Belinda

Belinda
11. Menjelang senja



Verga menekan tubuh Belinda yang terbaring pasrah di atas ranjang. Tampak sangat sexii hanya dengan bahan pakaiannya yang sangat minim yang tersisa dan masih menempel di tubuhnya.


Perlahan bibir Verga turun ke bibir Belinda yang sudah menunggu. Matahari sore menerobos masuk lewat kaca bening yang menjadi dinding penutup dari kamar sepasang pengantin itu.


Deburan ombak menjadi musik latar ketika tanpa dapat menahan diri lagi dua insan berlainan jenis dan sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan itu melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya.


Verga sudah menarik lepas kemejanya, rasa senang berupa pujian keluar dari bibir pria itu ketika merasakan telapak tangan Belinda memegangi dan mulai mengelus bagian atas tubuhnya


"Itu menyenangkan, Bel. Tapi sebaiknya jangan, Sayang." Verga menahan kedua tangan Belinda dengan tangannya. menggenggam dan menguncinya di atas kasur.


"Aku ingin kau menikmati apa yang akan kulakukan, tapi kau jangan melakukan apapun dulu padaku," bisik Verga. Bibirnya mulai menjelajahi rahang Belinda hingga desah kecil lolos dari bibir pink istrinya itu.


"Aku ingin mendengar yang lebih keras, Bel," bisik Verga. Ia menelusuri kulit di leher Belinda, merasakan ketika gadis itu menelan ludah dan menolehkan kepala sepenuhnya ke arah kiri, seolah memberikan akses pada suaminya.


Bibir Verga tidak puas bila hanya melewati kulit lembut leher itu. Ia menginginkan lebih, ia mengecup, memberi tanda kemerahan di kulit putih istrinya. Dengan tidak sabar ia kembali beralih, penasaran dengan bagian lain yang akan ia temukan. Ketika bibirnya menemukan renda di bagian dada Belinda, Verga kembali mengecupp, kecupann kecil dan ringan selintas, yang tampaknya membuat istrinya jadi tidak puas.


Belinda meliukkan tubuh, tarian indah yang membuat Verga bersorak, pengantinnya tidak bersikap malu-malu atau menahan diri. Perawan yang menyambut pengalaman pertamanya dengan sangat antusias. Verga berjanji ia tidak akan mengecewakan harapan istrinya itu.


Verga menarik kedua tangan Belinda ke atas kepala, menyatukan kedua tangan itu dan memegangnya dengan tangan kiri, menekan ke atas bantal agar Belinda tidak dapat menggunakan jemarinya.


Dengan satu tangannya yang bebas, Verga menelusuri lengan, merasa napas Belinda makin berat, suara napas itu makin memburu namun bagai musik yang membuat tubuhnya sendiri semakin bergairah dan panas. Hingga jemarinya tiba pada bahan renda di bawah leher istrinya.


"Jika kau ingin renda ini dilepas, maka kau harus menatapku, Sayang." Verga menatap mata Belinda yang masih tertutup.


Mendengar perintah itu, Belinda membuka mata. Ia menatap mata Verga, dan jadi makin gelisah ketika menyaksikan tangan suaminya perlahan membuka kancing depan benda berenda yang menutupi perhiasan yang tidak pernah dilihat oleh lelaki manapun


Verga menikmati sepenuh hati momen itu, merasa mendapatkan hadiah dan ingin menikmatinya perlahan. Ia berdecak dengan tatapan penuh pujian ketika renda penutup telah terbuka.


"Kau indah ... Cantik ...."


Verga memulai rayuan yang sesungguhnya, tarian pasangan yang mabuk akan gairah, asmara bergelora yang meminta untuk dituntaskan. Namun, ia tidak ingin sendirian tiba di puncak, Belinda harus ikut serta. Sepenuh hati, Verga mengungkapkan cintanya pada tubuh istrinya itu.


"Please ...." Nada penuh permohonan itu sama sekali tidak membuat Belinda malu. Ia membutuhkan sesuatu yang ia sendiri tidak terlalu jelas bentuknya. Ia merasa haus, begitu mendamba.


