Belinda

Belinda
63. Downpour



Verga mengulurkan tangan menyambut lengan Evander Morone yang terulur ke arahnya. Sudah hampir tengah malam. Hujan gerimis yang turun dari langit menambah cuaca dingin semakin menggigit.


"Kami akan pulang sekarang," ucap Verga setelah tangannya bersalaman dengan Evander.


"Maafkan aku menyita waktumu hingga selarut ini. Aku memang begini jika sudah bekerja. Kuharap besok tidak banyak lagi yang perlu kita kerjakan, jadi kau punya lebih banyak waktu bersama keluargamu."


"Tidak masalah. Aku senang jika kita sudah menyelesaikan semuanya lebih cepat, aku jadi punya sisa waktu untuk dihabiskan bersama keluarga istriku sebelum kami pulang."


"Benar kau tidak membutuhkan orangku untuk mengantar?"


"Tidak. Tidak perlu. Juan sudah hafal jalannya setelah beberapa hari kita berkeliling di lokasi ini."


Evander menganggukkan kepala. "Berhati-hatilah menuruni bukit, Juan. Terutama di belokan tajam Copedam hill."


"Ya, Tuan," jawab Juan sambil menganggukkan kepala.


Ketika mobil telah meninggalkan bangunan yang ada di atas bukit dan diantara pepohonan tinggi tersebut, suara guntur menggelegar di atas langit yang kelam. Verga melirik Juan yang mengemudi dengan hati-hati di sampingnya.


"Kurasa, suara itu menandakan hujan akan turun deras sebentar lagi ...."


"Ya, Tuan."


"Cuaca buruk ... hati-hati, Juan."


"Baik."


"Ah ... aku ingin pekerjaan segera selesai ... aku berharap dapat menghabiskan waktu bersama Belinda di Mansion Antolini."


Juan tiba-tiba tersenyum. "Anda sengaja bukan, Tuan? Tuan Evander memang gila kerja. Tapi ia tidak memaksa Anda untuk mengikuti iramanya. Jika Anda mau pulang sebelum makan malam agar bisa bergabung dengan Nyonya Bel, beliau pasti tidak akan keberatan."


Tawa pelan terdengar dari mulut Verga mendengar ucapan Juan. "Kau paham rupanya ... Belinda harus menghadapi mereka bila ia ingin hubungan dengan keluarganya berubah. Bila aku ada di sana, istriku akan bersembunyi di belakangku. Ia akan membiarkan aku yang berhadapan dengan ayah atau kakaknya ... tapi bila aku tak ada, mau tidak mau, ia harus berinteraksi dengan keluarganya."


"Menurut saya ... Nyonya menikmati waktunya di Mansion Antolini, Tuan."


Verga kembali tertawa senang. "Matamu tajam, Juan. Kau benar. Aku melihat perubahan istriku. Dia ... terdengar senang ketika menceritakan harinya di Mansion Antolini."


"Syukurlah, Tuan ...."


"Kurasa ... bila pekerjaan kita di sini selesai, kita bisa mengambil libur sebelum pulang ke Broken Bridge. Aku mau menghabiskan waktu dengan keluarga istriku ... lagipula, aku belum membuat perhitungan dengan Black."


"Ah ... tentang penculikan waktu itu ," ucap Juan sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tuannya memang sudah menceritakan tentang keterlibatan Benjamin terhadap kejadian waktu itu.


"Kuharap ia belum pergi ketika aku selesai dengan pek-"


Kilat menyambar, membuat perkataan Verga terhenti. Lengannya otomatis terangkat melindungi mata dari kilau cahaya keperakan yang seolah menembus dan menghujam tubuh.


"Astaga," bisik Juan. Ia menegakkan punggung, memfokuskan penglihatannya ke jalanan, tahu kalau mobil mereka akan mulai menuruni belokan tajam Copedam hill. Saat mobil membelok, sesuatu bergerak cepat di lintasan depan mobil mereka. Membuat Juan terkejut dan berusaha mengelak.


Seekor induk rusa dan anaknya yang masih berada di tengah jalanan, menatap dengan mata bulat besar ketika ban mobil berderit di jalanan licin, lalu tergelincir dan melaju ke bibir tebing.


Kilat sekali lagi menerangi malam pekat, menyusul suara guntur menggelegar menyapa alam. Rintik gerimis mulai menghilang, digantikan deru air hujan yang tercurah bagai ditumpahkan dari atas langit. Saksi bisu, teriakan dua pria yang merasakan bahwa kematian sudah begitu dekat.


************


Belinda menarik selimut menutupi hingga ke atas kepala ketika mendengar suara hujan yang turun amat deras. Meski sudah naik ke atas ranjang sejak tadi, ia belum bisa memejamkan mata, memutuskan menunggu suaminya pulang. Cuaca buruk dengan guntur dan kilat yang menderu di atas langit beberapa waktu lalu membuat Bel agak khawatir.


