
Ella memicingkan mata, sosok pria di kejauhan yang datang ke lokasi syuting bersama Evander membuat jantungnya mulai berdegup tidak teratur.
Benjamin? Sudah dua minggu lebih dia tidak kelihatan ...
Daniella membuang mukanya ke arah lain ketika sosok Evander dan Benjamin makin mendekat.
"Dia benar-benar datang," bisik Snow yang berdiri tak jauh dari kursi yang diduduki Ella.
"Kau tahu dia akan datang?" Ella mendongakkan kepala menatap Snow.
"Ya ... dia bilang akan menghabiskan cuti di sini."
Snow terkekeh melihat bola mata Ella yang makin melebar mendengar ucapannya. Setelah hari-hari yang ia lewati bersama Snow, Ella mendapati Snow malah lebih terbuka dibandingkan Stanley. Stanley yang banyak tertawa makin hari makin misterius dan sulit ditebak. Tempo hari, Ella mendapati pria itu membawa seekor kodok ke hadapan Miranda. Sang pemeran utama wanita sampai ketakutan dan sampai saat ini selalu menghindari Stanley.
"Kenapa terkejut? Anda belum lupa telah menantangnya kan?"
Ella langsung teringat kata-kata yang pernah ia bisikkan pada Benjamin saat pesta penyambutan kru mereka dulu.
"Tentu aku ingat, tapi apa kau yakin dia datang kemari untuk hal itu? Dia dan Evander rekan bisnis. Mungkin saja dia hanya berniat bertemu Evander. Lagipula, aku ragu dia akan memenuhi tantanganku."
"Anda boleh bertanya langsung padanya. Dia sedang menuju kemari," ucap Snow sambil memutar kepala memandang berkeliling, mengawasi setiap sudut dari tempat syuting tersebut.
Daniella mendapati ucapan Snow benar. Benjamin dan Evander memang melangkah menuju ke arahnya. Keduanya berhenti tak jauh dari kursi santai Ella.
Daniella memasang wajah terpaksa ketika berdiri dan mengulurkan tangannya pada Evander. Jika Ben datang sendiri, ia akan tetap duduk dan mengabaikan pria itu. Namun ia tidak mungkin melakukannya pada Evander. Tuan rumah pemilik hotel tempat mereka syuting tersebut telah bersikap sangat ramah pada mereka semua. Terlebih lagi, pria itu mengenal baik Verga Marchetti sepupu Ella.
"Selamat sore, Evan ." Ella mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Evander.
"Selamat sore, Ella. Kuharap kami tidak mengganggu syutingmu," ucap Evander dengan wajah ramah. Tangan pria itu menggenggam erat tangan Ella.
"Tentu tidak, Evan. Seperti yang kau lihat. Aku sedang beristirahat di kursiku. Bagianku sudah selesai."
"Kalau begitu kenapa kau tidak beristirahat di kamarmu?" Benjamin menyipitkan mata melihat tangan Ella dan Evander yang masih terjalin. Baginya, jabat tangan itu terlalu lama. Telinganya pun menangkap sesuatu yang membuat hatinya bertanya-tanya. Sejauh apa hubungan Evander dan Daniella, hingga keduanya sudah saling memanggil nama depan dengan sangat akrab.
"Benjamin benar, Ella. Kau sudah bekerja sejak matahari terbit. Tempat ini terlalu sibuk untuk dijadikan sebagai tempat istirahat."
"Aku suka menonton teman-temanku, Evan."
Benjamin menahan kata-katanya dengan cara menggigit ujung lidahnya sendiri. Daniella dengan terus terang mengabaikan kedatangannya. Setelah jabat tangannya dengan Evander terlepas, wanita itu tidak mengulurkan tangan untuk bersalaman dengannya. Hal yang sepertinya tidak disadari oleh Evander, karena pria itu bersikap biasa dengan melanjutkan pembicaraan.
"Aku mengantarkan tamu untukmu," ucap Evander sambil menunjuk Benjamin.
"Kurasa dia bukan tamu," Ella melirik sosok Benjamin yang masih mengenakan jas lengkap. Pria itu seperti baru saja pulang dari kantornya dan langsung menuju ke Copedam Hill.
"Ah, kau benar. Dia bukan tamumu. Kalian masih keluarga karena pernikahan Verga dan Belinda. Tapi dia tamuku sekarang Ella. Dia akan menghabiskan cuti di hotelku, dia kemari mencarimu," ucap Evander dengan nada senang.
Benjamin senang mendapati wajah Ella yang terkejut. Bola mata biru itu menatapnya dengan rasa penasaran.
"Aku akan meninggalkan kalian. Aku permisi dulu. Ben ... bila berkenan, nanti malam penuhi undanganku tadi. Ella sudah mengiyakan akan datang. Aku akan senang sekali bila kalian berdua ada di mejaku." Setelah menganggukkan kepalanya tanda pamit, Evander berlalu.
Ella melirik ke arah Ben, lengan kiri bersedekap dan lengan kanan memegang dagunya.
"Jangan bilang kalau Evan juga mengundangmu makan malam?"
"Ya."
"Tadi Evan bilang kau mencariku?"
"Ya."
"Dan kau mencari Evan untuk mengantarkan dirimu padaku?"
Benjamin menatap tajam Daniella. Ia tidak menyukai cara wanita itu menyebut nama Evan berulang kali.
