Belinda

Belinda
26. Ambush



Keheningan di dalam kamar yang menjadi pos menunggu bagi tiga pria yang mengawasi Alnero terisi oleh suara gigi-gigi yang beradu pertanda geram.


Timmy tampak menyeringai, menikmati suguhan di layar sambil sesekali geleng-geleng kepala. Stanley duduk dalam posisi siap, melirik bolak-balik antara layar dan atasannya. Seolah bersiap bila Benjamin tiba-tiba kehabisan kesabaran dan melompat bangkit untuk pergi dari sana.


Benjamin duduk bersandar di kursi dengan tangan kanan terkepal dan tangan kiri memegang dagu. Pancaran matanya menatap jijik sekaligus seperti ingin meninju seseorang, sesekali terdengar geretakan gigi dan geraman marah.


Semua mata jadi waspada ketika di layar monitor terlihat lengan Alnero berhenti sejenak , lalu ia membungkuk dan sekali lagi mencium wajah Daniella di layar sebelum bangkit berdiri dan mulai berjalan. Pria itu tampak berbalik dan menghadap penuh di layar monitor.


Tawa Stanley terdengar kemudian. Ia melirik Timmy dan berkata. "Itu lumayan, Tim. Kurasa lebih lumayan dari punyamu."


Timmy menoleh dan menatap meremehkan ke arah Stanley. "Aku mengabaikan ucapanmu karena sedang ada tontonan menarik di depanku. Lain kali ayo kita buktikan dan kau lihat yang mana yang lebih lumayan. Jangan meremehkan aku karena ukuran tubuhku, Stan."


Stanley tertawa kecil. Mereka fokus kembali ke layar dan tidak mendapatkan komentar dari Benjamin.


Ben terus mengawasi dengan kening berkerut. Alnero tampak masuk ke kamar mandi, keluar beberapa detik kemudian dengan sebuah handuk di pinggang. Timmy berdecih ketika melihat sesuatu yang menonjol di balik handuk pria tua itu.


"Cih! Dia benar-benar sedang terangsang. Tiang miliknya tegak lurus, kau bisa menggantungkan sesuatu di sana."


"Pria tua itu bersandiwara punya nyeri lutut, cepat lelah jika sedang berkumpul dengan kru film. Tapi tampilan tubuhnya memang tampak bugar meski sudah tua." Stanley menganggukkan kepalanya sambil terus menatap layar. Melihat Alnero meraih ponsel dan menelepon seseorang.


"Siapa yang kau hubungi, Tua Bangka ....," bisik Benjamin.


Beberapa saat kemudian, alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka masing-masing berbunyi.


"Stanley ... semuanya juga ... bersiaplah, tikus pesuruhnya bergerak."


"Kau dimana Komandan?" tanya Stanley sambil memegangi alat kecil di telinganya.


"Aku di tempatku seharusnya."


Benjamin menarik napas panjang, membayangkan temannya yang disebut komandan oleh Stanley sedang menghisap cerutu sambil mengawasi si pesuruh Alnero.


"Kau tidak sedang merokok bukan? Komandan?" tanya Ben meniru panggilan Stanley.


Tawa kecil terdengar. "Kemari dan lihat sendiri, Black."


"Jangan sampai buruanmu lepas, Komandan. Entah perintah apa yang baru saja ia terima."


"Aku bisa menebaknya. Tapi kita lihat saja ... kurasa dia sedang menuju kamar kekasihmu."


Timmy dan Stanley melirik ke arah Benjamin ketika mendengar sang Komandan mengatakan tentang kekasih. Tapi tidak ada bantahan dari pria di sebelah mereka. Timmy kemudian terkekeh pelan.


"Kau menginginkan bantahan, Komandan? Sepertinya tidak akan ada," ucap Timmy.


"Aku sudah menebaknya sejak awal, Tim. Dia memanggil kita semua untuk mengurus tuntas perihal klien istimewa ini."


"Kau benar. Aku juga sudah tahu. Tapi ada yang mengganjal di pikiranku ketika memikirkan Black punya kekasih, Komandan."


"Apa itu, Tim?"


"Masalahnya, apa Nona cantik itu juga menganggapnya kekasih. Pria dingin dan kaku seperti ini wanita biasanya menganggap tidak terlalu menarik."


Tawa geli kemudian terdengar, baik di alat komunikasi, juga di dalam ruangan Benjamin. Ben tahu, semua orang mereka yang mengenakan alat itu pasti juga sudah mendengar perkataan Timmy.


Timmy dan Stanley yang berada di samping Ben, berusaha untuk menahan tawa mereka.


"Kalau kalian sudah tahu dia kekasihku. Maka kerjakan tugas kalian secepatnya. Bersihkan semua berandalan mesum yang menjijikkan yang berusaha mengganggunya." Benjamin berucap pelan namun tegas.


"Ah ... jika sudah begitu. Kurasa Nona ini tidak akan lagi bisa menolak. Mau atau tidak mau, dia sudah terpilih."


"Kau benar sekali, Komandan. Ia sudah tertangkap."


"Betul. Sudah bukan lagi wanita bebas. Masalahnya, Timmy, bisa tidak Tuan Black menjinakkannya dan membuatnya menurut."


"Atau menerima ketulusan perasaan Tuan Black," sambung Timmy.


