Belinda

Belinda
28. Through the eyes



Di balik sebuah dinding lorong, seorang pria menempelkan dirinya begitu lekat dengan dinding. Jantungnya berdebar keras, senang sekaligus sedikit gelisah.


Pria berbadan kecil dengan rambut keriting tersebut memegang sebuah kamera. Penantiannya tidak sia-sia, sejak tadi menunggu akhirnya ia menemukan pasangan itu di lorong. Ia segera bersembunyi karena takut terlihat.


Ini hebat sekali, Miranda! Kabar tentang pewaris Antolini dan artis cantik Daniella ... tulisanku dan gambar-gambarku akan dibeli dengan harga sangat tinggi.


Setelah beberapa detik, pria itu mengintip di belokan. Ia melihat Tuan Antolini yang tengah menggendong Daniella menunggu di depan sebuah pintu. Pria lain yang berbadan besar yang ia kenali sebagai bodyguard Daniella segera membukakan pintu untuk pasangan tersebut. Menyusul kemudian manager Daniella yang wajahnya terlihat gusar. Kamera pria tersebut terangkat, menyembul di belokan dinding dan mengambil beberapa gambar. Ia fokus pada Daniella yang tampak nyaman berbaring dalam pelukan lengan Tuan Antolini.


Ketika pintu terbuka dan Daniella dibawa masuk ke kamar, Bernie mengikuti masuk ke dalam kamar, lalu pria itu menyadari kalau bodyguard Daniella mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan lorong. Pria tersebut segera bersembunyi kembali sambil memegangi sebelah dadanya.


Hampir saja, batinnya.


Beberapa saat kemudian ia memberanikan diri mengintip lagi dan mendapati sang bodyguard ikut masuk dan kemudian pintu di tutup.


Pria bernama Felix yang tak lain adalah kuli tinta teman Miranda tersebut memutuskan untuk menunggu. Apakah tiga pria itu akan tetap berada di dalam kamar bersama Daniella.


Felix tidak perlu menunggu lama, beberapa saat kemudian, Bodyguard Daniella keluar, namun ia tertahan di depan pintu karena berusaha menarik tubuh Bernie manager Daniella yang terus berteriak.


Setelah pintu kamar tertutup, dua pria tersebut melangkah bersama meninggalkan lorong, diiringi celotehan panjang dari Bernie.


Karena dua pria tersebut pergi ke arah yang berlawanan dari tempatnya bersembunyi, Felix terus berdiri di sana, berharap mendengar sesuatu yang besar yang bisa dijadikan bahan tulisannya. Tadi ia mendengar sekilas teriakan Bernie yang menyinggung tentang ayah Daniella.


Felix kembali mengintip, kemudian memeriksa jam tangan. Ia terus berdiri di sana sampai beberapa waktu. Ketika merasakan kakinya sudah pegal, ia kembali mengintip ke lorong dimana pintu kamar Ella berada. Seringai senang tersungging di bibir Felix


Sepertinya Tuan Antolini tidak berniat keluar dari kamar itu ... benar kata Miranda, ada sesuatu diantara mereka berdua, mereka menggunakan kamar yang sama ... kabar ini pasti akan sedikit mencubit reputasi Daniella Dolores yang cemerlang. Juga melambungkan kembali berita tentang pewaris Antolini yang terkenal dingin dan tidak suka berkencan. Kalau Benjamin Antolini jadi berita utama, orang-orang pasti akan mengaitkan dengan berita heboh Copedam di masa lalu. Kisah asmara Tuan Antolini yang menyedihkan ....


**********


Benjamin membuka jas dan menyampirkannya ke punggung kursi yang ada di samping tempat tidur, lalu melonggarkan dasi dan melepaskannya. Ia melangkah menuju pintu kaca ganda yang tertutup, kemudian membukanya lebar-lebar. Angin berhembus meniup bahan kain gorden sehingga melambai ke dalam kamar. Benjamin terus melangkahkan kakinya hingga tiba di pagar balkon. Lama ia menatap kegelapan yang ada di sekitar. Hutan wisata yang terpelihara, lalu di antara rimbun pepohonan, ia juga bisa melihat puncak mansion Evander yang berada tak jauh dari bangunan hotel. Kemudian jauh di ujung ia melihat tebing batu kokoh yang membatasi Copedam dengan lautan. Benjamin menatap berkeliling, tempat itu indah, namun juga terasa liar dan berbahaya.


