Belinda

Belinda
57. Heartbreak part 2



Verga menatap Belinda yang duduk di seberang meja persegi di depannya. Wajah istrinya itu menatap ke arah kaca gedung yang memperlihatkan pemandangan lampu-lampu dari jalan dan bangunan yang ada di luar sana.


Mereka tengah makan malam di sebuah restoran. Namun, sejak datang dan memesan menu, istrinya itu tidak banyak bicara.


"Kau baik-baik saja?"


Belinda menoleh, menyunggingkan sebuah senyuman yang tidak sampai hingga ke mata. Ia hanya menjawab dengan anggukan.


"Bel, besok ... aku akan menemui Evander. Tidak apa-apa bila kau sendirian di hotel?"


"Tak apa."


"Aku mungkin akan pergi seharian."


"Tidak masalah. Lagipula kau kan pergi bekerja, Jangan pikirkan aku. Aku akan baik-baik saja."


"Baiklah kalau kau bilang begitu."


Seorang pelayan kemudian datang, memindahkan menu makan malam mereka dari sebuah troli ke atas meja.


Verga dan Bel lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai ketika makan malam berakhir, sebuah keinginan terbersit di benak Verga.


"Malam ini kita tidak ada kegiatan lain selain kembali ke kamar dan beristirahat. Bagaimana kalau sebelum itu, kita pergi ke rumah sakit dulu menengok ayah. Mungkin saja ia sudah bangun. Besok Beliau sudah diperbolehkan pulang, sedangkan besok aku tidak bisa membatalkan janjiku dengan Evander. Maukah kau menemaniku?"


Belinda tercenung, bila menatap ragu ke arah Verga. "Apakah ... kedatangan kita diharapkan? Mak-maksudku ... apa kita malah akan mengganggu ayah atau yang lainnya bila kita datang?"


Verga mengulurkan tangan, meremas tangan Belinda dan tersenyum menenangkan. Ia tahu bagaimana perasaan istrinya itu, karena ia sendiri merasa sakit hati pada Ben dan seluruh keluarga Antolini yang tidak mengatakan apa-apa tentang kabar Belardo.


"Bel ... aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi ... ini ayah kandungmu, dia lemah dan sakit. Sudah kewajiban kita untuk memberikan perhatian, atau bahkan merawatnya. Soal bagaimana penerimaan dan perasaannya terhadap apa yang kita lakukan, itu terserah beliau. Juga seluruh keluarga Antolini, terserah mereka. Yang penting, kita datang dengan niat tulus."


Belinda tertunduk, lalu menganggukkan kepala sambil membalas genggaman tangan suaminya. Mencari kekuatan dan juga obat dari rasa sedih dan perih yang mengiris hatinya saat ini.


Selama ini ... keinginanku adalah bebas dan lepas dari ikatan nama keluarga Antolini. pergi dari mereka semua ... aku sampai rela menikah, lari dari suamiku, mencari kebebasan semu yang kukira bisa membuatku bahagia ... Sekarang, setelah punya keluarga sendiri, benar-benar terlepas dari nama Antolini kenapa ... kenapa hatiku merasa sakit dan sangat sedih ketika tahu mereka benar-benar sudah melepaskan aku. Mereka benar-benar tidak mengingatku ketika terjadi hal penting seperti ini ... aku sudah dianggap orang lain sepenuhnya, bukankah selama ini pun aku tidak hidup bersama mereka? Aku terasing dari mereka.


"Ayo, Bel ... kita pergi sekarang?"


Belinda mengangguk lagi, bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan meja mereka. Ia menyiapkan hati, apapun tanggapan ayahnya atau anggota keluarga Antolini, ia akan menanggungnya. Menerima penolakan sekali lagi tidaklah sulit. Bukankah selama ini ia memang selalu ditolak.


***********


Verga disambut oleh Maurice ketika ia tiba di ruangan tunggu keluarga Antolini di rumah sakit. Wanita itu bersikap layaknya mertua yang menyambut kedatangan menantunya dengan gembira. Wajahnya tidak seperti sore tadi ketika mereka baru datang.


Verga membalas salam dan senyum Maurice sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


Di sofa single di sudut ruangan di dekat jendela kaca, duduk Athena yang melirik saat mereka datang. Menyipit menatap Belinda dan Verga, lalu segera menoleh kembali ke arah kaca. Bergeming dan menunjukkan aura tidak mau diganggu.


"Syukurlah kalian datang lagi. Belardo tadi bangun dan Benjamin memberitahu kalau kau dan Belinda datang. Dia menanyakan kalian," ucap Maurice. Wanita itu melirik sedikit ke arah Belinda yang berdiri di samping Verga dan memeluk lengan suaminya itu seolah takut lepas.


"Dimana Ben? Di dalam?" tanya Verga.


Maurice menggelengkan kepala. "Tidak. Alana yang di dalam. Ben pulang ke Mansion." Lalu ia melihat ke arah jam dinding,"biasanya Ben akan datang sebentar lagi. Ia yang menunggu Belardo kalau malam hari. Kami disuruh pulang."


