Belinda

Belinda
64. Support



Benjamin melangkahkan kakinya masuk ke sebuah ruangan yang sangat besar. Ujung mantel panjangnya yang tidak diikat melambai ketika ia berjalan cepat menelusuri lorong rumah sakit. Mata Benjamin melirik ke arah atas sebuah pintu bertanda area bedah.


Seorang pria yang bersandar dengan tumpuan satu kaki di dinding rumah sakit langsung berdiri dan melangkah menyambut ketika ia mendekat.


"Tuan Antolini?" sapa pria tersebut.


"Ya. Anda Evander Morone?"


"Benar. Bagaimana Nyonya Marchetti? Saya tidak terpikir menghubungi siapa lagi selain beliau. Karena tidak tahu nomor ponselnya, saya menghubungi hotel tempatnya menginap. Seharusnya sejak awal saya menghubungi Anda."


Benjamin menarik napas panjang, mengangguk dan menatap ke arah pintu yang tertutup rapat.


"Belum ada kabar?"


"Belum."


"Tindakan apa yang akan mereka lakukan?"


Evander menggelengkan kepala. Tanda ia juga belum tahu. "Kami belum lama tiba di sini. Dia langsung dibawa masuk. Kurasa tindakan apapun yang akan mereka kerjakan, mereka akan segera mencari keluarganya untuk meminta persetujuan."


Benjamin mengangguk.


"Anda yang menemukannya?"


Evander terdengar mendesah. "Bukan. Seorang pekerja saya baru kembali. dia yang menemukannya. Saya melakukan apa yang saya bisa untuk membantu mengevakuasi mereka."


"Apakah ...." Benjamin menelan ludah. Ia tidak sanggup menyuarakan keingintahuannya tentang keadaan Verga dan Juan.


Saya menemukan mereka dalam keadaan pingsan. Tubuh mereka begitu dingin ... entah berapa lama mereka terjebak di bawah hujan ...."


"Apakah ... kau melihat sesuatu yang ... patah, luka atau ....."


"Saya melakukan pemeriksaan darurat, keduanya mengalami luka di kepala, darahnya bercampur air hujan ... soal bagaimana keadaan tubuh yang lain ... bisa saya katakan ... utuh ... tapi kita tidak tahu-" Evander menggelengkan kepalanya. "Saya tidak berani memastikan. Yang pasti, kami melakukan evakuasi dengan hati-hati, agar tidak menambah cidera apapun."


Benjamin menelan ludah, mengepalkan tangan di dalam kantong mantelnya.


"Duduklah, Tuan Antolini. Saya rasa, mereka baru mulai. Kita masih harus menunggu untuk mendapat kabar."


Benjamin mengangguk, lalu duduk di sebuah kursi panjang tak jauh dari sana. Ia mendapati Evander mengikutinya, pria itu duduk di sebelahnya dengan kedua tangan terjalin di atas lutut.


Ben memandang berkeliling. Ia tak melewatkan beberapa penjaga berpakaian rapi dengan jas lengkap di area rumah sakit tersebut. Orang-orang yang ia yakini adalah anak buah Evander.


Benjamin juga membawa orang-orangnya sendiri. Ia bermaksud menahan jika ada anggota keluarganya yang panik dan berniat menerobos masuk ke rumah sakit. Benjamin tidak akan membiarkan hal itu sebelum ia mendapat kabar pasti tentang keadaan Verga.


Belinda hanya sempat siuman sejenak sebelum memejamkan mata kembali. Beban di hati adiknya itu terasa amat berat, kelelahan dan kekuatannya seolah lenyap. Benjamin memercayakan ayahnya dan Maurice agar mengurus Bel di Mansion. Memastikan merawat Bel dan tidak membiarkannya pergi kemanapun. Jangan sampai Belinda memaksakan diri ke rumah sakit dengan kepanikan dan keresahan yang sedang dialaminya itu. Lebih baik Ben yang menunggui Verga dan memastikan bagaimana keadaan sebenarnya.


"Tuan Antolini ... apakah keluarga Marchetti perlu dihubungi? Maksud saya, ayah Verga ... juga keluarga dari asistennya itu."


"Panggil Aku Benjamin saja, Evander. Aku sudah menghubungi Tuan Verone ... soal Juan, Tuan Verone bilang biar ia yang mengurus hal itu."


***********


Jam demi jam berlalu, Benjamin mengusap wajahnya dan memandangi layar ponsel. Evander sudah pulang dan ia sendirian di sini. Ayahnya sudah berulangkali menelepon, mengatakan akan menyusul ke rumah sakit. Namun Ben melarangnya. Ayahnya baru sembuh, Belinda masih lemah, dan Ben ingin ayahnya yang menunggui wanita itu.