Benjamin membuka kancing mutiara di lengan masing-masing kemeja, lalu menarik hingga ke batas siku. Menyusul kemudian membuka dua kancing bagian atas kemeja. Lama ia berdiri sambil berpikir, mendapati bahwa Alnero dan pesuruhnya Duncan memang adalah pengirim surat-surat mesum tanpa nama dan juga adalah penculik yang menahan Daniella hampir dua tahun lalu.


Benjamin memuji dalam hati sikap Daniel dua tahun lalu yang langsung menghentikan semua pekerjaan dan menyuruh putrinya menolak kontrak apapun demi keselamatan wanita itu. Entah apa yang terjadi jika Daniel tidak menghentikan semua pekerjaan putrinya, Alnero mungkin saja berhasil mencabulinya dalam satu kesempatan.


Namun, di pusat pikirannya Ben merasakan ganjalan yang amat besar. Ingatan akan perkataan Timmy saat ia memanggilnya dulu kembali muncul. Bahwa musuh yang sebenarnya yang menyebabkan mereka jatuh dari tebing saat akan makan malam di Mansion Evander adalah musuhnya. Orang itu mengincar dirinya, bukan Daniella.


Benjamin menarik napas panjang, jika keberadaannya di dekat Daniella sedang diawasi oleh seorang musuh yang berniat membunuh, maka Ella akan terkena getahnya. Wanita itu juga akan berada dalam bahaya bila Benjamin terus ada di dekatnya.


Benjamin menimbang apakah ia perlu menjauh, pulang ke apartemen dan memberikan tugas pengawasan Ella ke Stanley dan Snow seperti semula. Ia akan ikut mengawasi dari jauh, memastikan wanita itu tetap aman hingga syuting selesai dan Ella kembali pada orang tuanya di Byork. Jika orang yang mengincarnya tersebut tahu ia kembali ke apartemennya sendiri, maka orang itu akan menjauh dari Ella.


Namun, ketika ia menoleh dan melihat dari balkon wajah Ella yang terpejam dan rambut hitamnya yang berhamburan di atas bantal yang berwarna putih Benjamin menggelengkan kepalanya perlahan.


"Tidak ... jika aku pergi dan menjauh sekarang, kau bisa saja lepas ... perasaanmu padaku belum pasti ...."


Benjamin berbalik, melangkah masuk kembali ke dalam kamar, lalu menutup pintu kaca. Ia mendekat ke arah tempat tidur dan duduk di bagian kepala ranjang. Sebuah bantal ia taruh di belakang punggungnya. Dengan wajah terarah ke langit-langit Benjamin memejamkan mata, berpikir tentang musuh dengan wajah belum ia kenali yang mungkin saja ada di sekitarnya dengan niat membunuh.


Tangan kiri Benjamin bergerak pelan ketika merasakan helaian lembut rambut Ella di ujung jemarinya. Ben menoleh, melihat wajah Ella yang tertidur. Telapak tangannya mengelus pelan pipi kemudian bergerak ke kening.


"Ketika bangun dan melihatku ada di sini, apa yang akan kau lakukan?"


Bisikan Benjamin tidak mendapatkan jawaban. Ben menunduk, lalu mencium kening Daniella. Ketika mengangkat bibir dari kulit lembut kening wanita itu, Benjamin melirik ke arah jubah yang tadi telah dibuka oleh Alnero.


"Entah apa yang terjadi jika kau sadar saat Alnero melakukan itu ...."


Tangan Ben terulur, membuka selimut yang tadinya digulung ke tubuh Ella dari kamar Alnero.


