
Belinda membuka mata dan menyadari bahwa ia terlambat bangun. Dengan cepat ia berbalik, memeriksa sisi lain tempat tidur di belakang punggungnya. Tempat itu sudah kosong. Bel memicingkan mata ketika kilau cahaya matahari menyambut wajahnya.
Melihat Verga tidak ada lagi di atas tempat tidur, Bel mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Kosong, hanya tinggal ia sendiri di sana.
Perlahan bangkit sambil menguap Belinda mengangkat tangan meregangkan tubuh. Saat itu selimutnya melorot dan setengah terkejut ia menyadari kalau ia masih telanjangg, belum mengenakan apapun setelah aktivitas di atas tempat tidur tadi malam bersama suaminya.
Bel menaikkan kembali selimut ke atas dada, lalu bangun dari atas ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Setelah meninggalkan selimut di depan pintu, Bel segera masuk dan bersiap-siap untuk mandi. Pandangannya bertemu dengan cermin yang menampilkan wajah dan tubuhnya yang polos.
Mata Belinda bergerak dari sebuah tanda merah di bagian leher, membayangkan kejadian saat tanda itu di cetak di sana. Perlahan ia menelusuri menatap jejak-jejak yang ada di kulitnya sendiri. Hati Belinda menghangat, sekali lagi Verga membuat dirinya merasa cantik, merasa disayangi juga merasa dirinya bisa memberikan hal yang sama kepada pria itu ketika mendengar suaminya itu mengerang atau saat ciuman penuh sayang Verga mendarat di kening ketika mereka selesai bercintaa, lalu Verga memeluknya saat tidur.
Benarkah dia sama sekali tidak marah? Aku pergi meninggalkannya begitu saja ... pria lain akan lebih dulu memarahiku, menanyaiku atau membuatku memberikan penjelasan.
Belinda bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan mandi, ia mencuci rambut dan menggosok gigi, berpikir ia harus menyiapkan sarapan untuk suaminya. Setelah mengeringkan tubuh dan membelit rambutnya dengan handuk. Bel keluar dari kamar mandi dan terkejut mendapati Verga sudah ada di sana.
"K-kau di sini," ucap Bel tergagap. Ia menatap Verga yang sudah mengenakan setelan kemeja dan celana panjang yang baru dan rapi.
"Aku baru saja mau melihatmu sudah bangun atau belum."
"Maaf, aku ... kesiangan," ucap Bel sedikit malu . Suaminya sudah mandi dan rapi sedangkan ia masih tidur.
Padahal pria itu pasti sudah lapar , pikir Belinda.
"Kau tidak kesiangan. Ini masih pagi. Aku memang bangun cepat. Kupikir Ben masih ada di sini, jadi aku ingin mengajaknya menikmati tempat ini dengan lari pagi."
"Dia masih di sini?"
"Tidak. Dia pergi tadi malam. Begitulah kata Juan ketika tadi mengantarkan pakaianku."
Belinda baru saja membuka lemari, berhenti dari kegiatannya untuk mencari gaun ketika mendengar ucapan Verga. "Ben sudah pergi? Benarkah?" tanya Bel seperti tidak percaya.
"Ya. Kenapa kau heran?"
Belinda menggeleng. "Entahlah, kupikir dia akan melanjutkan memarahiku dulu sebelum pulang."
Verga hanya diam, berdiri tegak dengan kedua tangan berada di dalam kantong celana. Istrinya sungguh pemandangan yang sungguh nikmat untuk dilihat. Dengan rambut yang masih terlilit handuk dan tubuh yang hanya mengenakan handuk yang panjangnya hanya sampai pertengahan paha. Verga jadi ingin menarik handuk tersebut lepas dan melihat bagaimana reaksi Belinda.
"Aku akan cepat-cepat. Kau pasti sudah lapar. Aku akan menyiapkan sarapan," ucap Bel sambil memilih sebuah gaun, lalu memilih pakaian dalam dan segera berbalik dan membawanya ke atas tempat tidur. Belinda kemudian menyadari suaminya tidak bermaksud keluar, padahal ia akan berpakaian.
Bel menoleh dan mendapati Verga sedang menatap handuk yang dikenakannya.
"Mmmm ... bi-bisakah kau ... aku mau ber ...." Belinda jadi salah tingkah, kedua tangannya memegangi simpul handuk yang masih terselip di dadanya.
Verga mendekati Belinda, tangan kanannya keluar dari dalam kantong, lalu menyentuh bahu Belinda dengan sangat lembut.
"Ini ... perkiraanku benar. Aku pasti membuat kulitmu perih tadi malam karena bulu di rahangku."
Belinda menunduk, melihat bagian yang dipegangi oleh jari-jari suaminya. Ia jadi gugup setengah mati.
"Tidak. Tidak perih. Sungguh!"
"Seharusnya aku bercukur dulu sebelum menyentuhmu."
Belinda berkedip, menyadari wajah suaminya masih belum bercukur meski pria itu sudah mandi dan rapi.
"Tidak ada peralatannya. Bisakah kau mengantarkan aku mencarinya?"
Belinda mengangguk, ia makin gugup ketika Verga mengambil bra dan meletakkan di telapak tangannya, lalu pria itu mulai menarik simpul handuk di tengah dada Bel.
"Tung-tunggu dulu. Aku bisa sendiri. Sungguh."
"Aku tahu kau bisa. Tapi aku tidak keberatan membantu," bisik Verga. Tangannya menarik lepas handuk Belinda. Wanita itu langsung berbalik memunggungi suaminya dengan perasaan malu, rona di wajahnya bahkan sudah menjalar hingga telinga dan leher.