Ketika baru tiba di hotel, ia menerima sebuah pesan yang menanyakan apakah ia sudah pulang dari rumah ayahnya. Belinda menjawab pesan suaminya itu. Mengatakan bahwa ia baru saja tiba di hotel. Verga kemudian mengirim pesan lagi mengatakan agar Bel segera tidur dan istirahat, tidak perlu menunggunya karena ia akan pulang larut.


Memikirkan pesan tersebut, Belinda menurunkan selimut dan mencari-cari keberadaan ponselnya. Ia melihat benda tersebut di atas nakas di samping tempat tidur. Baru saja akan bergerak meraih ponsel, Belinda dikejutkan dengan suara pesawat telepon milik hotel yang tiba-tiba berbunyi.


"Astaga, mengagetkan saja," ucap Belinda. Ia bangkit, lalu duduk di pinggir tempat tidur.


Kening Belinda berkerut memandangi telepon yang terus berbunyi. Selama menginap di hotel, benda itu tidak pernah berbunyi atau ia gunakan sekalipun. Tapi panggilan tengah malam seperti ini, pastilah karena sesuatu yang penting.


"Halo, selamat malam," sapa Belinda.


Suara seorang wanita kemudian terdengar, Bel menyadari itu adalah suara operator, beberapa detik kemudian barulah ia mendengar suara berat dan dalam seorang pria yang dilatari suara hujan. Cuaca yang buruk membuat kalimat pria tersebut kadang terputus.


"Saya Evander Mor--. Benarkah saya bicara dengan Be- Marchetti?"


"Benar. Saya Belinda Marchetti," ucap Belinda.


"Nyonya, sebuah kecelakaan ------ terjadi. Mobil suami Anda --------- di bawah bukit --------"


Kalimat panjang yang diucapkan oleh pria tersebut, terputus oleh bunyi tidak jelas, Bel memegang erat gagang telepon.


"Ap-apa ...."


Belinda berdiri, memindahkan gagang telepon dari telinga kiri ke telinga kanan. Namun suara Evander tetap terputus-putus.


"Copedam--"


Belinda mendengar Evander mengucapkan nama tempat itu sebelum sambungan telepon benar-benar terputus.


Berdiri gemetar, Belinda menoleh ke arah kaca. Dalam pikirannya sosok Verga terbayang jelas. Dengan senyum menawan, sorot mata yang amat lembut dan lengan yang selalu terulur untuk memeluk dan menyentuh istrinya.


Seketika isak tangis Belinda pecah. Merasa lemas saat kengerian mulai merambati seluruh tubuh, telinganya terasa berdenging, Bel meletakkan gagang telepon sembarangan, ketika melangkah ia merasa tubuhnya lunglai dan tidak bisa bergerak.


"Tidak ... tidak boleh ... tidak boleh!" jerit Belinda dengan sorot mata nanar memandang sebuah mantel yang tersampir di sandaran kursi.


"Ayah ... Ben ... tolong aku ...." bisik Bel putus asa.


***********


"Ayah ...."


"Kenapa kau belum tidur? Duduk sendirian di sini. Bel sudah pulang kan?"


"Sudah sejak tadi. Aku hanya tidak bisa tidur. Ayah sendiri, kenapa bangun?"


"Entahlah ... aku merasa agak kedinginan ... minuman hangat mungkin akan terasa enak. Tapi ... semua pelayan mungkin sudah tidur ...."


"Tidak. Masih ada Sienna. Dia baru saja membuatkanku itu," tunjuk Benjamin ke arah kopi yang masih sedikit mengepul di atas meja.


Seperti tahu namanya disebutkan, Sienna muncul dengan kening berkerut melihat Tuan Belardo yang masih berdiri di dekat sofa dekat Benjamin.


"Anda memerlukan sesuatu, Tuan?" tanya Sienna.


"Bisakah kau membuatkan Ayah-" Ucapan Benjamin terputus, karena suara pintu yang tiba-tiba dipukul berulangkali dan jeritan perempuan yang menyertainya.


"Ayah! Ben! Buka pintunya! Ayah! Benjamin!" Suara tersebut makin keras, seolah orang yang datang menabrakkan seluruh tubuhnya ke pintu.


"Nona Belinda?" Sienna merapatkan syal di bahunya sambil berjalan cepat ke arah pintu. Jeritan memanggil Ayah dan Ben berulangkali tersebut segera ia kenali sebagai suara Belinda.


Belardo yang juga mengetahui jeritan itu adalah suara Belinda segera berjalan mengikuti di belakang Sienna.


Sienna membuka pintu lebar-lebar, tubuhnya langsung di rengkuh oleh sosok Belinda.


"Kakak! Dimana kakakku, Sienna! Katakan!" Jerit Belinda sambil meremas kedua bahu Sienna.