Dengan pelan Ben menarik dan melucuti selimut tersebut, lalu melemparnya ke lantai. Jubah Ella yang tidak terikat masih terbuka, memperlihatkan gaun dalamnya yang berbahan lebih tipis dari jubah. Bayangan dua bukit kembar Ella tercetak jelas, wanita itu tidak memakai apapun di balik gaun. Benjamin melirik ke arah selimut yang ada di ujung kaki tempat tidur. Teringat bahwa Alnero telah melihat tubuh Ella saat membuka tali jubah wanita itu membuat Benjamin mengeretakkan gigi.


"Seharusnya kau memberinya gaun flanel atau wol, Bernie," desis Ben.


Benjamin menahan napas ketika Ella bergerak ke arahnya dan tidur dengan posisi miring ke kanan. Jubah melorot turun menutupi dada kiri wanita itu, namun bagian kanan yang berada di bawah malah terbuka lebar. Ben menunduk dan mendapati belahan yang sangat menggoda untuk disentuh.


"Tidur pun tetap mampu membuat orang lain gelisah." Ia bergerak ke arah kaki ranjang dan menarik selimut, menutupnya sampai bagian dada Ella.


"Ayahmu akan mengamuk jika aku melakukan hal tidak pantas padamu. Sebelum restunya kudapatkan, sepertinya aku harus menunggu. Jadi ...." Benjamin mengelus pelan pipi Ella, lalu menunduk dan mencium pipinya. "selamat malam, DD."


Benjamin bangkit dari tempat tidur, menjauh dan duduk di sebuah kursi yang ada di dekat pintu kaca menuju balkon. Ia menaikkan kaki ke atas meja yang ada di depannya dan bersandar. Setelah melirik sekali lagi ke arah tempat tidur, ia mencoba memejamkan mata.


**********


Ella menggeliat, lalu perlahan membuka mata. Temaram lampu kamar membuatnya tidak melihat dengan jelas. Mengira masih berada di kamarnya sendiri ia bangkit duduk dan merasakan kepalanya agak sakit. Ia meraih ke samping tempat tidur dan menyalakan lampu, keadaan terang di sekitarnya membuat Ella mengerjap beberapa kali.


"Ini ... ini dimana?" tanyanya kebingungan. Lalu ia memejamkan mata dan kembali mengingat situasi sebelum tidur. Teringat bahwa malam ini Benjamin dan anak buahnya berniat menangkap pengirim surat mesum yang terus mengganggunya. Ella bergidik, membuka mata dan mengawasi sekitar. Kengerian mulai menyelubunginya begitu menyadari ia tidur di kamar yang asing. Tangannya mulai gemetar dan tubuhnya tidak bisa diajak bergerak.


"Ben? Ben?" Ella memanggil pelan.


Sekali lagi ia menatap berkeliling, baru kemudian menyadari sosok pria yang duduk dengan kaki terjulur di atas meja. Pria itu bersandar dan sama sekali tidak bergerak.


Ella menelan ludah, semakin takut karena tidak tahu siapa pria itu. Ia memaksa kakinya bergerak dan turun dari tempat tidur. Tanpa suara ia berjalan ke arah dinding, ingin melihat dari depan tanpa suara agar bisa menatap dengan jelas pria yang masih tertidur tersebut.


Ketika dapat melihat sosok yang bersandar tersebut dari depan dengan jelas, Ella menyadari sosok tersebut adalah Benjamin, Ia mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan, berpegangan ke dinding karena merasa amat lemas tapi juga merasa lega.


"B-Ben?"


Benjamin menoleh, melihat Ella yang berpegangan ke dinding dan melihatnya dengan mata terbelalak.


"Kau sudah bangun?"


"Kenapa aku ada di sini?"


Benjamin tidak menjawab, bangkit berdiri dan mendekat ke arah Ella. Baru kemudian menyadari wanita itu gemetar.


"Kenapa tidak membangunkanku dan memberitahu kalau aku perlu pindah kamar," ucap Ella sambil menatap berkeliling.


Benjamin mendekat dan langsung mengangkat Daniella. "Kau gemetar. Kenapa tidak memanggilku ketika bangun?"


"Aku tidak tahu kau yang tidur di kursi itu. Aku takut itu orang lain." Ella begitu saja mengalungkan lengannya ke bahu Benjamin.