"Bisakah kita bicara? Disini terlalu ramai."
Snow mendekat ke sisi Ella, lalu berbisik.
"Bos benar, Nona. Beberapa orang terus melirik ke arah sini. Termasuk si Hector."
Benjamin segera menoleh dan mencari sosok asisten sutradara yang disebut oleh Snow. Dari sisi sebelah kanan, pria itu berdiri sambil menatap ke arahnya, bola matanya menelusuri tubuh Benjamin mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan sinis terlihat jelas ketika Benjamin bertemu pandang dengannya.
Ella yang ikut memperhatikan Hector melihat tatapan sinis tersebut. Dengan impulsif ia bergerak dan segera menggandeng siku Benjamin. Wajahnya tiba-tiba ramah dan dengan suara manja ia berbisik.
"Kita akan bicara. Asalkan kau ikuti sandiwaraku."
Benjamin menaikkan alisnya. "Kau mau apa?"
Tanpa aba-aba, Ella berjinjit dan mencium rahang bagian kiri Benjamin. Tubuh pria itu seketika diam membeku.
Tawa halus terdengar dari bibir Ella. "Sepertinya aku benar. Kau yang gelisah kalau sudah berhadapan denganku. Ya kan?" tanya Ella. Ia menahan kepalanya agar tidak menoleh ke arah Hector.
"Kau bisa membuat masalah, Nona. Bagaimana kalau ada yang mengambil gambarmu ketika mencium Bos," ucap Snow sambil geleng-geleng kepala.
Daniella terkejut ketika lengan Benjamin menarik pinggangnya dan menuntunnya berjalan menjauh dari tempat syuting. Snow mengikuti keduanya dari belakang.
Ella mengajak Benjamin masuk ke ruangan kostum. Mereka menemukan Stanley di dalamnya.
"Kau sudah tiba, Bos," sapa Stanley.
Ella berjalan menjauh dari Benjamin dan duduk di sebuah kursi didepan meja rias. Ia memperhatikan Stanley dan Snow yang berbicara dengan nada hampir menyerupai bisikan bersama Benjamin. Tidak ada yang bisa ia dengar.
Benjamin menganggukkan kepala dan menepuk pundak Stanley dan Snow, lalu keduanya melangkah pergi meninggalkan ruangan meninggalkan Benjamin bersama Ella hanya berdua.
Ella berusaha mengatur detak jantungnya dan menampilkan wajah bosan.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Dua hari lagi, syuting akan dilakukan di alam terbuka bukan? Di hutan?" Benjamin melangkah ke arah pintu, lalu bersandar sambil bersedekap memandang Ella.
"Tidak mau menjawab pertanyaaanku ya? Baiklah ... tak apa, yang penting Snow dan Stanley benar-benar menjagaku. Tidak ada lagi surat atau gangguan apapun." Ella meneliti ekspresi Benjamin. Namun tidak ada tanda-tanda kalau ucapannya salah. Ia penasaran apa yang dibicarakan Stanley dan Snow pada Benjamin tadi.
"Jawab pertanyaanku tadi."
"Iya. Kenapa memangnya?"
"Aku akan menggantikan Snow."
Ella duduk diam selama lima detik. Mencerna kalimat Benjamin, lalu ia tersenyum lebar.
"Aku tidak salah dengar kan?"
"Tidak."
"Kenapa kau mau menggantikan Snow menjagaku?"
"Snow akan melakukan tugas lain."
"Kau bilang kau sibuk."
"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Yang lainnya bisa kuatur dari sini."
"Aku sudah nyaman dengan Snow. Bagaimana kalau aku tidak mau dia diganti?"
Ella melihat kilau menantang di mata Benjamin, lalu lekukan bibir pria itu membentuk senyum smirk yang sangat diingat Ella.
Sialan! Senyum itu mengingatkanku pada hal memalukan waktu pesta pernikahan Verga ....
"Kenapa tidak mau? Bukankah kau yang menantangku? Kau bilang satu minggu saja selalu berada di dekatmu ... takut merasa tidak nyaman? Gelisah?"
Ucapan Benjamin mendapatkan respon yang ia inginkan. Ella dengan anggun bangkit dari kursinya. Wanita itu berjalan perlahan ke arah Benjamin.
"Terima kasih sudah mengingatkanku, Ben. Aku hampir lupa dengan tantangan itu. Soalnya sudah hampir dua minggu lebih. Kukira kau tidak berani." Ella tertawa merdu.
Benjamin mendengus. "Aku perlu waktu menyelesaikan beberapa hal."
Ella berhenti beberapa langkah di depan Benjamin. "Sayangnya pakaianmu tidak cocok. Kau seperti pria kantoran, bukan pengawal pribadi."
"Itu bisa diatur."
"Kau bawa pakaianmu?"
"Beberapa ...."
Ella menelan ludah. Tahu bahwa Ben datang membawa persiapan, pria itu memang datang untuk memenuhi tantangannya.
"Baiklah ... besok kami punya waktu senggang. Mereka akan mengurus lokasi di hutan. Jadi aku tidak punya pekerjaan. Aku mau berjalan-jalan ke Kota Copedam."
"Copedam sangat luas. Tempat mana yang akan kau kunjungi?"
"Temani aku berbelanja." Ella tertawa dalam hati melihat gerakan bibir Benjamin. Pria itu pasti tidak pernah menemani siapapun belanja.
NEXT >>>>>>>
*********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.