
Athena mematut dirinya di depan cermin, ia menarik napas penuh kepuasan. Merasa dandanannya sudah sempurna dan membuatnya sangat percaya diri.
Sudah berminggu-minggu ia bersembunyi di apartemen Benjamin. Namun membuatnya merasa jadi tahanan. Kegembiraannya karena ditempatkan di apartemen Benjamin menghilang setelah tidak bertemu atau melihat pria itu sekali pun. Yang bisa ia temui hanyalah dua penjaga yang selang beberapa hari berganti-ganti. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa ia dekati atau rayu sekedar untuk menggali informasi dimana Benjamin, kemana pria itu selama berhari-hari tidak muncul.
"Hari ini aku akan keluar dari sini. Jika kau tidak mau menemuiku, maka aku yang akan datang Ben," ucap Athena sambil berdiri dan segera mengambil tasnya.
Ketika pintu apartemen terbuka, Athena sudah bersiap melihat dua penjaga yang langsung waspada melihat ia muncul.
"Anda mau kemana?"
Athena tersenyum sinis. "Itu bukan urusanmu. Aku mau pergi."
"Bukankah Anda sedang bersembunyi dari seseorang? Karena itu Anda dibawa kemari."
"Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa padamu! Itu bukan urusan kalian!"
"Memang. Tapi selagi Anda masih mau kembali ke sini dan meminjam apartemen Tuan, Anda wajib mengatakan semua urusan Anda pada kami. Begitulah keinginan Tuan."
Athena bersedekap. "Begitukah? Kalau begitu, katakan dimana aku bisa menemui Benjamin?"
Dua penjaga tadi hanya saling berpandangan.
"Tidak mau bicara? Baiklah, aku cari sendiri!"
Athena melangkah cepat, ketika merasa dua lengannya dipegang oleh para penjaga tersebut ia segera menjerit kuat-kuat. Ia sudah memeriksa kebiasaan dari salah satu tetangga Benjamin. Di jam ini, pria itu akan keluar untuk pergi ke gym atau joging atau kemanapun dengan setelan olahraganya. Benar saja, suara yang terdengar kemudian membuat Athena tersenyum.
"Ada masalah, Tuan-tuan?"
"Mereka menahanku! Tolong aku! Aku mau pergi dari sini," ucap Athena diselingi suara berpura-pura takut. Ia sangat yakin tidak ada diantara pengawal tersebut yang berani menyakitinya.
Pria tetangga Benjamin yang baru saja menegur mereka menatap ke arah tangan Athena yang sudah memegang pergelangan tangannya.
"Tidak ada masalah, Tuan. Nona ini tamu Tuan Antolini," ucap salah satu pengawal dengan sangat sopan.
Ian Cassimira menyipitkan mata, sedikit tidak nyaman ketika Athena bersembunyi di belakang punggungnya tanpa melepaskan pegangan di tangannya.
"Apa Benjamin ada? Sudah lama sekali ia tidak terlihat. Perlukah aku menghubunginya?"
Tatapan mata Ian membuat kedua pengawal tersebut menarik napas panjang. Mereka saling menatap sebelum akhirnya salah satu mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo, Tuan." Setelah ponsel dijawab, secara garis besar pria itu menceritakan apa yang terjadi. Satu perintah pendek ia terima dan pengawal tersebut mengangguk.
"Sesuai perintah Anda," jawab pengawal tersebut sebelum mematikan ponsel.
Athena segera keluar dari belakang punggung Ian, ia bermaksud menyambar ponsel di tangan pengawal yang baru saja menelepon, namun reflek sang pengawal lebih cepat darinya.
"Anda boleh pergi, Nona Athena," ucap pengawal itu dengan nada dingin.
"Ayo, pergi. Izinkan aku ikut dengan Anda."
"Saya cuma mau pergi berolahraga, Nona."
"Terserah. Pokoknya pergi dari sini."
