Belinda

Belinda
18. Shock



Benjamin melirik jam tangan, ia merasa sudah bermenit-menit berdiri diam dan membiarkan Ella menangis sambil memeluk pinggangnya. Ia tidak bisa menemukan satu pun kata penghiburan.


Kalau kukatakan jangan menangis, aku merasa dia memang perlu menangis ... jangan, bukan jangan menangis. Katakan semuanya akan baik-baik saja .... ya katakan itu ....


Benjamin menunduk, berdeham dan membuka mulut, namun lidahnya kelu. Ia mengernyit dan tidak jadi mengatakan apa-apa. Sedetik kemudian matanya melihat hiasan rambut Ella yang sudah menjuntai dan hampir terlepas. Ia mengangkat tangan kanannya dan melepaskan hiasan itu dengan hati-hati.


Merasakan rambutnya ditarik, Ella bertanya tanpa melepaskan pelukan. "Apa yang kau lakukan?"


"Hiasan rambutmu hampir lepas."


"Oh ...."


Setelah menggenggam hiasan tersebut, Benjamin menatap puncak kepala Ella. "Sudah berhenti menangis?"


"Kenapa? Keberatan meminjamkan pinggangmu?"


"Kau tidak menangis di pinggangku, DD. Kau menangis di perutku."


"Ya ... benar juga."


"Perlu tisu?"


"Tidak." Wajah Ella masih tersembunyi diatas kemeja Benjamin, dibalik jasnya yang tidak dikancingkan.


"Apakah aku sudah boleh bergerak? Kakiku agak kaku ...."


Ucapan itu tiba-tiba membuat bibir Ella membentuk senyum kecil.


"Baru beberapa menit sudah kaku? Kau pria tua," ucap Ella.


"Sebenarnya itu hanya alasan. Yang sebenarnya aku tidak merasa nyaman dengan posisi ini."


Jawaban Benjamin membuat senyum Ella makin lebar. "Ya ... kau pasti tidak nyaman. Jantungmu terdengar dua kali lipat lebih kencang. Kau gelisah!"


Benjamin mendengus. "Jantung tidak berada di perut, DD, tapi ada di sini." Benjamin memegang dada kirinya, "jangan mengada-ada."


Daniella mengeluskan pipinya di bahan kain kemeja Benjamin untuk menghapus airmata, lalu menarik sedikit bagian yang longgar di bagian pinggang dan membersit hidungnya.


"Kau!" Benjamin berseru sambil mundur.


Daniella menyeringai. "Terima kasih pelukannya. Aku sedikit lega," ucap Daniella, ia geli melihat wajah Ben yang memandangi kemejanya.


"Kau pengawal pribadiku, tidak boleh protes. Aku akan mengirim pakaianmu ke laundry," ucap Ella lagi dengan nada datar.


Benjamin merasa Daniella memang sengaja melakukannya. Ia balik menatap datar dan mengulurkan tisu pada wanita itu.


"Senang mendengar kau sudah lega, Nona Dolores."


"Ya. Terima kasih, Tuan Bodyguard."


"Kalau begitu, ayo kita temui Evander dan yang lainnya. "


"Tentu saja, ayo. Aku sudah membuatmu tidak nyaman dengan memelukmu tiba-tiba. Akan semakin menggelisahkan bagimu lama-lama berduaan denganku di sini." Ella bangkit sambil mengelap pipi, lalu merasa pergelangan tangan kanannya ditangkap.


"Aku tidak gelisah, DD. Kau yang sedang gelisah. Kau menangis ketakutan. Kau menelepon orang tuamu mencari penghiburan. Kau memelukku untuk menenangkan diri."


"Lepas ...." Ella melotot dan mendongak menatap Benjamin sambil menarik tangannya. Namun cengkraman pria itu tidak terlepas.


Keduanya saling menatap tepat di bola mata. Tidak ada yang mau mengalah, lalu entah apa yang merasukinya, mata Ella berpindah ke bibir Benjamin, menatap dengan mata berkilat. Ia mendekat sambil berjinjit. Setelah bibirnya berada tepat di depan bibir pria itu ia menggerakkan tangan kanannya yang masih dipegang Benjamin ke atas dada kiri pria itu, seolah ingin merasakan denyut jantung yang tengah berdetak di sana.


"Kau benar. Jantungmu di sini ... apakah irama jantungmu ini normal?" Lalu dengan berani Ella menyatukan bibirnya dengan bibir Benjamin. Ia mengecup dengan sangat lembut. Tidak menyangka akan menemukan aroma mint dan juga kelembutan pada tekstur bibir laki-laki itu. Ella menciumnya dengan segenap rasa penasaran.