"Benar. Menerima dan kemudian membalasnya."


"Diam dan perhatikan tikus itu, Komandan. Dia sudah berbelok di lorong kamar Daniella!" ucap Ben tegas.


Semua orang terdiam, lalu keheningan terjadi karena semuanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh pria berkulit cokelat yang berdandan sebagai seorang petugas Office Boy.


Benjamin langsung berdiri dan ia mendapatkan cekalan dan tarikan di kedua lengan sehingga terduduk kembali.


"Seharusnya kau percaya pada timmu," ucap Timmy dengan mata yang menyorot tajam.


"Tahan, Bos. Kita keluar sekarang dan semuanya akan gagal."


Benjamin mengambil napas panjang dan menganggukkan kepala. Tahu ucapan mereka benar.


"Kita semua berada dekat dengan kamar itu, Balck! Jadi tunggulah ...," sambung Timmy.


"Dugaan kita semua benar. Kali ini pria tua itu tidak hanya ingin mengintip. Obat tidur itu sudah ia rencanakan agar ia bisa mengambil Nona Ella tanpa perlawanan," ucap Stanley.


Office Boy yang mendorong troli linen tersebut berhenti tepat di depan pintu kamar Daniella. Dengan sebuah kartu ia membuka pintu dan setelah menoleh kiri dan kanan ia masuk dan menutup pintu kembali.


Teleponnya berdering tepat ketika ia mendekat ke tepi tempat tidur. Office boy tersebut segera mengangkatnya.


"Bawa dia kemari! Hati-hati, jangan sampai dia lecet! Dan jangan sampai terlihat oleh orang lain apa isi trolimu!"


"Baiklah ...."


Sang office Boy pesuruh Alnero mematikan ponsel. Ia berdecih ketika menarik selimut Daniella hingga terbuka, lalu membuka tutup troli dan menyiapkan benda itu sambil mengomel.


"Kau memancing batas kesabarannya ketika terlihat menggoda Mr. Antolini. Selama ini dia cukup melakukan hal mesum dengan gambar atau fotomu! Kamera-kameraku dulu dibersihkan bodyguardmu, tapi sepertinya mereka tidak cukup pintar. Aku berhasil memasangnya lagi kali ini. Aku tidak pernah mengerti, apa yang membuat pria tua itu terobsesi pada sexx. Bagiku tidak ada nikmatnya, kecuali obat-obat yang selalu mampu dia berikan. Sayang sekali, Nona. Kau terpilih. Kau lolos dua tahun lalu, dia makin penasaran padamu. Artis-artis cantik yang mencari ketenaran sebelumnya selalu mau dan mudah ia taklukkan. Tapi kau ... dia tidak bisa orgasme tanpa melihatmu sejak dua tahun lalu dia hanya menginginkanmu. Kau malang sekali jadi target si tua mesum itu. Hufh!"


Office boy itu mengangkat tubuh Daniella dengan kedua lengannya, lalu mendudukkannya ke dalam troli, kemudian menutup kembali tutupnya. Dengan cekatan ia kembali bergerak sambil mendorong troli keluar. Tiba di belokan ia segera berhenti di pintu kedua, kemudian mengetuk.


Pintu segera terbuka dan Alnero yang mengenakan handuk sudah membuka pintu lebar-lebar.


Keduanya segera masuk dan menutup pintu. Alnero segera membuka tutup troli dan mengintip di dalam.


Beberapa meter dari pintu kamar Alnero, Benjamin sudah berdiri dan sedang ditahan oleh Timmy.


"Sedikit lagi, Black! Jangan sampai aku memukul urat syarafmu dan membuatmu pingsan!"


Benjamin menggeram. "Dan jangan sampai aku mengangkatmu, lalu membantingmu ke lantai, Timmy!"


"Tahan, Black. Ini bagianku. Kau santai saja." Suara yang terdengar dingin dari alat komunikasi di telinga mereka membuat Benjamin memejamkan mata.


"Sekarang!" perintah Benjamin sambil menggeram.


Di layar monitor, Stanley melihat Alnero dan sang office boy pesuruhnya mengeluarkan Daniella dan membaringkannya ke tempat tidur, lalu Alnero mengibaskan tangannya. Menyuruh anak buahnya segera keluar. Saat itulah Stanley dan Timmy menganggukkan kepala sebagai tanda pada Benjamin.


Pintu langsung tertutup ketika office boy dan trolinya keluar.


"Dasar tua bangka menjijikkan. Awas kalau kau tahan lagi obatku," bisik pesuruh itu. Lalu ia terdiam kaku ketika merasakan besi dingin menempel di pelipisnya. Ia bergidik ketika menyadari bukan hanya dirinya yang ada di lorong.


Seseorang membekuknya dengan cepat. Jeratan lengan di leher seolah memutus jalan napasnya, lalu pukulan tiba-tiba di belakang leher membuat ia segera tidak sadarkan diri. Setelahnya dengan santai orang itu memasukkan tubuh sang pesuruh ke dalam troli.


Benjamin, Timmy dan Stanley yang sudah keluar dari kamar pengintaian menatap datar pada pria yang menyeringai tanpa menjatuhkan cerutu yang terselip di sudut bibirnya. Kemudian ia menunjuk ke arah pintu. Pernyataan kalau selanjutnya adalah jatah membekuk pria di dalam kamar.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.