"Sudah kubilang percaya padaku. Aku akan menjagamu."


Benjamin membawa Ella kembali ke tempat tidur. Ia membaringkan kembali wanita itu dan baru saja akan melepas tangannya ketika Ella malah menahan lehernya dengan mengalungkan kedua tangan.


"Tunggu, jawab pertanyaanku, kenapa aku bisa ada di kamar ini?"


Benjamin menunduk, wajahnya berhadapan dengan wajah Ella. Sepasang mata mereka bertatapan. Kedua tangan Benjamin bertumpu di atas kasur, menahan sejauh lengan untuk memberi jarak antara tubuh mereka.


Ella terpana dan mendapati bola matanya tak mau beralih. Sorot mata Benjamin seolah memiliki magnet yang membuat matanya terus tertarik, lengannya yang mengalungi leher Ben merasakan sengatan menyenangkan.


"Aku akan menjawabmu, DD. Tapi lepaskan dulu leherku."


Suara Ben yang terdengar serak dan dalam memberitahu Ella bahwa kedekatan mereka mempengaruhi pria itu. Ella merasa senang karena bukan hanya dirinya yang terpengaruh.


Mata Ella beralih, menatap bibir Benjamin yang sekarang terkatup rapat.


"Apakah pria itu datang ke kamarku? Karena itu kau memindahkan aku, Ben? Kenapa aku tidak sadar sama sekali?"


Ella tetap menahan Benjamin yang membungkuk di atasnya.


"Aku akan menjelaskan, tapi tidak dengan posisi ini, DD. lepaskan lenganmu."


Daniella tidak mendengarkan Benjamin, mata wanita itu malah beralih ke dada Benjamin, menatap ke balik kemejanya yang terbuka. Ketika kembali ke wajah Ben, ia melihat sorot penuh tekad di mata pria itu. Ella jadi benar-benar ingin menciumnya lagi. Ia perlahan mendekatkan wajahnya.


"Jangan lakukan itu, Sayangku. Kau tidak akan menyukai resikonya."


"Resiko ...." Ella membeo, namun terus mendekat sampai ia mencapai bibir Ben.


"Kau tidak lihat penampilanmu sekarang?" bisik Ben di depan bibir Ella.


Ella mengerjap, setelah ucapan itu masuk ke otaknya, ia segera menunduk.


Tali jubah Ella tidak terikat, jubah itu terkuak lebar di bagian dada hingga perut. Gaun dalamnya yang tipis memperlihatkan dengan jelas bentuk payudar* nya. Belahan menggoda antara dua bukit bagai lembah yang merayu untuk dijelajahi.


"Jika kau menciumku lagi, DD. Kau akan berakhir di tempat tidur."


Suara Benjamin bagai bisikan, terdengar bagai belaian di telinga Ella. Jantungnya yang sudah berdetak lebih cepat sekarang berpacu berirama. Sekali lagi mereka bertatapan. Api gairah bagai terpercik di sorot mata keduanya.


Jika kau menciumku lagi, aku akan memilikimu sekarang juga tanpa menahan diri, ucap Benjamin dalam hati.


Pria ini terus membuatku menginginkannya ... apakah boleh aku menuruti naluriku saja kali ini? Apakah aku jatuh cinta ....? Atau ini hanya nafsu? Obsesi? Daniella menelan saliva. Terus menatap Benjamin. Pria itu tidak bergerak sama sekali, hanya menatap dengan mata berkilat.


Ella melirik, kembali menatap ke balik kancing kemeja Benjamin yang terbuka.


Satu gerakan saja ... cium dia, lalu kau akan tahu ... bagaimana rasa pria ini dalam pelukanmu. Apakah kau punya keberanian, Daniella Dolores!?


NEXT >>>>>


*********


From author,


Mohon maaf untuk jadwal update yang tidak menentu. Mohon doa ya untuk kesehatan author biar bisa tetap update.


Kira-kira DD punya keberanian?


Yuks ketik komentarnya, jangan lupa like, love, bintang lima, juga vote untuk Black DD ya.


Terima kasih semuanya.


Salam. DIANAZ