"Ah, begitu ... apakah Beliau belum tidur? Bisakah kami melihatnya?"


"Tentu. Sudah kubilang tadi ia menanyakan kalian."


"Ben bilang apa padanya?"


"Ben bilang kalian pulang ganti baju, karena begitu datang kalian langsung kemari."


Verga mengangguk, lalu ia mengajak Belinda menuju ruangan perawatan Belardo.


Alana langsung menutup buku yang ia baca dan langsung bangkit berdiri ketika melihat Verga dan Belinda masuk. Ia melirik ibunya yang mengikuti pasangan itu.


Belardo yang sudah melihat keduanya datang bergerak menggeser tubuhnya ke atas. Alana dengan sigap membantunya. Verga juga langsung bergerak menuju sisi lain tempat tidur. Belinda memilih melepas tangan dari siku suaminya itu dan tetap berdiri di tempatnya.


" Bagaimana keadaan Anda? Anda benar-benar sudah baikan?" tanya Verga.


Sebuah senyum terkembang di wajah lelah Belardo. Ia hanya mengangguk, menatap Verga yang dengan alami meletakkan telapak tangan di atas punggung tangannya dan mengelusnya pelan. Seolah Verga sudah biasa melakukan hal tersebut, seolah yang terbaring adalah ayahnya sendiri.


"Syukurlah ... kami sangat terkejut. Selama ini Anda tampak sangat kuat dan sehat, tapi tiba-tiba melihat Anda terbaring seperti ini-"


Kalimat Verga langsung dipotong oleh Maurice.


"Ck! Dia pria yang keras kepala, ini bukan tiba-tiba. Dia sudah beberapa bulan di diagnosa sakit jantung. Dia harus minum obat secara rutin. Aku harus memaksanya menelan pil dari dokter tersebut setiap hari, susahnya setengah mati, dia bersikap seolah aku akan memberikan dia racun yang-"


"Maurice ...." Belardo menyebut nama istrinya itu dengan penuh penekanan. Membuat suara Maurice langsung berhenti. Pipi wanita itu langsung menggembung karena tidak bisa melanjutkan omelan. Kesempatan yang tidak banyak dimilikinya ketika Belardo sehat.


Alana bergerak mengambil tas ransel yang ada di atas meja, ia memasukkan buku yang tadi ia baca. Tas ransel tersebut tampak besar dan menggembung, menandakan banyaknya barang yang ia bawa di dalamnya.


"Kau mau kemana? Jangan pulang dulu sebelum Benjamin tiba! Sopir akan mengantarmu! Barangmu saja sebanyak itu! Kau seharusnya pul-"


"Maurice ...." Sekali lagi Belardo memanggil nama istrinya itu, membuat Maurice kembali menutup mulutnya.


"Aku hanya mau mencari kopi di kantin, Ibu."


"Pergilah sekalian cari makan malam, Alana. Kau belum makan kan?" tanya Belardo.


"Baik, Ayah." Alana baru saja akan mengangkat tas ranselnya ketika suara Belardo kembali terdengar.


"Tinggalkan tasmu. Kau tidak memerlukannya jika hanya pergi mencari kopi. Kalau memang mau pulang ke Mansion, seseorang akan mengantarmu."


Alana mengangguk, meletakkan kembali tasnya, lalu berjalan pergi menuju pintu.


"Aku pergi dulu," ucapnya pada semua orang.


"Tunggu, Alana! Ibu ikut!"


"Tunggulah di sebelah saja, Maurice," perintah Belardo.


Maurice menggelengkan kepalanya. "Tidak, Belardo. Sudah beberapa hari aku duduk dan menunggu di sana dengan Athena. Makin hari aku jadi makin gelisah, duduk di sana dan bersikap waspada seolah beruang kutup tersebut akan berubah jadi monster secara tiba-tiba. Apalagi kalau Benjamin juga ada di sini, Hahhhhh!" Maurice memijit keningnya dramatis, lalu berlalu menyusul Alana yang sudah berjalan pergi.


Verga tertawa geli mendengar ucapan Maurice. Ia melirik ke arah Belardo yang seperti berusaha menahan senyum geli yang akan terbit di bibirnya.


Lalu Verga melihat Belinda. Istrinya itu masih berdiri, tegak seperti patung dengan wajah menatap ke arah Belardo.


"Bel, kemarilah. Duduklah di sana," ucap Verga, menunjuk kursi di samping tempat tidur yang tadi ditempati oleh Alana.


Belinda mengedipkan mata, seolah baru tersadar sedang berada di mana saat ini. Lalu setelah menelan ludah ia bergerak, duduk di sebelah tempat tidur.


"Kalian tahu dari mana kalau aku dirawat di sini?"


Pertanyaan itu muncul di bibir Belardo, membuat Verga dan Belinda saling berpandangan. Bel kemudian membuang muka ke arah kaki ranjang. Membuat Verga tahu istrinya itu akan terus menutup mulut.


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya. Bagi yang belum tekan favorite dan rate bintang lima, yuk sekarang bantu dukung author dengan tekan love dan bintang lima.


Terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.