Belinda

Belinda
59. What do you want



Setelah lama duduk sendirian dan berpikir, Bel merasa sangat lelah. Ia bangkit dan berjalan menuju ruang tunggu perawatan. Merasakan dirinya saat ini membutuhkan Verga lebih dari sebelumnya, merasa bahwa hanya Verga yang dapat meringankan beban dalam hatinya saat ini.


Ketika ia tiba, di sofa tengah ruangan, telah duduk Benjamin dan Verga saling berhadapan di batasi sebuah meja. Tangan Verga langsung terulur melihat ia masuk.


"Bel, kemarilah."


Belinda mendekat, baru saja ia menduduki sofa tak jauh dari Verga, tangan suaminya itu sudah melingkari pinggangnya dan menarik Bel hingga duduk begitu dekat.


"Kau terlihat sangat lelah," ucap Verga. Sedikit menunduk memperhatikan wajah istrinya itu.


Belinda hanya menggeleng. Kehangatan dari lengan dan bahu suaminya itu membuatnya ingin sekali bersandar dan memejamkan mata. Verga benar. Ia sangat lelah, namun ia tidak mau memperlihatkan hal tersebut pada Benjamin yang duduk sambil menatap ke arahnya.


Belinda melihat mantel Benjamin yang tadi dipakai Alana sudah tersampir di sandaran sofa di sebelah bahu kakaknya itu.


"Dimana Alana?" bisik Belinda, menyandarkan tubuhnya ke lengan dan bahu Verga.


"Ia tadi datang dari kantin cuma untuk pamit pada Ayah dan langsung diantar pulang."


Belinda mengangguk. "Siapa yang menjaga di dalam?" tunjuk Bel ke arah pintu kamar perawatan.


"Athena dan Maurice. Mereka juga akan pulang sebentar lagi. Benjamin yang akan tinggal di sini."


"Sebaiknya kalian pulang dan istirahat. Besok kau punya hal penting yang perlu kau kerjakan bukan?" ucap Benjamin pada Verga. Benjamin menyadari wajah Belinda yang tampak sangat lelah.


"Ya. Kurasa kau benar. Bagaimana kalau kita pamit pada Ayah sekarang, Bel?"


Belinda menganggukkan kepala, lalu Verga menoleh ke arah Benjamin.


"Kau sendiri, ada yang mau kau katakan pada Belinda?"


"Apa maksudmu? Tidak ada yang mau kukatakan," ucap Benjamin sambil menyipit menatap Verga.


"Begitu. Katakan padaku kalau kau sudah menemukan kalimat yang tepat yang ingin kau katakan padanya."


"Jangan besar kepala, Verga. Sudah kubilang tak ada yang perlu kukatakan padanya. Memangnya apa yang ada di dalam kepalamu itu"


"Yang ada di kepalaku adalah kata maaf dari seorang kakak yang mungkin saja terlupa memberi kabar pada adiknya bahwa ayah mereka sakit."


"Aku sudah minta maaf padamu tadi. Kenapa kau ulang-ulang lagi."


"Padaku. Kau belum mengatakannya pada Belinda."


Belinda menekan genggamannya di siku Verga. "Jangan meributkan hal ini. Ayo berpamitan dan pulang."


**********


"Kau harus mengeluarkan apa yang kau simpan di hatimu, Bel. Agar mereka tahu. Seperti saat kau melarikan diri dan ditemukan oleh Benjamin waktu itu. Kau mampu meneriakinya dan mengatakan bagaimana perasaanmu di depan wajahnya."


Belinda menyembunyikan wajah makin dalam ke pelukan lengan Verga. Kehangatan tempat tidur, selimut dan dekapan suaminya memberikan kelegaan luar biasa dalam hatinya yang sedang tertekan. Ketenangan dan rasa nyaman yang meliputi membuatnya merasa sangat damai. Kebalikan dari rasa gelisah, gundah yang terasa membebani saat ia berada di rumah sakit.


"Entahlah ... waktu itu, aku dikuasai amarah dan juga rasa takut. Aku dipenuhi ketakutan ketika membuka pintu dan melihat Benjamin yang datang. Di saat yang sama, amarahku juga bangkit. Kukatakan semua yang kurasakan, bahwa aku ingin bebas dari nama Antolini, bebas dari mereka semua, aku bahkan mengatakan aku sangat membencinya ... kupikir, meskipun aku diam saja, aku tetap akan diseret pulang, jadi kulampiaskan saja semua ...."


"Kenapa kau tidak mengatakan apapun sekarang? Kau marah karena tidak ada yang memberitahu kabar tentang ayahmu kan?"


"Aku ... merasa tidak berhak untuk marah ...."


"Karena kau sendiri yang mengatakan kalau kau bukan Antolini lagi pada Ben. Itukah masalahnya?"


Verga merasakan ketika kepala istrinya itu mengangguk. Ia menggerakkan jemari membelai rambut istrinya itu yang tergerai di atas bantalan lengannya.


"Bel ... kalau kau tidak mengatakan apapun, Ben akan mempercayai bahwa ucapanmu waktu itu benar, bahwa itulah keinginanmu yang sesungguhnya. Bahwa kau memang tidak mau lagi tahu tentang mereka semua. Padahal kau mengucapkannya waktu itu karena kau sedang marah. Aku tahu di dalam hatimu, mereka adalah orang-orang yang kau sayangi, kau menginginkan mereka menyayangimu juga."


"Aku ... aku tidak pernah diinginkan di sana, Verga. Ibuku ...."


"Ibumu pelayan. Aku tahu. Itu bukan berarti kau tidak diinginkan, Bel. Ayahmu ... bagaimana aku mengatakannya ... aku juga tidak terlalu mengerti bagaimana cara beliau menyayangi , tapi aku dapat merasakan kalau Belardo mencintai anak-anaknya. Dia mengurus kalian dengan cara yang ia tahu."


"Dia hanya melakukan kewajibannya."


"Dan kau juga harus lakukan kewajibanmu, Bel. Walau bagaimanapun, dia orang tuamu."


Verga mendengar istrinya itu mendesah berat.


"Tidurlah, Bel ... besok aku harus bekerja. Soal kau akan pergi atau tidak ke Mansion, aku serahkan keputusan padamu. Tapi kalau boleh aku memberi saran, pergilah. Hadapi mereka. Bukankah ayah sendiri yang menyuruhmu datang."


"Apa yang akan kulakukan di sana."


"Kau akan tahu bila sudah di sana."


Belinda menganggukkan kepala, lalu memejamkan matanya, berusaha untuk tidur.


Verga benar. Aku akan pergi ... kata-kata Alana membuatku bertanya-tanya ... seandainya dulu aku menolak dengan keras saat Ben memindahkanku ke pulau, apa jadinya? Akankah aku dihukum? Seandainya dulu aku tidak berhenti menyambut dan meminta perhatian mereka, akankah mereka melunak? ... Sepertinya tidak ... Ayah tetaplah Ayah, begitu juga dengan Ben ... tapi mungkin, mungkin saja, seperti Alana ... aku akan mengerti dan mulai memahami bagaimana sebenarnya perasaan mereka terhadapku. Aku akan pergi ... agar tahu bagaimana perasaanku sendiri saat ini. Benarkah aku ingin mereka melupakan keberadaanku ... tidak. Aku tidak mau. Aku sakit hati mereka lupa memberitahuku kabar tentang ayah ... jadi bagaimana Bel? Apa yang kau inginkan? ...


NEXT >>>>>>


*********