Sienna menatap cemas wajah majikannya yang basah kuyup. Wanita itu terlihat seperti baru saja keluar dari bawah pancuran air. Rasa takut, cemas dan ngeri yang ia lihat di mata wanita itu membuat Sienna tahu bahwa air yang ada di pipi wanita itu bukanlah air hujan, tapi air mata. Piyama tidur yang ia kenakan terlihat sama basahnya dengan mantel panjang yang dikenakannya. Sienna melirik ke arah depan, melihat sebuah mobil taksi yang masih menunggu.


"Belinda! Ya Tuhan!"


Suara Belardo membuat Belinda menoleh, sosok ayahnya tersebut membuat kakinya yang sejak tadi ia paksa agar bergerak seperti sudah mencapai batas. Tubuhnya jatuh terduduk di atas lantai. Dengan sorot mata memohon kedua tangan terkepal di atas lantai, kepala Bel mendongak menatap ayahnya sambil menangis.


"Ayah, to-tolong aku-" ucapnya lirih.


Belardo dengan cepat bergerak, ikut berlutut, lalu memeluk tubuh basah putrinya yang terisak-isak. Pelukan yang langsung mendapatkan balasan dari Belinda. Wanita itu berpegangan erat seolah ia takut kehilangan pegangan.


"Katakan padaku!"


Kata-kata Belinda selanjutnya tidak ada yang bisa dimengerti oleh Belardo.


"Bel-Bel, tenangkan dirimu, ucapanmu tidak jelas. Kau ingin bertemu kakakmu?" tanya Belardo. Mencoba mengurai sedikit kata yang bisa ia tangkap.


Anggukan dari kepala Belinda membuat Belardo menoleh. Sosok Benjamin rupanya sudah berdiri di dekat mereka.


"Aku di sini. Tenangkan dirimu dulu," ucap Benjamin, lalu menelan ludah. Rasa terkejut beruntun menghantam hatinya. Namun ia mencoba tetap tenang melihat Belinda yang sangat berantakan.


Pertama saat pintu terbuka dan Ben melihat bagaimana penampilan Belinda. Adiknya itu mungkin menembus hujan hanya untuk memanggil taksi. Sesuatu sudah terjadi dan membuat wanita itu tidak bisa berpikir jernih. Lalu kejutan kedua membuat hatinya berdenyut sakit, ketika Belinda merengkuh Sienna dan menanyakan dimana kakak, panggilan yang membuat Benjamin seolah diperlihatkan pada ikatan yang menghubungkan mereka. Kejutan lain saat ayahnya secara reflek berlutut, langsung memeluk Belinda sealami seorang ayah memeluk putrinya sendiri, kemudian genggaman erat kedua tangan Belinda pada jubah ayahnya, membuat Benjamin mengerti sebuah kabar buruk tengah menggantung, menunggu untuk diucapkan.


"Bel ... katakan, Nak," ucap Belardo. Suara serak ayahnya membuat Benjamin melirik wajah pria tua itu.


"Mo-mobil Verga ja-jatuh ke jur-"


Ucapan terputus Belinda membuat mata Benjamin kembali beralih ke wajah adiknya itu.


"jur-jurang ...." kedua mata Belinda berkedip, seolah air mata menghalangi pandangannya.


Benjamin merasakan jantungnya berdetak tidak menentu. Perasaan takut yang ia lihat di mata Belinda membuat tubuhnya terasa dingin. Sebelum Belinda menutup mata dan terkulai lemah di pelukan ayahnya. Ben bergerak dan mulai berlutut.


"Kita pindahkan dia dulu, Ayah ...." bisiknya pelan, mengambil alih tubuh Belinda dan langsung mengangkatnya.


Sienna bergerak cepat, memimpin untuk membawa Belinda ke atas. Yang terpikir olehnya saat ini adalah bagaimana membuat badan nonanya itu hangat kembali.


Benjamin mengeratkan pelukan di tubuh dingin Belinda. Ia mengeraskan rahang dan berjalan cepat sambil melompati dua anak tangga sekaligus.


Ya Tuhan .....dia akan hancur jika ....


Benjamin menggelengkan kepalanya berulang kali.


Tidak ... aku tidak boleh memikirkan hal itu ... aku harus memastikan sendiri ke sana.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Takdir buruk apapun yang menghampirimu , Bel, keluarga Antolini akan selalu ada untukmu.


Ikuti kisahnya. Beberapa part menuju akhir. Apakah Belinda mendapatkan ayah dan kakaknya kembali, namun harus kehilangan suami?


Tekan like, love, bintang lima dan vote ya. Ketik komentarmu, ending seperti apa yang ada di pikiran readers sekalian. Otor penasaran soalnya.


Terima kasih pembaca kesayangan Belinda.


Salam. DIANAZ.