
Daniel tersenyum pada istrinya ketika membukakan pintu kamar hotel.
"Kau membuat resepsionis tadi jadi bertanya-tanya Daniel. Ia pasti penasaran hubungan apa yang kau miliki dengan artis bernama Daniella Dolores," ucap Elena sambil tertawa.
"Pasti. Daniel dan Daniella Dolores. Jika aku mirip dengan Ella, ia pasti menebak kalau Ella putriku. Sayangnya dia mirip denganmu, Elena."
"Sayangnya?" Elena menaikkan alis, memasang ekspresi tersinggung. "Jika dia mirip denganmu, dia akan lebih cantik dari sekarang?"
Daniel menutup pintu sambil terbahak. "Jangan tersinggung Elena sayang. Ella jadi cantik seperti sekarang karena mengambil semua hal baik dari keturunan Marchetti. Matanya biru jernih dan rambutnya hitam berkilau, seperti ibunya."
"Andai dia meniru rambutmu ...."
"Tidak. Aku tidak suka rambutku."
"Kau tidak suka gadis pirang sejak dulu, Daniel. Padahal rambutmu sendiri pirang."
Daniel meletakkan koper, ia menatap rambutnya di cermin yang ada di dinding kamar.
"Apakah kita akan langsung mencari Ella?"
Daniel menggelengkan kepala. "Tidak. Nanti setelah makan malam saja. Tadi aku bertanya dengan petugas hotel, kru film masih berada di lokasi syuting. Mereka biasa kembali saat makan malam. Sekarang istirahatlah dulu, Elena. Ella masih bekerja, sebaiknya kita jangan mengganggunya dengan kejutan tiba-tiba."
"Kau benar. Kita istirahat saja dulu."
**********
Timmy menyeringai melihat Benjamin yang menghela napas panjang.
"Dia belum kembali."
"Belum, Black. Biasanya mereka kembali sebelum makan malam." Timmy melirik jam tangannya. "Sekitar satu jam lagi."
Ben berbalik dan menutup pintu kamar Ella. Hanya melihat jejak keberadaan wanita itu di dalam kamar membuat hatinya jadi semakin ingin melihat wanita itu.
"Kau mau kemana?" Timmy menatap Benjamin yang berbalik pergi, berjalan memunggunginya.
"Menemuinya."
"Apa tidak sebaiknya kau mandi dulu atau istirahat menunggu di kamarmu? Kau datang diam-diam ke sini, percuma jika kau muncul tiba-tiba di sana dan terlihat banyak orang."
"Aku masih ingat bagaimana caranya agar tidak terlihat orang, Tim."
"Kau mau menyelinap?"
Benjamin tidak menanggapi, terus berjalan pergi meninggalkan Timmy.
"Ternyata Komandan benar, kau rindu setengah mati pada Nona Ella."
Timmy terbahak ketika mendengar Benjamin menjawab dengan dengusan.
**********
Ella masuk ke dalam tenda dan mengambil handuk untuk membersihkan air dari wajahnya.
"Tidak kusangka berjalan lebih lama dari waktu yang diperkirakan. Ada apa sebenarnya dengan Miranda. Dia tampak tidak bisa berkonsentrasi." Bernie mengambil handuk yang diulurkan oleh Ella.
"Kita melewatkan waktu makan malam. Perutku hanya terisi roti, aku lapar, Bern."
"Aku tahu. Kau pasti sangat lelah. Bagaimana kalau kita kembali?"
Ella mengempaskan tubuh di sebuah kursi santai, setengah berbaring ia memejamkan mata. "Aku bisa tidur di sini ...."
Bernie menoleh ke arah kantong tidur yang ada di sudut tenda.
"Apa bisa? Kau akan merasa tidak nyaman."
"Yang penting hangat, Bern ...."
"Bagaimana dengan makan malam? Kau bilang kau lapar. Kau mau ke tenda makanan atau aku yang bawa ke sini?"
Bernie melihat Snow masuk dan memberi kode padanya. Ia mendekat dan mendengarkan ketika Snow membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Baiklah. Aku juga mau pergi. Aku akan mengambil makan malam untuk Ella. Aku akan tenang jika ada yang menemaninya di sini. Kau berjagalah kembali. Ayo ...." Bernie menepuk bahu Snow dan mengajaknya keluar tenda.
Ella memejamkan mata dengan pikiran mulai mengembara. Diam dalam keheningan selalu membawanya kembali pada sosok Benjamin. Sejak pamit pergi, mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel. Hal yang tidak terasa memuaskan bagi Ella.
Tunangannya yang tidak romantis itu hanya menanyakan kabar, menanyakan pekerjaannya atau keamanan dan kondisi sekitar Ella. Meskipun Ella tahu semua itu sudah diketahui Benjamin dari para anak buahnya yang selalu memberikan laporan.
Mengingat kata tunangan Ella teringat cincin yang diberikan oleh Benjamin. Ia sengaja melepas benda tersebut ketika sedang bekerja. Pertunangan mereka belum diumumkan secara resmi. Benda tersebut akan membuat orang bertanya atau berspekulasi, jadi ia melepas cincin itu ketika bekerja.
Ella bangun dan menurunkan kakinya ke bawah, ia duduk dan menjangkau sebuah tas yang ada di atas sebuah meja kecil. Selagi ia merogoh ke dalam tas dan membuka sebuah retsleting, terdengar bunyi langkah kaki yang memasuki tenda.
"Cepat sekali kau kembali, Bern? Apa makanannya sudah habis? Tidak heran juga ... kita semua pasti kelelahan dan kelaparan. Kurasa seluruh kru memilih langsung tidur di tenda mereka masing-masing daripada kembali ke hotel. Menghemat waktu."