Setelah Athena dan Ian melangkah pergi, salah satu pengawal menatap rekannya.
"Bos bilang apa?"
"Lepaskan saja." pengawal tersebut mengembuskan napas panjang. "Merepotkan saja! Sudah lama hasil penyelidikan orang kita mengatakan kalau dia berbohong tentang sedang diincar seseorang dan ingin bersembunyi. Entah kenapa Bos lambat menangani ini. Seharusnya wanita itu di usir sejak lama dari sini. Kita sampai kehabisan alasan menghentikan nona Alana dan Nyonya agar tidak naik kemari."
"Kau benar. Kurasa Nona Alana sudah mulai curiga."
"Kudengar Bos sedang cuti, sepertinya ada urusan sangat penting sampai ia mengabaikan tahanannya di sini."
Rekannya mengangguk. "Kau benar."
Di depan gedung apartemen, Athena menyunggingkan senyum ramah dan sangat manis pada Ian.
"Terima kasih banyak. Berkat dirimu aku bisa keluar dari sana. Sebenarnya aku tidak punya masalah, mereka hanya terlalu kaku mematuhi perintah Benjamin. Mereka-"
"Anda tidak perlu menjelaskan ... maaf, boleh aku pergi sekarang?"
"Oh, ya! Ya! Sekali lagi terima kasih Ian," ucap Athena dengan nada akrab. Ia memaksa Ian memberitahu namanya saat di lift.
Setelah tangannya dilepaskan, Ian langsung berbalik.
"Sampai bertemu lagi! Kita mungkin akan jadi tetangga, Ian!" seru Athena.
Ian menoleh sebentar, mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Di pinggir jalan, dua orang di dalam sebuah mobil yang berhenti melihat pasangan itu keluar dari gedung apartemen terlihat gusar.
"Kau benar, Lana! Itu Athena!" seru Maurice.
Alana tidak menjawab, ia menatap dengan mata penuh bara api ke arah Ian yang baru saja berlari kecil melewati mobil mereka.
"Ikuti wanita itu! Jangan kehilangannya!" seru Maurice pada supir mereka.
Mobil mengikuti Athena yang baru saja naik ke sebuah taksi.
"Lana, kenapa diam saja? Apa yang kau pikirkan?" tanya Maurice.
"Kita harus menemui Ben, Ibu. Harus ...."
"Apa tidak sebaiknya kita berbicara pada ayahmu dulu?"
Alana menggeleng. "Tidak, Ibu. Ben dulu."
"Baiklah."
Apa-apaan pria itu! Ternyata bisa tersenyum demikian rupa! Berpegangan tangan dengan Athena! Cih! ... Athena ... kali ini tidak akan kubiarkan ....
*********
"Aku perlu mengurus sesuatu. Beberapa hari ke depan ... mungkin juga minggu, aku tidak bisa kemari menemuimu hingga semuanya beres."
Ucapan tanpa pembuka yang diucapkan dengan wajah datar tersebut membuat Daniella menelengkan kepalanya.
"Kau bicara apa?"
"Tentang kepergianku beberapa hari ke depan."
"Oh ...." Ella mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi barusan tadi kata-kata perpisahan?"
"Bukan perpisahan. Aku hanya berpamitan sementara."
"Pamit? Kau biasanya pergi tanpa mengucapkan apapun, lalu datang kembali beberapa jam kemudian sesukamu. Kenapa sekarang kau perlu pamit?"
Nada menyindir dan kesal dalam suara Ella membuat Benjamin tersenyum.
"Jadi sebenarnya kau tahu dan menyadari saat aku pergi, lalu menantikan saat aku kembali, bukan begitu?"
Ella mendengus, namun rona merah yang merambat di wajahnya membuat senyum Benjamin akhirnya berubah menjadi tawa kecil.
"Jangan besar kepala!" seru Ella.