Sebelumnya seorang dokter sudah datang memberikan penjelasan tentang tindakan yang akan mereka lakukan pada Verga dan Juan. Benjamin bertindak sebagai keluarga yang memberikan persetujuan lisan maupun tertulis pada pihak rumah sakit. Ia merasakan beban yang sangat berat ketika menandatangani surat-surat yang diberikan oleh perawat dan dokter padanya. Tapi tindakan cepat yang diperlukan saat ini tidak mungkin menunggu Tuan Verone atau ibu Juan tiba dulu.


Beban bertambah ketika Ben menelepon ayah Verga dan mendapati Tuan Verone dengan suara menahan tangis mengatakan ia menyerahkan pada Benjamin mengambil keputusan yang terbaik.


"Tuan Antolini,"


"Bagaimana!?" tanya Benjamin. Benjamin melihat garis mata dokter tersebut bergerak, ia tidak berani menebak apakah itu karena dokter tersebut sedang tersenyum atau sedang memasang wajah menyesal. Wajah Benjamin sendiri sudah mengekpresikan bagaimana perasaannya saat ini.


"Anda pasti khawatir sekali. Operasinya Tuan Verga lancar dan berhasil. Bagian perdarahan di kepalanya sudah dioperasi. Sekarang kita harus menunggu. Dia belum sadar dan sudah dipindahkan ke ruang intensive. Sesuai keinginan Anda, ruang khusus untuk Tuan Verga dan juga Juan. Soal Tuan Juan, rekan saya yang akan menjelaskan," ucap dokter tersebut sambil menepuk pelan bahu rekan di sebelahnya.


"Operasi Tuan Juan juga berhasil dan lancar, Tuan Antolini. Kita juga tinggal menunggu ia bangun."


Benjamin menarik napas begitu panjang sambil mengusap wajah, paru-parunya seolah menghirup udara sejuk nan segar, kelegaan segera mengisi dadanya meski rasa khawatir tetap tidak hilang sepenuhnya.


"Ya Tuhaaaaannnn...." Benjamin membungkuk, menumpukan kedua tangan ke atas lutut dan mengatur napasnya berulang kali.


"Anda baik-baik saja, Tuan Antolini!?"


"Astaga ... kalian tidak tahu betapa leganya aku."


Benjamin menampakkan kelegaan luar biasa di wajahnya. Ia tidak peduli terlihat lemah di depan kedua dokter tersebut, karena memang ia merasa begitu beberapa jam yang lalu.


"Kurasa sekarang Anda sudah bisa melihat mereka. "


Benjamin langsung berdiri dengan tegak. "Ya. Aku mau melihat mereka!"


************


Belinda meremas lengan ayahnya tanpa sadar ketika kakinya menapak di lorong rumah sakit. Bola matanya menatap ke arah kursi tunggu dimana Alana duduk di sana bersama Benjamin.


Belinda menunduk ketika merasakan punggung tangannya dirangkum dan diremas. Ayahnya berjalan pelan sambil menggandeng Belinda, wajah pria itu sedang menatap khawatir ke arahnya.


"Kau harus janji tidak akan pingsan lagi," bisik Belardo.


Belinda mengangguk.


"Ben sudah bilang. Operasinya lancar."


Kembali Belinda mengangguk. Kakinya sungguh terasa amat berat. Ia merasa kumpulan air mulai menggenang di bola mata. Sekuat tenaga ia menahan agar tidak menangis.


Benjamin langsung bangkit dari kursi dan menyongsong kedatangan ayahnya dan Belinda. Ia tidak luput memperhatikan kedua tangan Belinda yang menggandeng lengan ayahnya. Ketika sudah dekat, ia menyadari wajah Belinda yang begitu khawatir dan kedua matanya yang berkaca-kaca.


Ben mengembuskan napas panjang, lalu mengulurkan lengannya. "Kemarilah, biar aku mengantarkanmu padanya. Kurasa kau tidak akan percaya bila tidak melihat sendiri. Aku belum lama keluar dari sana. Dia memang masih belum bangun tapi semuanya dalam keadaan stabil ...."


Belardo membimbing bahu Bel dan menyerahkan putrinya pada Benjamin.


"Masuklah bersama Benjamin."


Setelah anak-anaknya masuk ke ruangan perawatan Verga, Belardo berjalan menuju kursi yang diduduki Alana. Alana sedikit bergeser, seolah memberikan ruang untuk pria itu.


"Aku senang semua anak-anakku berkumpul ... tapi aku lebih senang kalau tempatnya bukanlah rumah sakit," ucap Belardo pelan.


Alana tidak menanggapi, ia bersandar dengan tangan bersedekap, menatap ke arah pintu yang juga di tatap oleh Belardo. Di dalam hatinya ia sungguh ingin tahu, apakah anak-anak yang dikatakan oleh pria itu termasuk dirinya.


NEXT >>>>>>


***********


From author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love ,bintang lima, komentar dan vote ya. Sebelumnya author ucapkan terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.