"Sesuai keinginanmu, My Bel," ucap Verga dengan suara serak.


Dengan tubuhnya, Verga mencintai Belinda, bisikan lembut tak putus ia bisikkan, penuh pujian dan juga kasih sayang, membuat Belinda makin terlena, melakukan hal yang sama seperti yang suaminya lakukan. Sama-sama menyalurkan gairah dan mendaki puncak kenikmatan.


Belinda mendengar ucapan manis tersebut . Hatinya mengembang dengan rasa bahagia. Ia jadi merasa dirinya memang cantik, dirinya berharga dan Verga memujanya.


Bel merasa, mereka berdua sudah berlari jauh dan telah tiba di bibir sebuah tebing. Entah kenapa Bel merasa ia ingin sekali Verga membawanya terjun.


"Aku tidak dapat menahannya lagi, Sayang. Kuharap kau sudah siap untukku." Setelah mengucapkan itu, tangan Verga menjelajah hingga ke bawah pusar Belinda. Ia sengaja menatap dari atas wajah istrinya itu, mendapati mata istrinya mulai melebar ketika mendapati tangannya mulai bergerak masuk ke balik segitiga berenda dan jemarinya menjelajah. Awalnya Verga merasakan pinggul dan kedua kaki Bel menjadi kaku, namun ketika ia tiba di lembah yang ia tuju, mata Belinda terpejam rapat, Belinda mulai menggigiti bibirnya sendiri.


"Kau sungguh sudah siap ...," ucap Verga sebelum kembali ******* bibir istrinya dan membebaskan renda penutup di bagian bawah pinggul istrinya itu. Verga tidak lagi dapat menahan kedua tangan Belinda. Bel menggeliat membebaskan lengannya sendiri.


Belinda mengalungkan lengan ke leher Verga, lalu dengan suara pelan dan terdengar serak gadis itu berucap,"please ... sekarang ... aku begitu menginginkannya," ucap Belinda dengan napas memburu.


Kalimat itu merupakan perintah bagi Verga, secepat kilat ia bangkit, melepas pakaian yang masih menutup bagian bawah tubuhnya. Celana itu segera melayang dan mendarat di atas lantai. Mata Belinda membulat sempurna, merasa senang, sekaligus khawatir. Ia tidak tahu apakah Verga akan muat dan pas dengan tubuhnya.


"Jangan takut, aku tahu ini kali pertama untukmu. Aku akan pelan-pelan."


Bisikan itu sedikit menenangkan Belinda, namun yang terjadi tidaklah sesuai kenyataan. Ketika Verga kembali menciumnya, tangan pria itu bergerilya di dada, kaki pria itu menyingkirkan kedua kakinya, melebarkan pahanya hingga posisi mereka pas. Belinda merasa ingin menjerit, ia mendesah keras-keras, saat itulah Verga menerobos, memaksa dirinya masuk.


"Tidak! Hentikan!" jerit Belinda. Ia merasa Verga telah merobek sesuatu di bawah sana. Tubuhnya terasa sakit, semua rasa nikmat yang tadi ia rasakan perlahan memudar. Keringat bergulir di atas dada dan pelipis Belinda.


"Kali pertama memang menyakitkan, Bel ... Aku berjanji, selanjutnya akan terasa lebih baik, tapi aku tidak dapat berhenti ...."


Verga kembali mencium Belinda, menenangkan istrinya dan kembali memulai rayuan. Belinda terdiam sejenak, lalu mulai membalas ciuman itu ketika suatu pikiran terlintas, kembali mengingatkannya akan tujuan hari ini untuk rencananya.


Kau harus membuat dirinya puas, Bel. Berikan malam yang sempurna untuknya, sebelum besok kau pergi dan meninggalkannya sendirian!


NEXT >>>>>>>


*********


From Author,


Jangan lupa tekan like, love, bintang lima, komentar, dan Vote poin maupun koin untuk bab ini ya. Atas dukungannya otor mengucapkan terima kasih.


Salam. DIANAZ.