Ella mengangkat tangan kiri dan memperlihatkan cincinnya dengan merentangkan lima jari.
"Cincin ini cantik dan unik. Bukan begitu, Bern?"
Ella tersenyum ketika tidak mendengar jawaban Bernie. Pria itu pasti sedang mengerutkan bibir seperti yang biasa ia lakukan jika Ella sedang membicarakan Benjamin.
"Andai sudah resmi bertunangan, benda ini tidak akan kulepas ... sayangnya belum resmi."
"Sudah resmi. Hanya belum diumumkan. Orang tuaku sudah tahu. Tinggal orang tuamu."
Ella berbalik cepat dan membelalak melihat sosok di belakangnya.
"Ben!?"
Senyum kecil muncul di bibir Benjamin. "Aku menyelinap," ucapnya.
Ella bangkit dan memutari kursi agar bisa berhadapan dengan Benjamin.
"Kukira Bernie," ucap Ella. Matanya berbinar memandang wajah Benjamin.
"Dia tidak akan kemari sampai diizinkan masuk."
"Oh, ya? Tidak akan ada yang bisa menghentikannya jika dia ingin masuk."
"Ada. Snow berjaga di depan." tunjuk Benjamin ke pintu tenda.
Ella tertawa kecil, lalu segera hilang ketika tangan kirinya dipegang oleh Ben. Pria itu mengangkat tangannya yang mengenakan cincin, lalu membawanya ke bibir.
"Aku akan segera menemui ayahmu ... segera setelah dia merestui, kita akan mengumumkannya secara resmi, DD."
Daniella mengangguk, detak jantungnya mulai berirama lebih cepat ketika merasakan kecupan Benjamin di telapak tangannya.
"Kau merindukanku?"
Ella menelan ludah ketika Ben memindahkan bibirnya ke pergelangan tangan bagian dalam. Ia berharap Ben tidak menyadari denyut nadinya yang mulai berpacu dalam pembuluh darahnya di sana.
Ketika lengan Benjamin mulai melingkari pinggangnya dan menarik Ella mendekat, Jawaban yang sudah Ella pikirkan untuk pertanyaan Ben seketika sirna. Bibirnya tidak mau mengucapkan kalimat apapun, matanya yang bertatapan dengan mata Benjamin menampakkan kilau keinginan yang lain. Ia tidak ingin berbincang, tapi menginginkan ciuman.
Keinginan Ella terpenuhi ketika Benjamin menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibir Ella. Semua kerinduan mereka selama berhari-hari seolah tertumpah dan terlampiaskan. Tangan Benjamin menggapai dan mematikan tombol satu-satunya sumber cahaya di dalam tenda, hingga kegelapan melingkupi tenda, hanya cahaya temaram di luar tenda yang membuat tempat itu tidak terlalu gelap.
"Aku merindukanmu, DD."
Bisikan Benjamin membuat lengan Ella bergerak mengalungi leher pria itu. Ciuman mereka makin panas dan bergairah. Kenikmatan bisa menyentuh Ben lagi membuat kegembiraan seolah berdendang di seluruh pembuluh darah Ella. Telinganya seolah berdenging, tidak mendengarkan suara apapun kecuali kecupan dan ******* Benjamin.
Di luar tenda, Snow menyeringai ketika mendengar suara-suara dari dalam. Ia menatap berkeliling. Suasana masih sepi karena orang-orang banyak masih berada di tenda makanan.
Sebaiknya aku menjauh sedikit. Nona Ella pasti malu jika aku masih berada di sini, meskipun Bos tidak keberatan sama sekali ... aku akan mengambil kopi dan kembali.
Snow tertawa kecil ketika mendengar desah kecil Ella yang terdengar sampai luar tenda. Meski sangat pelan, tetap saja terdengar jika ia masih berdiri tepat di luar pintu tenda.
"Sebaiknya pelan-pelan, Bos. Kau mau membuat Nona Ella menjerit hingga suaranya terdengar orang lain di sini?" Snow berbisik sambil berjalan meninggalkan tenda. Ia tidak menyadari telah memunggungi sepasang suami istri yang muncul dari balik sebuah tenda lain tak jauh dari sana.
"Kurasa yang itu, Daniel. Pria tadi bilang, tenda Ella letaknya di dekat pepohonan bagian sudut kanan. Kurasa yang itu."
"Jika tahu kita harus ke sini pada akhirnya, aku akan mengajakmu langsung kemari setelah kita sampai tadi, Elena. Tidak menunggu hari gelap."
"Kita tidak tahu kalau mereka begitu sibuk sampai tidak kembali untuk makan malam, Daniel."
"Kuharap Ella ada di tendanya."
"Ya. Kuharap dia belum makan malam. Pria tadi juga mengatakan kalau mereka baru saja selesai dan akan pergi makan. Ella pasti senang dibawakan makanan dari hotel."
"Pasti, Elena. Pasti. Apalagi yang membawanya adalah Ayah dan ibunya."
Dari sebuah tenda besar yang berisi peralatan, Stanley baru saja keluar dan mengernyit melihat dua orang yang baru saja tiba di depan tenda Ella. Ia berdecak dan bertanya-tanya kemana Snow pergi. Stan melangkah pelan mendekat sambil berpikir siapa kedua orang itu.
Ketika di kejauhan pria tinggi yang tiba itu membuka topinya, kilau rambut pirang membuat Stanley membelalakkan mata.
"Astaga! Kemana para pengawal itu! Kenapa tidak ada yang tahu tentang ini!" desis Stanley sambil berlari.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.