Terhenyak atas ciuman tidak terduga itu, Benjamin tidak melakukan apapun selama beberapa detik. Namun hanya beberapa detik itulah batas pengendalian dirinya. Ketika lidah Ella mulai menari di atas bibirnya, Benjamin mulai balas mencium. Ia memegang pinggang Ella dengan tangan kiri dan menekan leher belakang Ella dengan tangan kanan.


Rasa panas mulai menanjak dan menyelubungi keduanya. Ella menjelajah, ia memagut dan membelai seperti apa yang Ben lakukan pada bibirnya. Adegan itu mulai membara dan membuat darah mereka mendidih. Tangan Benjamin mulai bergerak dari pinggang menuju bokong Daniella. Ia mengelus dan membelai seiring dengan lidah dan tangan. Sedangkan telapak tangan Ella di dada Benjamin terkembang sempurna dan mulai membelai.


"Benjamin!? Ella!?"


Di bagian luar pintu, Evander dan Tessa sekretarisnya memanggil dengan suara kencang. Evan dan Tessa saling berpandangan, karena dari dalam ruangan tidak ada yang menjawab. Evander memutuskan tidak hanya memanggil, tapi juga mengetuk pintu.


Benjamin yang tersadar lebih dulu dan memegangi Ella sejauh panjang lengannya. Ia mundur dan menatap wajah Ella, bibir wanita itu tampak lembab, pancaran matanya masih berkabut. Suara pintu yang terbuka membuat Benjamin menoleh dan mendapati Evan yang muncul di sela pintu.


"Ben? Apa semua baik-baik saja?"


"Bahunya memar." Benjamin menarik lembut bagian bahu gaun Ella dan mulai berpindah ke arah belakang wanita itu.


Evander tidak berkomentar ketika melihat Benjamin yang mulai menutup retsleting gaun di punggung Ella. Ia juga tidak berkomentar tentang wajah Ella yang saat ini merah padam. Wanita itu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya, namun Evander masih bisa melihat rona itu.


"Apakah aku perlu memanggil Sebastian?"


"Tidak perlu. Aku akan membawanya ke Copedam. Pemeriksaan X-ray mungkin diperlukan. Memastikan tidak ada yang retak atau patah."


Daniella menoleh cepat ke arah Benjamin. "Aku tidak mau ke rumah sakit!"


Benjamin tidak menjawab. Hanya memandang datar pada Ella. Lalu ia menatap Evander.


"Aku perlu orang-orangmu. Juga mobil."


"Baiklah ... Snow juga sudah diperiksa. Sedikit luka di kepala dan beberapa lecet. Selebihnya dia baik-baik saja."


Benjamin mengangguk."Kami beruntung malam ini ... bisa saja terjadi hal yang sangat buruk."


"Kau akan langsung ke Copedam?"


"Ya."


"Tidak kembali ke hotel dulu?"


"Tidak. Ella dan timnya libur besok. Mereka akan melakukan persiapan di lokasi-lokasi di luar hotel.


"Ah ... baiklah. Akan kusiapkan semuanya."


Ketika Evander akan berbalik dan keluar, ia mendengar Benjamin mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, Evander. Aku tidak akan melupakan bantuanmu ini."


Evander hanya melambai, lalu keluar dan menemui Tessa yang masih menunggu. Sambil melangkah meninggalkan pintu ruangan yang masih terbuka Evander memberikan instruksi apa yang ia inginkan segera disiapkan oleh Tessa.


"Ayo menunggu di luar," ucap Benjamin.


"Pergilah lebih dulu."


"Tidak." Benjamin memegang siku Ella dan mengajaknya melangkah.


Ella menoleh, menatap dalam-dalam wajah datar dan sikap percaya diri yang sekarang ditampilkan oleh Benjamin. Ia mengambil kesimpulan bahwa pria dingin itu sedikitpun memang tidak terpengaruh atas apa yang baru saja mereka bagi. Sedangkan ciuman itu mengguncangnya dengan amat sangat. Ella menggigit bibir bawahnya dan melangkah mengikuti ketika Benjamin kembali menghela sikunya dan mengajaknya keluar.


Aku kehilangan kejernihan pikiranku. Kehilangan keseimbanganku dan mendesakkan diriku bagai wanita murahan padanya. Apa yang merasukiku ... Aku tiba-tiba ingin menciumnya. Bodoh sekali! Dia tidak terpengaruh sedikitpun!


NEXT >>>>>>


*********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.