Benjamin mendekat ke arah Ella yang langsung mengalihkan rasa malunya dengan berpura-pura meneliti baju di gantungan pakaian yang disiapkan Bernie di sudut tenda.
"Aku akan menghubungimu secara berkala," bisik Benjamin.
Ella merasakan pinggangnya dipeluk dari belakang. Ia diam dan merasakan debar jantungnya mulai meningkat ketika kepala Benjamin bersandar di bahunya.
"Kau sadar mereka mulai berbisik dan menduga-duga tentang kita bukan?" tanya Benjamin.
"Ya. Salah satu kru malah sudah bertanya padaku tentangmu."
"Kau jawab apa?"
"Aku bilang kau pengawalku," jawab Ella geli, mengenang ekspresi kru tersebut saat ia mengatakan Benjamin Antolini adalah bodyguardnya.
"Bisakah kau bersabar? Kita akan mengumumkannya secara resmi."
Daniella tidak menjawab, tepatnya tidak bisa menjawab. Ia menggenggam bahan kain dari baju di gantungan erat-erat ketika merasakan kecupan bibir Benjamin di urat lehernya dan pelukan dua lengan pria itu yang mengencang.
"Jangan jauh-jauh dari Snow. Selain Stanley, beberapa orangku ada di sekitar sini. Kau tak mengenali mereka. Tapi Snow dan Stanley tahu siapa saja mereka."
Daniella mengangguk. Menelan ludah ketika merasakan Benjamin berpindah mengecup belakang telinganya.
"Menjauhlah dari Hector," bisik Benjamin.
"Kenapa?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu akan ketertarikan pria itu padamu. Dia sangat menyukaimu. Jaga jarak darinya."
Ella tersenyum mendengar nada posesif dari suara Benjamin.
"Setelah urusanku selesai, bersiaplah dengan acara makan malam di keluargaku nanti. Bukan hanya sebagai tamu atau sepupu Verga, tapi sebagai tunanganku."
Ella merasakan tubuhnya dibalikkan sehingga mereka berhadapan. Belum sempat matanya berkedip, ciuman sudah mendarat di bibirnya, kehangatan yang merambati pembuluh darahnya membuat Ella berjinjit, membalas dan mengalungkan lengannya di leher Benjamin.
Ciuman Benjamin awalnya menuntut, pria itu seolah ******* Ella dan memeluk wanita itu sangat erat. Ketika udara dari paru mereka sudah mulai berkurang, ciuman mereka berubah kecupan sampai akhirnya bibir mereka terpisah sepenuhnya.
"Aku suka tatapan mata itu," ucap Ben melihat tatapan mata Ella yang seolah berkabut.
"Apa kau sesekali akan datang ke sini?"
Benjamin menggeleng.
Ekspresi kecewa melintas di wajah Ella.
"Tidak lama. Aku berjanji ... lagipula aku terlalu resah bila berjauhan denganmu."
Senyum Ella terbit, sinar geli berpendar di mata birunya.
"Kau baru saja mengakui kalau aku membuatmu resah, Benjamin."
Suara di pintu tenda membuat keduanya menoleh.
"Bos, komandan sudah memanggilmu," ucap Snow dari pintu tenda.
"Ya, kau benar tentang itu. Aku lebih gelisah bila berjauhan darimu, DD ... aku pergi ...."
Daniella mengangguk. Senyumnya masih mengembang di bibir ketika sosok Benjamin menghilang. Meski hanya pengakuan yang tidak berarti apa-apa, hati Ella merasa sangat senang. Setidaknya bukan hanya dirinya yang merasakan gelisah saat tidak melihat Benjamin. Benjamin merasakan hal yang sama.
"Astaga, Daniella. Dia baru saja pergi. Jangan bilang kau sudah merindukannya. Konyol sekali," bisiknya pada diri sendiri.
NEXT >>>>>
*********
From Author,
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.
Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....
Salam. DIANAZ.