuku kabar kalau ayah Belardo kena serangan jantung!"
"Verga ...." Belinda menelan salivanya setelah mengucapkan nama suaminya itu dengan susah payah. Air matanya mengalir sendiri tanpa dapat ia tahan. Memandang langit senja tadi Belinda terbayang ayahnya yang terbaring di atas tempat tidur, membuat ingatannya kembali pada peristiwa kematian ibunya. Ia kemudian tertunduk ketika merasakan air matanya menetes sangat deras. Berusaha meredam suara tangis agar tidak terdengar oleh dua pria yang sedang berkelahi di lorong tersebut.
Jeratan tangan Verga melonggar ketika ia melirik ke arah kursi, bertepatan dengan Benjamin yang berusaha mendorongnya hingga Verga terduduk di atas lantai.
Benjamin bangkit dan ikut duduk di lantai sambil memegangi leher. Keduanya langsung menatap ke arah Belinda.
Belinda mengangkat kepala, menatap Verga yang juga sedang menatapnya.
"Bi-bis-" Belinda terbatuk, lalu menelan air liur, seolah sulit sekali untuk bicara." bisa ki-kita pergi?"
Benjamin terpana melihat tatapan Bel yang ditujukan pada Verga. Ia melihat luka yang begitu dalam. Hatinya sendiri entah kenapa terasa seperti diremas melihat air mata yang mengalir di pipi Belinda. Wajah adiknya itu pucat, kedua bahunya melorot turun. Keseluruhan dirinya tampak kalah.
Verga dengan cepat segera berdiri, ia mendekati Bel dan membantunya bangkit. Sebelum pergi, ia menoleh ke arah Benjamin dan menatap dengan sangat dingin.
"Aku belum selesai denganmu!"
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Likenya jangan lupa ditekan ya pembaca kesayangan Belinda, vote, komentar dan juga love dan bintang lima. Terima kasih banyakkkk.
Salam. DIANAZ.