"Pakai braa mu," ucap Verga.
Bel langsung melihat bra berwarna pink muda yang ia pegang. Sambil menelan ludah ia segera memasang benda itu menutup dua bukit kembar miliknya. Ketika tangannya mau mengancingkan di bagian punggung, Bel merasa jantungnya berdesir ketika merasakan jari-jari suaminya menyentuh punggung, membantu mengancingnya benda tersebut.
Astaga ... tahanlah dirimu Belinda! Dia hanya bermaksud membantumu berpakaian! Bukan sedang merayumu untuk bercinta lagi!
Belinda memarahi diri sendiri karena merasakan gairahnya yang mulai naik karena sentuhan suaminya. Kegiatan yang terasa sangat intim, berdua di kamar dengan seorang pria yang sudah jadi suami dalam keadaan telanjangg, sedangkan pria itu masih berpakaian lengkap.
Bel terkejut ketika merasa handuk di kepalanya dibuka dan ditarik. Verga sudah melepas handuk dan menata rambutnya yang lembab di punggung dan bahu Belinda, lalu pria itu meletakkan dagu di salah satu bahu dan memandang ke depan.
Belinda menunduk dengan tangan terkepal. Menanti apalagi yang akan dilakukan oleh suaminya itu.
"Kau mau menggodaku ya?" tanya Verga dengan nada geli.
Belinda melirik ke samping, melihat wajah Verga tepat disampingnya, namun mata biru pria itu sedang menatap ke depan. Dengan cepat Bel ikut menoleh ke depan, menyadari di depan sana, di samping ranjang, ada cermin dari meja berhias yang memamerkan pemandangan dirinya yang hanya mengenakan bra, namun bagian bawah masih polos.
Belinda baru saja bergerak mau menyambar handuk di lantai ketika lengan Verga menyambar pinggangnya.
"Mau kemana? Sudah menggodaku harus bertanggung jawab."
Tubuh Bel di balikkan hingga menghadap suaminya. Mata mereka bertatapan. Belinda mulai merasakan napasnya agak tersendat. Melihat mata biru suaminya memancarkan kilau, seolah memuja dan kembali terlihat menginginkan. Seketika Bel tidak lagi merasa malu, ia merasa dirinya sangat cantik dan menggairahkan.
Sambil menelan ludah, Belinda memandu tangannya bergerak memeluk bahu Verga, lalu dengan jantung berdetak amat kencang, Bel mulai berjinjit, mendekatkan bibir ke arah bibir suaminya. Seluruh tubuhnya sengaja bergesekan dengan pakaian Verga. Belinda merasakan telinganya mulai berdengung ketika dengan keinginan sendiri ia memutuskan akan melakukan apa yang tadi suaminya katakan, yaitu menggoda pria itu.
Ciuman Bel di bibir suaminya membuat tubuh pria itu seketika menjadi kaku, Verga tidak melakukan apapun pada awalnya. Namun, hanya bertahan beberapa detik. Lengan pria itu segera memeluk dan mengangkat tubuh istrinya hingga mereka lebih leluasa berciuman.
Ketika ciuman berubah makin panas dan menuntut, tangan Bel seolah memiliki keinginan sendiri, ia perlahan membuka satu demi satu kancing kemeja suaminya yang sudah terpasang rapi, lalu menyelipkan tangan kebalik bahan kain tersebut.
"Hentikan, Bel. Kau perlu makan," ucap Verga dengan suara serak ketika setengah terpaksa ia memutuskan mengakhiri ciuman mereka.
Belinda tidak pernah merasa dirinya seliar dan sebebas ini mengekspresikan dirinya. Belinda dikuasai keinginan untuk melihat bagaimana reaksi suaminya itu jika ia memperlihatkan keinginan untuk melanjutkan aktivitas mereka tersebut.
Belinda mundur tiga langkah, lalu dengan sengaja dan sangat perlahan lengannya mulai mencari kancing braa di bagian punggung. Wajah Belinda yang merona tampak sexii dan mengundang. Gerakan dadanya naik turun dengan cepat.
Bel menatap lintasan emosi di wajah tampan suaminya. Ketika tangannya berhasil mencapai kancing dan membuka penutup bagian atas dadanya tersebut. Bel menyadari suaminya itu menanti dengan penuh harap untuk melihat ia melepas benda tersebut.
Dengan sengaja Bel menarik kembali bbra yang baru terpasang tadi hingga lepas. Sekarang hanya rambut lembabnya yang menutupi bagian bahu dan dada bagian depan. Kemudian Bel menunggu, menatap langsung ke bola mata Verga yang juga telah menatapnya.
"Melakukan ini membuatmu tidak akan keluar dari kamar ini sampai siang ... kau juga tidak akan dapat memakan sarapanmu ...."
Bel belum sempat menjawab karena Verga sudah mendekat dan mengangkat tubuhnya, melanjutkan kegiatan yang sudah mereka mulai dan akan menyelesaikannya hingga tuntas.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Halo semuanya. Author mohon maaf karena tidak bisa update setiap hari. Mohon doanya segala sesuatu berjalan lancar dan baik di RL, menemukan penyelesaian terbaik dari setiap permasalahan, juga diangkat segala penyakit dan dianugerahkan kesehatan. Aamiin, Aamin, Aamiin YRA.
Semoga sehat selalu ya, Readers Belbel. jangan lupa dukungannya untuk tekan like, love, bintang lima, komentar dan Vote. Give Away masih berjalan. Yuk ramein, vote sebanyak-banyaknya. Ada hadiah menanti.
Terima kasih semuanya.
Salam. DIANAZ